Selayang Pandang Estetika Modern

Updated: Jan 28

[Nukilan buku Sejarah Estetika, Gang Kabel, 2016]

Oleh Martin Suryajaya


Modernitas dan Kelahiran Estetika

Hal pertama yang mesti dijernihkan dalam survei historis tentang estetika Modern adalah pengertian kata ‘Modern’ itu sendiri. Bagian ini akan membahas riwayat pewacanaan estetika sejak abad ke-16 hingga 19. Masalahnya, istilah ‘era Modern’ dan ‘modernisme’ digunakan secara beragam. Dalam sejarah seni rupa, musik dan sastra, misalnya, era Modern ditempatkan awal mulanya di akhir abad ke-19 atau awal abad ke-20. Seni rupa Modern bermula dari Édouard Manet, musik Modern berasal dari Arnold Schoenberg, dan sastra Modern berangkat dari orang-orang seperti Marcel Proust, Franz Kafka dan James Joyce. Semua tokoh itu aktif pada masa sekitar paruh kedua abad ke-19 atau dekade-dekade pertama abad ke-20. Lantas mengapa kajian tentang sejarah estetika dari abad ke-16 sampai abad ke-19 mesti memakai label ‘Modern’?


Akar kata ‘Modern’ berasal dari bahasa Latin, modo, yang artinya ‘baru saja’. Karenanya, modernitas utamanya berurusan dengan kebaruan. Perdebatan tentang kebaruan dalam seni memang menandai fase historis yang dibahas di bagian ini. Pada abad ke-17 mengemuka sebuah perdebatan yang dikenal sebagai Querelle des anciens et des modernes (“Perdebatan antara kaum kuno dan modern”). Perdebatan ini dipicu oleh pembacaan puisi Charles Perrault di Académie Français yang menyamakan kejayaan artistik era Romawi dengan capaian artistik Prancis di bawah raja Louis XIV.[1] Pandangan ini berlawanan dengan opini mayoritas kalangan cendekiawan zaman itu yang memandang bahwa seni Klasik Yunani-Romawi adalah puncak yang tak mungkin dilampaui oleh generasi sesudahnya. Kontan saja pendapat Perrault menuai konflik gagasan tentang kemungkinan kebaruan seni di masa Modern.


Dalam Querelle ini, kita dapat mempersepsi lahirnya ‘kesadaran Modern’, yakni kesadaran sebagai bagian dari zaman baru yang menyimpan sejumlah potensi yang tak terbayangkan sebelumnya. Fontenelle (1657-1757), misalnya, menuturkan dalam esainya bahwa masa Modern mengandung kekhasannya sendiri. Fontenelle (2000: 51) berpendapat bahwa cakrawala kebudayaan orang Modern jauh lebih maju ketimbang cakrawala di masa Klasik. Orang Modern telah mencicipi kemajuan ilmu pengetahuan dari para ilmuwan seperti Galileo Galilei dan mengenal perangkat penalaran filosofis yang maju dari René Descartes. Karena kebaruan cakrawala kebudayaan inilah, Fontenelle berpendapat bahwa seniman Modern mampu menghasilkan kebaruan yang tak tercapai sebelumnya oleh para seniman Klasik.


Dari argumen Fontenelle nampak jelas bahwa kemodernan seni di abad ke-17 didefinisikan sebagai efek dari kemajuan ilmu pengetahuan. Kemodernan seni, karenanya, dapat ditempatkan sebagai buah Revolusi Ilmu Pengetahuan yang terjadi sejak Galileo di abad ke-16 hingga Isaac Newton di abad ke-17.[2] Revolusi Ilmu Pengetahuan ini mengemuka sebagai terbitnya sains modern yang terceraikan dari takhayul Abad Pertengahan. Hal ini dibarengi dengan revolusi sejenis yang terjadi dalam kajian filsafat dengan kemunculan para filsuf Modern seperti Descartes, Spinoza dan Leibniz. Dengan kata lain, kelahiran filsafat Modern memicu kelahiran estetika Modern. Pertanyaannya kemudian: apa yang baru dalam ‘filsafat Modern’ itu sehingga mengemukalah secara khas estetika Modern yang merentang sejak abad ke-16 hingga 19?


Filsafat Modern bermula dari epistemologi atau kajian tentang syarat-syarat pengetahuan. Apabila filsafat pra-Modern sibuk dalam kajian ontologi atau pembahasan tentang hakikat kenyataan, filsafat Modern menggeser pertanyaannya dengan mempersoalkan terlebih dulu: bagaimana kita mungkin mengetahui kenyataan? Alih-alih menempatkan epistemologi dalam cakrawala ontologi, para filsuf Modern justru menempatkan ontologi dalam kerangka epistemologi. Pembicaraan tentang hakikat kenyataan dikondisikan oleh pembahasan tentang syarat-syarat sekaligus batas pengetahuan. Inilah watak khas filsafat Modern.


Kemodernan, karenanya, berciri reflektif. Orang Modern tidak hanya dituntut untuk tahu tentang kenyataan, tetapi juga tentang syarat dan batas pengetahuannya sendiri. Refleksivitas filsafat Modern inilah yang menjelaskan fakta bahwa estetika Modern dipenuhi dengan kajian tentang pengetahuan tentang keindahan. Apabila estetika Klasik dan Abad Pertengahan sibuk mendefinisikan keindahan, estetika Modern menggeser fokusnya menjadi perkara akses terhadap keindahan. Berdasarkan pertimbangan epistemik inilah kemudian ontologi keindahan ditempatkan.


Di sinilah kita mesti menempatkan kelahiran estetika sebagai disiplin filsafat seni yang terpisah dari disiplin filsafat yang lain. Sebagai disiplin, estetika mulanya merupakan cabang dari epistemologi yang berfokus pada pengamatan indrawi. Inilah konteks yang menjelaskan mengapa Alexander Gottlieb Baumgarten mengartikan pengalaman estetis sebagai puncak dari pengalaman indrawi.[3] Inilah juga sebabnya kenapa Baumgarten—sang penemu disiplin estetika—mendefinisikan estetika sebagai “ilmu tentang persepsi yang diperoleh melalui indra-indra” (Baumgarten 2000b: 489). Warna epistemologis dari definisi tersebut amatlah jelas.


Penempatan ontologi seni dalam konteks epistemologi seni ini juga mewujud dalam fakta bahwa konsep citarasa atau selera (taste) mendominasi percakapan estetika Modern. Penentuan ‘standar selera’ adalah masalah kunci yang diperdebatkan estetikawan Modern, khususnya di sepanjang abad ke-18 (Guyer 2009: 44). Akar persoalan ini juga epistemologis: tidakkah keindahan ditentukan oleh cara masing-masing individu memandang objek seni dan bukankah cara itu dipengaruhi oleh kebiasaannya masing-masing? Jika demikian, tidakkah definisi keindahan yang universal, berlaku di mana saja dan kapan saja, hanyalah isapan jempol? Kalau begitu, lalu mungkinkah ada yang dapat dijadikan standar dari berbagai selera individual yang berlainan itu? Di sini kita saksikan bahwa problem selera adalah puncak gunung es dari akar epistemologis estetika dan filsafat Modern.


Melalui paparan ini, menjadi jelas bahwa estetika Modern terlahir dari pertimbangan-pertimbangan epistemologis yang mewarnai filsafat Modern. Jadi ‘modernitas’ dalam konteks sejarah estetika mesti ditempatkan dalam kerangka sejarah filsafat. Artinya, pembabakan era ‘Modern’ dalam sejarah estetika tidak bisa disamakan dengan pembabakan era ‘Modern’ dalam disiplin seni khusus, seperti sastra, seni rupa dan musik. Kendati begitu, bukan berarti juga bahwa kedua pengertian ‘Modern’ itu tak berhubungan sekali.


Clement Greenberg menulis dalam artikel mashyurnya, Modernist Painting, bahwa modernisme dalam seni identik dengan otonomi wacana kesenian: kriteria evaluasi seni tidak lagi dikebawahkan pada pertimbangan yang eksternal terhadap seni (seperti moralitas, agama, dsb), melainkan ditemukan di dalam disiplin seni itu sendiri.[4] Dalam hal ini, estetika Modern yang dibahas di sini dapat dilihat sebagai pendahulu konsepsi semacam itu, kendati bukannya tanpa tegangan terhadap pakem estetika Klasik yang diwarisinya.


Namun tak ada yang lebih mendekatkan modernisme seni dengan estetika Modern daripada semangat ‘kepeloporan’ (avant-gardism). Gagasan tentang seniman sebagai pelopor yang mendobrak pakem lama adalah produk estetika Modern. Seperti telah kita lihat, modernitas dalam estetika diawali dengan perlawanan atas hegemoni seni Klasik. Karenanya, estetika Modern mengartikan modernitas sebagai semangat mendobrak pakem dan karenanya pengutamaan atas kepeloporan. Inilah yang kemudian diradikalkan ke dalam modernisme di akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20.


Kelahiran ‘Sistem Seni Modern’

Menurut kaidah estetika Klasik, seni pada dasarnya adalah teknik, yakni keahlian untuk mengolah sesuatu guna mencapai tujuan tertentu. Karena hakikatnya adalah keahlian, maka seni bercorak rasional: melibatkan penguasaan metode, atau setidaknya pedoman kerja, yang terdefinisikan dengan jelas. Oleh karena itu, bagi orang Yunani, Romawi dan sebagian besar Abad Pertengahan serta Renaisans, seni adalah bagian dari ilmu pengetahuan. Itulah sebabnya dalam konteks ‘seni liberal’, misalnya, seni musik dikelompokkan bersama dengan astronomi dan geometri. Semuanya sama-sama bercorak teknis, rasional dan fungsional.


Apabila kita merasa tak habis pikir dengan pengertian seni dan sistem klasifikasi Klasik itu, perasaan kita ini adalah hasil dari konsensus baru yang terbentuk pada masa Modern. Apa yang menyebabkan keengganan kita adalah sesuatu yang diidentifikasi oleh Paul Oskar Kristeller sebagai ‘Sistem Seni Modern’ (Modern System of the Arts). Sistem Seni Modern ialah sistem klasifikasi seni sebagai ‘seni murni’ (fine arts atau beaux arts) yang dipilah dengan tegas dari seni terapan atau ‘seni kriya’. Ada lima cabang seni yang dikelompokkan ke dalam Sistem Seni Modern:

  • Seni lukis

  • Seni patung

  • Arsitektur

  • Musik

  • Puisi

Kelimanya menikmati status sebagai ‘seni murni’ yang dibedakan dari seni terapan yang masih tercemar oleh aspek pertukangan atau kerja fisik berlebih. Kristeller menunjukkan bahwa konsepsi seni macam ini baru muncul sejak abad ke-18 (Kristeller 1951: 497).

Namun, apabila dipelajari lebih rinci lagi, gagasan tentang Sistem Seni Modern sebetulnya telah diajukan sejak abad ke-17. Dalam bagian sebelumnya, kita sudah melihat bahwa sistem klasifikasi seni Abad Pertengahan tidak memasukkan seni lukis dan patung ke dalam cabang seni apapun: tidak ke dalam cabang seni liberal, tidak juga ke dalam seni mekanis. Opini mayoritas menempatkan kedua cabang seni itu ke dalam seni mekanis. Namun, karena seni mekanis ditandai oleh dimensi kegunaan praktis, sementara seni lukis dan patung dianggap tak cukup memiliki kegunaan praktis, maka keduanya bahkan tak digolongkan sebagai seni mekanis. Kita sudah melihat juga adanya orang seperti Alberti dan da Vinci yang berargumen bahwa seni lukis adalah bagian dari seni liberal. Tetapi sistem klasifikasi Klasik itu tetap hegemonik.


Perombakan atas dimensi kelembagaan dari sistem klasifikasi Klasik yang bertahan hingga era Abad Pertengahan dan Renaisans itu dimulai di Prancis. Pada tahun 1648, Martin de Charmois, atas nama para pelukis dan pematung istana, mengajukan petisi ke raja Louis XIV untuk mendirikan Akademi Seni Lukis dan Patung Kerajaan. Dalam petisi itu diajukan argumen bahwa seni lukis dan patung adalah bagian dari seni liberal dan karenanya mesti dilindungi negara. Namun argumen tentang kemurnian seni lukis dan patung ini ditopang oleh konteks yang menarik.


Naskah petisi tersebut dibuka dengan ungkapan kegelisahan para pelukis dan pematung kerajaan menghadapi hegemoni gilda-gilda pelukis dan pematung. De Charmois menganggap bahwa para seniman gilda ini menurunkan derajat seni lukis dan patung menjadi sekadar teknik pertukangan yang rendahan.[5] Karenanya, akar sesungguhnya dari petisi untuk mendirikan Akademi Kerajaan—dan dengan itu fondasi kelembagaan bagi kemurnian seni lukis dan patung—terletak pada aras ekonomi-politik, yakni persaingan antara seniman istana dan seniman gilda.


Akar ekonomi-politik ini juga mengemuka ketika de Charmois menutup petisinya dengan memohon pada raja Louis XIV agar kekuasaan gilda dibatasi, antara lain dengan pembatasan lapangan pekerjaan para seniman gilda sampai pada taraf pertukangan saja: tidak diizinkan melukis apapun (entah itu potret, pemandangan, ataupun adegan historis/religius) selain melukis relief, menatah ukiran, atau memproduksi seni dekoratif lainnya. De Charmois menulis:

“Semoga Yang Mulia Paduka sudi menerapkan larangan dan hambatan pada para guru gilda lukis dan patung [...] pada para pelukis dan pekerja patung, demi melarang mereka membuat lukisan sosok historis, atau potret maupun pemandangan, demikian pula patung-patung atau relief religius di gereja maupun di bangunan publik ataupun privat, dan hanya mengizinkan mereka untuk membuat hiasan, melukis atau mengukir relief gaya Moor, grotesque atau arabesque dan dekorasi lain, dengan denda 2000 livres dan penyitaan hasil karya bagi semua seniman gilda yang melanggar ketentuan ini” (de Charmois 2000: 86)

Sepuluh hari kemudian, atas restu raja Louis XIV, berdirilah Académie Royale de Peinture et de Sculpture dengan Martin de Charmois sebagai rektor pertamanya.

Melalui pendirian Akademi Seni Lukis dan Patung Kerajaan, diresmikanlah secara kelembagaan sebuah pemisahan historis antara seni murni dan seni terapan. Sejak saat itu, pematung dibedakan secara tegas dari tukang kayu, tukang batu dan pandai besi, biarpun semuanya sama-sama piawai memproduksi ukiran dan sepuhan. Sejak saat itu juga, pelukis dibedakan dari juru gambar (illustrator) kendati keduanya sama-sama ahli melukis. Demikianlah, seni rupa ditransformasi menjadi seni murni melalui radikalisasi atas distingsi ‘seni liberal’ dan ‘seni mekanis’.


Terbentuknya Sistem Seni Modern memberikan nada dasar bagi riwayat refleksi estetika Modern. Kendati evolusi kelembagaan seni di abad ke-17 sudah mengantar ke arah pembentukan sistem semacam itu, legitimasi teoretis bagi sistem tersebut baru diberikan pada zaman Pencerahan di abad ke-18 melalui konsepsi tentang proses penikmatan karya seni yang ‘tanpa pamrih’ (disinterested). Oleh karena karya seni seharusnya diamati melalui kerangka baca yang tak berkepentingan, maka aspek-aspek representasional dan fungsional dari karya tersebut mesti dikesampingkan terlebih dulu dari setiap evaluasi estetis. Seruan “Kembalilah ke karya seni itu sendiri” tak pelak lagi adalah seruan yang berlawanan dengan semangat Klasik (di mana seni sudah dengan sendirinya dianggap mimetik dan fungsional).


Dengan langkah terakhir itu, terciptalah justifikasi bagi konsepsi seni yang non-mimetik, non-fungsional dan swa-acu. Demikianlah lahir tiga gerakan pemikiran estetika baru dalam era Modern: romantisisme ekspresivis, estetisisme dan formalisme. Romantisisme ekspresivis menampik konsepsi seni sebagai mimēsis dan menafsirkan ulang seni sebagai ekspresi perasaan seniman. Estetisisme menampik evaluasi fungsional atas karya seni dengan menekankan otonomi karya seni. Formalisme menolak evaluasi estetis berdasarkan acuan yang eksternal terhadap karya seni. Karenanya, kemunculan romantisisme, estetisisme dan formalisme tak akan terpikirkan tanpa formasi Sistem Seni Modern di abad ke-18 dan prasyarat kelembagaan serta konteks ekonomi-politiknya di abad ke-17, yakni dalam pertarungan antara seniman istana dan gilda.




[1] Puisi yang berjudul The Century of Louis the Great itu berbunyi: “Beautiful Antiquity has always been an object of veneration / but I do not believe that it has ever been worthy of adoration. / I look upon the Ancients without bending the knee; / they were great it is true, but they were men just like us; / without fear of being unjust we may compare / the century of Louis with the century of Augustus.” (Harrison, et.al 2000: 15)


[2] Bahkan Paul Oskar Kristeller memandang Querelle itu sendiri disebabkan oleh konflik antara cara pandang ilmu Klasik dan cara pandang ilmu Modern (Kristeller 1952: 25). Pandangan ini dapat dibenarkan khususnya bila kita memeriksa perdebatan fisika antara Galileo versus kaum Aristotelian zamannya. Kemenangan Galileo dan kubu Modern dalam perdebatan ini seperti memberi angin pada para pendukung seni ‘Modern’ dalam menantang hegemoni pakem seni Klasik.


[3] Inilah yang mengemuka, misalnya, dalam konsepsinya tentang puisi: ”By perfect sensate discourse we mean discourse whose various parts are directed toward the aprehension of sensate representations. A sensate discourse will be the more perfect the more its parts facor the awakening of sensate representations. By poem we mean a perfect sensate discourse” (Baumgarten 2000a: 488).


[4]The essence of Modernism lies, as I see it, in the use of the characteristic methods of a discipline to criticize the discipline itself - not in order to subvert it, but to entrench it more firmly in its area of competence.” (Greenberg 1987: 5)


[5]Sire, the Academy of Painters and Sculptors, weary of the persecution that it has suffered these long years through the hostility of certain master craftsmen, [...] they not only presume to oblige the most erudite exponents of this art to work for those who grind their colours and polish their statues, merely because these men have purchased the title of masters, but they also with to limit the powers of Your Majesty, by reducing to a certain number those whom he has honoured with the name of painters and scultors to the King.” (de Charmois 2000: 81)

617 views

Recent Posts

See All

Selayang Pandang Estetika Kontemporer

[Nukilan buku Sejarah Estetika, Gang Kabel, 2016] Oleh Martin Suryajaya Peralihan dari Masa Modern ke Kontemporer Ada kedekatan makna antara istilah ‘modern’ dan ‘kontemporer’. Apabila istilah ‘modern

Selayang Pandang Estetika Abad Pertengahan

[Nukilan buku Sejarah Estetika, Gang Kabel, 2016] Oleh Martin Suryajaya Adakah Estetika Abad Pertengahan? Menurut tradisi, apa yang disebut ‘Abad Pertengahan’ adalah sebuah era yang bermula dengan run

  • Facebook
  • YouTube
  • Instagram
  • Icon Goodreads
Kontak