Watak Ganda Kerja dalam Komoditas, Bagian I

Updated: Jan 28

Oleh Martin Suryajaya



Catatan Awal tentang Metode Pembahasan

Apa yang akan saya presentasikan pada kesempatan kali ini, dan pada pertemuan satu minggu sesudah ini, adalah pembahasan atas seksi kedua dari Bab I Kapital Jilid I yang berjudul “Watak Ganda Kerja yang Menubuh dalam Komoditas”. Susunan pembahasan yang akan saya terapkan adalah dengan membagi seksi tersebut ke dalam dua bagian. Bagian pertama—seperti yang akan saya presentasikan kali ini—merangkum dari paragraf awal seksi yang dibahas sampai ke akhir penjelasan Marx tentang kerja konkrit.[1] Bagian kedua—yang saya proyeksikan akan selesai pada pertemuan minggu depan—merangkum penjelasan Marx tentang kerja abstrak, yang menyambung paragraf sebelumnya, sampai akhir seksi kedua. Alasan dari pembagian ini jelas terlihat dari susunan presentasi argumen Marx sendiri pada seksi tersebut, yakni dengan bermula dari penjelasan tentang kerja konkrit menuju penjelasan tentang kerja abstrak dan divisi internalnya ke dalam kerja sederhana dan kerja kompleks.


Dengan mengingat bahwa teks yang akan kita bahas, yakni seksi kedua, merupakan rumusan awal Marx di Kapital tentang apa yang nantinya akan dikenal sebagai labour theory of value yang dianggap sebagai salah satu kontribusi terpenting Marx dalam ilmu ekonomi di kemudian hari dan karenanya kerap menjadi situs perdebatan yang tak habis-habis, kita perlu menyadari problem editorial dari teks tersebut. Problem editorial yang saya maksudkan adalah edisi Das Kapital yang dipakai sebagai sumber terjemahan dari edisi Kapital terbitan Penguin yang kita pakai selama ini. Edisi ini merupakan terjemahan dari Das Kapital edisi keempat yang terbit pada tahun 1890—tujuh tahun setelah kematian Marx. Artinya, perkara editorial dari teks edisi keempat ini sepenuhnya ada di tangan Engels. Sebagaimana dicatat oleh Ben Fowkes, penerjemah edisi ini ke dalam versi yang kita baca, Engels mengupayakan agar pembaca teks ini lebih dapat memahami bagian-bagian yang sulit dan untuk itu ia terkadang mesti mengubah dan menghapus kalimat-kalimat yang dirasa terlalu rumit bagi pembaca.[2] Ben Fowkes sendiri telah berupaya menghadirkan teks asli dari Marx yang telah diedit Engels (dengan menaruh editan Engels di catatan kaki). Walau demikian, tetap ada beberapa bagian teks Marx yang masih tertutup oleh editan dari Engels. Ini, secara khusus, menjadi problem dari pembacaan kita tentang watak ganda kerja yang akan mengemuka pada pembahasan tentang kerja abstrak. Oleh karena itu, saya akan mengikuti beberapa versi teks lain yang diacu oleh komentator lain, seperti Jacques Bidet.


Hal terakhir berkaitan dengan metode pembahasan adalah terjemahan teks Kapital itu sendiri. Agar peserta diskusi dapat ikut berdebat dengan mendasarkan-diri pada teks, saya akan menerjemahkan teks yang akan saya bahas dan menaruhnya pada bagian awal pemaparan. Seluruh catatan kaki yang ada dalam bagian tersebut, kecuali ditempatkan di antara tanda […], adalah catatan kaki dari Marx.


Sistematika Pembahasan

Ada banyak cara untuk menangani teks ini. Saya sendiri mengusulkan susunan pembahasan berikut ini:

  1. Pemeriksaan atas watak ganda kerja dalam kesebangunan struktural dengan watak ganda komoditas.

  2. Pendefinisian dan pencirian kerja konkrit.

  3. Pengeksplisitan kaitan antara kerja konkrit, sebagai kerja yang memiliki keragaman bentuk, dengan pertukaran dan pembagian kerja.

  4. Pemeriksaan atas pandangan kreasionis tentang kerja konkrit sebagai mediasi.

  5. Pengeksplisitan asumsi ekonomis dari mediasi dan kerja konkrit. Digresi melalui Kritik atas Program Gotha.

Setelah melalui lima tahapan analisis itu barulah kita dapat menyimpulkan apa yang dipersoalkan Marx dalam teks bahasan kita kali ini.


Antisipasi Problem Mediasi: Hubungan antara Dua Watak Ganda

Dalam teks kita, Marx memulai pemaparannya tentang watak ganda kerja (kerja konkrit dan kerja abstrak) dalam kaitannya dengan watak ganda komoditas (nilai-pakai dan nilai-tukar). Marx merujukkan pada kita teks yang telah ia publikasikan delapan tahun sebelumnya, yakni Kontribusi bagi Kritik atas Ekonomi Politik. Di sana ia menulis bahwa sementara kerja konkrit menghasilkan nilai-pakai, kerja abstrak menghasilkan nilai-tukar.[5] Apa hubungan di antara kedua watak ganda ini? Apakah watak ganda komoditas menjadi basis bagi watak ganda kerja, ataukah sebaliknya? Dari segi urut-urutan pemaparan Marx dalam Kapital memang seolah nilai-pakai dan nilai-tukar (watak ganda komoditas) mendahului kerja konkrit dan abstrak (watak ganda kerja). Namun tidak demikian soalnya ketika kita hendak melihatnya secara historis. Sebagaimana akan jelas dalam pemaparan tentang relasi antara kerja konkrit dan pembagian kerja, watak ganda komoditas justru dikonstitusikan oleh watak ganda kerja, dan bukan sebaliknya. Hal ini pun sudah terlihat dari pengertian yang Marx berikan dalam Kontribusi tentang dua watak kerja tersebut. Karena kerja konkrit adalah faktor konstitutif yang menghasilkan nilai-pakai, maka secara historis kerja konkrit mendahului nilai-pakai. Namun ini akan kita permasalahkan lagi lebih lanjut dalam pemaparan kita pada bagian terakhir nanti. Kita tak bisa serta-merta menyimpulkan bahwa watak ganda kerja sepenuhnya mendeterminasi watak ganda komoditas.


Hubungan di antara kedua watak ganda ini sesungguhnya merupakan bagian dari sirkuit watak-watak ganda yang dieksplisitkan Marx dalam keseluruhan kritiknya atas kapitalisme. Saya telah mengindikasikan adanya sirkuit ini dalam esai terakhir saya di bulletin Problem Filsafat nomor 5.[6] Sirkuit tersebut disusun oleh kesebangunan struktural dari oposisi-oposisi yang dibangun Marx: kebutuhan – komoditas, nilai-pakai – nilai-tukar, kerja konkrit – kerja abstrak. Kapitalisme menghadirkan sisi kedua dari setiap pasangan tersebut sebagai realitas sejati yang mengkonstruksikan sisi pertama, atau dengan kata lain, sisi kedua mewujudkan-dirinya sebagai mistifikasi atas sisi pertama. Penjelasan ringkasnya demikian: kebutuhan awalnya mendeterminasi komoditas, namun dalam kapitalisme komoditas justru mereproduksi kebutuhan yang diperlukan bagi sirkulasi komoditas (lih. perdebatan dalam Problem Filsafat no. 3); sebuah barang awalnya dicipta karena nilai-pakainya, namun dalam kapitalisme nilai-pakai suatu barang justru ditentukan dari nilai-tukarnya[7]; kerja konkrit mengartikulasikan nilai-pakai suatu benda, namun dalam kapitalisme kerja abstrak yang homogen dan dihitung dalam waktu-kerja lah yang diutamakan menggantikan kerja konkrit. Karena sisi kedua selalu hadir sebagai mistifikasi atas sisi pertama, maka kita dapat menambahkan pasangan oposisi terakhir yang sebangun dengan ketiga pasangan tersebut dan menjadi tema besar yang melatar-belakangi oposisi-oposisi tersebut, yakni basis – superstruktur: relasi sosial-ekonomi adalah basis perkembangan masyarakat, namun dalam kapitalisme justru agama, politik dan hukum (superstruktur) lah yang seolah menjadi motor perkembangan masyarakat. Kita dapat menggambarkan relasi-relasi tersebut ke dalam bagan berikut.

Bagan ini dapat diperpanjang lagi dengan mengikutsertakan struktur oposisi atau perwatakan ganda yang dieksplisitkan Marx lebih dalam lagi pada jantung Kapital. Namun ini tak bisa kita lakukan saat ini sebab pembacaan kita sendiri baru sampai pada seksi kedua dari Bab I. Karena keterbatasan ini, perbandingan yang dapat kita lakukan hanya bersifat eksemplar saja. Yang jelas, kita tidak bisa memahami hubungan antara watak ganda kerja dan watak ganda komoditas dalam isolasi dari watak-watak ganda lain yang memiliki kesebangunan struktural dengannya.


Melalui bagan di atas kita mendapat kesan seolah-olah terdapat garis determinasi searah yang menstruktur watak ganda tersebut: basis mendeterminasi superstruktur, dan seterusnya. Problem dari determinasi linier ini, secara global, adalah historisisme: karena basis sepenuhnya menentukan superstruktur, maka dengan memahami basis kita mengerti juga seperti apa masa depan umat manusia. Tentu saja, ini bermasalah. Namun membalik arah panah determinasi itu juga bukannya menyelesaikan masalah, seperti yang dilakukan oleh Idealisme Jerman dalam tafsiran Marx ataupun oleh para filsuf avant-garde Prancis seperti Baudrillard dan Lyotard. Bedanya jika arah determinasi pertama mewujud dalam historisisme ekonomis, arah determinasi yang sebaliknya mewujud dalam historisisme rohani (atau hasrati dalam kasus Lyotard). Lantas apa pemecahannya?


Sebagai orang yang belajar karya-karya Marx, kita terbiasa dengan istilah “dialektika”. Apa jangan-jangan dialektika adalah solusinya? Mari kita coba mendialektikakan materialitas dan idealitas, atau basis dan superstruktur, bersama dengan seluruh oposisi yang sebangun dengannya mengikuti urut-urutan pemaparan Marx pada permulaan Kapital. Marilah kita bermula dari basis ke superstruktur kemudian ke basis dan kembali lagi, dan seterusnya. Pada mulanya adalah kebutuhan dan dari kebutuhan ini lahirlah negasinya, yakni komoditas, yang ada untuk menjawab, atau dengan kata lain menegasi, kebutuhan itu. Negasi atas komoditas ini—dan oleh karenanya juga negasi atas negasi dari kebutuhan—terwujud secara internal dalam nilai-pakai: ia menggenapi kebutuhan (memberikan pemenuhan atasnya) sekaligus menyusun sifat dasar komoditas dan, dengan demikian, baik kebutuhan maupun komoditas didamaikan dalam nilai-pakai. Namun muncullah negasi dari nilai-pakai ini, yakni nilai-tukar. Nilai-tukar merupakan negasi atas negasi dari komoditas, atau dengan kata lain, ia menggenapi hakikat-diri komoditas itu sekaligus mengangkat nilai-pakai ke dimensi yang lebih tinggi, dimensi abstrak-relasional. Namun muncul pula negasi atas nilai-tukar ini—dan, bersamaan dengannya, negasi atas negasi dari nilai-pakai—yakni kerja konkrit. Kerja konkrit ini menggenapi ikhwal yang mana ia adalah negasi atas negasinya, yakni nilai-pakai, oleh karena kerja konkrit inilah yang mencipta nilai-pakai. Kerja konkrit juga merupakan negasi atas nilai-tukar sebab ia mengangkat kembali apa yang diselubungi oleh nilai-tukar itu, yakni nilai-pakai. Dengan demikian, kerja konkrit mengangkat-sekaligus-membatalkan (Aufhebung) nilai-pakai dan nilai-tukar, dengan cara yang berbeda terhadap masing-masing. Namun muncullah kerja abstrak sebagai negasi atas kerja konkrit sekaligus negasi atas negasi—dengan kata lain, sekali lagi, pemenuhan—dari nilai-tukar, dan seterusnya. Kita dapat menggambarkan tafsiran dialektis atas histomat ini dengan tabel berikut. Pertanyaannya kemudian: sahihkah tafsiran dialektis ini?


Problem dari penafsiran dialektis atas histomat ini, lepas dari motivasinya yang “baik” (untuk menghindarkan Marx dari historisisme), adalah bahwa ia membawa serta bahaya yang lebih ketimbang sekedar historisisme yang sederhana dan mudah dibantah, yakni Hegelianisasi total atas Marx. Kecuali kita dapat merumuskan secara ketat konsepsi dialektika versi Marx yang sepenuhnya berbeda dari Hegel, setiap tafsiran dialektis atas histomat niscaya akan menjadikan Marx seorang Hegelian yang taat. Mengapa demikian? Karena, seperti dapat kita lihat dalam bagan di muka, setiap titik perhentian dari gerak dialektis antara elemen-elemen tersebut adalah mediasi, bahkan basis paling material dari bagan tersebut, yakni kebutuhan. Melalui determinasi resiprokal yang menjadi ciri khas dialektika Hegel, kebutuhan—sebagai titik tolak Marx—menjadi secara tak terelakkan dideterminasi-balik oleh negasi atas negasinya, yakni nilai-pakai—nilai-pakai yang dideterminasi oleh komoditas, yang dulunya dideterminasi oleh kebutuhan itu sendiri. Singkatnya, kebutuhan sebagai titik tolak determinasi ikut pula terdeterminasi oleh objek yang mulanya ia determinasi. Dengan demikian, kebutuhan—momen paling material dari sistem Marx dalam Kapital—itupun merupakan mediasi dan bukan merupakan titik tolak absolut. Setiap titik dalam bagan tersebut adalah mediasi di antara elemen yang lain. Permasalahannya, Marx justru mengkritik total logika mediasi ini—sejak periode Manuskrip Paris hingga akhir—yang misalnya mewujud dalam konsep uang sebagai mucikari hasrat manusia, dengan kata lain, kritik atas mediasi sebagai logika pertukaran, logika superstruktur. Membaca watak-watak ganda tersebut secara dialektis—artinya, membaca setiap watak tersebut, bahkan yang menjadi basis material sekalipun, sebagai mediasi—sama artinya dengan menyatakan bahwa segala sesuatunya telah selalu terjadi sekaligus telah selalu berakhir/sampai tujuan: que sera sera. Itulah hakikat konservatif dari pembacaan dialektis atas histomat.


Apabila baik tafsiran linier maupun tafsiran dialektis atas histomat, atau secara lebih spesifik relasi antara watak ganda komoditas dan watak ganda kerja, sama-sama bermasalah, lantas model tafsir macam apa yang mesti kita gunakan? Saya sendiri memilih untuk menjawab pertanyaan ini pada akhir makalah, yakni setelah kita menganalisis terlebih dahulu detil perkembangan argumentasi Marx dalam teks. Penjelasan panjang lebar tadi hanya bersifat antisipatif saja terhadap problem mediasi yang eksplisit pada akhir teks yang kita bahas—sebuah problem yang mau tak mau mesti kita hadapi.


Kerja-Berguna: Pembahasaan Pertama dari Kerja Konkrit

Marx berbicara tentang kerja-berguna (useful labour) yang ia definisikan sebagai “kerja yang kegunaannya direpresentasikan oleh nilai-pakai produknya, atau dari fakta bahwa produknya ialah nilai-pakai.”[8] Kerja-berguna ini tidak lain adalah kerja konkrit—sebuah istilah yang lebih jamak dipakai Marx—sebab menjelang akhir seksi kedua Marx berbicara tentang kerja-berguna sebagai “kerja konkrit yang berguna”[9] ditambah lagi, dalam Kontribusi, Marx mendefinisikan kerja konkrit dalam rumusan yang identik dengan definisi kerja-berguna.[10] Inti dari kerja-berguna (atau kerja konkrit—saya akan menggunakan dua istilah tersebut secara bergantian) adalah bahwa ia menghasilkan nilai-pakai. Jika seseorang menjahit untuk menggunakan pakaian hasil jahitannya, maka ia melakukan kerja konkrit (berbeda dengan seseorang yang menjahit dalam jam kerja tertentu dengan tujuan mendapatkan upah—ia menjalankan kerja abstrak; namun ini akan kita bahas minggu depan).

Ada dua ciri dasar dari kerja-berguna yang dapat kita sarikan dari teks Marx:

  1. Kerja-berguna mewujudkan dirinya dalam perbedaan kualitatif dengan kerja-berguna yang lain. Pada-dirinya sendiri kerja-berguna tak pernah seragam, ia belum dihomogenkan melalui waktu kerja sebagai unit-unit tenaga kerja. Kerja berguna yang satu sungguh berbeda (dengan kata lain, berbeda secara kualitatif dan tidak sekedar kuantitatif) dari kerja-berguna yang lain: mengajar dan menjahit adalah dua kerja-berguna yang berbeda sejauh keduanya belum diukur oleh waktu kerja yang menentukan sistem pengupahan terhadap dua bentuk kerja tersebut yang, oleh karenanya, menjadikan kedua bentuk kerja tersebut hanya berbeda secara kuantitatif dan identik secara kualitatif.

  2. Kerja-berguna menghasilkan produk yang juga berbeda secara kualitatif. Apa yang dihasilkannya belum diukur berdasarkan nilai-tukar homogen, yakni uang dalam bentuk harga produk. Produk dari kerja-berguna berbeda satu sama lain sebagai nilai-pakai spesifik (mantel, beras, puisi) dan tidak sekedar berbeda secara kuantitatif dari segi nilai-tukar (1 setelan jas = Rp. 1.500.000, 1 esai = Rp. 500.000).

Lantas apakah yang membuat kerja konkrit itu konkrit? Apa yang membuatnya konkrit, berdasarkan dua ciri di muka, adalah perbedaan kualitatif di antara kerja konkrit yang satu dengan kerja konkrit yang lain dan antara kerja konkrit dengan produknya. Apa yang membuatnya konkrit, oleh karenanya, adalah fakta bahwa kerja konkrit yang satu tak dapat direduksikan berdasarkan ukuran yang lain tanpa merenggut kekonkritannya sendiri.


Pembagian Kerja: Prakondisi bagi Pertukaran di antara Hasil Kerja Konkrit

Kerja konkrit yang berbeda menghasilkan nilai-pakai yang berbeda. Perbedaan ini merupakan watak dasar dari kerja konkrit akan tetapi sekaligus juga merupakan elemen yang memungkinkan tumbuhnya modus produksi kapitalis. Marx menulis: “Apabila nilai-pakai tidak berbeda secara kualitatif, dan oleh karenanya bukan produk dari kerja-berguna yang berbeda bentuk, maka tak akan bisa berhadapan satu sama lain sebagai komoditas.”[11] Pertanyaannya: Mengapa produk-produk dari kerja konkrit mesti diandaikan berbeda agar kita dapat berpikir tentangnya sebagai komoditas? Karena komoditas—di sini kita masuk logika pertukaran dan meninggalkan logika nilai-pakai—mensyaratkan diferensiasi sedemikian sehingga produk yang satu dapat diperbandingkan (mensyaratkan satu ukuran bersama), dan oleh karenanya juga dipertukarkan, terhadap produk yang lain. Sebuah mantel yang ditukarkan dengan mantel lain yang sama adalah sama dengan tidak menukarkan suatu apapun. Pertukaran hanya berarti apabila ada dua produk yang berbeda satu sama lain: sejumlah uang yang ditukarkan dengan kepatuhan intelektual, misalnya. Struktur pertukaran inilah yang menghadirkan produk, nilai-pakai, sebagai komoditas. Tanpa perbedaan antar nilai-pakai—itu artinya juga tanpa perbedaan antar kerja-konkrit—maka tak akan ada pula komoditas. Perbedaan kualitatif yang mencirikan kerja konkrit dan produknya—yakni nilai-pakai—dengan demikian menyediakan pula jalan menuju formasi modus produksi kapitalis.


Apabila komoditas mensyaratkan perbedaan antar nilai-pakai dan perbedaan itu sendiri mensyaratkan perbedaan antar kerja konkrit, lantas apakah yang diandaikan dalam perbedaan antar kerja konkrit ini? Jawabnya tak lain adalah pembagian sosial atas kerja (social division of labour). Di sini Marx mengeksplisitkan relasi kausal di antara pembagian kerja dan produksi komoditas: pembagian kerja adalah prakondisi yang niscaya diperlukan bagi adanya produksi komoditas, namun tidak sebaliknya. Dengan kata lain, pembagian kerja merupakan basis material dari produksi komoditas. Namun mengapa tidak bisa sebaliknya? Karena komoditas adalah produk yang dicipta untuk dikonsumsi nilai-pakainya setelah ia dipertukarkan terlebih dahulu, dengan kata lain, setelah kerja konkrit ditransformasi menjadi kerja abstrak.[12] Padahal pembagian kerja pada mulanya merupakan pembagian kerja konkrit yang terwujud misalnya dalam kerja gotong-royong untuk kegunaan langsung dari mereka yang terlibat (contohnya, pertanian komunal). Kalaupun ada pertukaran, ia muncul sebagai surplus dari nilai-pakai—artinya, pertukaran belum menjadi tujuan dari kerja itu sendiri, belum ada produk yang “dibuat demi tujuan pertukaran itu sendiri.”[13] Dengan demikian, menjadi jelas bahwa keberadaan komoditas—sebagai objek yang dicipta untuk dipertukarkan—hanya dimungkinkan jika telah terdapat pembagian kerja terlebih dahulu: yang kedua menjadi prakondisi bagi adanya yang pertama.

Bagaimana transisi dari pembagian kerja yang masih berorientasi pada penciptaan nilai-pakai semata ke pembagian kerja lanjutan yang bertujuan memproduksi komoditas? Jawabnya tidak hanya diferensiasi nilai-pakai yang inheren dalam logika kerja konkrit. Agar transisi ke komoditas ini berjalan, ia masih harus ditambah satu hal lain. Marx menulis pada akhir paragraf tentang pembagian kerja ini: “Hanya produk-produk dari laku kerja yang independen satu sama lain—diwujudkan dalam isolasi—yang dapat berhadap muka satu dengan yang lain sebagai komoditas.”[14] Apa artinya kerja yang “independen satu sama lain” atau “diwujudkan dalam isolasi”? Untuk memahami ini kita mesti memeriksa sejarah pembagian kerja. Dalam Bab Pembagian Kerja dan Manufaktur, Marx menyatakan bahwa fondasi dari setiap pembagian kerja yang bertumpu pada pertukaran adalah—ia mengikuti Sir James Steuart—separasi kota dari desa.[15] Namun Marx tak menjelaskan lebih lanjut tentang hal ini dalam Kapital. Oleh karena itu, untuk memahami relevansi “separasi kota dari desa” ini kita perlu menengok ke karya Marx sebelum Kapital. Karya yang dimaksud adalah German Ideology, teks pertama di mana Marx mengelaborasi pemikirannya tentang pembagian kerja. Di sana nampak bahwa separasi kota dari desa, pada hakikatnya, merupakan separasi modal dari kepemilikan lahan (landed property): “Separasi kota dan desa dapat pula dipahami sebagai separasi modal dari kepemilikan lahan, sebagai asal-mula keberadaan dan perkembangan modal yang independen terhadap kepemilikan lahan—asal-mula dari kepemilikan yang berbasis hanya pada kerja dan pertukaran.”[16] Artinya, separasi kota dari desa, atau separasi manufaktur dari agrikultur, mengandaikan perubahan konsep kerja, dari kerja konkrit untuk menghasilkan nilai-pakai sebagai sarana hidup (means of subsistence) menuju kerja abstrak yang menghasilkan nilai-tukar, yang bertopang pada mediasi uang, untuk memperoleh komoditas. Konsekuensi dari transformasi konsep kerja ini adalah isolasi kerja yang satu dari yang lain: yang satu memproduksi roti, yang lain memproduksi pakaian, namun keduanya—dari perspektif kerja abstrak yang homogen—menghasilkan barang yang sama, yakni upah, yang digunakan untuk membeli barang yang mereka produksi sendiri. Singkatnya, transisi dari nilai-pakai ke komoditas mensyaratkan tidak hanya diferensiasi nilai-pakai melainkan juga transformasi model pembagian kerja ke dalam pembagian kerja yang bertopang sepenuhnya pada produksi nilai-tukar.


Kerja Konkrit sebagai Mediasi!

Tibalah kita kini pada bagian yang kontroversial dalam skema pembacaan kita. Kita mulai dengan teksnya.

Manusia membuat pakaian selama ribuan tahun, berdasarkan dorongan kebutuhan untuk berpakaian, tanpa seorang manusia pun menjadi penjahit. Namun keberadaan mantel, linan dan setiap elemen kesejahteraan material yang tak diberikan oleh alam, senantiasa mesti dimediasi melalui aktivitas produktif spesifik yang cocok dengan tujuannya, sebuah aktivitas produktif yang mengasimilasikan materi-materi alam partikular terhadap persyaratan manusia yang partikular. Kerja, sebagai pencipta nilai-pakai, sebagai kerja-berguna, merupakan suatu kondisi bagi keberadaan manusia yang independen terhadap seluruh bentuk masyarakat, suatu keniscayaan alam abadi yang memediasi metabolisme di antara manusia dan alam, dan karenanya hidup manusia itu sendiri.[17]

Bagaimana kita mesti mempertanggung-jawabkan teks ini? Setelah mengikuti berbagai kritik Marx atas logika mediasi (mulai dari kritik atas konsep uang, nilai-tukar, komoditas, yang semuanya dicirikan oleh peran mediasinya), lantas kita dibenturkan pada teks di mana kerja konkrit—sang korban penindasan rezim kerja abstrak kapitalisme—justru diposisikan dalam peran mediasi. Berhadapan dengan teks semacam ini, umumnya kita menarik beberapa alternatif: atau kerja konkrit mesti ditinggalkan karena masih terkontaminasi logika mediasi (baca: logika re-produksi kapital), atau proyek pemikiran Marx tidak boleh dilihat sebagai kritik atas mediasi/representasi dan tidak juga sebagai konstruksi atas model imediasi/presentasi yang baru, atau—sebagaimana setiap pembacaan yang, karena terlalu banyak berkompromi, sejatinya tak mengatakan apa-apa—pemikiran Marx mesti dibaca sebagai sintesis antara mediasi dan imediasi sehingga jika ada mediasi ya tak apalah, asal jangan berlebihan. Namun, sebelum mengambil kesimpulan terlalu jauh, mari kita renungkan lagi perlahan-lahan.


Jika kita baca teks di muka dalam keheningan, tidakkah kita mendengar sayup-sayup suara abad lampau yang anehnya tak begitu asing bagi kita? Suara yang akrab karena kita, atau hampir semua dari kita, pernah melantunkan nada yang sama, tiga tahun yang lalu, ketika kita semua adalah Hegelian-muda. Segeralah saya bongkar tumpukan buku di lemari untuk mencari sebuah kitab dari tiga tahun yang lampau: kitab Fenomenologi Roh. Dalam seksi berjudul “Tuan dan Budak” saya temukan teks yang saya reproduksi di bawah ini:

Melalui kerja, sang budak menjadi sadar akan hakikat dirinya. […] Kerja merupakan hasrat yang ditahan, keberlaluan yang dicegah; dengan kata lain, kerja membentuk dan menentukan hal-ikhwal. Relasi negatif dengan objek menjadi bentuk-nya dan menjadi sesuatu yang permanen oleh karena hanya bagi pekerjalah objek memiliki independensi. Term-tengah negatif atau aktivitas formatif ini pada saat yang bersamaan merupakan individualitas atau ada-bagi-diri-sendiri yang murni dari kesadaran yang kini, di dalam kerja di luarnya, mencapai suatu elemen ketetapan. Dengan cara inilah, karenanya, kesadaran—sebagai pekerja—dapat melihat di dalam ada yang independen [objek] independensinya sendiri. […] Melalui penemuan kembali dirinya oleh dirinya inilah sang budak sadar bahwa di dalam kerjanya—yang hanya nampaknya saja mengasingkan dirinya—ia mencapai kesadaran dirinya sendiri.[18]

Sebagai mediasi (term-tengah negatif, kata Hegel), kerja adalah hakikat individualitas. Objek-objek alamiah yang tadinya eksis terpisah dan independen dari dirinya, kini, melalui kerja, berubah menjadi cermin bagi kebebasan-dirinya dalam membentuk dan mengolah objek-objek tersebut. Melalui mediasi aktif-transformatif antara manusia dengan alam inilah manusia mencapai realisasi kesadaran-dirinya. Ibarat Roh yang mengalienasikan-dirinya ke dalam alam material dan menemukan penggenapannya dalam pikiran manusia, dengan bekerja—bagi Tuannya, tentu saja—manusia merealisasikan-dirinya, menemukan jati-dirinya. Domba yang hilang telah ditemukan!

Pertanyaannya kemudian: Apakah kerja konkrit merupakan upaya untuk menemukan “domba yang hilang” itu? Apabila Marx berbicara tentang kerja konkrit sebagai mediasi, dan mediasi niscaya berarti mediasi-menuju-Sesuatu, apakah kerja konkrit senantiasa digerakkan oleh hikayat penebusan menuju penggenapan-diri Manusia?


Melampaui Filsafat Kerja: Fondasi Ekonomis dari Mediasi

Mari kita dengarkan apa yang dikatakan Marx dalam paragraf selanjutnya—paragraf penghabisan dari sesi diskusi ini.

Apabila kita mereduksi jumlah total dari kerja-berguna apapun jenisnya yang terkandung di dalam mantel, linan, dst., suatu alas material [material substratum] senantiasa tersisa. Alas ini diberikan oleh alam tanpa intervensi manusia. Ketika manusia terlibat dalam produksi, ia hanya dapat berproses sebagaimana alam memperlakukan-dirinya, yakni ia hanya dapat merubah bentuk dari materi-materi. […] Kerja karenanya tidak menjadi satu-satunya sumber kesejahteraan material, yakni nilai-pakai yang diproduksinya.[19]

Implikasi dari penjelasan ini jelas: ia menyanggah penekanan-penekanan tertentu dari pemaparan sebelumnya. Dengan menyatakan bahwa ada “alas material yang senantiasa tersisa” di luar kerja itu sendiri, Marx mematahkan ilusi kreasionis tentang kerja (kerja sebagai kreator nilai-pakai, pencipta hal-ikhwal) yang nampak dalam paragraf sebelumnya. Dengan menyatakan bahwa kerja “tidak menjadi satu-satunya sumber kesejahteraan material,” Marx juga mengklarifikasi ilusi yang rentan muncul dari pengertian bahwa watak ganda kerja menentukan watak ganda komoditas yang telah kita persoalkan di awal pembahasan kita. Dan dengan menyatakan bahwa kerja “hanya dapat merubah bentuk-bentuk dari materi”, Marx secara sekaligus mengafirmasi Hegel—kerja sebagai formalisasi—namun juga meninggalkan Hegel—ada batas dari formalisasi itu, yakni material substratum. Dengan kata lain, kerja tidak dibimbing oleh logika Roh yang menjelma dalam kesadaran dan mengeksternalisasikan diri melalui kerja menuju objek ciptaannya, seolah Ide dapat membentuk segala ikhwal dan—mengutip Rousseau—“menguasai seluruh dunia secara mendadak dari ruang kerjanya.”[20]


Namun apa yang dimengerti Marx sebagai “alas material”? Kita akan menangani pertanyaan ini dalam dua tahap. Pertama, kita akan melihatnya dalam kaitan dengan kerja. Untuk itu kita akan memeriksa cara Marx menangani persoalan ini dalam teks yang ditulis 8 tahun sesudah Kapital Jilid I, yaitu Kritik atas Program Gotha. Teks tersebut adalah surat yang ditujukan Marx kepada para petinggi SDAP (Partai Buruh Sosial-Demokrat; Jerman) untuk mengkritik program yang dihasilkan melalui Kongres Gotha di mana diupayakan fusi antara SDAP dan ADAV (Asosiasi Umum Pekerja Jerman) yang berada di bawah pengaruh Ferdinand Lassalle.[21] Menurut Marx, program yang dihasilkan terlalu banyak berkompromi dengan faksi Lassallean dan karenanya memoderatkan (memborjuiskan) arah gerak partai. Mari kita kutip pembedahan yang dilakukan Marx atas kalimat pertama Program Gotha yang mengeksplisitkan relasi antara kerja dan alam.

Bagian pertama paragraf: ‘Kerja adalah sumber segala kesejahteraan dan kebudayaan.’
Kerja bukanlah sumber dari segala kesejahteraan. Alam adalah juga sumber nilai-pakai (inilah yang membuatnya menjadi kesejahteraan material) sebagaimana kerja. Kerja pada dirinya hanyalah pengejawantahan dari kekuatan alam, tenaga kerja manusia. Frase ini dapat ditemukan di setiap buku pelajaran anak-anak; ia benar sejauh diasumsikan bahwa kerja dilaksanakan dengan objek-objek dan instrumen-instrumen yang diperlukan baginya. Akan tetapi, sebuah program sosialis tidak boleh mengizinkan rumusan borjuis macam itu untuk membungkam kondisi-kondisi yang memberikan kepada mereka satu-satunya makna yang mereka miliki. Kerja manusia hanya menjadi sumber nilai-pakai, dan oleh karenanya juga kesejahteraan, apabila relasinya dengan alam—sebagai sumber utama segala instrumen dan objek kerja—adalah kepemilikan sejak mula dan jika ia memperlakukannya sebagai ikhwal yang ia miliki. Ada alasan yang masuk akal bagi kaum borjuis untuk menetapkan kuasa kreatif supernatural pada kerja, sebab ketika seorang manusia tak memiliki kepemilikan lain selain tenaga kerjanya maka ketergantungan kerjanya pada alam lah yang akan memaksanya, dalam segala kondisi sosial dan kultural, untuk menjadi budak bagi manusia lain yang telah mengambil kondisi-kondisi objektif kerja sebagai milik mereka sendiri. Ia butuh izin mereka untuk bekerja, dan karenanya juga, izin dari mereka untuk hidup.[22]

Melawan kaum Lassallean yang memandang kerja sebagai sumber kreatif seluruh kesejahteraan alam material, Marx menunjukkan alas material sebagai ambang batas dari formalisasi “kreasionis” yang dilakukan oleh kerja, dan oleh karenanya Marx menggemakan kembali klarifikasinya dalam Kapital. Saya akan menguraikan satu persatu relevansi dari teks di atas bagi pemahaman kita tentang relasi kerja dan alam.


Pertama, kita mesti membaca kritik ini dalam kaitan dengan paparan Marx dalam Kapital yang menyatakan bahwa kerja konkrit merupakan “suatu keniscayaan alam abadi yang memediasi metabolisme di antara manusia dan alam, dan karenanya hidup manusia itu sendiri.” Dengan membaca Kritik atas Program Gotha, mediasi kerja sebagai “keniscayaan alam abadi” itu kini dimengerti sebagai pengertian yang “dapat ditemukan di setiap buku pelajaran anak-anak”. Marx selanjutnya menulis: “ia benar sejauh diasumsikan bahwa kerja dilaksanakan dengan objek-objek dan instrumen-instrumen yang diperlukan baginya.” Apa arti dari asumsi ini? Artinya, kerja konkrit memediasi diri manusia dengan alam sejauh objek-objek material dimengerti sebagai hak milik pribadi sehingga dapat dijadikan instrumen bagi kerja. Di sini kita menemukan fondasi ekonomis dari mediasi. Kerja konkrit, sebagai mediasi, hanya dimungkinkan sejauh kepemilikan pribadi telah diterima sebagai horizon masyarakat di mana kerja konkrit itu tampil. Kerja yang dilakukan manusia atas alam mensyaratkan kepemilikan atas setiap objek dalam alam tersebut sebagai objek-ku sehingga dapat ku-olah sesuai dengan keinginan-ku. Namun fondasi ekonomis dari mediasi ini dapat pula dilihat dalam argumen filosofis. Untuk itu saya akan meminjam pengamatan sublim Trân Duc Thao, seorang filsuf Vietcong besar yang kini hampir terlupakan. Ia berhasil mengeksplisitkan asumsi filosofis dari kepemilikan pribadi, bahkan dalam bentuk komunalnya dalam masyarakat primitif. Mari kita kutip Bab kedua dan terakhir yang jarang dibaca dari bukunya di mana ia menyatakan bahwa

pengakuan akan kepemilikan yang lain, yang mengubahnya menjadi properti, justru dimungkinkan hanya melalui fondasi eksklusi-yang-diantisipasi [outlined exclusion] yang dialami sebagai negasi. Mengamini sebuah objek sebagai milik yang lain sama dengan, pada saat itu juga, sudah memilikinya untuk kemudian membatalkannya secara langsung dan menetapkannya kepada yang lain. […] Dengan demikian, konstitusi sosial atas hak milik mengimplikasikan secara asali bagi semuanya, sebuah gerak apropriasi universal yang ekuivalen dengan suatu ekspropriasi universal. […] Dalam gerak transendensi seperti itu, objek dipersepsi sebagai non-ada, [tidak sebagai] ada riil yang terberi dalam materialitas kehidupan praktis, melainkan sebagai sebuah esensi ideal murni dalam komuni mistik [mystical communion] dengan subjektivitas hidup murni.[23] […]
Oleh karenanya, di sinilah terjadinya mistifikasi primordial yang akan menjustifikasi keseluruhan proses eksploitasi nantinya: […] eksklusivitas yang dilekatkan pada kepemilikan objek mengikut-sertakan negasi atas realitas aktualnya dan penyerapannya ke dalam transendensi kesadaran murni diri sendiri, di mana kesatuan mistik antara sang pemilik dan harta miliknya diwujudkan.[24]

Melalui paragraf ini menjadi terang, mulanya, bagaimana kepemilikan komunal primitif bukannya lugu, naif dan tanpa noda. Kepemilikan komunal primitif hanyalah penjumlahan dari kepemilikan pribadi yang dibagi-bagikan kepada seluruh anggota suku: mengakui barang milik bersama mengandaikan pengakuan implisit bahwa mulanya barang itu milikku tetapi aku bagi untuk bersama. Namun Trân Duc Thao bergerak lebih jauh dari itu. Asumsi bahwa “mulanya barang itu milikku”, dengan kata lain asumsi tentang kepemilikan pribadi yang primordial, memiliki fondasinya pada asumsi metafisis tentang kesatuan mistik antara diri dan objek, antara diri dan alam. Inilah asal-usul gaib dari mediasi. Hanya dengan mempostulatkan kesatuan subjek-objek dalam relasi kepemilikan—relasi yang membuat subjek menyadari singularitas dirinya sebagai Subjek yang merangkum dirinya dan alam—barulah mediasi dimungkinkan. Mediasi, oleh karenanya, mensyaratkan tiga momen: properness, property, proper name—atau metafisika penebusan, ekonomi-politik tentang hak milik, dan spekulasi tentang singularitas individual.[25]


Relevansi kedua dari teks Kritik atas Program Gotha terhadap pemahaman tentang paragraf terakhir teks bahasan kita (Kapital, maksudnya) adalah mengenai persoalan mistifikasi atas daya kreatif kerja itu sendiri. Pengertian Marx tentang adanya “alas material” sebagai batas formalisasi kerja diperkuat lagi dengan peringatan Marx dalam Kritik bahwa pengertian kreasionistik tentang kerja (“kuasa kreatif supernatural”) adalah pengertian borjuis. Dengan mereduksi manusia menjadi tenaga kerja yang menjadi sumber segala nilai-pakai (kerja konkrit), kaum borjuis tinggal menciptakan suatu mekanisme perampasan atas nilai-pakai tersebut dan memaksa para pekerja untuk terus bekerja padanya. Di sini hidup menjadi soal perizinan: kaum pekerja yang telah direduksi menjadi sumber nilai-pakai mesti meminta izin untuk terus hidup dengan bekerja kepada kaum borjuis yang memiliki keseluruhan sarana-sarana kerjanya (mulai dari air, tanah hingga mesin).


Mari kita organisasikan pemahaman yang telah kita peroleh dari pembacaan atas paruh pertama seksi kedua Kapital ini. Kerja konkrit, sebagai kerja yang memproduksi nilai-pakai, adalah sebuah kategori ekonomi yang historis. Ia bukanlah fenomena yang tetap di segala zaman. Dalam masyarakat dengan modus produksi kapitalis, kerja konkrit nampak sebagai sesuatu yang hilang, yang direduksi menjadi kerja abstrak yang dikerangka dalam jam kerja. Namun ia bukanlah sang korban yang mesti direstorasi sesudah penghancuran atas modus produksi kapitalis, seolah untuk mengembalikan suatu kemurnian primitif yang hilang. Jika ia diidealisasikan, ia hanya akan menjadi ilusi retrospektif yang tercipta dari mekanisme cermin kapital sendiri. Marx bukan seorang romantik. Ia justru melihat—melalui kritiknya atas Program Gotha—bahwa kerja konkrit secara historis mensyaratkan institusionalisasi kepemilikan pribadi. Adalah absurd, karenanya, bagi seorang pemikir yang hendak memikirkan bentuk organisasi ekonomi di luar kerangka kepemilikan pribadi/swasta untuk menempatkan kerja konkrit—yang tak lain adalah bentukan kepemilikan pribadi itu sendiri—sebagai sesuatu yang mesti digali dari zaman dinosaurus dan diidealkan sebagai bentuk kerja masa depan. Kritiknya atas logika mediasi, dengan demikian, tetap konsisten.


Lantas bagaimana relasi antara kedua watak ganda yang kita pertanyakan di muka, antara watak ganda kerja dan watak ganda komoditas? Kini kita dapat menjawabnya: watak ganda kerja mendeterminasi watak ganda komoditas namun tetap ada elemen dari komoditas, yakni nilai-pakai, yang tak sepenuhnya dikonstitusikan oleh kerja. Elemen itu adalah alas material. Itulah presentasi murni yang menjadi basis dari segala representasi (sebagaimana air, udara dan tanah dimonopoli oleh perusahaan dan negara) namun pada-dirinya tak dapat direpresentasikan tanpa mengubahnya menjadi kepemilikan pribadi/swasta. Itulah ada. Seperti dikatakan Marx, persoalannya “tidak tergantung pada kesadaran, melainkan pada ada; tidak pada pikiran, melainkan pada kehidupan; tergantung pada perkembangan empiris individu dan pengejawantahan hidup, yang pada akhirnya tergantung pada kondisi-kondisi nyata dalam dunia.”[26] Dan alas material ini tak dapat dimengerti hanya sebatas benda (res), melainkan juga sebagai praktik.[27] Tidak sebagai kerja (poiēsis; faber)—yang maknanya selalu berarti apropriasi-menjadi-milik—melainkan sebagai praktik (praxis), sebagai revolusi, untuk mencipta bentuk baru asosiasi sosial, merumuskan konsep kepemilikan sosial yang tak bertumpu pada asumsi kepemilikan swasta, singkatnya: untuk membuktikan bahwa “kebenaran” merupakan “ke-disini-an [Diesseitigkeit] dari pikiran”—imanensi teori dan praktik.[28]***


[dari Problem Filsafat Volume VI, Agustus 2010]


[1] Yaitu sampai halaman 134 dalam edisi yang kita gunakan bersama: Karl Marx, Capital Vol I diterjemahkan oleh Ben Fowkes (Middlesex: Penguin Books), 1979.


[2] Lih. catatan penerjemah dalam ibid., hlm. 87.


[3] Karl Marx, op.cit., hlm. 12, 13, dan seterusnya [maksudnya, Zur Kritik der Politischen Ökonomie, atau dalam versi terjemahan Inggrisnya, A Contribution to the Critique of Political Economy diterjemahkan oleh S.W. Ryazanskaya (New York: International Publishers), 1972, hlm. 41, 42.].


[4] ‘Seluruh fenomena alam semesta, entah diproduksi dari tangan manusia maupun oleh hukum universal fisika, tidak dapat dipahami sebagai laku penciptaan namun sepenuhnya sebagai penyusunan-ulang materi. Komposisi dan separasi adalah satu-satunya elemen yang ditemukan pikiran manusia manakala ia menganalisis konsep reproduksi; dan demikian juga dengan reproduksi nilai’ (nilai-pakai, walaupun Verri sendiri, dalam polemik melawan kaum Fisiokrat ini, tidak cukup yakin tentang jenis nilai yang diacunya) ‘dan kesejahteraan, entah alam, udara dan air dirubah menjadi jagung di ladang, atau sekresi dari seekor serangga diubah menjadi sutra melalui tangan manusia, atau potongan kecil metal disusun bersama untuk membentuk sebuah jam’ (Pietro Verri, Meditazioni sulla economia politica—dicetak pertama pada tahun 1771—dalam edisi Custodi dari para ekonom Italia, Parte moderna, Jilid 15, hlm. 21, 22).


[5] Lih. Karl Marx, A Contribution to the Critique of Political Economy diterjemahkan oleh S.W. Ryazanskaya (New York: International Publishers), 1972, hlm. 36.


[6] Lih. Martin Suryajaya, Pendahuluan menuju Problem Imediasi dalam Pemikiran Marx dalam Problem Filsafat no. 5, tahun 2010.


[7] “To become use-values commodities must be altogether alienated; they must enter into the exchange process; exchange however is concerned merely with their aspect as exchange-values. Hence, only by being realised as exchange-value can they be realised as use-values.” Karl Marx, A Contribution..., op.cit., hlm. 42-43 (cetak tebal dari saya).


[8] Karl Marx, Capital Vol I, op.cit., hlm. 132.


[9] Lih. Ibid., hlm. 137.


[10] “Whereas labour positing exchange-value is abstract universal and uniform labour, labour positing use-value is concrete and distinctive labour”. Karl Marx, A Contribution…, op.cit., hlm. 36.


[11] Karl Marx, Capital Vol I, op.cit., hlm. 132.


[12] “With the disappearace of the useful character of the products of labour, the useful character of the kinds of labour embodied in them also disappears; this in turn entails the disappearance of the different concrete form of labour. They can no longer be distinguished, but are all together reduced to the same kind of labour, human labour in the abstract. Let us now look at the residue of the products of labour. These is nothing left of them in each case but the same phantom-like ob jectivity; they are merely congealed quantities of homogeneous human labour, i.e. of human labour-power expended without regard to the form of its expenditure. […] As crystals of this social substance, which is common to them all, they are values—commodity values [Warenwerte].” Ibid., hlm. 128.


[13] Ibid., hlm. 182.


[14] Ibid., hlm. 132.


[15] “The foundation of every division of labour which has attained a certain degree of development, and has been brought about by the exchange of commodities, is the separation of town from country. One might well say that the whole economic history of society is summed up in the movement of this antithesis.” Ibid., hlm. 472.


[16] Karl Marx dan Friedrich Engels, The German Ideology, Bab I, bagian C, seksi Division of Labour: Town and Country, www.marxists.org. (cetak miring dari saya).


[17] Karl Marx, Capital Vol I, op.cit., hlm. 133 (garis bawah dari saya).


[18] G.W.F. Hegel, Phenomenology of Spirit diterjemahkan oleh A.V. Miller (Oxford: Clarendon Press), 1978, hlm. 118-119 (§195-196).


[19] Karl Marx, Capital Vol I, op.cit., hlm. 133-134.


[20] Jean-Jacques Rousseau, Perihal Kontrak Sosial, atau Prinsip-Prinsip Hukum Politik (edisi dwibahasa Indonesia-Prancis) diterjemahkan oleh Ida Sundari Husen dan Rahayu Hidayat (Jakarta: Dian Rakyat), 1989, hlm. 23 (Buku I, Bab 9).


[21] Ferdinand Lassalle (1825-1864) adalah seorang veteran aktivis Revolusi 1848 yang tetap tinggal di Jerman sampai akhir hayatnya. Ia mengakui Manifesto Komunis yang dibuat Marx-Engels namun ia seorang oportunis yang memandang dirinya sebagai “sang juru selamat kelas pekerja”. Setelah kegagalan Revolusi 1848, Lassalle berkesimpulan bahwa gerakan pekerja mesti didukung oleh tentara Jerman. Di tahun 1863 ia mendirikan ADAV untuk mempromosikan politik demokrasi elektoral dan kebijakan “pabrik-koperasi” yang didanai pemerintah. Untuk tujuan inilah Lassalle terlibat dalam surat-menyurat rahasia dengan Otto von Bismarck untuk mewujudkan suatu kontrak politik: seluruh kaum buruh Jerman harus mendukung politik aneksasi Bismarck dan rencana “pabrik-koperasi” akan didukung oleh negara Jerman. Seluruh informasi ini saya reproduksi dari catatan editorial David Fernbach dalam Karl Marx, The First International and After: Political Writings, Volume 3 (Middlesex: Penguin Books), 1981, hlm. 20-21.


[22] Ibid., hlm. 341.


[23] Trân Duc Thao, Phenomenology and Dialectical Materialism diterjemahkan oleh Daniel J. Herman dan Donald V. Morano (Dordrecht: D. Reidel Publishing Company), 1986, hlm. 181-182.


[24] Ibid., hlm. 179.


[25] Bdk. kritik Marx atas (Santo) Max Stirner atau Sancho (“panggilan sayang” Marx terhadap Stirner yang diacunya melalui Sancho Panza, asisten Don Quixotte dalam novel karangan Cervantes) dalam The German Ideology, op.cit. (penekanan dari saya: cetak tebal untuk posisi pemikiran Stirner, garis bawah untuk kritik Marx): “Precisely because thought, for example, is the thought of a particular, definite individual, it remains his definite thought, determined by his individuality in the conditions in which he lives. The thinking individual therefore has no need to resort to prolonged reflection about thought as such in order to declare that his thought is his own thought, his property; from the outset it is his own, peculiarly determined thought and it was precisely his peculiarity which [in the case of St.] Sancho [was found to be] the ‘opposite’ of this, the peculiarity which is peculiar ‘as such’. […] It depends not on consciousness , but on being; not on thought, but on life; it depends on the individual's empirical development and manifestation of life, which in turn depends on the conditions existing in the world. […] For St. Sancho vocation has a double form; firstly as a vocation which others choose for me […]. Afterward vocation appears also as a vocation in which the individual himself believes. If the ego is divorced from all its empirical conditions of life, it's activity, the conditions of its existence, if it is separated from the world that forms its basis and from its own body, then, of course, it has no other vocation and no other designation than that of representing the human being of the logical proposition and to assist St. Sancho in arriving at the equations given above.”


[26] Karl Marx dan Friedrich Engels, The German Ideology, op.cit.


[27] Bdk. Kalimat pertama dalam tesis pertama Marx tentang Feuerbach.


[28] Bdk. Tesis kedua Marx tentang Feuerbach.

Recent Posts

See All

Retrospektif Komunitas Marx

"Bagaimana Komunitas Marx Menerbitkan Jurnal Problem Filsafat dan Bubar Setelah Mentransformasi Diri" Oleh Martin Suryajaya Dalam suasana kepailitan Komunitas AksiSepihak dan amanat penderitaan rakyat

Retrospektif Komunitas AksiSepihak

"Bagaimana Komunitas AksiSepihak Berniat Melawan Dunia dan Gulung Tikar Setelah Menerbitkan Buku Pertama" Oleh Martin Suryajaya Dulu sekali, sebelum saya menerbitkan naskah-naskah buku saya di Resist

Corat-Coret Kritik atas Ekonomi-Politik Suara

Oleh Martin Suryajaya Dalam Bab 3 Kapital I, Marx menulis tentang metamorfosa komoditas. Bagaimana komoditas beralih-wujud menjadi uang untuk kemudian beralih kembali jadi komoditas yang lain? Apa yan

  • Facebook
  • YouTube
  • Instagram
  • Icon Goodreads
Kontak