Watak Ganda Kerja dalam Komoditas, Bagian II

Updated: Jan 28

Oleh Martin Suryajaya



Sistematika Pembahasan

Teks yang kita hadapi kali ini memiliki struktur yang jauh lebih kompleks ketimbang yang kita temui minggu lalu. Teks kali ini mengantarkan kita pada divisi internal kerja abstrak—yang dijelaskan Marx melalui seperangkat aparatus konseptual yang spesifik—dan pada jantung labour theory of value itu sendiri. Untuk bisa memahami secara mendetail teks ini, pertama-tama kita mesti menertibkan terlebih dahulu pemahaman kita atas terminologi Marx. Hanya dengan presisi pemahaman atas sederet terminologi tersebut barulah kita bisa mengerti arti teks ini. Saya mengusulkan susunan pembahasan berikut untuk mengarungi teks rumit ini:

1. Kontekstualisasi konseptual atas kerja abstrak

- Distingsi nilai dan nilai-tukar

- Tripartisi nilai: substansi, ukuran, bentuk

2. Divisi internal kerja abstrak: kerja sederhana dan kerja kompleks

- Problem ukuran sebagai prinsip divisi

- Memikirkan kerja abstrak tanpa konsep kerja-upahan (Digresi ke Bab VI)

- Penampakan pertama dari problem reduksi

3. Dari problem reduksi ke relasi di antara watak ganda kerja

- Besaran nilai atau waktu-kerja sebagai prinsip penyetaraan dan homogenisasi

- Horizon problem reduksi

- Relasi kontradiksi: produksi nilai-pakai versus abstraksi nilai-tukar

Setelah melalui struktur penjabaran tersebut barulah kita akan menyimpulkan apa yang menjadi pokok persoalan dari teks kita ini.


Horizon Konseptual Kerja Abstrak

Pertama-tama kita mesti memperjelas terlebih dahulu konsep-konsep yang dipakai Marx untuk menjelaskan kerja abstrak dan divisi internalnya ke dalam kerja sederhana dan kompleks. Deretan konsep tersebut telah disinggung Marx dalam pemaparannya dalam seksi pertama. Namun kita perlu mengangkatnya kembali di sini untuk memastikan presisi pemahaman kita tentangnya. Konsep-konsep ini penting sebab mereka menginstitusikan horizon konseptual dari kerja abstrak itu sendiri, atau dengan kata lain, relasi antar konsep tersebut menjalin sebuah medan teoretik di mana kerja abstrak tersituasikan. Untuk memahami kerja abstrak, karenanya, kita mesti memahami dulu secara persis apa yang dimaksud dengan konsep-konsep itu beserta relasinya satu dengan yang lain.


“Mari kita beralih dari komoditas sebagai objek kegunaan ke nilai komoditas,” ajak Marx.[1] Dibahasakan secara lain, ajakan Marx tersebut berbunyi: marilah beralih dari yang konkrit ke yang abstrak, dari segi konkrit komoditas—kegunaannya secara langsung—ke segi abstrak komoditas, nilainya. Apa itu nilai? Dengan pertanyaan ini kita dilemparkan kembali ke seksi pertama dengan perasaan déjà vu:

Dengan menghilangnya watak guna produk-produk kerja, watak guna dari jenis-jenis kerja yang menubuh di dalamnya ikut pula menghilang; pada gilirannya ini melibatkan hilangnya perbedaan bentuk-bentuk konkrit dari kerja. Mereka tak lagi terbedakan, melainkan semuanya tereduksi ke dalam jenis kerja yang sama, kerja manusia dalam bentuk abstrak.
Mari kita sekarang melihat sisa [residue] dari produk-produk kerja. Tak ada yang tersisa dari mereka kecuali objektivitas yang sama bak hantu [the same phantom-like objectivity]; mereka hanyalah kuantitas beku kerja manusia yang homogen, yakni tenaga-kerja yang dicurahkan tanpa memandang bentuk pencurahannya. Apa yang mereka katakan pada kita adalah bahwa tenaga-kerja manusia telah dicurahkan untuk memproduksinya, kerja manusia telah diakumulasikan di dalamnya. Sebagai kristal dari substansi sosial ini, sesuatu yang sama terhadap semuanya, mereka adalah nilai—nilai komoditas [Warenwerte].[2]

Melalui paparan Marx di muka kita menyaksikan bagaimana kemunculan konsep nilai—ia muncul pada akhir proses reduksi kerja konkrit ke kerja abstrak. Pada penghujung proses reduksi ini apa yang kita temukan adalah objektivitas bak hantu yang sama terhadap semua produk. Objektivitas ini dideskripsikan Marx dengan corak ‘bak hantu’ oleh karena mereka hanyalah kristalisasi dari corak kuantitatif kerja atau “tenaga-kerja yang dicurahkan tanpa memandang bentuk pencurahannya,” dengan kata lain, materi tanpa bentuk. Objektivitas inilah yang dimaksud Marx dengan nilai. Dengan demikian, kita dapat menskematisasi ciri dasar yang mengkonstitusikan pengertian Marx tentang nilai: 1) sama terhadap semua produk lain, 2) kristalisasi kerja abstrak, 3) objektivitas bak hantu atau materi tanpa bentuk.


Setelah mencatat ciri-ciri dasar nilai, kita kini dapat bertanya lagi: apakah nilai dari sebuah komoditas? Apakah nilai dari sebuah komoditas adalah kuantitas proporsional yang diukur berdasarkan perbandingan dengan komoditas lain? Dengan kata lain: apakah kita dapat merumuskan “nilai komoditas = nilai-tukar/harga komoditas”? Rumusan itu keliru. Apabila kita membaca kritik Marx atas persamaan ekonomi Aristoteles dalam Etika Nikomakhea (sudah saya ulas dalam Problem Filsafat jilid 4), kita tahu bahwa nilai pada dasarnya merupakan suatu “elemen homogen”, sebuah “substansi bersama”, di antara komoditas yang beragam yang membuat komoditas-komoditas itu dapat diperbandingkan satu sama lain.[3] Dengan demikian, sebagai substansi bersama yang memungkinkan perbandingan, nilai jelas mendahului nilai-tukar atau harga. Substansi bersama ini, kita tahu, adalah kerja. Sebuah komoditas memiliki nilai karena komoditas tersebut merupakan objektifikasi dari kerja. Namun kita mesti jeli: nilai yang dimaksudkan di sini tidak boleh diartikan sebagai nilai-pakai sebab ada objek yang memiliki nilai-pakai tanpa campur tangan kerja manusia, misalnya air dan udara. Oleh karena nilai yang dimaksud di sini bukanlah nilai-pakai, maka kerja yang dimaksud di sini tentu saja bukan kerja konkrit. Implikasinya, substansi bersama dari tiap komoditas adalah kerja dalam bentuknya yang abstrak. Jika ditarik implikasinya lebih lanjut, maka ukuran bagi jumlah nilai pastilah sama dengan ukuran bagi kerja abstrak, yaitu waktu kerja. Inilah yang disimpulkan Marx menjelang akhir seksi pertama: “Kini kita tahu substansi nilai. Itulah kerja. Kita tahu ukuran bagi besarannya. Itulah waktu kerja.”[4] Maka terhadap pertanyaan “Apa itu nilai?” kita dapat menjawab “Itu adalah kerja” dan terhadap pertanyaan “Berapakah nilai sebuah komoditas?” kita dapat menjawab “Itu adalah waktu kerja yang dibutuhkan untuk memproduksinya.” Dalam arti inilah kita dapat mengerti apa yang dimaksud Marx dalam teks kita: “Sebagai nilai, mantel dan linan memiliki substansi yang sama; mereka adalah ekspresi objektif dari kerja yang homogen.”[5]


Setelah memahami apa itu substansi dan ukuran nilai, kini kita mesti bertanya kembali: Lantas apa kaitan antara nilai dan nilai-tukar? Dengan pertanyaan ini kita bertemu dengan elemen ketiga dari nilai (sesudah substansi dan ukurannya), yakni bentuk. Kita telah menyadari bahwa nilai adalah suatu materialitas tanpa bentuk oleh karena ia merupakan kristalisasi dari “tenaga-kerja yang dicurahkan tanpa memandang bentuk pencurahannya”. Secara kuantitatif, materialitas tanpa bentuk ini adalah penjumlahan waktu kerja. Hakikatnya adalah kerja abstrak yang menubuh di dalamnya. Nilai-tukar, sebaliknya, adalah cara mengada dari nilai: nilai-tukar adalah phainesthai, penampakan, fenomena, dari nilai itu sendiri. Itulah yang dimaksud ketika Marx mendefinisikan nilai-tukar dalam frase yang kerap ia ulang—nilai-tukar sebagai Erscheinungsform (bentuk penampakan) dari nilai. Dalam kerangka inilah kita mesti memahami distingsi nilai dan nilai-tukar atau harga yang diungkapkan Marx dalam catatannya di bulan Oktober 1857: “Nilai (nilai-tukar yang sesungguhnya) dari segala komoditas (termasuk kerja) ditentukan […] oleh waktu kerja yang diperlukan untuk memproduksinya. Harganya adalah nilai-tukar mereka ini yang diekspresikan dalam uang.”[6] Nilai, sebagai hakikat dari nilai-tukar, diukur (dalam hal besaran) melalui waktu kerja, sementara nilai-tukar, yang merupakan fenomena dari nilai, diukur dalam uang (sebagai abstraksi dari proporsi antar komoditas). Jadi apabila kita ditanya “Apakah bentuk nilai itu?” kita dapat menjawab “Itu adalah nilai-tukar.”


Kini kita telah mengenali horizon konseptual yang mensituasikan konsep kerja abstrak: horizon problematika nilai dengan tripartisinya dalam substansi, ukuran dan bentuk. Dalam teks kita, apa yang digeluti Marx dalam pemaparannya tentang kerja abstrak adalah elemen kedua dari tripartisi tersebut. Kita akan segera melihatnya.


Divisi Internal Kerja Abstrak: Kerja Sederhana dan Kerja Kompleks

Marx membagi kerja abstrak menjadi kerja sederhana dan kerja kompleks. Apakah dasar pembagian ini? Terhadap pertanyaan yang sekilas nampak sederhana ini kita dapat memberikan jawaban awal: dasar pembagian itu adalah ukuran. Kerja sederhana adalah kerja rata-rata yang dijalankan oleh manusia pada umumnya, sementara kerja kompleks adalah kerja rata-rata yang diintensifkan. Inilah kesimpulan yang umumnya muncul dari kesan yang nampak dari deskripsi Marx tentang kerja sederhana sebagai pencurahan “tenaga-kerja yang dimiliki setiap orang biasa dalam organisme badaninya, secara rata-rata, tanpa dikembangkan dalam cara-cara khusus apapun” dan kerja kompleks sebagai “kerja sederhana yang diintensifikasi, atau dimultiplikasi”.[7] Namun jika dasar pembagian ini adalah ukuran, maka pertanyaannya ukuran terhadap apa: ukuran terhadap kuantitas atau kualitas? Jika ukuran terhadap kuantitas, ini memang cocok dengan corak homogen kerja abstrak (yang sama secara kualitatif dan hanya berbeda secara kuantitatif satu dengan yang lain) akan tetapi ia akan berkontradiksi dengan deskripsi Marx tentang kerja konkrit menjelang akhir teks kita, yakni ketika ia memahami kerja konkrit sebagai “produktivitas”, sebagai jumlah nilai-pakai yang dapat diproduksinya.[8] Bagaimana jika ukuran yang menjadi prinsip pembagian kerja abstrak ke dalam kerja sederhana dan kompleks adalah ukuran kualitas? Ini jelas keliru sebab kualitas adalah kategori kerja konkrit—sesuatu yang mengacu pada bentuk-bentuk kerja konkrit yang berbeda secara kualitatif (penjahitan, penenunan, dsb.)—sementara dalam ranah kerja abstrak, dan konsekuensinya juga dalam seluruh divisi internalnya, kategori yang bermain tak bisa tidak adalah kuantitas (penjahitan dan penenunan, dalam ranah kerja abstrak, hanyalah ekspresi kuantitatif dari ukuran yang sama: waktu kerja). Kontradiksi ini mesti dipecahkan.


Pada tahap pemaparan kita sekarang, pertanyaan tentang ukuran tidak boleh diartikan secara vulgar dalam arti asal-usul ukuran tentang sederhana atau kompleksnya sebuah kerja. Artinya, kita belum sampai membahas historisitas prinsip divisi tersebut—sesuatu yang akan kita bahas pada akhir bab ini dalam koridor mengeksplisitkan problem penentuan basis prinsipil dari pembedaan kerja sederhana dan kerja kompleks. Dalam pembacaan saya, kunci dari divisi kerja abstrak tersebut terdapat dalam kata intensitas dan multiplikasi. Dibahasakan secara formulatif, definisi Marx tentang kerja sederhana dan kompleks dapat dituliskan sebagai berikut: kerja sederhana = x, kerja kompleks = intensifikasi/multiplikasi x. Dengan menunda terlebih dahulu pengertian tentang x, kita dapat memahami relasi antara kerja sederhana dan kompleks—dan dengan demikian juga prinsip yang menjadi basis pemilahannya—dengan menguraikan apa yang dimaksud Marx dengan kategori intensitas dan multiplikasi. Untuk itu, marilah kita mengecek apa yang dikatakan Marx tentang intensitas/multiplikasi dalam teksnya yang lain.


Keterangan yang kita perlukan dapat ditemukan dalam Kontribusi bagi Kritik atas Ekonomi Politik. Di sana Marx memaparkan:

kerja yang menubuh dalam nilai-tukar dapat disebut sebagai kerja manusia secara umum. Abstraksi ini—kerja manusia secara umum—ada dalam bentuk kerja rata-rata […]. Ia merupakan kerja sederhana [Marx menambahkan dalam catatan kaki: Para ekonom Inggris menyebutnya ‘kerja tak berkeahlian’.] yang mana individu rata-rata manapun dapat dilatih untuk mengerjakannya […]. Namun bagaimana posisinya terhadap kerja yang lebih rumit [complicated] yang dapat naik melampaui tingkat umum karena memiliki intensitas dan gravitasi lebih? Kerja jenis ini membatalkan dirinya ke dalam kerja sederhana—ia merupakan kerja sederhana yang ditingkatkan menuju daya yang lebih tinggi [greater power] sedemikian sehingga, misalnya, satu hari kerja berkeahlian [skilled labour] dapat setara dengan tiga hari kerja sederhana.[9]

Dari teks ini kita dapat menyimpulkan beberapa hal. Pertama, kerja rata-rata atau kerja sederhana dimengerti Marx—seturut para ahli ekonomi Inggris—sebagai ‘kerja tak berkeahlian’, sementara kerja kompleks dimengerti sebagai ‘kerja berkeahlian’. Kedua, kerja sederhana adalah kerja yang dapat dipelajari melalui latihan—sebagaimana juga kerja kompleks. Ketiga, kerja yang lebih rumit atau kerja kompleks merupakan kerja sederhana yang ditingkatkan dayanya. Kita akan memulai penjelasan tentang ketiga poin tersebut mulai dari yang terakhir.


Intensifikasi sebagai peningkatan daya—apa artinya? Dalam Bab V Kapital, Marx memberikan penjelasan soal peningkatan daya ini. Ditulisnya: “Naiknya intensitas kerja berarti naiknya pencurahan kerja dalam waktu tertentu. Karenanya, hari kerja dari kerja yang intensif menubuh dalam produk yang lebih banyak ketimbang dari kerja yang kurang intensif—andaikan lama hari kerja bagi masing-masing sama.”[10] Kita dapat bertanya, berangkat dari pengertian tersebut, bukankah kerja yang intensif atau kerja kompleks menjadi sulit terbedakan dari kerja konkrit yang kategorinya adalah, seperti kita kutip dalam catatan kaki nomor 11, produktivitas, yakni ditentukan oleh jumlah barang yang dapat diproduksi dalam periode waktu tertentu? Tidak. Kita mesti mengingat bahwa apa yang diproduksi kerja konkrit adalah nilai-pakai, sementara kerja abstrak—termasuk juga kerja kompleks di dalamnya—memproduksi nilai yang dapat diekspresikan dalam nilai-tukar. Intensifikasi, atau peningkatan daya, atau pencurahan kerja yang lebih, dengan demikian, bermakna kuantitatif: produksi dalam jumlah lebih banyak dalam periode waktu yang sama. Namun kesan kuantitatif ini dibatalkan oleh Marx dalam teks yang sama, yakni ketika ia menulis: “Jika intensitas kerja meningkat secara bersamaan dan samarata di setiap cabang industri, maka derajat intensitas [degree of intensity] yang baru dan lebih tinggi akan menjadi derajat intensitas sosial yang normal, dan karenanya berhenti dihitung sebagai suatu besaran ekstensif.”[11] Implikasi dari teks ini jelas: kualitas dari sebuah kuantitas tidak dapat diukur oleh kuantitas itu sendiri melainkan mensyaratkan relasi antara kuantitas tersebut dengan totalitas yang melingkupinya. Dengan demikian, intensitas mesti diartikan sebagai kuantitas yang historis—sebuah kuantitas historis. Kita akan mengelaborasi ini lebih jauh setelah memeriksa terlebih dahulu kedua poin yang lain dari intensitas.


Poin pertama dan kedua yang tersisa untuk kita terangkan—yakni tentang kerja berkeahlian dan pelatihan (atau proses produksi jenis kerja itu sendiri)—berkoinsidensi dalam sebuah problem. Mari kita lihat. Kerja sederhana adalah kerja “yang mana individu rata-rata manapun dapat dilatih untuk mengerjakannya”. Apa relevansi frase “dilatih” dalam kutipan tersebut? Dalam pengertian ekonomis jelas: biaya. Inilah problem bersama yang juga dimiliki oleh kerja kompleks. Dalam Bab III Kapital, Marx menjelaskan ini:

Semua kerja yang wataknya lebih tinggi atau lebih rumit ketimbang kerja rata-rata merupakan pencurahan tenaga-kerja yang berbiaya lebih tinggi—tenaga-kerja yang produksinya menghabiskan lebih banyak waktu dan kerja ketimbang tenaga-kerja sederhana atau tak berkeahlian, dan oleh karenanya memiliki nilai yang lebih tinggi. Daya yang lebih bernilai ini mengekspresikan dirinya dalam kerja jenis yang lebih tinggi, dan karenanya terobjektifikasi—dalam jangka waktu yang sama—dalam nilai yang lebih tinggi secara proporsional.[12]

Dalam teks yang padat tersebut kita menemukan secara sekaligus interelasi antara biaya, produksi nilai dan keahlian dalam koridor divisi kerja sederhana dan kompleks. Dalam menganalisis teks ini, saya akan memakai metode Jacques Bidet yang secara analitik memecahnya ke dalam tiga variabel:[13]

  • X = biaya latihan yang lebih tinggi

  • Y = nilai tenaga-kerja yang lebih tinggi

  • Z = produksi nilai yang lebih tinggi

Teks di muka mengeksplisitkan relasi determinasi searah X -> Y -> Z: jika biaya yang diperlukan untuk memproduksi sebuah jenis kerja lebih tinggi maka kerja yang dihasilkan adalah kerja yang memiliki nilai lebih tinggi (X -> Y), dan konsekuensinya, karena jenis kerjanya adalah jenis yang lebih tinggi dari kerja rata-rata maka nilai yang diproduksi oleh kerja itupun niscaya lebih tinggi (Y -> Z). Namun kita tidak bisa memakai rekonstruksi Bidet untuk menjelaskan teks yang kita bahas sebab dengan melakukannya berarti kita melanggar sesuatu yang sudah diwanti-wanti Marx pada catatan kaki yang mengiringi pemaparannya tentang divisi kerja sederhana dan kompleks pada seksi kedua Bab I Kapital. Peringatan itu adalah larangan Marx untuk berbicara, pada tahap awal ini, tentang kerja-upahan (wage-labour). Catatan kaki itu berbunyi:

Pembaca mesti mencatat bahwa kita tidak berbicara di sini tentang upah atau nilai yang diterima pekerja untuk, misalnya, kerja sehari, melainkan tentang nilai komoditas yang mana kerja hariannya diobjektifikasikan. Pada tahap presentasi kita ini, kategori upah belum ada sama sekali.[14]

Arti dari peringatan Marx ini adalah bahwa determinasi analitik yang direkonstruksi Bidet terhadap Bab III Kapital tidak dapat berlaku di sini. Alasannya jelas: variabel Y tidak dapat difungsikan pada tahap presentasi ini. Variabel Y atau “nilai tenaga-kerja yang lebih tinggi” mensyaratkan pengertian tentang kerja-upahan—nilai kerja itu sendiri dan bukan nilai barang yang diproduksi oleh kerja. Padahal variabel Y ini bersifat konstitutif terhadap konstruksi determinasi X, Y, Z. Variabel X atau “biaya latihan yang lebih tinggi” hanya mungkin menghasilkan variabel Z atau “produksi nilai yang lebih tinggi” jika dan hanya jika melalui mediasi variabel Y: biaya latihan yang lebih tinggi baru dapat menghasilkan produksi nilai yang lebih tinggi jika biaya latihan itu memproduksi kerja yang lebih tinggi yang dapat menghasilkan nilai yang lebih tinggi. Dengan adanya larangan Marx yang mengemuka dalam catatan kaki tersebut untaian determinasi X -> Y -> Z belum boleh berlaku. Kita dapat bertanya: apa sebenarnya relevansi larangan Marx tersebut terhadap pemahaman Marx sendiri tentang divisi internal kerja abstrak ke dalam kerja sederhana dan kompleks? Melalui penjelasan selanjutnya kita akan menunjukkan bagaimana Marx berupaya memikirkan kategori intensitas atau keahlian yang diperoleh dari biaya latihan yang tinggi dalam relasinya yang langsung terhadap tingginya nilai yang diproduksi oleh kerja, atau dengan kata lain, relasi X -> Z tanpa mediasi Y atau kategori kerja-upahan.

Lantas bagaimana kita mesti menerangkan konsep kerja berkeahlian dan biaya pelatihannya jika kita tidak boleh memakai kategori kerja-upahan untuk menguraikannya? Pertanyaan ini tidak bisa dijawab sebelum kita menangani pertanyaan metodologis yang menjadi prolog bagi pertanyaan tersebut: Mengapa Marx perlu mem-bypass mediasi kategori kerja-upahan dalam presentasinya tentang nilai komoditas yang dihasilkan melalui kerja abstrak? Kita tahu bahwa secara sistematis Marx menguraikan struktur kerja-upahan baru pada Bab VI yang berjudul Upah. Pada awal Bab tersebut Marx menyodorkan kepada kita sebuah problem tautologis:

Pada permukaan masyarakat borjuis, upah pekerja tampil sebagai harga kerja, sebagai sejumlah uang yang dibayarkan untuk sejumlah kerja. […] Namun apa itu nilai komoditas? Bentuk objektif dari kerja sosial yang dicurahkan dalam produksinya. Dan bagaimana kita mengukur kuantitas dari nilai ini? Dengan kuantitas kerja yang terkandung di dalamnya. Lantas bagaimana nilai—misalnya, dari hari kerja 12 jam—ditentukan? Dengan hari kerja 12 jam yang terkandung di dalam hari kerja 12 jam, yang merupakan sebuah tautologi yang absurd.[15]

Problem yang diangkat Marx pada teks di muka jelas: Bagaimana menentukan ukuran dari ukuran? Dengan kata lain: Bagaimana menentukan ukuran nilai dari waktu-kerja yang pada-dirinya merupakan ukuran nilai bagi komoditas (termasuk di dalamnya tenaga-kerja itu sendiri)? Seolah-olah waktu-kerja merupakan ukuran nilai bagi waktu-kerja itu sendiri. Pada tahapan presentasi Marx pada seksi kedua, tautologi ini belum ia munculkan.[16] Mengapa demikian? Jawaban yang paling mudah: karena kategori kerja-upahan mensyaratkan keseluruhan aparatus konseptual tentang uang, transformasi uang menjadi modal dan pembagian kerja, sementara pada seksi kedua yang kita baca Marx baru berbicara tentang komoditas dan kerja. Namun jawaban yang sederhana ini memuat suatu jawaban lain yang laten di dalamnya, yang lebih mendalam. Ini berkaitan dengan tautologi itu sendiri. Dalam penjelasannya tentang upah dalam Bab VI Kapital, Marx menunjukkan bahwa kerja-upahan adalah kategori yang dipegang teguh oleh para kapitalis untuk mengoperasikan mesin permodalannya. Marx memperlihatkan bagaimana kerja-upahan—di mata para ahli ekonomi politik klasik—senantiasa berkelindan dengan konsep hukum permintaan dan penawaran. Para ahli ekonomi politik klasik melihat bahwa hakikat upah yang sesungguhnya menampak ketika permintaan dan penawaran ada dalam kondisi ekuilibrium, harmonis. Dalam kondisi tersebut, upah menampak pada kita sebagai “harga alamiah” (natural price) dari komoditas tenaga-kerja.[17] Dalam arti inilah, kita bisa memahami fondasi dari tautologi di muka: karena upah adalah harga alamiah yang muncul ketika relasi permintaan dan penawaran harmonis satu sama lain, maka harga dari tenaga-kerja (atau ukuran nilai bagi waktu-kerja) tidak ditentukan oleh apapun selain oleh harga tenaga-kerja itu sendiri sebagai harga alamiah.[18] Dengan demikian, tautologi tersebut adalah konsekuensi logis dari kerangka harmonisasi yang dilakukan ekonomi politik klasik—seperti juga idealisasi tentang musyawarah kekeluargaan sebagai basis penentuan upah dalam ideologi Hubungan Industrial Pancasila. Dalam pengertian inilah sikap Marx untuk melangkah keluar dari dogma kerja-upahan menjadi sangat beralasan. Di sini tafsiran Bidet benar:

Faktor pembeda yang melahirkan wacana ‘materialisme historis’ adalah pemeriksaan atas kerja bagi dirinya, di luar pertanyaan soal upah. Dengan tujuan ini, Marx menemukan dirinya berhadapan dengan sebuah tugas baru, [yakni] untuk mencipta homogenisasi ranah, penerjemahan ‘kualitas’ tetap dari kerja menjadi kuantitas, tanpa jalan memutar [detour] eksternal melalui upah. Ini mendorongnya untuk memproduksi suatu analisis tentang kerja yang tak pernah dibuat oleh para ahli [ekonomi-politik] klasik.[19]

Artinya, apa yang mau diketengahkan Marx dalam seksi kedua ini adalah penentuan ukuran bagi nilai komoditas yang berbasis pada kedua jenis kerja abstrak tanpa berhutang-budi pada kategori kerja-upahan. Dengan kata lain, suatu penentuan atas ukuran internal dari nilai. Dalam kerangka inilah, kategori intensitas (dalam tiga aspeknya: peningkatan daya, keahlian dan ongkos pelatihan) diketengahkan oleh Marx sebagai ukuran internal dari munculnya nilai yang lebih tinggi. Pada titik ini, kita menemui pertanyaan awal kita dalam paragraf ini: Lantas bagaimana kita mesti menerangkan konsep kerja berkeahlian dan biaya pelatihannya jika kita tidak boleh memakai kategori kerja-upahan untuk menguraikannya? Setelah melalui jalan memutar yang membuktikan inoperatifnya kategori kerja-upahan untuk menguraikan problem ini, kini kita akan mulai menjawabnya.


Pengertian yang sesungguhnya tentang relevansi keahlian dan ongkos produksi dalam kaitan dengan penciptaan nilai yang lebih banyak dalam jangka waktu yang sama (kerja kompleks) baru dapat muncul apabila kita memperhatikan kesimpulan yang berhasil kita dapat dari aspek pertama intensitas (peningkatan daya), yakni tentang kuantitas historis. Penentuan atas kategori kuantitatif seperti ongkos produksi (dan juga ongkos untuk memproduksi kerja berkeahlian) hanya dimungkinkan apabila kita memeriksa kuantitas tersebut secara historis. Inilah langkah yang diambil Marx selanjutnya dalam seksi kedua Bab I Kapital.

Kerja yang lebih kompleks [more complex labour] hanya dihitung sebagai kerja sederhana yang diintensifikasi, atau dimultiplikasi [as intensified, or rather multiplied simple labour], sehingga kerja kompleks dengan kuantitas yang kecil dimengerti sebagai setara terhadap kerja sederhana dengan kuantitas besar. Pengalaman menunjukkan bahwa reduksi ini dibuat secara konstan. Sebuah komoditas bisa saja merupakan hasil dari kerja yang paling rumit, namun melalui nilai-nya ia dipandang sebagai setara terhadap produk kerja sederhana, dan karenanya ia hanya merepresentasikan kuantitas spesifik dari kerja sederhana. Berbagai proporsi yang mana jenis-jenis kerja yang berbeda direduksi ke kerja sederhana sebagai satuan pengukuran mereka dibangun oleh proses sosial yang terjadi di belakang punggung para produsen; proporsi ini karenanya nampak pada para produsen sebagai diturun-temurunkan melalui tradisi. Dalam kepentingan penyederhanaan, karenanya, kita akan memandang setiap bentuk tenaga-kerja secara langsung sebagai tenaga-kerja sederhana; melalui ini kita akan menyelamatkan diri kita dari permasalahan membuat reduksi.[20]

Dengan teks di muka kita memasuki pokok terakhir dari bab ini, yakni tentang problem reduksi yang sudah saya sebut beberapa kali sebelumnya. Reduksi yang dimaksud sudah nampak pada kalimat pertama teks di atas. Kerja kompleks hanyalah kerja sederhana yang diintensifkan. Ini adalah sisi balik dari mata koin problem intensitas yang sama yang telah kita uraikan tadi (andaikan kerja sederhana = x, maka kerja kompleks = intensifikasi x). Hanya saja apabila tadi, ketika membahas problem intensitas, kita menekankan frase terakhir dari kalimat itu (kerja kompleks hanyalah kerja sederhana yang diintensifkan), maka kini, ketika membahas problem reduksi, kita menekankan frase sebelum terakhir (kerja kompleks hanyalah kerja sederhana yang diintensifkan). Persis karena kedua problem tersebut adalah dua sisi dari satu mata koin yang sama, maka pengertian tentang sisi sebaliknya—yakni problem reduksi—akan memberikan pemahaman pelengkap terhadap sisi depan. Mari kita mulai.


3. Dari Problem Reduksi ke Relasi di antara Watak Ganda Kerja

Apa artinya kerja kompleks hanyalah spesies tertentu dari kerja sederhana? Reduksi ini dijelaskan Marx dengan pernyataan “kerja kompleks dengan kuantitas yang kecil dimengerti sebagai setara terhadap kerja sederhana dengan kuantitas besar.” Apa arti frase “setara” dalam pernyataan tersebut? Marx menjelaskan lebih lanjut: “Sebuah komoditas bisa saja merupakan hasil dari kerja yang paling rumit, namun melalui nilai-nya ia dipandang sebagai setara terhadap produk kerja sederhana, dan karenanya ia hanya merepresentasikan kuantitas spesifik dari kerja sederhana.” Dari penjelasan tambahan ini menjadi jelas bahwa kesetaraan yang dimaksud Marx—yang membuat kerja kompleks dan sederhana menjadi setara—adalah nilai komoditas yang diproduksinya. Mengapa nilai menjadi basis penyetaraan antar jenis kerja abstrak? Karena melalui ekspresinya, melalui “bentuk penampakan”-nya, yakni nilai-tukar komoditas (atau lebih vulgar lagi: uang), nilai membuat kerja kompleks dan kerja sederhana menjadi seukur, menjadi dapat diperbandingkan. Konsekuensi dari ke-dapat-diperbandingkan-an ini adalah bahwa di antara kerja kompleks dan kerja sederhana tidak ada perbedaan kualitatif, melainkan hanya ada perbedaan kuantitatif saja—artinya, keduanya tidak berbeda jenis. Kerja seorang pemikir jenius yang mau menyelesaikan seluruh persoalan dunia dari dalam kamar studinya dan kerja seorang penjaga rumah retret ataupun kerja orang yang berprofesi memandikan mayat bukanlah jenis kerja yang berlainan jika dipandang dari segi nilai yang mereka hasilkan. Secara kuantitatif, tentu saja, nilai yang mereka hasilkan bervariasi, namun semuanya tunduk pada satu label kualitas yang sama—kedapat-diukuran melalui uang. Untuk menunjukkan kesamaan tersebut, baiklah kita buat persamaan: andaikan kerja memandikan mayat menghasilkan nilai x, maka penjaga rumah retret menghasilkan nilai 2x dan si pemikir jenius menghasilkan nilai 5x. Sekilas memang tampak berbeda, namun itu hanya tampaknya saja. Sebab semuanya dapat direduksikan pada x yang sama, x yang itu juga. Di sini nampak bahwa ahli ataupun tidak, jenius ataupun jongkok, tetap menghasilkan kerja yang sama saja. Kapitalisme mereduksi semua kerja—yang sejatinya tak terbandingkan satu sama lain karena keunikan masing-masing—menjadi sepenuhnya terbandingkan dan dipersamakan di hadapan nilai produknya, di hadapan uang. Terlihat bahwa, di alam kapitalisme, kerja seorang pemikir jenius hanyalah spesies tertentu dari kerja seorang penjaga kamar mayat. Inilah yang dimaksud ketika Marx menulis: “Oleh karena besaran nilai dari sebuah komoditas tidak merepresentasikan apapun selain kuantitas kerja yang menubuh di dalamnya, konsekuensinya semua komoditas, ketika diambil dalam proporsi tertentu, mestilah setara dalam nilai.”[21]


Reduksi kapitalis atas kerja kompleks menjadi kerja sederhana merupakan produk sejarah. Historisitas ini tampil dalam topeng “tradisi”, sebagaimana ditulis Marx: “Berbagai proporsi yang mana jenis-jenis kerja yang berbeda direduksi ke kerja sederhana sebagai satuan pengukuran mereka dibangun oleh proses sosial yang terjadi di belakang punggung para produsen; proporsi ini karenanya nampak pada para produsen sebagai diturun-temurunkan melalui tradisi.”[22] Melalui pernyataan tersebut terlihat bahwa kerja sederhana merupakan “satuan pengukuran” (unit of measure) dari kerja kompleks, sedemikian sehingga jika kerja sederhana adalah x, maka kerja kompleks adalah 2x atau dua kali kerja sederhana dalam jangka waktu yang sama. Namun satuan pengukuran inipun, kata Marx, “dibangun oleh proses sosial yang terjadi di belakang punggung para produsen”. Proses sosial macam apakah yang terjadi di belakang punggung produsen sehingga seolah-olah semuanya “diturun-temurunkan melalui tradisi”? Mari kita kembali ke Kontribusi di mana Marx berbicara tentang reduksi menuju kerja sederhana.

Reduksi ini tampak sebagai sebuah abstraksi, namun ia merupakan suatu abstraksi yang dibuat setiap hari dalam proses sosial produksi. Pengubahan segala komoditas menjadi waktu-kerja bukanlah abstraksi yang lebih besar ketimbang, dan tidak kurang nyata dari, penguapan segala tubuh organik menjadi udara. Kerja—yang diukur oleh waktu—tidak nampak menjadi kerja dari orang yang berbeda, melainkan justru sebaliknya, individu-individu bekerja yang berbeda-beda nampak menjadi sekedar organ dari kerja ini.[23]

Pertama-tama, mengapa reduksi menjadi sesuatu yang “sederhana” ini disebut sebagai abstraksi? Jawabnya: karena kesederhanaan dalam kerja sederhana bukanlah sesuatu yang singular melainkan justru abstrak-umum, yakni kerja rata-rata yang menjadi patokan dasar bagi penciptaan nilai komoditas secara umum. Ini adalah suatu abstraksi karena segala keunikan kerja yang berbeda jenis direduksi ke dalam kerja rata-rata yang homogen, ke dalam unit-unit produksi nilai. Lantas apa artinya reduksi ini “dibuat setiap hari dalam proses sosial produksi” sedemikian sehingga proses produksi tersebut menjadi sebuah kerja sistemik yang mana setiap individu hanyalah unit dari sistem tersebut? Dan apa kaitannya dengan “proses sosial yang terjadi di belakang punggung para produsen”? Untuk menyatukan inti dari kedua pertanyaan tersebut, baiklah kita merumuskan pertanyaan dasarnya: Apakah sesuatu yang berjalan setiap hari dalam benak setiap individu produsen namun tetap, entah mengapa, transenden terhadapnya sehingga seolah-olah ia eksis di belakang punggung produsen tersebut dan kerapkali secara naif disebut sebagai tradisi? Jawabnya: itulah ideologi. Ideologi lah yang membuat kerja sederhana sebagai satu-satunya kerja yang wajar dan sudah semestinya di alam kapitalisme ini, seolah-olah kerja sederhana merupakan satu-satunya jenis kerja yang turun-temurun dari nenek-moyang. (Di sini ada yang perlu diperjelas: dalam teksnya Marx tidak menyebut ideologi—ia mengesampingkan problem reduksi ini, begitu pula dalam Kontribusi, barangkali karena Marx sudah menyelesaikan proyek kritik ideologi ini di periode jauh sebelum penulisan Kapital, atau barangkali juga karena Marx akan menangani problem ideologi dalam relasi kapital itu sebagai objek kajian khusus dalam Kapital jilid III.[24]) Namun ideologi adalah pada-dirinya sebuah abstraksi dari relasi-relasi produksi yang konkrit. Kita ambil contoh ilustrasi dari Marx dalam Grundrisse.

Sudah dikenal secara jamak bahwa mitologi Yunani bukan hanya amunisi dari seni Yunani melainkan juga fondasinya. Apakah pandangan tentang alam dan relasi sosial yang menjadi basis dari imajinasi Yunani dan karenanya juga mitologi Yunani dimungkinkan dengan [adanya] rel kereta api, lokomotif dan telegraf? Kesempatan apa yang dimiliki Vulcan melawan Roberts & Co., Jupiter melawan tiang listrik dan Hermes melawan Crédit Mobilier? […] Dari sisi yang lain: apakah Achilles dimungkinkan dengan mesiu dan timah? Atau Illiad dengan percetakan—untuk tidak menyebut pula mesin cetak? Tidakkah kidung, wiracarita dan nyanyi-nyanyian niscaya berakhir dengan tabel cetakan, dan karenanya tidakkah kondisi-kondisi yang niscaya bagi puisi epik turut sirna?[25]

Metode argumentasi reductio ad absurdum yang dipakai Marx di muka dengan jelas menunjukkan bahwa segala bentuk ideologi (termasuk mitologi di dalamnya) merupakan abstraksi yang muncul dari prakondisi material tertentu dan tidak bisa dilepaskan darinya. Hephaestus—sang Dewa penempa—tak akan menang melawan robot-robot dalam pabrik BMW, Dionysos—sang Dewa anggur—akan terserang kanker hati berhadapan dengan industri miras dunia, Hades—sang Dewa kematian—akan tergusur melawan para tuan tanah kuburan beserta seluruh industri rukun kematiannya, dan Hermes—sang Dewa pengantar pesan—akan gulung tikar berhadapan dengan Fedex. Keseluruhan Panthéon Yunani niscaya mengandaikan modus produksi yang khas Yunani masa itu dan tak pernah bisa eksis terpisah darinya. Demikian pula ideologi—atau tradisi, terserah Anda mau sebut apa—yang mereduksi kerja kompleks menjadi kerja sederhana memiliki basis materialnya yang khas. Pada kasus yang terakhir, basis material yang dimaksud adalah institusionalisasi kesetaraan nilai. Itulah sebabnya Marx menjelaskan dalam Kontribusi:

kondisi-kondisi kerja yang menciptakan nilai-tukar adalah kategori sosial dari kerja atau kategori kerja sosial—sosial bukan dalam arti umum melainkan partikular, [yakni] menandai sebuah tipe spesifik dari masyarakat. Kerja sederhana yang seragam mengimplikasikan pertama-tama bahwa kerja dari individu-individu yang berbeda adalah setara dan bahwa kerja mereka ditangani secara setara dengan nyatanya direduksi menjadi kerja homogen. Kerja dari setiap individu sejauh ia memanifestasikan-dirinya dalam nilai-tukar memiliki karakter sosial kesetaraan ini, dan ia memanifestasikan-dirinya dalam nilai-tukar sejauh ia disetarakan dengan kerja dari seluruh individu yang lain.[26]

Dengan demikian terlihat bahwa reduksi atas kerja kompleks ke kerja sederhana mengandaikan transformasi dari keseluruhan tubuh sosial sebagai sumber-unit produksi nilai yang homogen, yang rata-rata. Dalam kesetaraan homogen inilah kapitalisme beroperasi. Tak pelak lagi, ini merupakan kesetaraan yang spekulatif, persis karena segalanya setara jika dan hanya jika nilai hasil produksinya dapat direpresentasikan dalam figur uang sebagai prinsip penyetaraan tertinggi.

Kini kita memasuki bagian terakhir dari teks kita di mana Marx memikirkan relasi di antara watak ganda kerja yang menubuh dalam komoditas, yakni relasi antara kerja konkrit dan kerja abstrak. Relasi ini diuraikannya dalam satu paragraf padat yang saya reproduksi berikut ini.

Pada dirinya, kenaikan dalam kuantitas nilai-pakai mengkonstitusikan kenaikan dalam kesejahteraan material. Dua mantel akan memanteli dua orang, satu mantel hanya akan memanteli satu orang, dsb. Akan tetapi, kenaikan dalam jumlah kesejahteraan material dapat berkorespondensi dengan suatu kejatuhan yang bersamaan dalam besaran nilainya. Gerakan kontradiktoris ini muncul dari watak ganda kerja. Tentu saja, dengan ‘produktivitas’ kita selalu memaksudkan produktivitas dari kerja konkrit yang berguna; nyatanya, ini hanya menentukan derajat efektivitas aktivitas produktif yang diarahkan pada tujuan tertentu dalam periode waktu yang tertentu. Karenanya, kerja-berguna menjadi kurang-lebih sumber berlebih dari produk dalam perbandingan lurus dengan naik atau turunnya produktivitas. Akan tetapi, berlawanan dengan ini, variasi dalam produktivitas tidak memiliki pengaruh apapun pada kerja yang direpresentasikan dalam nilai itu sendiri. Sebagaimana produktivitas merupakan atribut kerja dalam bentuknya yang konkrit dan berguna, ia secara almiah tak lagi memiliki sifat kerja tersebut ketika kita abstraksikan dari bentuknya yang konkrit dan berguna. Karena itu, kerja yang sama yang diwujudkan dalam rentang waktu yang sama, selalu menghasilkan jumlah nilai yang sama, independen terhadap variasi apapun dalam produktivitas. Namun ia menyediakan kuantitas nilai-pakai yang berbeda dalam periode waktu yang sama: lebih, apabila produktivitas meningkat; kurang, apabila ia merosot. Untuk alasan ini, perubahan yang sama dalam produktivitas yang meningkatkan keberbuahan kerja, dan karenanya jumlah nilai-pakai yang diproduksi olehnya, juga menghasilkan reduksi dalam nilai dari jumah total yang meningkat ini, apabila ia memotong jumlah total waktu-kerja yang diperlukan untuk memproduksi nilai-pakai. Yang sebaliknya juga terjadi.[27]

Kita ingat—sebagaimana telah saya paparkan minggu lalu—kerja konkrit atau kerja-berguna adalah kerja yang memproduksi nilai-pakai. Nilai-pakai ini merupakan sumber kesejahteraan material sehingga, seperti ditulis Marx di muka, naiknya jumlah nilai-pakai sejalan dengan naiknya tingkat kesejahteraan material. Namun mengapa Marx mengatakan bahwa kenaikan jumlah nilai-pakai ini dapat pula beriringan dengan turunnya jumlah nilai itu sendiri? Marx mengatakan: sebab dari kontradiksi ini terletak pada watak ganda kerja. Mengapa demikian? Jawabannya terletak pada kontradiksi di antara dua logika berikut: di satu sisi, variasi apapun dalam kerja konkrit hanya berpengaruh pada nilai-pakai dan tidak berpengaruh terhadap nilai itu sendiri; di sisi lain, kerja abstrak yang tertentu selalu menghasilkan nilai yang tertentu, terlepas dari variasi dalam kerja konkrit, dengan kata lain, terlepas dari banyak-sedikitnya nilai-pakai yang diproduksi kerja konkrit. Dari kedua logika tersebut terlihat bahwa kerja konkrit dan kerja abstrak terpisah satu sama lain: yang satu melulu memproduksi nilai-pakai, sementara yang lain melulu memproduksi nilai-tukar. Namun Marx hendak mengingatkan bahwa keduanya bukanlah kerja yang terpisah sama sekali dan independen satu sama lain—keduanya justru terjadi di pabrik yang satu dan sama. Seorang yang bekerja di pabrik mengira dirinya memproduksi nilai-pakai (entah itu rokok, pakaian, sabun, dsb.), namun sesungguhnya apa yang ia produksi adalah nilai-tukar bagi majikannya (rokok sebagai komoditas untuk dipertukarkan). Interdependensi ini terlihat dari sebuah konsep yang menjadi tautan keduanya, yakni waktu-kerja. Sebagaimana tertulis dalam kalimat yang terakhir kali saya garis-bawahi, naiknya jumlah nilai-pakai yang menubuh dalam komoditas x juga dapat dibarengi dengan turunnya jumlah nilai dari komoditas x itu sendiri. Waktu-kerja adalah faktor yang menentukan relasi keduanya menjadi berbanding terbalik. Relasi tersebut terjadi jika terdapat pemotongan waktu-kerja yang diperlukan untuk memproduksi nilai-pakai. Mengapa demikian? Kita baru bisa menjawabnya apabila kita mengingat ringkasan Marx di seksi pertama yang telah saya uraikan dalam bab pendahuluan makalah ini: “Kini kita tahu substansi nilai. Itulah kerja. Kita tahu ukuran bagi besarannya. Itulah waktu kerja.”[28] Maka, terhadap pertanyaan di muka kini kita dapat memberikan alasannya: berkurangnya waktu-kerja secara niscaya akan mengurangi nilai komoditas persis karena ukuran bagi besaran nilai adalah waktu-kerja itu sendiri.

Dalam “pabrik”, dalam laboratorium kapital, kerja konkrit hanya ada sebagai replika tentang imediasi, ibarat diorama tentang masa pra-sejarah, di mana orang memproduksi kegunaan langsung padahal sejatinya apa yang terjadi di sana adalah kerja abstrak, kerja yang memproduksi nilai—sesuatu yang membuat komoditas dapat dipertukarkan satu sama lain, dan konsekuensinya dapat diakumulasikan. Karenanya, dalam laboratorium tersebut, kerja konkrit hanya eksis sebagai latensi—sebagai intensi bawah-sadar para pekerja yang dibayar untuk menjahit pakaian yang konon akan dipakai oleh seseorang kelak di suatu waktu nanti—sementara apa yang mengemuka adalah kerja abstrak—pakaian yang dijahitnya begitu keluar pabrik langsung didistribusikan di etalase mall, tidak untuk dipakai sang pekerja itu sendiri, tidak juga dipakai oleh sang pemodal. Oleh karena baik kerja konkrit maupun kerja abstrak hanyalah dua sisi dari satu mata koin yang sama—mata koin modus produksi kapitalis—maka keduanya tersambung satu dengan yang lain melalui suatu ukuran bersama: itulah waktu-kerja. Itulah sebabnya perubahan dalam sisi yang satu, sejauh berimplikasi pada waktu-kerja, mesti akan berpengaruh pada sisi yang lain. Jika yang satu menghasilkan nilai-pakai lebih banyak dalam waktu-kerja yang lebih sedikit, maka nilai yang dihasilkan sisi yang lain pun akan berkurang. Demikian pula sebaliknya, sebagaimana dikatakan Marx dalam paragraf terakhir yang kita kutip di muka.


Kini tiba saatnya bagi kita untuk mengorganisasikan pemahaman yang kita peroleh sesudah uraian penjelasan panjang-lebar di muka. Nilai komoditas adalah basis yang memungkinkan pertukaran di antara berbagai komoditas. Nilai ini mengekspresikan dirinya dalam nilai-tukar dengan bentuk penampakan yang berbeda-beda di setiap saat (fluktuasi harga komoditas). Nilai dapat memungkinkan pertukaran karena ia merupakan ukuran dari kuantitas kerja yang terkandung dalam komoditas—nilai dari komoditas x dapat dihitung melalui waktu-kerja yang dicurahkan untuk memproduksi komoditas x. Waktu-kerja sebagai ukuran besaran inilah yang dijadikan dasar perbandingan satu komoditas dengan yang lain. Kerja abstrak pun dihitung berdasarkan waktu-kerja. Apabila ia dapat memproduksi sejumlah nilai yang lebih besar dalam waktu-kerja yang sama, maka ia disebut kerja kompleks atau kerja berkeahlian, sementara jika sebaliknya maka ia disebut kerja sederhana atau kerja rata-rata. Di alam kapitalisme, kerja kompleks diperlakukan sebagai kerja sederhana hanya saja dalam bentuk yang lebih intensif. Alasannya karena kapitalisme menghitung jumlah nilai yang berhasil diciptakan dalam waktu-kerja tertentu. Tidak ada ruang bagi kategori kualitatif sebab semuanya menjadi seukur, dan karenanya homogen, dalam perspektif nilai yang diekspresikan dalam harga produk. Namun kuantitas khusus yang disebut “intensif” ini tidak memiliki patokan tetap di segala zaman, ia ikut berubah bersama konjungtur historiko-ekonomis yang melingkupinya. Begitu pula dengan yang disebut “ahli” atau “terlatih”—keduanya ikut berubah dalam pusaran zaman yang digerakkan oleh modus produksinya yang khas. Pada bagian akhir, kita juga telah memperlihatkan sebagian dari konjungtur tersebut: apabila produksi nilai-pakai bertambah dalam waktu-kerja yang lebih sedikit, maka nilai komoditas ikut turun bersama potongan waktu-kerja tersebut—dengan mengasumsikan bahwa waktu-kerja adalah ukuran bagi besaran nilai. Kembali pada problem utama kita: intensitas, sebagai faktor pembeda antara kerja sederhana dan kompleks, pada-dirinya bukanlah atribut yang tetap dalam arti kategori ekonomi yang fiks (misalnya, kerja intensif adalah kerja yang bisa menghasilkan nilai di atas x untuk setiap y jam kerja). Kategori ini mengalami overdeterminasi juga oleh ideologi, seperti sudah kita lihat pada kasus tradisi yang mengkondisikan orang melihat kerja kompleks sebagai kerja sederhana. Namun ideologi tidak pernah dan tidak akan pernah, dalam pengertian Marx, menjadi basis determinasi terdasar. Ini karena ia sendiri merupakan abstraksi dari basis material atau relasi-relasi produksi yang merupakan “determinasi pada pokok terakhir”. Membayangkan ideologi sebagai sesuatu yang sistemik, otonom dan tetap di semua zaman sama saja dengan seorang Don Quixote yang membayangkan ideologi ksatria-kelana sebagai sesuatu yang cocok dengan seluruh modus produksi sepanjang segala masa.[29] Amin.***


[dari Problem Filsafat Volume VI, Agustus 2010]


[1] Karl Marx, Capital Vol I diterjemahkan oleh Ben Fowkes (London: Penguin Books), 1979, hlm. 134.


[2] Ibid., hlm. 128.


[3] Lih. Ibid., hlm. 151.


[4] Ibid., hlm. 131. Namun simpulan sementara ini hanya muncul dalam Das Kapital edisi pertama (1867) dan hilang sejak edisi kedua (1873). Dengan kata lain, simpulan tersebut dihapus ketika Marx masih hidup, barangkali oleh ia sendiri dan tidak disebabkan oleh editan Engels. Namun saya memandang bahwa simpulan tersebut tetap cocok untuk meringkaskan pengertian Marx pada awal Das Kapital.


[5] Ibid., hlm. 134.


[6] Karl Marx, Grundrisse diterjemahkan oleh Martin Nicolaus (London: Allen Lane), 1973, hlm. 136-137.


[7] Karl Marx, Capital Vol I, op.cit., hlm. 135.


[8] “Tentu saja, dengan ‘produktivitas’ kita selalu memaksudkan produktivitas dari kerja konkrit yang berguna; nyatanya, ini hanya menentukan derajat efektivitas aktivitas produktif yang diarahkan pada tujuan tertentu dalam periode waktu yang tertentu. Karenanya, kerja-berguna menjadi kurang-lebih sumber berlebih dari produk dalam perbandingan lurus dengan naik atau turunnya produktivitas.” Ibid., hlm. 137 (garis bawah dari saya).


[9] Karl Marx, A Contribution to a Critique of Political Economy diterjemahkan oleh S.W. Ryazanskaya (New York: International Publishers), 1972, hlm. 30-31.


[10] Karl Marx, Capital Vol I, op.cit., hlm. 660.


[11] Ibid., hlm. 661. Menurut keterangan Jacques Bidet, frase terakhir dalam kalimat tersebut (“sebagai suatu besaran ekstensif”) dihapus oleh Marx dalam Kapital edisi Prancis. Lih. Jacques Bidet, Exploring Marx’s Capital: Philosophical, Economic and Political Dimensions diterjemahkan oleh David Fernbach (Leiden: Brill), 2007, hlm. 33.


[12] Karl Marx, Capital Vol I, op.cit., hlm. 305 (garis bawah dari saya). Ada keterangan yang perlu ditambahkan di sini. Menurut keterangan Bidet, dalam kalimat terakhir kutipan tersebut—“This power being of a higher value, it [daher] expresses itself in labour of a higher sort, and therefore [daher] becomes objectified, during an equal amount of time, in proportionally higher values”—yang muncul dalam edisi keempat Kapital yang kanonik (yang dipakai oleh Ben Fowkes menjadi basis teks terjemahannya) sesungguhnya merupakan hasil sentuhan editan Engels atas edisi sebelumnya yang mengandung ambiguitas: “power being of a higher value, it [daher] expresses itself in labour of a higher sort, but [aber] becomes objectified, during an equal amount of time, in proportionally higher values.” Dengan kata lain, Engels mengedit kata “tetapi” (aber) menjadi “karenanya” (daher) untuk menghilangkan ambiguitas dalam kalimat tersebut. Lih. Jacques Bidet, op.cit., hlm. 24. Mengenai relevansi editan ini, saya kembalikan pada kawan-kawan untuk mendiskusikannya.


[13] Lih. Ibid.,hlm. 24.


[14] Karl Marx, Capital Vol I, op.cit., hlm. 135 (catatan kaki nomor 15).


[15] Ibid., hlm. 675.


[16] Walaupun demikian, bukan berarti Marx baru menyadari adanya problem tersebut pada Bab VI Kapital. Jauh sebelumnya, dalam Kontribusi, Marx telah menyadarinya dalam konteks rencana penyelesaian atas problem pertama dari ekonomi politik Ricardo: “One. Labour itself has excange-value and different types of labour have different exchange-value. If one makes exchange-value the measure of exchange-value, one is caught up in a vicious circle, for the exchange-value used as a measure requires in turn a measure. This objection merges into the following problem: given labour-time as the intrinsic measure of value, how are wages to be determined on this basis. The theory of wage-labour provides the answer to this.” Karl Marx, A Contribution…, op.cit., hlm. 61-62.


[17] Lih. Karl Marx, Capital Vol I, op.cit., hlm. 678.


[18] “Classical political economy borrowed the category ‘price of labour’ from everyday life without further criticism, and the n asked the question, how is this price determined? It soon recognized that changes in the relation between demand and supply explained nothing, with regad to the price of labour or oscillation on the market price above or below a certain mean. If demand and supply balance, the oscillation of prices ceases, all other circumstances remaining the same. But then demand and supply also cease to explain anything. The price of labour, at the moment when demand and supply are in equilibrium, is its natural price, determined independently of the relation of demand and supply. It was therefore found that the natural price was the object which actually had to be analysed.” Ibid., hlm. 677-678 (garis bawah dari saya).


[19] Jacques Bidet, op.cit., hlm. 35.


[20] Karl Marx, Capital Vol I, op.cit., hlm. 135.


[21] Ibid., hlm. 136.


[22] Ibid., hlm. 135.


[23] Karl Marx, A Contribution…, op.cit., hlm. 30.


[24] Pada bagian awal Kapital III, Marx menulis: “The configurations of capital, as developed in this volume, thus approach step by step the form in which they appear on the surface of society, in the action of different capitals on one another, i.e. in competition, and in everyday consciousness of the agents of production themselves.” Karl Marx, Capital: Volume III diterjemahkan oleh David Fernbach (Middlesex: Penguin Books), 1981, hlm. 117 (garis bawah dari saya). Untuk penafsiran yang melihat Kapital III sebagai traktat tentang ideologi, lih. Jacques Bidet, op.cit., hlm. 197-198.


[25] Karl Marx, Grundrisse, op.cit., hlm. 110-111.


[26] Karl Marx, A Contribution…, op.cit., hlm. 31-32.


[27] Karl Marx, Capital Vol I, op.cit., hlm. 136-137 (garis bawah dari saya).


[28] Ibid., hlm. 131.


[29] “And then there is Don Quixote, who long ago paid the penalty for wrongly imagining that knight errantry was compatible with all economic forms of society.” Ibid., hlm. 176.

  • Facebook
  • YouTube
  • Instagram
  • Icon Goodreads
Kontak