Siapakah Masa Kini?

Unboxing Burung Kayu Karya Niduparas Erlang


Martin Suryajaya


Dalam suatu perbincangan sore permai di Atelir Ceremai, pengarang Safar Banggai alias Safar Nurhan bertanya kepada saya: “Kenapa karya penulis Jakarta tidak disebut sastra lokal, sementara karya penulis Bugis disebut sastra lokal?” Dengan kata lain, atas dasar apa kita memandang budaya pedesaan di Luwuk Selatan sebagai budaya daerah dan budaya urban Jakarta Selatan sebagai budaya bukan daerah (kalau kita tak mau menyebut “nasional”)? Pertanyaan cemerlang dari seorang pengarang asal Banggai inilah yang menemani saya menghabiskan novel baru Niduparas Erlang, Burung Kayu.


ASPEK BADANI BUKU


Burung Kayu diterbitkan oleh sebuah penerbit indie asal Padang, Teroka Press, pada bulan Juni 2020. Ketika saya buka plastik pembungkusnya dan mulai menghirup aroma pangkal halamannya, bisa saya rasakan betapa nikmatnya aroma buku ini. Setiap membalik beberapa halaman sekali saya selalu tergoda untuk membauinya lagi. Di situlah saya tahu Teroka Press serius menerbitkan buku.


Dicetak dalam ukuran 13 x 19,5 cm, buku perdana Teroka Press ini memiliki ketebalan 174 halaman. Kertas yang digunakan untuk bagian dalam adalah bookpaper dengan gramatur kemungkinan 70 gsm, sedangkan kertas bagian sampul adalah art carton carton laminasi doff dengan gramatur sekitar 210 gsm. Buku ini disunting oleh Heru Joni Putra dan Fariq Alfaruqi, dengan desain sampul oleh Kevin William dan tata letak oleh Gerbera Timami. Ilustrasi pada sampul mengingatkan saya pada gambar cadas yang lazim kita temukan pada situs-situs gua prasejarah. Pilihan desain itu tentunya menguatkan kesan etnografis pada tampilan sepintas novel ini.


ASPEK ROHANI BUKU

Strategi Pengisahan yang Cemerlang


Gegar budaya adalah pengalaman umum ketika kita membuka halaman pertama novel ini. Kata pertama dalam paragraf pertama Burung Kayu adalah “Sikerei”, sebuah kata yang kontan saja melemparkan kita keluar dari Bahasa Indonesia, menggeragapi sebuah semesta yang terdiri dari bunyi-bunyian. Judul bab pembuka juga tidak membantu kita: “Muturuk (1)”. Sebagai seorang pembaca yang tumbuh dalam lingkungan bahasa Jawa kacau di pesisiran dan baru kemudian mempelajari bahasa Indonesia di sekolah, “sikerei” dan “muturuk” berada di luar kurikulum saya. Ketika saya lanjut membaca, ternyata saya temukan puluhan dan mungkin seratusan kata dari bahasa Mentawai yang hidup dalam novel ini. Semuanya tanpa keterangan apapun, baik dalam wujud catatan kaki ataupun upaya penerjemahan oleh narator. Namun, anehnya, saya tidak merasa tersesat. Saya merasa mengerti apa yang dirasakan para tokoh dalam novel ini walaupun saya tidak tahu persis definisi dari tiap kata-kata asing itu. Bagaimana menjelaskan fakta ini?


Sebagai prosa yang mengangkat kisah masyarakat tradisional, tentu saja, Burung Kayu bukan yang pertama. Dalam khazanah novel kontemporer, kita punya Isinga: Roman Papua karya Dorothea Rosa Herliany dan seri Mata karya Okky Madasari yang mengetengahkan petualangan bocah cilik ke dalam masyarakat tradisional NTT, Maluku dan Sulawesi Tenggara. Dalam khazanah prosa liris, kita punya Pengakuan Pariyem karya Linus Suryadi AG. Penulisan dengan objek semacam itu selalu menghadirkan sebuah tantangan utama berkenaan dengan strategi pengisahan, yakni urusan bagaimana membangun kepribadian narator.


Ada dua jenis narator yang paling lazim saya temukan dalam prosa semacam itu. Jenis narator pertama adalah “wartawan Kompas”. Narator jenis ini suka sekali menerang-nerangkan karena selalu didera ketakutan bahwa pembaca tidak mengerti apa yang ia bicarakan. Apabila narator menghadirkan sebuah objek dengan nama yang tidak ada di KBBI, naluri kewartawanannya seketika menyeruak dan ia pun buru-buru membubuhkan keterangan penjelas semacam: “x adalah …” atau “Itulah yang dimaksud suku anu sebagai …” atau, dalam bentuk yang paling kasar, menghadirkan kata Indonesia yang lalu disusul dengan kata asli dalam tanda kurung. Narator ini takut tidak dimengerti pembaca, takut memaksa pembaca bekerja menerka-nerka; singkatnya, takut dikirimi Surat Pembaca. Jenis narator kedua adalah “dosen antropologi” atau setidaknya “orang yang bercita-cita menjadi dosen antropologi”. Narator jenis ini suka sekali memberikan sentuhan-sentuhan akademis pada prosanya. Antara lain dengan mencantumkan catatan kaki untuk setiap istilah dari bahasa daerah, kalau perlu dengan menyebutkan beberapa sumber bacaan yang bisa digunakan sebagai rujukan. Tak jarang pula narator macam ini bekerja sebagai dosen di tengah-tengah novelnya: menjelaskan sistem kekerabatan, sistem mata pencaharian dan unsur-unsur kebudayaan lain sesuai pakem Koentjaraningrat.


Apa yang membuat kedua jenis narator itu sama saja adalah cara mereka mendekatkan objek kisahan pada pembaca. Seakan-akan masyarakat tradisional hanya dapat dimengerti dengan cara dibawa ke Jakarta. Artinya, dengan cara ditempatkan ke dalam semesta bahasa Indonesia dan rasa-merasa masyarakat yang hidup tanpa bahasa ibu. Narator “wartawan Kompas” melakukan itu dengan menerjemahkan semua istilah tak dikenal ke dalam bahasa Indonesia sedangkan narator “dosen antropologi” menjalankannya dengan mengalih-wahanakan masyarakat tradisional ke dalam sebuah power point: menghadirkan alam pikiran masyarakat tradisional sebagai sesuatu yang masuk akal bagi pembaca terutama karena itu membentuk sebuah skema. Kedua jenis narator itu tidak pernah berpikir untuk bekerja dengan cara sebaliknya: membuat objek kisahan dapat dimengerti dengan melemparkan pembaca masuk ke dunia objek kisahan itu sendiri. Inilah yang dilakukan Nidu.


Dalam Burung Kayu, Nidu berhasil mempekerjakan narator yang cemerlang. Narator jenis ketiga ini seakan melemparkan kita begitu saja ke Pulau Siberut sambil membekali kita dengan satu stel pakaian dan uang yang hanya cukup untuk beli rokok. Selebihnya tergantung kreativitas kita untuk membaca tanda-tanda alam dan bahasa tubuh masyarakat setempat.


Saya sendiri merasakan betapa memasuki novel itu seperti memasuki sebuah daerah yang tak dikenal. Ketika saya mendengar “sikerei”, pengalaman bahasawi saya memanggil citraan orang-orang yang membungkuk ke arah matahari seperti orang-orang zaman penjajahan Jepang yang dipaksa melakukan “seikerei”. Lalu ketika mendengar deksripsi tentang ritus inisiasi menjadi “sikerei”, barulah saya mulai menangkap bahwa “sikerei” ini adalah profesi tertentu dalam masyarakat Mentawai yang berkaitan dengan dunia roh dan leluhur. Beberapa puluh halaman kemudian saya merevisi pengertian saya dengan menyimpulkan secara lebih akurat bahwa “sikerei” itu semacam tabib. Demikianlah, saya menjadi tahu seiring waktu berkat interaksi dengan teks. Sesuatu yang semula asing menjadi akrab bukan karena dijelaskan, tetapi karena digunakan terus-menerus dalam konteks tertentu. Demikian pula ketika saya mendengar nama Aman Legeumanai yang mula-mula memunculkan asosiasi bunyi dengan citraan tentang sebuah LSM yang bergerak di bidang kacang-kacangan karena Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) adalah sebuah LSM dan legume dalam bahasa Latin berarti keluarga kacang-kacangan.


Singkatnya, dengan mempekerjakan narator yang tidak banyak omong, pembaca pun jadi terdorong untuk lebih proaktif mendapatkan makna lewat berbagai cara kata-kata Mentawai digunakan. Semua itu terjadi tanpa perlu sekalipun bertanya pada Google. Pembaca bagi narator Nidu adalah pembaca yang berdaya, pembaca yang tidak butuh disuapi agar bisa makan. Itu adalah salah satu keasyikan pembaca di hadapan narator Burung Kayu: kita diperlakukan sebagai manusia yang punya akal dan bisa mencari cara untuk mengerti.



Lenyapnya Masa Kini


Dalam komentar yang beredar di media sosial, saya temukan cap “novel etnografis” yang dibubuhkan dalam testimoni pembaca atas Burung Kayu. Apakah sebetulnya yang dimaksud dengan “novel etnografis”? Apakah suatu novel yang membicarakan kehidupan suku Mentawai dapat dikatakan novel etnografis? Bagaimana dengan suatu novel yang membicarakan kehidupan suku Jawa, Sunda dan Minangkabau dalam suatu latar kehidupan perkantoran di jalan Jenderal Sudirman, Jakarta? Mengapa novel tentang suku tertentu dalam konteks geografis tertentu disebut novel etnografis, sedangkan novel tentang suku lain dalam konteks geografis lain tiba-tiba disebut novel metropop? Tidak adakah etnografi di Senayan City? Tidak adakah totem dan tabu di M Bloc?


Lewat strategi pengisahan yang menjebloskan pembaca (dan bahasa Indonesianya) ke tengah pemukiman suku Mentawai, Burung Kayu menghasilkan efek keterasingan pada pembaca yang sepenuhnya selaras dengan cerita dalam novel itu sendiri. Burung Kayu berkisah tentang kehidupan di salah satu pulau terluar Indonesia dan bagaimana perdagangan serta pemerintahan perlahan-lahan menghasilkan suasana asing di pulau itu. Seperti halnya Saengrekerei dan Taksilitoni mengalami keterasingan di pemukiman bikinan pemerintah, para pembaca pun mengalami keterasingan dalam semesta sang narator. Nidu berhasil menghadirkan pengalaman ketercerabutan budaya yang dialami suku Mentawai ke dalam pengalaman para pembaca.


Suasana asing itu juga diperkuat dengan alur yang dipenuhi kilasan ke masa lalu, ke kisahan yang dituturkan turun-temurun, ke masa kini yang berlalu hanya dalam beberapa paragraf sebelum kembali lagi ke masa lalu. Bahkan saya merasa cerita masa kini dalam Burung Kayu hanya sedikit saja, yakni bagaimana Legeumanai muda menjalani ritus inisiasi menjadi sikerei untuk menolong ibunya. Seluruh kisahan lain terjadi di masa lalu, baik itu masa lalu yang dekat seperti cerita tentang kematian Aman Legeumanai dan perpindahan Saengrekerei dan Taksilitoni ke barasi, maupun masa lalu yang jauh seperti cerita tentang berdirinya marga Legeumanai dan pertikaian berdarah antara marga Baumanai dan Babuisiboje. Dalam arti itu, Burung Kayu adalah sebuah kisah yang ganjil tentang masa kini sebagai masa lalu.


Alur pengisahan ini semula sempat membingungkan saya. Karena setelah menyaksikan ritus inisiasi sikerei di Bab 1, saya seperti dibawa masuk ke sebuah latar belakang kisahan yang ternyata berujung pada sebuah latar belakang yang lebih jauh lagi, demikian seterusnya, sambil sesekali kembali ke ritus inisiasi yang memanggil ingatan saya pada Bab 1. Saya sempat bertanya-tanya, tidakkah pengisahan latar belakang ini terlalu banyak menunda cerita utama (yang saya asumsikan sebagai cerita tentang masa kini Legeumanai muda) untuk novel yang jumlah halamannya tidak terlalu banyak ini. Kemudian tiba-tiba saja cerita masa kini itu berakhir dan pada Bab penghabisan kita disajikan suasana masa kini yang tampaknya lebih kini ketimbang “masa kini” yang saya perkirakan sebelumnya itu. Suasana itu adalah sebuah festival yang agaknya diselenggarakan Kementerian Pariwisata untuk menggalakkan pariwisata di Pulau Siberut: sebuah deskripsi penghabisan di mana burung kayu hadir sebagai dekorasi panggung dan orang-orang menarikan tarian ritual sikerei di hadapan spanduk. Ternyatalah kemudian bahwa semua cerita selain itu adalah masa lalu, bahwa masa kini hanya terdiri dari dua halaman.


Di manakah masa kini? Untuk menjawab itu, kita perlu mengutip pertanyaan sikerei Sastra Indonesia:

“Siapakah ‘masa kini’? Setelah dewasa, lelaki itu mulai meninggalkan desanya, pergi ke kota memulai kehidupan baru. Tetapi dia merasa tubuh-desanya, tubuh-udiknya, terus hidup bersamanya, walau dia telah hidup sebagai orang kota. Apakah lelaki itu termasuk jenis manusia yang hidup sebagai seseorang-tanpa-masakini?”

Ketika Afrizal Malna menuliskan itu dalam kitab kritiknya, Pada Batas Setiap Masakini (2017), ia tanpa sadar telah menggambarkan riwayat hidup Legeumanai muda yang pulang ke baboi-nya Siberut setelah berkuliah dan bekerja di Padang. Kepada pertanyaan sikerei Sastra Indonesia itulah kita kini berpaling: apakah Legeumanai muda adalah seseorang-tanpa-masakini? Masa kininya mengemuka sebagai rangkaian festival pariwisata dan lokakarya peningkatan kapasitas. Masa kininya terdiri dari proposal dan per diem yang menyertai semua proses itu. Singkatnya, masa kininya adalah simulasi dari masa lalu, sebuah upaya untuk mereka-ulang tradisi di atas panggung.



Inilah kekuatan alur pengisahan Burung Kayu: dengan berporos pada masa lalu, Nidu telah menyajikan masa kini dengan tajamnya, yakni masa kini yang pelan-pelan hendak dijadikan sebuah simulasi tanpa akhir dari masa lalu. Seakan-akan hanya kota-kota besar yang boleh punya masa kini. Seakan-akan daerah-daerah terpencil hanya boleh punya masa lalu. Seakan-akan Burung Kayu tentulah novel etnografis, sedangkan My Stupid Boss pastilah novel metropop.


“Siapakah ‘masa-kini’?” Pertanyaan sikerei tua itu masih saja mengganggu saya.


25 Juli 2020

770 views

Recent Posts

See All

Fragmen Novelet "Semacam Manusia"

[Bab pembuka dari sebuah naskah novelet 150-an halaman yang ditulis tahun 2015 dan tidak diselesaikan] Oleh Martin Suryajaya “Turunkan Suharto sekarang juga,” kata seorang muda pada pohon kelapa suatu

Tantangan dan Masa Depan Kritik Sastra Indonesia

Oleh Martin Suryajaya Berakhirnya Era Polemik Besar Sastra Indonesia Dalam perkembangan sastra Indonesia kontemporer, orang sering mempertanyakan di mana sumbangan para kritikus. Sebagian berpendapat

  • Facebook
  • YouTube
  • Instagram
  • Icon Goodreads
Kontak