Selayang Pandang Estetika Abad Pertengahan

Updated: Jan 28

[Nukilan buku Sejarah Estetika, Gang Kabel, 2016]

Oleh Martin Suryajaya



Adakah Estetika Abad Pertengahan?

Menurut tradisi, apa yang disebut ‘Abad Pertengahan’ adalah sebuah era yang bermula dengan runtuhnya kekaisaran Romawi Barat dan konsolidasi politik kekristenan di abad ke-4 dan ditutup dengan era Renaissance pada abad ke-16 (Cantor 1993: 1). Sejak Petrarch, seorang penyair yang hidup menjelang era Renaisans, Abad Pertengahan juga dipandang sebagai ‘Zaman Kegelapan’ (Shank & Lindberg 2013: 1). Sebutan ini muncul utamanya ketika era tersebut dibandingkan dengan kecemerlangan kultural masa Yunani Antik dan Romawi.


Istilah ‘Abad Pertengahan’ (middle ages atau medieval period, dari frase Latin, medium aevum atau ‘era tengah’) berasal dari cara berpikir yang menempatkan sejarah abad ke-4 hingga ke-16 sebagai masa peralihan semata. Dengan istilah itu, ‘Abad Pertengahan’ menjadi periode transisi dari keakbaran budaya Yunani-Romawi ke masa Modern yang cerah. Inilah yang diteguhkan oleh pernyataan Cristoph Cellarius, seorang sarjana Jerman di abad ke-17, bahwa “sejarah universal ... terbagi ke dalam era antik, pertengahan dan baru” (Historia universalis ... in antiquam et medii aevi ac novam divisa) (Shank & Lindberg 2013: 2). Selain itu, Cellarius juga mengartikan ‘Abad Pertengahan’ secara eurosentris sebagai sebuah periode sejarah dunia padahal yang dibahasnya hanya sejarah Eropa yang kristen.[1]


Sudah jelas bahwa istilah ‘Abad Pertengahan’ mengandung bias Eropa sekaligus bias zaman Pencerahan. Lagipula agak ganjil bahwa sebuah era yang merentang selama lebih dari seribu tahun dapat disebut sebagai ‘masa peralihan’ semata. Tentunya ada kebaruan-kebaruan yang, betapapun tersirat, berhasil dicapai dalam era tersebut.

Generasi sejarawan pemikiran yang baru kemudian memperbaiki asumsi problematis dari pembabakan tersebut. Perbaikan itu terjadi di ranah pembabakan sejarah filsafat. Konsensus yang terbentuk dewasa ini dalam disiplin sejarah pemikiran menyatakan bahwa sejarah filsafat Abad Pertengahan dimulai di abad ke-8 dan berakhir di abad ke-16 (Pasnau 2010: 1). Dalam skema pembabakan ini, filsafat Abad Pertengahan dimulai di dua tempat sekaligus, di Baghdad dan Prancis, dan dengan itu mengkoreksi perspektif eurosentris dari tradisi pembabakan sebelumnya.


Lebih problematis lagi ketimbang ‘Abad Pertengahan’ ialah ‘estetika Abad Pertengahan’. Pertanyaan yang mencuat di kalangan sejarawan estetika sejak separuh abad terakhir adalah: sungguhkah ada yang disebut sebagai ‘estetika Abad Pertengahan’? Pertanyaan ini amat masuk akal untuk diajukan sebab para pemikir Abad Pertengahan sendiri umumnya tidak berbicara secara khusus tentang seni. Mereka lebih sibuk dengan perdebatan tentang ketuhanan. Kalaupun segelintir dari mereka bicara tentang karya seni dan keindahan, lazimnya pembicaraan itu hanya menghadirkan keindahan karya seni sebagai analogi atau perumpamaan dari keindahan Sang Pencipta.


Seperti ditunjuk Marenbon (2009: 22-32), terdapat dua kubu estetikawan yang terbelah berdasarkan jawabannya atas pertanyaan di muka. Kubu pertama disebut Pendekatan Standar, mencakup kelompok sarjana seperti Erwin Panofsky, Wladyslaw Tatarkiewicz dan Umberto Eco. Mereka mengakui bahwa para pemikir Abad Pertengahan tidak melahirkan teori yang secara tersurat dapat diidentifikasi sebagai teori estetika. Adapun demikian, mereka juga meyakini bahwa apabila direkonstruksi secara telaten, sesungguhnya termuat argumen estetika di balik teks-teks Abad Pertengahan itu. Berkebalikan dengan itu, kubu kedua yang disebut Pendekatan Revisionis menolak dakuan tersebut. Menurut para sarjana seperti Paul Oskar Kristeller, Andreas Speer, Jan Aertsen dan Olivier Boulnois, para pemikir Abad Pertengahan hanya berbicara tentang keindahan spiritual dan tidak tentang keindahan karya seni. Karenanya, bagi mereka, istilah ‘estetika Abad Pertengahan’ sama absurdnya seperti istilah ‘fisika nuklir Abad Pertengahan’ (Marenbon 2009: 26).


Namun Pendekatan Revisionis menyimpan asumsi yang bermasalah. Asumsi tersebut ialah konsepsi tentang estetika sebagai disiplin filsafat seni yang mengkaji ‘karya seni’ dalam pengertian modern. Apabila teks Abad Pertengahan dibaca dengan kriteria disiplin estetika modern, tentu saja hasilnya nihil. Oleh karena itu, pendekatan yang lebih tepat adalah membaca teks-teks Abad Pertengahan tersebut sebagai karya filsafat yang melatar-belakangi beberapa tema perdebatan dalam estetika modern. Dengan demikian, kita tidak memaksakan kriteria estetika modern ke dalam teks Abad Pertengahan, tetapi kita juga tidak mengabaikan teks itu sama sekali hanya gara-gara isinya tidak sesuai dengan kaidah estetika modern. Inilah pendekatan yang akan kita gunakan di sini.


Evolusi Tradisi Klasik

Apabila kita mengendurkan pengertian estetika sehingga kemudian dapat berbicara tentang ‘estetika Abad Pertengahan’, lantas pertanyaannya: estetika macam apa yang mengemuka? Biarpun para pemikir Abad Pertengahan membahas keindahan pada aras religius, menariknya kecenderungan umum yang mengemuka adalah diteruskannya tradisi estetika Klasik. Estetika Klasik yang berpuncak pada tiga tesis berikut:

  • karya seni adalah mimēsis (tiruan) dari kenyataan, entah itu kenyataan fisik, mental maupun konseptual

  • karya seni bercorak fungsional, artinya dapat dievaluasi berdasarkan hubungannya dengan dunia luar karya tersebut, baik itu dunia sosial, politik, moral, religius, dsb.

  • keindahan karya seni terletak dalam ‘keselarasan antar bagian’ (summetria)

Ketiga tesis tersebut tetap menjadi arus utama dalam tradisi ‘estetika’ Abad Pertengahan. Ketiganya membentuk suatu tradisi estetik yang amat berpengaruh pada Abad Pertengahan dan dapat kita sebut sebagai ‘Tradisi Klasik’.


Kesinambungan Tradisi Klasik ini ditopang antara lain oleh anggapan lazim di kalangan intelektual Abad Pertengahan bahwa pemikiran Klasik sudah merupakan puncak pengetahuan tentang apa yang ada di bawah langit. Anggapan ini mewujud dalam dominannya tradisi menulis komentar atas teks-teks Klasik ketimbang tradisi menulis buku yang menjabarkan gagasan mandiri penulisnya. Kebiasaan patuh pada otoritas teks ini menunjang kesinambungan Tradisi Klasik sepanjang Abad Pertengahan.


Selain ketiga tesis di muka, estetika Abad Pertengahan juga meneruskan tiga kecenderungan estetika Yunani Antik:

  • Konsepsi seni sebagai ‘teknik’

  • Konsepsi seni yang ‘rasional’

  • Konsepsi kerja kesenian yang ‘non-kreatif’

Ringkasnya, dalam ketiga konsepsi tersebut, karya seni dipandang sebagai hasil penerapan atas pedoman tertentu berdasarkan metode tertentu yang didasarkan dari pengetahuan tentang kodrat alamiah hal-ihwal.


Inilah yang dinyatakan dalam definisi Hugo dari biara Santo Viktor (1096-1141): “Seni bisa diartikan sebagai suatu pengetahuan yang terdiri dari pedoman dan aturan” (Ars dici potest scientia, quae praeceptis regulisque consistit) (Tatarkiewicz 1980: 57). Demikian pula pandangan Duns Scotus: “seni merupakan kemampuan untuk memproduksi berdasarkan proporsi yang tepat (ars est habitus cum vera ratione factivus) (Tatarkiewicz 1980: 56). Makanya, kreativitas (dalam arti penciptaan berdasarkan inspirasi privat tanpa pedoman) dipandang berlawanan dengan seni. Dengan demikian, tiga kecenderungan estetika Yunani Antik juga masih kita temukan dalam pemikiran estetik Abad Pertengahan.


Oleh karena para pemikir Abad Pertengahan utamanya menaruh perhatian mereka pada masalah ketuhanan, maka di tangan mereka Tradisi Klasik itu memperoleh sentuhan yang khas. Fokus pada persoalan ketuhanan membuat kajian ‘estetika’ mereka bergerak di aras ontologi atau kajian tentang hakikat kenyataan seutuhnya. Hal ini dapat diperiksa antara lain dalam tulisan Thomas Aquinas tentang keindahan sebagai salah satu dari beberapa kategori ontologis benda-benda. Contoh lain adalah gagasan ‘estetika’ Pseudo-Dionysius yang dikemas dalam ungkapan mistisisme Kristiani.


Selain corak teologis, estetika Abad Pertengahan—khususnya pada periode lanjutnya mulai abad ke-12—juga ditandai dengan warna keilmuan. Oleh karena capaian kesenian erat terkait dengan kemajuan ilmu-ilmu, maka tak aneh bila perkembangan wacana estetika juga didorong oleh sejarah perdebatan keilmuan. Dalam hal ini, kita berhutang banyak pada tradisi Islam yang telah menerjemahkan dan mengomentari naskah-naskah Aristoteles tentang ilmu alam—naskah-naskah yang mulanya lenyap dari peredaran di Eropa. Berkembangnya perspektif linier dalam lukisan-lukisan para maestro Renaisans tak akan mungkin terjadi tanpa risalah Ibn al-Haytham tentang optik dari abad ke-11 yang diterjemahkan ke dalam bahasa Latin. Ilustrasi lain dari peran kemajuan ilmu alam dalam perkembangan wacana estetika adalah sumbangsih ilmu kedokteran dan bedah bagi kajian anatomi yang sangat berperan dalam perkembangan seni rupa Renaisans.


Gugatan terhadap Tradisi Klasik baru kita temukan ketika kita menginjak era Renaisans. Dalam karya Philip Sidney, misalnya, kita menjumpai kritik atas ide Klasik bahwa seni adalah soal peniruan atas kenyataan. Bagi Sidney, seni adalah perkara penciptaan suatu kenyataan estetik yang cukup-diri—suatu mikrokosmos estetik yang tak semestinya dievaluasi berdasarkan hubungannya dengan kenyataan di luar karya. Karenanya, tidak aneh jika ia merajut dialog kritisnya dengan Plato, sosok yang memelopori pandangan fungsionalis tentang kesenian (Marenbon 2009: 29).


3. Estetika Timur?

Bagian ini juga memuat penjabaran ringkas tentang pemikiran seni dalam tradisi India dan Cina. Kedua tradisi estetika ini dipilih sebagai perwakilan dari tradisi estetika Timur karena alasan sosiologis semata. Estetika India dipilih karena kebudayaan dan kesenian Hindu-Buddha yang berasal dari India merupakan horizon kultural Nusantara selama masa pra-Islam, setidaknya menurut pendapat para sejarawan seni oriental (Smith 1930: 156). Karenanya pengandaian estetika India, tentang rasa misalnya, telah merasuk ke dalam sumsum tulang estetika Nusantara dan pengaruhnya terasa hingga hari ini. Sementara itu, estetika Cina dipilih karena kebudayaan Cina secara massif mempengaruhi sebagian besar masyarakat Asia Timur. Selain itu, kesenian Cina kontemporer, khususnya seni rupa, juga merupakan salah satu rujukan penting kesenian non-Barat dewasa ini. Karenanya, penting kiranya untuk mengetahui asal-usul dan konteks estetika Cina yang melandasinya.


Namun, pertanyaan yang sama dapat diajukan di sini: adakah ‘estetika Timur’? Dapatkah kita berbicara tentang ‘estetika India’ dan ‘estetika Cina’? Barangkali di luar dugaan, jawabannya justru lugas: ya. Mengapa begitu? Tak seperti pemikiran Yunani Klasik dan Eropa Abad Pertengahan yang mengartikan seni sebagai teknik, pemikiran Timur justru memandang seni sebagai wilayah yang utamanya berkenaan dengan inspirasi, spontanitas dan kreativitas. Dalam arti itu, pengertian seni dalam tradisi Timur justru lebih dekat dengan pengertian seni di Barat semenjak era Romantik. Ciri ‘Romantik’ estetika Timur dapat diperiksa dari perbandingannya dengan Tradisi Klasik yang ada di Barat.


Tradisi Klasik yang lahir di masa Yunani Antik juga punya gaungnya di Timur. Estetika Cina dan India mengakui ideal ‘keselarasan antar bagian’ sebagai komponen kunci keindahan dan mengakui dimensi fungsional seni, entah sebagai sarana moral-didaktis maupun sebagai medium ekspresi watak seniman. Kendati begitu, tesis tentang seni sebagai mimēsis tak berlaku dalam estetika Timur. Para estetikawan India dan Cina tidak mengartikan karya seni sebagai tiruan dari kenyataan, melainkan sebagai ungkapan batin sang seniman. Karya seni Timur lebih bercorak ekspresif ketimbang deskriptif, cenderung bersifat presentasional daripada representasional. Inilah salah satu alasan mengapa dikatakan bahwa konsepsi seni di Timur lebih menyerupai konsepsi seni Barat sejak zaman Romantik.



[1]The medieval period and modernity each opened with landmarks in the history of Christianity: Constantine, who legalized it, and Luther, who reformed it. The confessional, even parochial, character of Cellarius’s divisions did not undermine their universal reach. They applied not merely to Europe but to the world.” (Shank & Lindberg 2013: 2)

40 views

Recent Posts

See All

Selayang Pandang Estetika Kontemporer

[Nukilan buku Sejarah Estetika, Gang Kabel, 2016] Oleh Martin Suryajaya Peralihan dari Masa Modern ke Kontemporer Ada kedekatan makna antara istilah ‘modern’ dan ‘kontemporer’. Apabila istilah ‘modern

Selayang Pandang Estetika Modern

[Nukilan buku Sejarah Estetika, Gang Kabel, 2016] Oleh Martin Suryajaya Modernitas dan Kelahiran Estetika Hal pertama yang mesti dijernihkan dalam survei historis tentang estetika Modern adalah penger

  • Facebook
  • YouTube
  • Instagram
  • Icon Goodreads
Kontak