Timur dan Batas Bahasa

Updated: Jan 28

Oleh Martin Suryajaya


Puisi hanya mungkin ketika ia tak mungkin. Barangkali itulah takdir para penyair yang dilahirkan sesudah Marquis de Sade, Hölderlin dan Antonin Artaud. Dengan de Sade di abad ke-18, kesusasteraan menunjukkan warna destruktifnya: pencabikan tubuh, penghancuran jiwa dan penikmatan yang eksesif atas segala yang fana dan sia-sia. Penulis Philosophie dans la boudoir ini menampilkan kesusasteraan sebagai suatu bentuk perlawanan yang brutal dan vulgar atas segala transendensi (entah itu otoritas gereja ataupun negara). Dengan Hölderlin di awal abad ke-19, kesusasteraan tampil begitu nostalgis: kerinduan akan Rumah, akan transendensi yang merekonsiliasikan segala yang bertentangan. Sajaknya yang berjudul Istros (maksudnya sungai Danube), sebagaimana dipertunjukkan oleh Heidegger, menjadi medium ekspresi yang paling ultim dari nostalgia akan sangkan-paran dari segala sesuatu. Dengan Artaud di awal abad ke-20, kesusasteraan menjadi non-kesusasteraan, bahasa menjadi non-bahasa, tanda menjadi non-tanda. Bagaimana kita memahami suatu “karya sastra” yang terisi oleh rangkaian huruf (yang, karena tak memiliki makna, sebetulnya bukanlah “huruf”) seperti “Ratara ratara ratara Atara tatara rana Otara otara katara…” Bahasa menjadi skizofrenik, tanda tak lagi menandakan apapun, rujukan tak ada lagi. Tapi…


"kekasihku

aku ingin Pulang

melupa ketinggian

menjadi kembali Sederhana

menjadi Terserah kamu"

(Timur Sinar Suprabana; duaHati, bagian pertama)


…mungkinkah bahasa bisa sepenuhnya tanpa rujukan, tanpa rumah? Tidakkah pada jantung bahasa itu sendiri terdapat suatu kerinduan akan makna, akan sepincuk kampung di seberang lembah?


"ya

kulihat bulanmenyemarang

di langit kota jakarta

jadi tanda

atau semacam undangan

kapan mesti Pulang

bersapa dengan kawan lama"

(Timur SS; bulanmenyemarang)


Barangkali memang tak bisa. Barangkali kata akan senantiasa menyeret kita ke arah makna, betapapun rapuh dan tak hadir, seperti alir Danube yang turun terbantun karang dan goagoa cadas menuju samodra yang selalu hilang di batas cakrawala. Barangkali itulah sebabnya terkadang kita merasa sia-sia terhadap langit yang cuma biru, terhadap hidup yang sembilu, terhadap kursi yang cuma itu.


"menjadi tanpa alamat

lebih dari sekedar menjadi tak berumah

tak pula punya sekedar titik

buat singgah

kita Menyerah"

(Timur SS; menjadi tanpa alamat)


Ada yang mengkhawatirkan, memang, dalam perjalanan yang tak mungkin sampai ini. Juga kelelahan, barangkali kekalahan. Tapi siapa yang kalah? Siapa yang menyerah? Kita. Tapi siapa “kita”? Dalam rimba bahasa, masihkah kita dapat berkata “kita”? Dalam rimba bahasa, bukankah “kita” lah yang diperkatakan oleh bahasa? (Kita tahu, dari filsafat yang kini telah mulai usang itu, bahwa kita tak dapat berpikir di luar bahasa, bahwa kita bahkan tak dapat berbuat apapun di luar bahasa yang hakikatnya adalah untaian rantai perbedaan itu.) Maka, kini kita tahu, ada yang tak sedih, ada yang tak lelah, ada yang tak kalah dalam ziarah absurd yang tanpa akhir itu. Kitalah yang menyerah. Bukan itu.


"Lantas siapa “itu”?

aku Masih

di sini

meninggalkanmu"

(Timur SS; duaHati, bagian keempat)


Itu adalah bukan itu. Itu adalah yang terus pergi dari situ, dari cakrawala itu. Segala yang kuperkatakan selalu pergi dari hadapanku, selalu pergi menjauhiku: sungai itu, pohonan itu, aku itu. Ketika aku membilang “aku”, bahkan dalam hening batinku, aku sendiri sebenarnya telah pergi dari sini. Yang tersisa hanyalah selongsong purba kata-kata, selebihnya cuman sepi yang suwi. Dan sepi itulah yang menghindar dari kata kita sekaligus memungkinkannya ada. Dan sepi itulah suara yang tak terbaca, suara di antara huruf, suara yang memotong kata “sepi”. Sepi itulah non-bahasa yang mengeram di rahim segala bahasa, non-sens dalam setiap sens, non-arah dalam setiap arah, non-tempat dalam setiap tempat. Ia adalah non-tempat dan non-arah yang dituju setiap penyair, yang tak henti-hentinya coba diperkatakan dan dipercakapkan dalam puisi; ia seperti noktah yang senantiasa melenyap di kaki langit yang sekaligus menarik setiap penyair untuk berjalan di tubir jurang antara kewarasan dan kegilaan. Ia seperti suara di antara dua huruf mati: tak terartikulasikan, tak terkatakan, namun ada di sana dan memungkinkan segala artikulasi kata-kata. Ia tak “ada” namun juga bukannya “tak ada”.


"tak ada apa-apa

tak ada siapa-siapa

tak ada Sesuatu

bahkan tiada ikut pula tak ada"

(Timur SS; duaHati, bagian kedua)


Barangkali “sepi” itulah yang coba diperkatakan oleh Artaud ketika ia menuliskan kata yang tak berarti apa-apa: Ratara ratara ratara Atara tatara rana Otara otara katara… “Sepi” itu, meminjam istilah Derrida, adalah “luka” yang terlekat di rahim bahasa. “Luka” inilah yang kita emban dalam berbahasa: my wound existed before me, tulis Joe Bousquet, I was born to embody it. “Luka” ini pulalah yang membuat Hölderlin gila dan berkata bahwa setiap penyair sesungguhnya hidup di sebuah ranah-antara dimana Tuhan “tak lagi” (no longer) dan “belum lagi” (not yet), sebuah ruang kosong antara Tuhan yang telah pergi dan Tuhan yang akan datang. Berpuisi, pada hari ini, adalah mengerti bagaimana berhadap-muka dengan “luka” ini, dengan ketidakmungkinan berbahasa yang mendorong kita untuk terus berbahasa ini.


Puisi hanya mungkin ketika ia tak mungkin. Tapi apa yang mungkin dan tak mungkin—dan apa itu puisi? Puisi, kita tahu, tak akan ada tanpa bahasa; puisi hanya mungkin dengan adanya bahasa, puisi hanya mungkin dalam bahasa. Maka ketika bahasa tak lagi membahasakan apapun, ketika tanda tak lagi menandakan apapun, puisi pun jadi tak mungkin lagi. Dan ketika puisi tak mungkin, ia justru menjadi mungkin. Itulah sebabnya Maurice Blanchot menulis bahwa kesusasteraan dilahirkan dari tatapan mata Orfeus, dari gestur pelintasan-batas yang melanggar batas bahasa sekaligus memungkinkan bahasa ada, dari bahasa yang didorong ke titik terjauhnya: non-bahasa dalam bahasa. Itulah sebabnya Blanchot berbicara tentang “gumam yang tak berkesudahan” (interminable murmur). Itulah sebabnya Marcel Proust, dalam analisa Deleuze, menunjukkan bahwa setiap penyair besar selalu menciptakan (non-)bahasa dalam bahasa dan mengantar bahasa menuju yang “di luar” bahasa. Pada momen itu, puisi tak lagi berbeda dengan suara daundaun, dengan warna jambon sorehari, dengan muram kampungkampung, dengan rasa gatal di punggung kita. Pada detik itu, gumam membahana, jauh dan sia-sia. Tak ada yang penting lagi. Tak ada yang tak penting lagi. Tak ada lagi. Tapi tidakkah kita dengar sesuatu…


"engkau

Anu

di ku"

(Timur SS; duaHati, bagian keenam)


[Teks ini ditulis sebagai semacam catatan kuratorial atas buku kumpulan puisi Timur Sinar Suprabana, Sihir Cinta (Semarang: Dewan Kesenian Semarang), 2008, hlm. 164-169.]


223 views

Recent Posts

See All

Fragmen Novelet "Semacam Manusia"

[Bab pembuka dari sebuah naskah novelet 150-an halaman yang ditulis tahun 2015 dan tidak diselesaikan] Oleh Martin Suryajaya “Turunkan Suharto sekarang juga,” kata seorang muda pada pohon kelapa suatu

  • Facebook
  • YouTube
  • Instagram
  • Icon Goodreads
Kontak