Survei atas Pemikiran Marx dalam Karya-Karya Sebelum Kapital

Updated: Jan 28

oleh Martin Suryajaya




Pada bagian ini kita akan melakukan survei umum atas pemikiran politik Marx sebagaimana tertuang dalam karya-karyanya sebelum Das Kapital. Pertama-tama kita akan mengklarifikasi terlebih dahulu apa yang terkenal sebagai “tiga sumber” pemikiran Marx: filsafat Jerman, sosialisme Prancis dan ekonomi politik Inggris.[1] Klasifikasi tentang tiga sumber ini dapat diasalkan pada pembagian Bab dalam buku Engels, Anti-Dühring. Di tahun 1907, pengertian ini diskematisasi oleh Karl Kautsky dalam kuliahnya berjudul, Tiga Sumber Marxisme, yang kemudian dielaborasi lebih lanjut oleh Lenin di tahun 1913. Tiga sumber tersebut tentu saja dapat ditebak: filsafat Idealisme Hegel, aktvisme Prancis (semisal Proudhon) dan ilmu ekonomi modern Adam Smith.[2]


Untuk dapat secara lebih mendalam memahami problematika filsafat dalam karya-karya Marx, kita mesti mulai dengan melacaknya sejak pada teks-teksnya yang paling awal. Salah satu dari naskah-naskah awal itu adalah surat Marx kepada ayahnya yang ditulisnya menjelang akhir semester pertama kuliahnya di jurusan hukum Universitas Berlin, yakni ketika Marx baru berumur 19 tahun. Melalui surat bertanggal 10 November 1837 ini kita dapat menyaksikan bagaimana problem yang digeluti Marx remaja ini tak lain adalah problematika yang khas Hegel. Di sana Marx berkisah pada sang ayah bagaimana ia terserap dalam pembacaannya atas Hegel dan berlibat aktif dalam klub diskusi yang dijalankan oleh kaum Hegelian Muda. Ia bahkan telah menulis dialog sepanjang 24 halaman dengan judul “Kleanthes, atau Titik Tolak dan Kemajuan yang Niscaya dari Filsafat” di mana Marx memaparkan, dengan gaya yang khas Hegel, bagaimana sains dan seni yang pada mulanya terpisah dapat mencapai sintesis.[3] Namun Marx tidak membaca Hegel untuk kemudian berhenti sebagai pengagum Hegel belaka; ia melancarkan kritik atasnya dan mengelaborasikan posisi pemikiran yang independen bertolak dari problematika Hegelian itu.


Dalam catatan dari disertasinya tentang “Perbedaan antara Filsafat Alam Demokritos dan Epikuros”, Marx mulai menunjukkan posisi kritisnya atas filsafat refleksi Hegel. “Selama filsafat berjalan berlawanan arah dengan dunia penampakan, sistemnya akan terdegradasi menjadi sebuah totalitas abstrak, yakni menjadi satu sisi dunia dengan sisi yang lain meletak di seberangnya. Relasinya dengan dunia menjadi sebuah refleksi.”[4] Di momen ini filsafat hanya dimungkinkan sebagai ikhwal yang sepenuhnya terpisah dari dunia, yang merupakan obyek refleksinya belaka. Filsafat menjadi interioritas murni yang berlawanan dan berseberangan dengan dunia eksterior. Maka itu, “konsekuensinya, menjadi filosofisnya dunia berkoinsidensi dengan mendunianya filsafat, realisasi filsafat berkoinsidensi dengan kelenyapannya sendiri,” demikian Marx.[5] Artinya, Marx menunjukkan konsekuensi final dari filsafat refleksi: memuncaknya refleksi eksternal dari filsafat atas dunia, sebagai obyektivitas yang meletak di luar sana, pada refleksi internal antara filsafat dan dunia, sebagai obyektivitas non-filosofis yang telah disadari secara filosofis. Pada akhirnya, filsafat menjadi ikhwal duniawi—ikhwal yang pada-dirinya non-filosofis—atau dengan kata lain, filsafat memuncak pada disolusinya sendiri, pada dunia yang non-filosofis dan persis karena itu pula filsafat mengalami realisasinya yang tertinggi, yakni dunia yang menjadi filosofis. Tugas filsuf, dengan demikian, adalah menyelesaikan rangkaian momen tersebut, yakni dengan tidak berhenti pada refleksi eksternal tentang dunia, melainkan dengan merefleksikannya secara internal sehingga dunia mesti menjadi filosofis. Mengubah dunia menjadi filosofis, menjadi Prometheus[6] bagi bumi manusia—inilah tugas filsuf sebagaimana dipersepsi Marx sejak mula dan ia teruskan, dalam satu atau lain cara, hingga akhir.


Visi transformasi filosofis atas dunia dijalankan Marx, pada masa mudanya, melalui radikalisasi fungsi kritik. Seperti juga bagi kaum Hegelian Muda, kritik menjadi kata kunci Marx. Ini sudah terlihat dalam suratnya kepada Arnold Ruge di tahun 1843. Dalam surat itu, Marx menekankan perlunya ”sebuah kritisisme tanpa ampun terhadap segala yang ada” yang ia pahami dalam dua makna: “kritisisme tak boleh takut akan konsekuensinya sendiri maupun terhadap konflik dengan kekuasaan yang berlaku.”[7] Kritisisme Marx ini berbeda dari prosedur kritik Kant. Sementara Kant memfungsikan kritik dengan reservasi, yakni dengan membiarkan postulat-postulat a priori tak terjamah oleh kritik,[8] Marx justru berpegang pada kritisisme yang “tanpa ampun”, pada kritisisme total tanpa reservasi. Aparatus kritik inilah yang oleh Marx diarahkan pada agama sebagai ideologi yang menopang struktur masyarakat yang eksploitatif.

Untuk mentransformasi dunia secara filosofis, untuk mengkritik tatanan sosial konkret, kritik pertama-tama mesti dilancarkan terhadap pengandaian ideologis yang mendasarinya. Dalam arti inilah Marx menulis, dalam pengantar bagi Kontribusi bagi Kritik atas Filsafat Hukum Hegel yang terbit di tahun 1844, bahwa “kritisisme atas agama adalah premis dari segala bentuk kritisisme.”[9] Di sana Marx memaparkan logika dasar dari kritiknya atas agama:

Agama merupakan kesadaran diri manusia sejauh ia belum menemukan dirinya atau telah kehilangan dirinya. Namun manusia bukanlah entitas abstrak yang tergeletak di luar dunia. Manusia adalah bumi manusia, negara, masyarakat. Negara ini, masyarakat ini, memproduksi agama yang merupakan sebuah kesadaran dunia yang terbalik, sebab ia merupakan sebuah dunia yang terbalik. […] Perlawanan melawan agama, karenanya, secara tidak langsung merupakan sebuah perjuangan melawan dunia tersebut yang mana aroma spiritualnya adalah agama. Penderitaan religius adalah pada saat yang bersamaan sebuah ekpresi dari penderitaan riil dan protes atas penderitaan riil. […] Penghapusan agama sebagai kebahagiaan ilusif umat manusia adalah sebuah tuntutan untuk kebahagiaan riil mereka. Seruan untuk meninggalkan ilusi tentang kondisi mereka adalah seruan untuk meninggalkan kondisi yang membutuhkan ilusi. Kritisisme atas agama, karenanya, adalah embrio dari kritisisme atas lembah air mata yang mana agama merupakan aura-nya.[10]

Kritisisme atas lembah air mata—inilah yang ditempuh Marx, yakni kritik atas dunia yang sebegitu murungnya sehingga membutuhkan limpahan cahaya agama. Agama, bagi Marx, adalah simtom atau gejala dari masyarakat tertindas. Bayangan ideal tentang sepotong surga yang transenden terhadap dunia tak lain adalah simtom dari penyakit yang ada dalam dunia itu sendiri. Pembacaan simtomatik inilah yang menjadikan kritik agama Marx lebih maju ketimbang Feuerbach yang hanya berhenti pada pengertian tentang Tuhan sebagai hasil proyeksi-reflektif dari manusia. Feuerbach belum mampu mendorong filsafat refleksi sampai pada ujungnya; ia hanya berhenti pada refleksi eksternal tentang Tuhan dan belum sampai ke pengertian bahwa Tuhan adalah refleksi yang internal dalam diri manusia yang tersituasikan dalam konfigurasi sosio-politik yang konkret-material.[11] Marx mampu menunjukkan, jauh sebelum Nietzsche, bahwa Tuhan adalah simtom yang internal dalam masyarakat dan direfleksikan keluar berdasarkan sesuatu yang internal tadi. Transendensi, dengan demikian, tak lain adalah simtom dari imanensi yang sakit, dari ranah sosial yang tak ubahnya seperti lembah air mata. Masyarakat konkret yang menjadi locus simtomatik adalah masyarakat yang terstratifikasi, yang terstruktur oleh hierarki. Agama membuat hierarki ini menjadi natural, seolah merupakan “konsesi dari surga”.[12] Dalam metafor Marx, agama menyediakan bunga-bungaan imajiner yang disematkan di rantai yang membelenggu kita sehingga kita jadi sedikit lebih betah dalam kondisi dirantai, padahal yang penting adalah mematahkan rantai itu dan memetik bunga hidup yang sesungguhnya. Dari pengertian inilah Marx membentangkan orientasi dasar dari proyek pemikirannya:

Adalah tugas sejarah, karenanya, ketika dunia-lain kebenaran telah lenyap, untuk mewujudkan kebenaran dari dunia ini. Tugas filsafat yang mendesak, dalam pengabdiannya pada sejarah, adalah untuk menyingkapkan alienasi-diri manusia dalam bentuk sekuler-nya setelah bentuk suci-nya tersingkap. Dengan demikian, kritik surga ditransformasi menjadi kritik dunia, kritik agama menjadi kritik hukum, dan kritik teologi menjadi kritik politik.[13]

Yang jadi problem bagi Marx bukan lagi eksistensi Tuhan di luar sana, pada otoritas religius yang meletak dalam dunia obyektif, sebab semua itu hanyalah simtom dari kesadaran yang tertentu. Itulah sebabnya Marx menulis: “Ini bukan lagi soal pertanyaan tentang perjuangan kaum awal melawan para rahib di luar dirinya, melainkan perjuangannya melawan rahib internal-nya sendiri, melawan sifat kerahiban-nya sendiri.”[14] Kesadaran yang sakit inilah yang menginginkan jaminan eksternal-transenden bagi sesuatu yang internal, yakni diri sendiri. Tuhan dipanggil hanya untuk mengkonfirmasi atau merestui kesadaran yang tak berani mengambil sikap independen ini. Itulah kesadaran borjuis.


Menghadapi konstelasi ini, Marx menggagas dalam tulisan itu sebuah konsepsi tentang subyek emansipatoris. Baginya, subyek ini hanya mungkin disebut sungguh-sungguh emansipatoris apabila ia memegang kunci dari masyarakat secara umum, artinya, sejauh eksistensinya adalah manifestasi esensi dari masyarakat tersebut. Ia mestilah bukan sebuah kelas di antara kelas-kelas sosial lain, dan sejauh ia emansipatoris maka ia mesti menandai pula kehancuran dari segala kelas dan hierarki sosial.[15] Subyek ini tentunya dicirikan oleh karakter universal sejauh apa yang ia suarakan, sejauh ia adalah esensi dari masyarakat itu sendiri, senantiasa mengekspresikan kondisi masyarakat secara umum, yakni totalitas kondisi masyarakat. Subyek inilah yang dimaksud Marx dengan proletariat. Melalui subyek inilah transformasi dunia secara filosofis dapat diwujudkan sebab “sebagaimana filsafat menemukan senjata material-nya dalam proletariat, demikian pula proletariat menemukan senjata intelektual-nya dalam filsafat.”[16]


Marx mengelaborasi titik pijak komunisme tersebut secara ekstensif untuk pertama kalinya pada tulisan yang tak ia terbitkan semasa hidup, yakni apa yang dikenal sebagai “Manuskrip Paris” atau yang di kemudian hari dijuduli sebagai Economic and Philosophic Manuscripts of 1848. Dalam manuskrip inilah untuk pertama kalinya Marx berbicara tentang alienasi atau keterasingan (Entäusserung). Titik tolak pemaparan Marx tentang keterasingan adalah konsepsi Hegel mengenai kerja (labour). Bagi Hegel, kerja adalah momen yang melaluinya superioritas kesadaran-diri manusia ditegakkan, atau dalam pengertian yang lebih sederhana, kerja adalah realisasi-diri manusia.[17] Relevansinya bagi Marx adalah pengertian bahwa melalui kerja lah manusia menjadi intim dengan dirinya sendiri. Namun keintiman ini, sebagaimana dianalisis Marx, kini berubah menjadi sesuatu yang asing. Ketika pekerja semakin banyak memproduksi kemakmuran, ia sendiri justru makin melarat. Marx menulis: “peningkatan nilai dunia benda-benda berjalan dengan proporsi yang sama dengan penurunan nilai dunia manusia. Pekerja tidak hanya memproduksi komoditas; ia juga memproduksi dirinya sendiri sebagai sebuah komoditas”.[18] Situasi ini ditopang oleh empat bentuk keterasingan yang mendasari realitas kerja manusia:


  1. Keterasingan dalam relasi antara pekerja dan obyek hasil kerjanya. Barang produksi yang dihasilkan pekerja adalah sesuatu yang asing bagi sang pekerja sendiri. Tidak seperti orang yang melinting rokok untuk kemudian menikmati hasil lintingannya sendiri, pekerja pabrik rokok, misalnya, melinting ribuan rokok per hari tanpa dapat memiliki hasil lintingannya sendiri. Seperti juga kaum intelektual yang bekerja menteorikan berbagai pembenaran bagi kekuasaan tetapi tak pernah bisa menikmati hasil kerjanya, yakni teorinya sendiri lepas dari kegunaan untuk membenarkan kekuasaan, sebagaimana mereka inginkan. Dengan demikian, hasil kerja menjadi sesuatu yang sepenuhnya eksternal dan independen terhadap pekerjanya. Hasil kerja itulah yang disebut Marx sebagai obyektifikasi kerja, yakni kerja yang menjadi obyektif dalam benda yang sepenuhnya terlepas dari pekerjanya sendiri.

  2. Keterasingan dalam relasi antara pekerja dan aktivitas pekerjaannya sendiri. Ini adalah taraf keterasingan lebih mendasar ketimbang yang pertama. Di sini alienasi terjadi dalam aktivitas kerja itu sendiri karena kerja yang dilakukan sang pekerja tidak muncul dari aspirasi dasar dirinya, yakni eksternal terhadap ada-nya sang pekerja. Marx menulis, “Pekerja merasa dirinya di luar pekerjaannya dan pekerjaannya terasa di luar dirinya. Ia merasa kerasan (at home) ketika ia tak bekerja dan ketika ia bekerja ia tidak kerasan. Kerjanya oleh karenanya tidak bersifat sekehendak diri, melainkan dipaksakan, kerja yang dipaksakan.”[19] Aktivitas kerja ini mengasingkan pekerja karena kerja yang dilakukan bukan lagi untuk pemuasan kebutuhan, yakni kebutuhan untuk realisasi-diri melalui kerja itu sendiri, melainkan sekedar untuk memuaskan kebutuhan yang eksternal terhadap aktivitas kerja itu sendiri, misalnya kebutuhan hidup sehari-hari (sandang, pangan, papan). Karena kerja tak lagi menjadi realisasi-diri, maka bagi Marx dalam kerja yang terjadi justru “hilangnya diri”.

  3. Keterasingan hidup spesies manusia atau alam. Manusia adalah bagian dari alam yang melingkupinya. Alam adalah ranah yang melaluinya manusia hidup, yang melaluinya manusia mendapatkan cara untuk mempertahankan eksistensinya sebagai spesies. Karena keterasingan yang terjadi dalam kerja, manusia kehilangan bentuk kolektifnya sebagai spesies yang senantiasa berkait dengan alam secara keseluruhan. Sejatinya aktivitas kerja adalah bagian dari aktivitas alam yang spontan dan bebas. Namun bentuk kerja yang terasing membuat kerja tak lagi menjadi bagian dari aktivitas alam. Dalam dimensi keterasingan inilah tercakup keterasingan manusia terhadap tubuh alaminya sendiri, seperti pekerja tambang yang rusak organ pernafasannya.

  4. Keterasingan manusia dari manusia lainnya. Dalam dimensi keterasingan ini seorang pekerja melihat pekerja lain, melihat hasil kerja pekerja lain, sebagai sesuatu yang asing dari dirinya sendiri. Seorang buruh yang bekerja memproduksi sekrup tiap hari akan merasa asing terhadap pemilik pabrik mobil yang mana pabrik sekrup hanyalah salah satu pabriknya. Kesusahan seorang buruh dalam memproduksi sekrup adalah kebahagiaan seorang pemilik pabrik mobil yang ingin produksinya jalan terus.


Apa yang dihasilkan oleh keempat bentuk keterasingan ini adalah kepemilikan pribadi (private property).[20] Kepemilikan ini adalah produk dari kerja yang terasing karena alasan berikut. Pertama-tama Marx menunjukkan kesamaan antara kepemilikan pribadi dan upah (wages).[21] Bentuk abstrak dari kepemilikan pribadi paling dasar yang ada dalam masyarakat kapitalis adalah upah sebab ia menjadi kunci bagi pekerja untuk mendapatkan kepemilikan pribadi yang lain. Lantas Marx menunjukkan bahwa upah ini tak lain adalah konkretisasi dari kerja yang telah dijalankan oleh pekerja. Kerja apa? Kerja yang terasing. Jika kerja itu sungguh merupakan sebuah realisasi-diri, maka tak perlu ada upah—kerja itu sendiri adalah upahnya (baik dari segi aktivitas kerja itu sendiri maupun obyek yang dihasilkannya). Adanya upah menandakan bahwa kerja itu tidak bernilai pada dirinya sendiri, bahwa kerja itu hanya bernilai untuk menghasilkan suatu tujuan yang eksternal terhadap kerja itu sendiri, yakni uang untuk mencukupi kebutuhan hidup. Maka dari keterasingan dalam pekerjaan lah muncul kepemilikan pribadi.


Dalam masyarakat borjuis yang dianalisis Marx, abstraksi puncak dari keterasingan pekerja itu adalah konsep tentang uang. Ini adalah abstraksi lanjut dari konsep upah. Uang menjembatani keinginan dan hasrat manusia dengan obyek hasratnya. Ia adalah prinsip rekonsiliasi atas seluruh kontradiksi. Ia membuat apa yang tak mungkin menjadi mungkin, apa yang hanya diharapkan menjadi sungguh ada. Dalam hal ini, Marx dekat dengan intuisi Rousseau dalam Kontrak Sosial tentang kritik atas fungsi representasi:

Begitu kekuasaan legislatif bukan lagi urusan utama bagi warga, dan mereka lebih suka membantu dengan uang daripada dengan pribadinya, negara mendekati ke arah kehancurannya. Harus bertempur? Mereka cukup membayar pasukan dan boleh tinggal di rumah. Harus rapat ke dewan? Bayar saja utusan dan mereka bisa tinggal di rumah. Karena malas dan punya uang, akhirnya mereka membayar tentara untuk memperbudak tanah air dan membayar para wakil untuk menjualnya.[22]

Uang berfungsi merepresentasikan apa yang tak dapat dipresentasikan secara langsung. Ia adalah germo, mucikari. “Uang adalah mucikari antara kebutuhan manusia dan obyeknya, antara hidupnya dan sarana hidupnya,” demikian Marx menulis.[23] Uang, dengan demikian, adalah nama lain dari prinsip mediasi. Ia menjadi mediator antara hasrat dan obyek hasrat. Sebagai prinsip mediasi atau mucikari, uang mesti dilihat dalam konteks yang lebih besar. Konteks luas itu adalah situasi keterasingan manusia dalam kerja. Situasi inilah yang juga disebut Marx sebagai kondisi pelacuran universal (universal prostitution).[24] Pekerja melacurkan kerjanya kepada kaum pemodal untuk kemudian diupah seturut hasil kerjanya.

Sebagai perlawanan terhadap kondisi keterasingan itu, Marx menggariskan ide dasar dari komunisme, yakni penghapusan kepemilikan pribadi. Dalam manuskrip ini ia juga memeriksa tiga bentuk komunisme: pertama, komunisme klasik di mana segala benda dimiliki bersama seperti dalam visi para pengarang utopis (bagi Marx, ini justru meradikalisasi kepemilikan pribadi dengan membuatnya jadi universal); kedua, komunisme dengan pembubaran negara namun, menurut Marx, masih belum menangkap esensi dari manusia; terakhir, komunisme sebagai pelampauan atas keterasingan manusia yang telah mampu menangkap esensi manusia, yakni hakikat sosial-nya (bagi Marx, pada taraf ini komunisme sama dengan humanisme).[25] Pengertian tentang komunisme yang digelarkan Marx di sini belum sistematis. Sistematisasi atasnya berhasil ia wujudkan empat tahun sesudahnya, kali ini bersama Friedrich Engels.


Manifesto Partai Komunis (1848) ditulis oleh Marx dan Engels atas permintaan Liga Komunis. Di sinilah dikatakan bahwa sesosok momok (spectre) tengah menghantui Eropa, momok komunisme yang ditakuti oleh berbagai partai di berbagai bangsa. Pada masa itu istilah “komunis” kerapkali disematkan kepada segala posisi oposan terhadap kekuasaan yang berlaku. Beredarnya gosip atau dongengan tentang momok komunisme inilah yang coba diklarifikasi oleh Marx dan Engels dengan manifesto tentang komunisme itu sendiri, sehingga orang menjadi jelas tentang duduk perkara komunisme dan tidak lagi percaya pada gosip. Ada dua pokok yang akan kita angkat dari sana: konsepsi tentang sejarah dan karakter-karakter utama komunisme. Kita mulai dari yang pertama.


“Sejarah masyarakat yang ada sampai kini adalah sejarah perjuangan kelas.”[26] Wajah sejarah peradaban dibentuk oleh konflik antar kelas sosial yang tatkala meruncing dapat mengubah konstelasi masyarakat secara umum. Pada zaman kita, kata Marx, perjuangan kelas yang dimaksud adalah perjuangan kelas tertindas, kaum proletar, melawan kelas borjuasi. Namun pertarungan kelas melawan borjuasi ini tidak didasari oleh pengertian bahwa borjuasi itu jahat, tidak bermoral, ataupun kejam. Argumentasi Marx melawan borjuasi tak pernah diartikulasikannya dalam tataran moral. Bahkan Marx sendiri yang menunjukkan, dalam Manifesto ini, bahwa borjuasi juga memiliki peran yang revolusioner pada masanya. Siapakah yang untuk pertama kalinya berani keluar dari pakem feodal Abad Pertengahan? Kaum borjuis. Siapakah subyek revolusioner yang menumbangkan kolusi antara monarki dan agama seperti dalam Revolusi Prancis 1789? Kaum borjuis. Adalah kaum borjuis pula yang pertama kali menjalankan desakralisasi dunia: “Kaum borjuis telah menelanjangi aura setiap pekerjaan yang sampai suatu masa masih sangat dihormati dan ditatap dengan penuh ketakjuban. Ia telah mengubah fisikawan, pengacara, pendeta, penyair, ilmuwan, menjadi buruh bayarannya.”[27] Marx sadar betul akan peran borjuasi ini; ia tak sekedar mencercanya.


Marx menunjukkan bahwa borjuasi telah mengembangkan revolusinya sendiri, yakni pertama-tama sebagai revolusi atas instrumen produksi (melalui mesin uap Di era Revolusi Industri, misalnya), yang lalu mengubah pula relasi produksi (antara buruh, pemilik dan mesin). Borjuasi lah kelas pertama dalam sejarah yang memegang kunci transgresi dan memaksimalkannya untuk keuntungannya. “Revolusionerisasi produksi secara terus-menerus, gangguan atas kondisi sosial tanpa henti, ketakpastian yang terus menerus dan agitasi membedakan era borjuasi dari seluruh era sebelumnya,” demikian disadari Marx.[28] Itulah sebabnya, samudra-samudra luas dilayari, pantai-pantai asing disusuri dan suku-suku primitf ditundukkan, untuk kemudian membuka lahan produktif di sana. Borjuasi telah menjalani perjuangan kelasnya sendiri dan berhasil tampil keluar sebagai pemenang di zaman modern. Ia menang dan menghancurkan seluruh kelas lama selain dirinya dan hambanya, yakni kaum proletar. Dengan demikian, pada zaman ketika borjuasi berkuasa seperti saat ini, hanya ada dua kelas yang efektif dalam masyarakat: kelas borjuis dan kelas proletar.


Krisis datang menerpa struktur eksistensi borjuasi. Krisis itu adalah over-produksi. Masyarakat dibanjiri oleh terlalu banyak komoditas yang tak lagi mampu dibeli semuanya oleh konsumen. Artinya terdapat sisa atau ekses yang tak tertutup yang makin lama makin membebani proses produksi. Strategi kaum borjuis untuk mengatasi ekses ini adalah, menurut Marx, dengan destruksi atas sisa produksi itu (misalnya pembakaran kopi ketika harga kopi sedang jatuh) dan dengan membuka pasar baru. Dengan ditempuhnya kedua jalan tersebut krisis tetap tak terhindarkan karena pemerasan, atas nama efektivitas dan efisiensi, atas para pekerja makin mencapai titik puncaknya. Hal ini diperparah lagi dengan suatu hal lain. Semakin menguatnya peran borjuasi di masyarakat berbanding lurus dengan semakin banyaknya jumlah proletar. Kelas menengah yang berdagang secara tradisional seperti pemilik toko, pedagang kecil, pengrajin, semuanya lebur ke dalam proletariat ketika borjuasi memegang peran dagang yang semakin besar. Kaum proletar ini terbentuk dari seluruh kelas selain borjuis. Dengan demikian, semakin maju kaum borjuis, semakin tinggi pula potensi kehancurannya sendiri. Itulah yang dimaksud Marx dan Engels ketika keduanya menulis: “Apa yang diproduksi oleh kaum borjuis, paling utama, adalah penggali kuburnya sendiri. Keruntuhannya dan kemenangan kaum proletar sama-sama tak terhindarkan.”[29] Artinya, kini Malaikat Sejarah tengah berada di pihak proletariat: sejarah perjuangan kelas di masa kini adalah sejarah perjuangan kelas pekerja (mulai dari buruh, guru, karyawan, hingga kaum intelektual, yang di era kapitalis ini tidak bisa tidak hanyalah pekerja bayaran kapitalisme).

Setelah memaparkan visi sejarahnya secara umum, Marx dan Engels memberikan karakteristik dasar dari komunisme. Pertama-tama keduanya menunjukkan watak internasionalis dari komunisme. Kaum komunis tidak mengelompokkan diri pada kelas buruh pada suatu negara tertentu melainkan mengekspresikan kebutuhan dasar dari seluruh pekerja di segala negara. Kaum komunis adalah “anak semua bangsa”. Yang ia perjuangkan bukanlah kenaikan gaji buruh di pabrik A atau C, melainkan emansipasi universal dari seluruh buruh di dunia.


Karakter kedua dari komunisme berkenaan dengan hak milik pribadi. Kaum komunis tidak serta merta menuntut penghapusan hak milik pribadi tanpa alasan historis yang jelas. Tuntutan untuk menghapuskan kepemilikan pribadi oleh kaum komunis, menurut Marx dan Engels, merupakan ekspresi dari perjuangan kelas yang telah menyejarah dalam era sebelumnya. Artinya, penghapusan hak milik bukanlah ide yang pertama kali muncul dalam komunisme melainkan sudah dijalankan oleh kelas borjuis dalam menghadapi kelas feodal. Marx dan Engels memberi contoh: Revolusi Prancis menghapuskan kepemilikan feodal dan menggantinya dengan kepemilikan borjuis. Jadi ada konsep kepemilikan atau hak milik yang berubah seturut dengan konfigurasi historis-materialnya. Apa yang dihapuskan oleh kaum komunis, sebangun dengan yang sebelumnya, adalah konsep kepemilikan borjuis. Namun karena kepemilikan borjuis adalah puncak dari kepemilikan pribadi, maka penghapusan atas kepemilikan borjuis adalah penghapusan atas kepemilikan pribadi.


Sebagai seorang filsuf politik, Marx cukup beruntung karena ia sempat menyaksikan sendiri eksperimentasi yang dijalankan berdasarkan ide komunismenya. Ini ia saksikan di Prancis, dua kali: di tahun 1848 dan 1870. Dalam cakupan rentang waktu tersebut Marx menulis trilogi tentang percobaan revolusi proletar di Prancis, dan kegagalannya. Ketiga buku tersebut adalah The Class Struggles in France 1848-1850, The Eighteenth Brumaire of Louis Napoleon dan terakhir The Civil War in France. Ketiganya merupakan historiografi filosofis yang unik yang tak mungkin kita kupas satu persatu pada kesempatan ini. Cukup dikatakan, pada saat ini, bahwa karya yang pertama membahas tentang awal gerakan buruh modern di Prancis yang memuncak pada kekalahannya, yang dikupas dalam buku kedua, dengan naiknya keponakan Napoleon Bonaparte, yakni Louis Bonaparte, sebagai Kaisar Prancis dengan sokongan kaum borjuasi yang merasa terancam oleh revolusi buruh. Barangkali buku ketiga perlu sedikit kita urai di sini—walaupun buku ini ditulis sesudah Das Kapital—sebab di sana Marx menunjukkan contoh historis dari apa yang ia mengerti sebagai “kediktatoran proletariat”.


The Civil War in France berbicara mengenai komune Paris antara tahun 1870-1871. Konteks dari komune Paris adalah kebijakan Napoleon III (atau Louis Napoleon) untuk melibatkan Prancis dalam perang Prancis-Prusia yang berakhir dengan kekalahan Prancis. Eksploitasi habis-habisan atas kaum buruh Paris ditambah dengan pemboman bertubi-tubi oleh Jerman membuat kaum buruh mengkonsolidasikan diri dalam semangat komunis, bersama kelompok republikan Prancis yang anti-royalis (anti-Napoleon), dan membentuk Pertahanan Nasional. Pada momen ini administrasi Paris dipimpin oleh Adolphe Thiers. Ketika Jerman telah meninggalkan kota itu, Thiers mencoba melucuti senjata milisi Pertahanan Nasional—sebuah aksi yang sudah diantisipasi oleh kaum komunis dengan mengonsolidasikan diri dengan tentara. Thiers pun terusir dari Paris dan Komite Sentral Pertahanan Nasional, di bawah kendali kaum komunis, menetapkan pembentukan komune-komune di Paris. Pada momen inilah bermula pemerintahan otonom kaum buruh di Paris. Di dalam momen komune Paris inilah bertemu seluruh tendensi gerakan kiri modern, mulai dari Marxis, Blanquis, hingga anarkhis. Yang menguntungkan adalah pada masa itu, perpecahan antara kaum Marxis dan anarkhis belumlah terjadi. Semuanya bersatu padu, berdebat dan mempraktekkan apa yang diinginkan bersama sebagai pemerintahan rakyat yang otonom. Di sinilah separasi antara agama dan negara diartikulasikan secara jelas untuk pertama kalinya dalam sejarah. Di sini pulalah ide-ide politik egalitarian diuji-cobakan dalam intensitas yang begitu tinggi, mulai dari prinsip kesetaraan komunis hingga emansipasi perempuan yang dimotori oleh para feminis komune. Seluruh pemerintahan Paris diatur oleh badan-badan rakyat (komune) di mana seluruh rakyat dapat terlibat secara setara. Melihat eksperimentasi komunis ini pantaslah Engels berkata, di akhir pengantarnya untuk The Civil War in France: “kaum farisi Sosial-Demokrat lagi-lagi ketakutan terhadap frase ‘kediktatoran proletariat’. Baiklah, Tuan-Tuan sekalian, apakah Anda ingin tahu seperti apakah kediktatoran itu? Lihatlah Komune Paris. Itulah kediktatoran proletariat.”[30]


Namun barikade jalanan di Paris runtuh oleh serbuan tentara Prancis dari luar ibukota. Eksekusi massal atas para communard dijalankan. Di atas ribuan mayat pejuang komune, di puncak bukti Montmartre, dibangunlah basilika Sacré-Coeur dengan inskripsi besar di langit-langitnya: Gallia PoenitensBertobatlah Prancis.[31]

Kegagalan eksperimentasi historis atas pemikiran Marx, baik pada masa hidupnya ataupun sesudahnya, tidak dapat begitu saja menggugurkan tesis dasar Marx, yakni bahwa kesetaraan hanya mungkin diwujudkan melalui otonomi rakyat pekerja. Ini cocok dengan kritik dasar Marx atas masyarakat borjuis yang telah meresapi pemikirannya sejak mula, yaitu kritik atas mediasi. Ini telah kita lihat dalam kritiknya atas konsep uang. Kritik tersebut dapat diartikulasikan secara konstruktif sebagai tesis tentang pengutamaan peran imediasi atau kelangsungan, yang terwujud dalam konsepsinya tentang tatanan komunis dunia di mana rakyat pekerja dapat mempresentasikan dirinya secara langsung sebagai pemerintah tanpa mediasi Kaisar ataupun parlemen. Tentu saja, pengutamaan pada imediasi ini tak boleh terjatuh pada nostalgia tentang masyarakat primitif sebelum adanya diferensiasi kelas—sesuatu yang disadari Marx sendiri. Akhirnya, pemikiran Marx dapat dimengerti sebagai suatu upaya menemukan formula tentang imediasi yang sama sekali baru yang menjadi kondisi bagi lahirnya kesetaraan konkret antar umat manusia. Ini adalah sebuah proyek pemikiran yang masih relevan hingga kini.***


[dari Problem Filsafat Volume 1, November 2009]


[1] Uraian tentang sumber dan figur yang melandasi formulasi pemikiran Marx ini kami dasarkan pada Etienne Balibar, The Philosophy of Marx, Op.Cit., hlm. 7.


[2] Berkait dengan tiga sumber ini, Constanzo Preve, masih sebagaimana dipaparkan oleh Balibar dalam buku di atas, menunjukkan adanya “empat guru” Marx: Epikuros, untuk intuisi dasar yang diolah Marx dalam disertasinya sebagai “materialisme kebebasan” dengan konsep klinamen—gerak acak dari atom-atom—sebagai konsep kunci kebebasan materialis; Rousseau, untuk pengertian yang ia ajukan tentang demokrasi egaliter atau asosiasi yang didasarkan pada asosiasi langsung seluruh rakyat; Adam Smith, yang darinya ide tentang kerja sebagai basis dari hak milik berasal; Hegel, untuk modus filsafat dialektisnya. Ibid.


[3] Ia juga menulis bahwa kalimat terakhir dalam dialog tersebut itu adalah permulaan dari Sistem Hegel. Lih. Karl Marx, Letter to His Father dalam Early Texts diedit dan diterjemahkan oleh David McLellan (Oxford: Basil Blackwell), 1972, hlm. 7.


[4] Karl Marx, Dissertation and Preliminary Notes on the Difference between Democritus’ and Epicurus’ Philosophy of Nature dalam ibid., hlm. 15.


[5] “As a consequence, the world’s becoming philosophical coincides with philosophy’s becoming worldly, the realization of philosophy coincides with its disappearance” Ibid.


[6] Marx sendiri, dalam pengantar disertasinya, menjunjung laku Prometheus mencuri api pengetahuan dari para dewa dan memberikannya pada pikiran manusia. Karl Marx, To Make the World Philosophical dalam Robert C Tucker (ed.), The Marx-Engels Reader (New York: WW Norton & Company), 1978, hlm. 9.


[7] Karl Marx, For a Ruthless Criticism of Everything Existing dalam ibid., hlm. 13.


[8] Dalam kata pengantar untuk edisi kedua Kritik atas Rasio Murni-nya Kant menulis bahwa kritik yang ia maksudkan “tidak berlawanan dengan prosedur dogmatik rasio dalam pengetahuannya yang murni sebagai sains, sebab ia selalu bersifat dogmatik, yakni berpegang pada bukti prinsip-prinsip a priori yang pasti.” Immanuel Kant, Critique of Pure Reason diterjemahkan oleh Norman Kemp Smith (London: Macmillan & Co Ltd), 1964, hlm. 32.


[9] Karl Marx, Contribution to the Critique of Hegel’s Philosophy of Right: Introduction dalam Robert C Tucker (ed.), op.cit., hlm. 53.


[10] Ibid., hlm. 53-54.


[11] Perbedaan antara kritik agamanya dan kritik agama Feuerbach dengan jelas Marx paparkan dalam Tesis- Tesis tentang Feuerbach. Di dalam Tesis VII, misalnya, Marx menulis bahwa Feuerbach “tidak melihat bahwa ‘sentimen religius’ itu sendiri adalah sebuah produk sosial, dan bahwa individu abstrak yang ia analisis nyatanya termasuk dalam bentuk masyarakat yang partikular.” Lalu juga Tesis VIII: “Segala Misteri yang menyasarkan teori kepada mistisisme menemukan solusi rasionalnya dalam praktik manusia dan dalam pemahaman akan praktik ini.” Karl Marx, Theses on Feuerbach dalam Karl Marx and Frederick Engels: Selected Works Volume II (Moscow: Foreign Languages Publishing House), 1958, hlm. 405.


[12] Ibid., hlm. 56.


[13] Ibid., hlm. 54.


[14] Ibid., hlm. 60.


[15] “A class in civil society which is not a class of civil society, a class which is the dissolution of all classes”. Ibid., hlm. 64.


[16] Ibid., hlm. 65.


[17] Pengertia n ini dengan jelas Hegel tunjukkan dalam Bab Independensi dan Ketergantungan Kesadaran-Diri: Tuan dan Budak dari bukunya, Fenomenologi Roh. Di sana dijelaskan bagaimana kesadaran seorang Tuan justru dilampaui oleh kesadaran budaknya karena sang budak dapat merealisasikan independensi kesadarannya melalui kerja, sementara sang Tuang hanya bersantai. Akhirnya sang Tuan yang awalnya terihat seolah independen justru tergantung pada (kerja) budaknya, sementara sang budak yang awalnya terlihat tergantung justru independen terhadap sang Tuan yang tak bekerja. Lih. GWF Hegel, Phenomenology of Spirit diterjemahkan oleh AV Miller (Oxford: Clarendon Press), 1977, hlm. 111-119.


[18] Karl Marx, Economic and Philosophic Manuscripts of 1844 dalam Robert C Tucker (ed.), op.cit., hlm. 71.


[19] Ibid., hlm. 74.


[20]Private property is thus the product, the result, the necessary consequence, of alienated labour, of the external relation of the worker to nature and to himself.” Ibid., hlm. 79.


[21] “We also understand, therefore, that wages and private property are identical: where the product, the object of labour pays for labour itself, the wage is but a necessary consequence of labour’s estrangement, for after all in the wage of labour, labour does not appear as an end in itself but as the servant of wage.” Ibid.


[22] Jean-Jacques Rousseau, Perihal Kontrak Sosial, atau Prinsip-Prinsip Hukum Politik (edisi dwibahasa Indonesia-Prancis) diterjemahkan oleh Ida Sundari Husen dan Rahayu Hidayat (Jakarta: Dian Rakyat), 1989, hlm. 90 (Buku III, Bab 15).


[23] Robert C Tucker (ed.), op.cit., hlm. 102.


[24] Ibid., hlm. 82 (terutama catatan kaki nomor 7).


[25] Lih. Ibid., hlm. 84.


[26] Karl Marx dan Friedrich Engels, Manifesto of the Communist Party dalam ibid., hlm. 473.


[27] Ibid., hlm. 476.


[28] Ibid.


[29] Ibid., hlm. 483.


[30] Karl Marx, The Civil War in France dalam Robert C Tucker (ed.), op.cit., hlm. 629.


[31] Bdk. Investigasi sejarah spasial David Harvey atas hal ini dalam Paris, Capital of Modernity (New York: Routledge), 2003, terutama hlm. 303-333.

  • Facebook
  • YouTube
  • Instagram
  • Icon Goodreads
Kontak