Selayang Pandang Estetika Kontemporer

Updated: Jan 28

[Nukilan buku Sejarah Estetika, Gang Kabel, 2016]

Oleh Martin Suryajaya



Peralihan dari Masa Modern ke Kontemporer

Ada kedekatan makna antara istilah ‘modern’ dan ‘kontemporer’. Apabila istilah ‘modern’ sejatinya berarti ‘baru saja’ (modo), istilah ‘kontemporer’ sebetulnya bermakna ‘sezaman’ atau mengacu pada sesuatu yang tengah berlangsung. Bagian ini akan membahas riwayat estetika di era kontemporer yang utamanya mengacu pada estetika abad ke-20. Namun dalam banyak cabang seni, umpamanya seni rupa, abad ke-20 disebut sebagai masa Modern. Karenanya, lukisan Picasso di awal abad ke-20 disebut sebagai ‘karya seni Modern’. Tidak demikian halnya ketika kita sedang membicarakan estetika. Sebagai suatu ranah kajian filsafat, estetika mengikuti kaidah pembabakan dalam sejarah filsafat yang menempatkan abad ke-20 sebagai era kontemporer alih-alih Modern. Sebabnya era Modern sudah terlanjur secara konvensional diartikan sebagai suatu era pemikiran yang merentang sejak abad ke-17 hingga akhir abad ke-19.


Namun pembabakan dan kategori semacam ‘era kontemporer’ merupakan hasil konvensi semata. Pembabakan dan kategorisasi itu selalu dapat diretas manakala dirasa perlu. Demikian pula dalam bagian ini, kita akan membahas estetika kontemporer tidak dengan mengawalinya di permulaan abad ke-20, melainkan di sekitar pertengahan abad ke-19. Pelonggaran kategori semacam ini perlu dilakukan agar kita dapat mensituasikan wacana estetika kontemporer dalam konteks historisnya yang sesuai.


Dalam bagian sebelumnya, penulis sudah membahas perkembangan estetika sejak abad ke-17 hingga akhirnya memuncak pada anak-anak zaman Romantik di akhir abad ke-19, yakni tentang bagaimana romantisisme beranak-pinak ke dalam ekspresivisme, estetisisme dan formalisme. Ada sebuah pendekatan estetika yang juga berpengaruh yang belum sempat dikupas di sana. Apa yang belum dibedah di sana tak lain ialah saudara kandung romantisisme sendiri, yakni realisme.


Realisme dan romantisisme, apabila kita periksa dalam sejarah pemikiran yang melahirkannya, dapat dilihat sebagai sepasang saudara kandung yang tak pernah akur. Keduanya sama-sama terlahir dari perdebatan tua dalam sejarah estetika berkenaan dengan hubungan antara karya seni dan kenyataan. Dengan kata lain, di balik pembelahan antara kedua kubu estetik itu terletak problem kuno estetika: perkara mimēsis.


Estetika Yunani Klasik mewariskan pada kita anggapan umum bahwa setiap karya seni adalah tiruan atas kenyataan. Makanya, seni merupakan perkara teknik mereproduksi kenyataan yang melibatkan ilmu pengetahuan (berciri rasional) dan memiliki kegunaan bagi masyarakat (berciri fungsional). Anggapan ini mulai digugat sejak masa Renaisans. Pemilahan antara kenyataan objektif dan subjektif oleh Galileo Galilei menjadi benih bagi perpecahan estetika Klasik dan Romantik. Apabila sains nyatanya lebih mampu mereproduksi kenyataan objektif, maka apa yang bisa disumbangkan seni?


Kaum Romantik menjawabnya dengan membuang pakem estetika Klasik dan membuat seni menjadi perkara subjektif (non-rasional, non-fungsional). Para estetikawan pasca-Romantik seperti kaum estetisis dan formalis meradikalkan jawaban itu lebih jauh: seni mesti otonom dari kegunaan dan nilai-nilai (dan karenanya, otonom dari masyarakat). Namun para estetikawan Klasik di era Modern menyimpan jawaban lain. Merekalah yang mewujud ke dalam gerakan realisme seni dan mempertahankan pengertian mimetik, fungsional dan rasional seni. Hanya saja, kaum realis ini mengartikan ulang kenyataan objektif sebagai kenyataan sosio-historis. Inilah yang dilakukan estetikawan realis seperti Hippolyte Taine, John Ruskin dan N.G. Chernyshevsky.


Pendekatan realis dalam estetika inilah yang nantinya mengemuka ke dalam tradisi besar estetika Marxis yang amat berpengaruh di abad ke-20. Sebagian besar dari para estetikawan Marxis awal menunjukkan bahwa seni bertugas mencerminkan kenyataan sosial dan memberikan sumbangan pada perbaikan kondisi sosial. Mereka kemudian menganalisis kerja seni sebagai bagian dari penjelasan tentang pembagian kerja dalam masyarakat. Dengan itu, mereka menolak konsepsi tentang seniman sebagai individu jenius yang diyakini oleh kaum Romantik. Estetika Marxis dan tradisi realis yang dikandungnya, oleh karena itu, merupakan reinkarnasi kontemporer dari estetika Klasik.


Demikianlah, abad ke-20 dibuka dengan pertarungan antara tradisi Klasik yang diwakili oleh estetikawan realis dan Marxis melawan tradisi Romantik yang diwakili oleh estetikawan formalis, estetisis dan ekspresivis. Tradisi Romantik itulah yang kemudian mewujud kembali dalam pendekatan fenomenologis dan pasca-modernis. Namun dalam interaksi kultural yang kian campur-baur, kita pun menemukan percampuran antara tradisi Klasik yang menubuh dalam estetika Marxis dan tradisi Romantik yang menubuh dalam estetika fenomenologis dan pasca-modernis. Karenanya, kita akan menemukan sebagian estetika Marxis kontemporer yang dekat dengan tradisi Romantik, begitu juga dengan sebagian estetika pasca-modernis yang dekat dengan tradisi Klasik. Percampuran inilah yang menjadi fakta historis perdebatan estetika dewasa ini. Hampir tak ada seorang estetikawan pun di awal abad ke-21 ini yang dapat mengklaim dirinya seorang Klasisis atau Romantik dalam pengertian yang mutlak dan murni. Percampuran inilah yang juga kita temukan dalam pendekatan estetika feminis dan Analitik.


Namun terlepas dari percampuran seperti itu, kita tetap memperoleh peta besarnya. Panorama estetika kontemporer tetaplah dikondisikan oleh pembelahan utama antara pakem estetika Klasik dan Romantik. Apa yang akan menjadi fokus dalam bagian ini adalah penjernihan genealogi konseptual dari beragam posisi estetika kontemporer. Tujuannya tak pelak lagi adalah agar kita memperoleh gambaran tentang kenyataan diskursus estetika hari ini dalam tautan historisnya dengan sejarah estetika sejak era Yunani. Mengetahui masa kini dan tempat kita berpijak di hari ini mensyaratkan pemahaman tentang hubungan antara masa kini dan masa lalu. Dengan kata lain, ciri ‘kontemporer’ dari estetika kontemporer adalah sesuatu yang dimungkinkan sekaligus dibatasi oleh sejarahnya sendiri.


Perluasan Kajian Estetika

Memasuki abad ke-20, front perdebatan estetika kian meluas. Estetika Modern telah menggeser pertimbangan estetika dari ranah ontologi (apa itu keindahan?) ke ranah epistemologi (apa yang memungkinkan kita mengakses keindahan?), estetika kontemporer meradikalkan ‘balikan epistemologis’ itu. Pertanyaan utama yang kerap diulang dalam riwayat estetika kontemporer ialah: apa itu karya seni? Sebelum membahas pengertian keindahan dan akses kita terhadapnya, kita perlu menjernihkan pengertian seni itu sendiri. Inilah kekhasan pendekatan estetika kontemporer.


Upaya mempertanyakan kembali definisi karya seni ini seayun dengan terobosan-terobosan yang berhasil ditempuh oleh para seniman. Kemunculan ‘seni Modern’ menantang para estetikawan kontemporer untuk membongkar kembali pengertian sempit tentang seni baik yang didefinisikan oleh pakem estetika Klasik ataupun Romantik. Berikut adalah ilustrasi dari dampak terobosan praktik seni pada diskursus estetika:

  • Pengertian Klasik bahwa seni adalah tiruan kenyataan digugat oleh kemunculan lukisan-lukisan abstrak yang sama sekali tidak merepresentasikan kenyataan empiris apapun.

  • Pengertian ekspresivis bahwa seni adalah ungkapan batin seniman yang personal dan unik digembosi oleh keberadaan karya-karya instalasi readymade (sejak Duchamp) yang dipungut dari barang jadi hasil manufaktur tanpa polesan artistik sama sekali.

  • Pengertian formalis bahwa karya seni adalah ‘bentuk bermakna’ diruntuhkan oleh kemunculan karya-karya seni konseptual sejak tahun 60-an (dari para perupa Fluxus, misalnya) yang terkadang hanya berupa rangkaian kata-kata semata, dengan kata lain, nyaris nir-bentuk.

Dalam konteks praktik seni garda-depan inilah definisi seni Klasik dan Romantik jadi tampak tak memadai. Karenanya, beragam estetikawan mulai dari Walter Benjamin hingga Arthur Danto menempatkan pertanyaan “apa itu karya seni” sebagai problem kunci estetika.


Seni Modern memaksa para estetikawan tak lagi bisa berbicara tentang karya seni seakan seperti sudah jelas dengan sendirinya (taken for granted), entah sebagai tiruan kenyataan atau sebagai ekspresi batin dalam wujud formal—sebuah sikap yang lazim kita jumpai dalam estetika pra-kontemporer. Pengertian tentang karya seni, dengan kemunculan seni Modern, menjadi pelik dan memerlukan penjelasan yang memadai. Inilah yang menyedot banyak energi para estetikawan kontemporer—menjawab pertanyaan sederhana: apa itu ‘karya seni’?


Pertanyaan yang sekilas nampak remeh-temeh ini nyatanya memuat segudang permasalahan yang tak habis-habisnya dibongkar oleh para estetikawan. Di sini, kita dapat mendaftar sebagian dari permasalahan tersebut:

  • Apakah karya seni adalah produk sosial atau individual?

  • Apakah karya seni adalah produk kesadaran sang seniman?

  • Apakah karya seni dapat ditinjau terlepas dari kelas-kelas sosial?

  • Apakah karya seni otonom terhadap gender?

  • Apakah karya seni berhubungan secara inheren dengan cita-cita emansipasi politik?

  • Apakah karya seni tersusun oleh ‘bahasa’-nya sendiri dan terpisah dari bahasa sehari-hari?

Sebagian pertanyaan ini diajukan dan dijawab, dengan berbagai cara, oleh para estetikawan kontemporer yang dibahas di bagian ini. Hal itu menunjukkan makin lebarnya wilayah kajian estetika kontemporer dibandingkan masa-masa sebelumnya.


Problem Historiografi Estetika Kontemporer

Dalam membahas riwayat estetika kontemporer, penulis dihadapkan pada pilihan yang cukup pelik. Berbeda dengan periode estetika yang dibahas dalam bagian-bagian sebelumnya, periode kontemporer memuat lebih banyak pemikir yang menghasilkan sumbangsih penting bagi wacana estetika. Apabila dalam penjabaran tentang estetika Klasik, kita cukup meluangkan perhatian pada sekitar 11 pemikir utama, tidak demikian dalam penjabaran estetika kontemporer. Tak kurang dari 50 pemikir yang akan dikupas dalam bagian ini. Kemassifan jumlah pemikir yang perlu dibahas ini menyajikan permasalahan tersendiri.


Masalah yang timbul tentunya bukan soal bahwa penulis perlu menjelaskan 50 pemikiran yang berbeda dalam satu bagian tanpa membuat bagian ini menjadi sekadar ensiklopedi tokoh-tokoh estetika. Masalahnya adalah bagaimana menyajikan seluruh pemikiran itu dalam suatu pemaparan yang sistematis, memiliki benang merah yang jelas dan mudah dipahami pembaca. Ada dua pendekatan yang mungkin:

  • Pendekatan diakronis: menyajikan pengelompokan seluruh pemikiran tersebut berdasarkan kronologi hidup para pemikirnya yang belum tentu serumpun dari segi tema pemikiran.

  • Pendekatan sinkronis: menyajikan penggolongan seluruh pemikiran itu berdasarkan tema atau aliran pemikiran yang belum tentu kronologis.

Dalam ketiga bagian sebelumnya, penulis memilih menggunakan pendekatan diakronis karena tendensi pemikiran secara periodik masih mudah dipetakan—semacam ‘semangat zaman’ yang dapat ditangkap dengan mudah begitu kita membandingkan sejumlah teks pemikir yang ada. Namun berhadapan dengan demikian banyaknya pemikir estetika kontemporer, agaknya pendekatan diakronis akan membuat pembaca sulit menangkap kesatuan tematis dari pemikiran yang dibahas.


Atas pertimbangan itulah penulis memilih untuk menggunakan pendekatan sinkronis dalam bagian ini. Susunan penjelasan dalam bagian ini akan distruktur menurut mazhab atau aliran pemikiran. Dalam susunan semacam ini, kronologi tetap ada, tetapi hanya dibatasi pada kronologi internal dari masing-masing mazhab. Tujuannya adalah agar benang merah pemikiran lebih mudah tertangkap oleh para pembaca.


Namun ada kesulitan yang muncul dari pilihan pendekatan ini. Pertama, perkembangan debat di dalam sebuah mazhab kerapkali dipengaruhi oleh perkembangan dari mazhab yang lain. Misalnya, kita akan kesulitan membahas estetika fenomenologis Sartre tanpa memahami terlebih dulu bingkai Marxisme yang juga mempengaruhi pemikiran Sartre. Dalam kasus seperti ini, penulis akan menjelaskan secara singkat konteks historis dari perkembangan mazhab-mazhab pemikiran itu. Kedua, banyak pemikir yang afiliasi gagasannya tidak hanya kepada satu mazhab. Misalnya, Clement Greenberg mulanya adalah salah seorang pemikir Marxis tetapi kemudian beralih mendukung modernisme yang lebih dekat dengan formalisme. Dalam kasus seperti itu, penulis terpaksa memilih menggolongkannya ke salah satu mazhab saja sembari mengingatkan pembaca bahwa pemikiran yang bersangkutan dapat juga dikelompokkan ke dalam mazhab yang lain.


Selain melalui solusi yang penulis paparkan tersebut, problem dari pendekatan sinkronis ini akan diatasi juga lewat penjelasan pendahuluan yang sifatnya historis-diakronis tentang sejarah singkat perkembangan wacana estetika kontemporer. Inilah yang akan penulis jalankan dalam Bab selanjutnya.



76 views

Recent Posts

See All

Selayang Pandang Estetika Modern

[Nukilan buku Sejarah Estetika, Gang Kabel, 2016] Oleh Martin Suryajaya Modernitas dan Kelahiran Estetika Hal pertama yang mesti dijernihkan dalam survei historis tentang estetika Modern adalah penger

Selayang Pandang Estetika Abad Pertengahan

[Nukilan buku Sejarah Estetika, Gang Kabel, 2016] Oleh Martin Suryajaya Adakah Estetika Abad Pertengahan? Menurut tradisi, apa yang disebut ‘Abad Pertengahan’ adalah sebuah era yang bermula dengan run

  • Facebook
  • YouTube
  • Instagram
  • Icon Goodreads
Kontak