Perbedaan Pendapat di Seputar Pembacaan Terhadap Kapital

Updated: Jan 28

Oleh Martin Suryajaya



Setelah mensurvei pemikiran Marx secara umum, kini kita akan maju selangkah menuju teks Kapital itu sendiri. Namun sebelum masuk langsung ke dalam pokok-pokok utama Kapital, terlebih dahulu kita mesti memahami peta penafsiran yang telah terbentang dalam jangka waktu satu setengah abad sejak buku itu ditulis. Kita tak bisa membaca Kapital tanpa mengabaikan begitu saja sejarah penafsiran setengah abad itu. Dalam memaparkan tradisi penafsiran atas Kapital ini kami akan berpegang pada kajian historiografis Harry Cleaver dalam bukunya, Reading Capital Politically. Seluruh paparan kami berikut adalah rangkuman atas kajian tersebut.


Harry Cleaver membagi tradisi penafsiran menjadi tiga perspektif: perspektif ekonomi politik, perspektif filsafat dan perspektif politik. Kita akan mulai dari yang pertama. Dari segi ekonomi politik, penafsiran awal tentang Kapital mesti ditempatkan pada konteks Internasional Kedua (1889-1916). Problemnya berkisar pada persoalan determinasi ekonomi dan teks acuannya, tentu saja, adalah Contribution to a Critique of Political Economy, di mana Marx berbicara tentang relasi ekonomi sebagai basis masyarakat “yang darinya muncul suprastruktur legal dan politis.”[1] Dari dasar pengandaian ini lantas muncul perdebatan di kalangan Marxis Internasional Kedua tentang apakah krisis ekonomi yang akan menumbangkan kapitalisme itu niscaya. Tokoh seperti Eduard Bernstein, dalam bukunya Evolutionary Socialism, berpendapat bahwa krisis itu tidak niscaya menghancurkan kapitalisme, bahwa krisis itu hanya akan memperlambat akumulasi kapital sementara kaum kapitalis akan dapat mengkonsolidasikan diri menghindari krisis ini. Maka itu bagi Bernstein perjuangan yang mesti dilancarkan melawan kaum kapitalis adalah perjuangan ekonomi seraya menggabungkan diri ke dalam parlemen. Hasil pembacaan Bernstein atas Kapital ini segera dilawan oleh Rosa Luxemburg dalam Reformasi atau Revolusi (1900) dan Akumulasi Kapital (1913). Luxemburg menyatakan bahwa krisis kapitalisme tak terhindarkan justru, berkebalikan dengan Bernstein, karena akumulasi kapital akan memuncak dalam konflik antar negara. Berdasarkan pengertian ini, Luxembur memberikan solusi yang berbeda, yakni persiapan revolusi dan penolakan atas sekedar reformasi. Keduanya mewakili posisi dasar pembacaan ekonomi politik atas Kapital yang akan membayangi para penafsir selanjutnya. Penekanan Bernstein pada reformasi gradual melalui jalur intra-parlementer (dan karenanya lebih dekat dengan tendensi sosial-demokrat) akan diteruskan oleh Karl Kautsky, Rudolf Hilderling, Otto Bauer, Fritz Sternberg, sementara ketidakpercayaan Luxemburg pada perjuangan ekonomi-parlementer dan penekanannya pada revolusi atau jalur ekstra-parlementer akan diteruskan oleh Lenin, Anton Pannekoek dan Paul Mattick.


Di luar konteks Internasional Kedua terdapat sebuah tradisi tafsir lain yang berkembang di dunia Anglo-Amerika, yakni Neo-Marxis Keynesian. Tokoh-tokohnya adalah Michael Kalecki, Joan Robinson, Paul Sweezy dan Paul Baran. Tradisi tafsir ini berkembang di sekitar tahun 40/50-an. Dalam Essay on Marxian Economic (1942), misalnya, Joan Robinson menekankan bahwa teori ekonomi politik Marx memiliki keterbatasan yang hanya dapat diatasi dengan menambahkan teori JM Keynes ke dalamnya. Tendensi yang berkembang dari tradisi ini, seperti pada Sweezy dan Baran, justru bergerak semakin jauh dari ekonomi politik Marx sendiri, yakni dengan hanya mencomoti bagian-bagian dari Kapital yang dapat dipakai untuk melihat fenomena pada masanya dan membuang sisanya (misalnya teori tentang nilai dan nilai-lebih) atau menggantikannya dengan teori Keynes yang lebih baru. Intuisi ekonomi politik mazhab Neo-Marxis Keynesian inilah yang ada di balik gerakan Kiri Baru (New Left) di Amerika tahun 60-an.[2] Oleh karena fenomena yang dihadapi jauh berbeda dari gambaran Marx—fenomena multi-faksi dalam masyarakat yang sama-sama mengkritik pemerintah namun tidak memiliki kesamaan ideologis seperti Black Panther, aktivis feminis, gerakan anti-perang—maka kaum Kiri Baru cenderung berpegang pada versi heterodoks dari Marxisme, seperti Neo-Marxis Keynesian.


Melawan kecenderungan pencampur-adukan dari kaum Neo-Marxis ini, bangkitlah sebuah gerakan kembali ke ortodoksi ekonomi politik Marx. Dalam rekonstruksi Cleaver, “kebangkitan ortodoksi” ini dipimpin oleh Althusser dan diteruskan oleh seluruh muridnya.[3] Frase “ortodoksi” yang dipakai di sini mesti dipahami dalam konteks teori ekonomi politik Marx. Althusser dapat digolongkan ke dalam kelompok ini sejauh ia berupaya untuk kembali mengakui kebenaran pengertian Marx tentang sirkuit ekonomi dalam Kapital. Berlawanan dengan para eksponen Neo-Marxis Keynesian yang begitu saja mencomot teori Keynes untuk menambal kekurangan teori Marx, Althusser dan murid-muridnya (yang tergabung dalam proyek pembacaan bersama atas Kapital seperti Balibar dan Rancière) justru berupaya memberikan bukti filosofis bagi kebenaran analisis Marx dalam Kapital, misalnya dengan berangkat dari pengakuan atas teori nilai-lebih untuk lantas mengelaborasinya sedemikian sehingga dapat menggambarkan situasi sekarang tanpa keluar dari wilayah analisis Marx. Cara baca yang “ortodoks”—dalam pengertian yang sudah kami terangkan di atas—ini juga meresapi penafsir besar seperti Ernest Mandel, seorang Trotskyis dari Internasional Keempat (1938-sekarang).


Kini kita akan masuk dalam pembacaan Kapital dari perspektif filsafat. Harry Cleaver membagi perspektif ini ke dalam dua kubu besar: ortodoks dan revisionis. Kubu ortodoks mencakup Marxisme Soviet (dalam kontradistingsinya terhadap Marxisme Barat atau Western Marxism) seperti Lenin, Stalin dan Mao, sekaligus formulasi baru atas Marxisme ortodoks oleh Althusser dan para muridnya. Kubu revisionis mencakup berbagai posisi dengan latar belakang yang berbeda. Frase “revisionis” di sini mesti dipahami secara luas, tidak sekedar menunjuk pada perselisihan revisionisme awal abad ke-20 dengan Bernstein sebagai tokoh utamanya melainkan lebih kepada pengembangan intuisi Marx ke dalam berbagai segi kehidupan. Menurut Cleaver, kubu ini diwakili oleh para tokoh dengan latar belakang seperti:

  1. Marxisme Barat (Western Marxism): György Lukács, Antonio Gramsci, Karl Korsch—semuanya menekankan pengaruh Hegel dalam Marx.

  2. Marxis Neo-Kantian: Galvano Delavolpe dan Lucio Colletti.

  3. Marxis-Hegelianisme: Alexandre Kojéve dan Jean Hyppolite.

  4. Marxis-eksistensialisme: Jean-Paul Sartre, Simone de Beauvoir dan Maurice Merleau-Ponty.

  5. Marxisme fenomenologis: Tran Duc Thao dan Karel Kosik.

  6. Teori Kritis Mazhab Frankfurt: Herbert Marcuse, Theodor Adorno, Max Horkheimer, Walter Benjamin dan Jürgen Habermas.

Oleh Cleaver, pembagian kubu ortodoks dan revisionis ini dijelaskan melalui dua tendensi yang berbeda: sementara Althusser mencoba menghidupkan kembali doktrin diamat (dialectical materialism) melalui pembacaan atas Kapital, Mazhab Frankfurt dan tendensi Marxisme Barat justru mengutamakan peran kebudayaan dalam analisis Marxis. Diamat versus kulturalisme—pertentangan inilah yang menerangkan dasar perbedaan posisi antara Marxis ortodoks dan Marxis revisionis.


“Adalah patut disayangkan namun benar bahwa satu di antara pembacaan filosofis atas Kapital yang paling penting secara politis pada periode ini adalah pembacaan Louis Althusser,” demikian Harry Cleaver menulis.[4] Alasan mengapa Althusser menjadi sedemikian penting tak lain adalah karena ia berhasil menjalankan revitalisasi atas doktrin diamat. Doktrin ini sendiri, seperti telah kami uraikan dalam Bab I Kurikulum ini, berasal dari frase Engels, dialectical materialism. Kita juga telah melihat problem terbesar dari doktrin ini, yakni persoalan determinasi struktur basis terhadap struktur atas, dengan kata lain, persoalan determinisme ekonomi. Walaupun Engels sendiri pernah mengklarifikasi, dalam suratnya kepada Joseph Bloch, bahwa ia tak pernah memaksudkan determinasi sebagai determinasi satu arah, namun pengertian tentang ketimbal-balikan determinasi antara basis dan suprastruktur tak pernah bisa ia jelaskan secara memadai. Celakanya, Stalin nantinya membakukan doktrin diamat ini dan menjadikannya, seperti ditulis Cleaver, sebagai “justifikasi teoretis bagi eksploitasi atas pekerja Soviet.”[5] Kondisi ini berlangsung terus hingga tahun 50-an. Althusser lah yang berani memasuki kembali medan perdebatan ini dengan menarik kesimpulan baru dari doktrin diamat—itulah yang membuatnya penting. Dalam kuliah seminarnya yang dijadikan buku, Membaca Kapital, Althusser dan murid-muridnya berupaya menunjukkan adanya suatu “sains tentang sejarah” di dalam Kapital. Sains ini sama sekali tidak berurusan dengan sejarah konkret melainkan sains tentang struktur teoretis yang ahistoris: sebuah sains Marxis yang sepenuhnya berbeda dengan segala ideologi. Proyek Althusserian ini adalah kelanjutan dari pembuktian atas keilmiahan Marxisme, atas suatu Marxisme yang saintifik. Untuk itu Althusser membagi fase pemikiran Marx menjadi dua: fase pra-Kapital yang masih Hegelian, humanis, ideologis, dan fase pasca-Kapital yang non-Hegelian, anti-humanis dan ilmiah. Namun Harry Cleaver—yang berasal dari tradisi Marxis Anglo-Amerika, sebuah tradisi yang ditopang oleh EB Thompson, musuh kontemporer Althusser—menganggap bahwa teori Althusser tidak lebih dari sekedar justifikasi untuk PCF (Partai Komunis Prancis).[6] Menurut Cleaver, Althusser tidak memberikan pemecahan baru atas doktrin diamat-histomat sejak masa Engels sampai Stalin dan teorinya tentang overdeterminasi bersifat ambigu.


Tentang tendensi kultural yang meresapi Mazhab Frankfurt sebagai eksponen revisionis, Cleaver menunjukkan peran sentral Friedrich Pollock. Ia merupakan pendiri Institut Penelitian Sosial di Frankfurt. Pollock lah yang menurut Cleaver menjelaskan mengapa terdapat tendensi kultural yang kuat di Mazhab Frankfurt. Hal ini ditunjukkan dalam buku Pollock berjudul, Automation. Di dalamnya ia menggambarkan fenomena akumulasi modal yang tersentralisasi sebagai esensi dari “kapitalisme negara” dan “negara otoritarian”.[7] Penyebab dari sentralisasi akumulasi ini, menurut Pollock, adalah perluasan relasi kuasa dalam pabrik menuju ranah sosial secara umum. Konsekuensi dari pemikiran Pollock: dibutuhkan sebuah teori Marxis yang mampu menggambarkan kinerja kapitalisme dalam ikhwal kemasyarakatan. Dari sinilah tendensi analisis kultural itu muncul.


Perspektif pembacaan ketiga adalah pembacaan politis atas Kapital. Dalam perspektif ini pokok yang diutamakan adalah strategi-taktik perjuangan proletariat. Figur awal yang memegang peranan sentral dalam pembacaan ini adalah Lenin. Dalam What Is to Be Done? ia menggagas pentingnya membentuk sebuah “partai garis depan” (vanguard party) yang merangkum seluruh pekerja dalam satu garis organisasi yang terdisiplinkan. Hanya dengan cara inilah, menurut Lenin, revolusi dapat terjadi. Ini adalah sebuah posisi klasik yang dipraktikkan oleh Marxis di seluruh dunia. Seiring dengan itu, yakni dalam State and Revolution, Lenin juga menekankan konsep badan rakyat, atau soviet, dan merumuskannya dalam sebaris kalimat: “Seluruh kuasa bagi soviet-soviet.” Namun di kemudian hari soviet-soviet yang independen ini dijadikan obyek dari kebijakan “birokratisasi soviet” yang membuat otonomi mereka hilang terlebur dalam garis komando Moskow.


Untuk memperjuangkan kembali otonomi kelompok-kelompok pekerja, maka pada tahun 1941 berkembanglah dalam lingkaran Trotskyis apa yang disebut sebagai Tendensi Johnson-Forrest ( The Johnson-Forrest Tendency). Ini merupakan kelompok yang dibentuk oleh J.R. Johnson dan F. Forrest—keduanya tak lain adalah nama samaran dari C.L.R. James dan Raya Dunayevskaya. Mereka yang tergabung dalam Tendensi ini melawan konsep Lenin tentang partai pemersatu. Kaum “otonomis” ini bahkan menolak serikat buruh sebab kerapkali justru serikat itulah yang dijadikan kaki-tangan kapitalis untuk meredam aksi buruh. Mereka mengkritik Uni Soviet sebagai dilandasi oleh “kapitalisme-negara” sebab bagi mereka sentralisasi yang dijalankan melalui birokratisasi soviet tak ubahnya akumulasi kapital di tangan negara. Orang-orang yang tergabung dalam Tendensi ini memfokuskan diri pada organisasi kecil di tingkat lokal[8] dengan asumsi bahwa setiap pekerja memiliki kesadarannya sendiri untuk melawan tanpa perlu diajari dan diatur oleh partai.

Berdekatan dengan Tendensi Johnson-Forrest, terdapatlah kelompok Trotskyis yang memisahkan diri dari Internasional Keempat di tahun 40-an. Mulanya mereka adalah seksi Prancis dari Internasional tersebut. Mereka lalu mendirikan jurnal yang terkenal, Socialisme ou Barbarie (Sosialisme atau Kebiadaban). Jurubicara dari kelompok para mantan-Trotskyis ini adalah Cornelius Castoriadis dan Claude Lefort. Mereka mengartikulasikan kritik yang keras terhadap Leninisme. Tak heran, oleh karenanya, jika Althusser—yang memang memegang garis Marxisme-Leninisme—beserta seluruh muridnya (mulai dari Balibar hingga Badiou) senantiasa menjaga jarak terhadap mereka.[9] Bahkan, menurut Cleaver, kelompok Socialisme ou Barbarie ini, melalui kedua jurubicaranya, tidak hanya menolak ortodoksi di dalam Marxisme melainkan lebih jauh menolak Marxisme itu sendiri.[10] Mereka mengelaborasi sendiri pemikiran tentang perlawanan pekerja dan pada akhirnya berhenti di sekitar posisi sosial-demokrat dengan sentralitas konsep demokrasi (seperti pada Lefort).


Para Marxis Italia memiliki caranya sendiri untuk turun dalam perdebatan kontemporer tentang strategi-taktik perjuangan kiri. Mereka yang tumbuh dalam iklim penuh gejolak tahun 60-an menghidupkan kembali strategi ekstra-parlementer Rosa Luxemburg seraya menolak Partai Komunis Italia yang resmi dan diakui negara sebagai bagian dari parlemen. Oleh karenanya, mereka, seperti juga kaum kiri Prancis di tahun ’68, bermusuhan terhadap dua pihak: negara dengan segala aparatus represinya dan partai komunis resmi. Salah satu kelompok mereka adalah Potere Operaio yang melahirkan prinsip perjuangan Operaismo (Workerism) dengan tokoh seperti Antonio Negri, Raniero Panzieri dan Mario Tronti. Mereka ini mengambil garis otonomis, dalam arti independen terhadap partai komunis dan serikat buruh yang jelas-jelas telah menjadi instrumen kapital—sebuah fenomena yang jamak terjadi di Eropa Barat sejak tahun 60-an. Namun ada yang berbeda dari kecenderungan umum gerakan kiri Eropa pada masa itu. Sementara peristiwa Mei ’68 di Prancis meledak dan mendapatkan sorotan pers yang luar biasa walaupun hanya berlangsung sekejap, perlawanan kiri Italia yang bermula di tahun 60-an masih terus berlanjut hingga tahun 80-an. Tidak seperti gerakan kiri Prancis tahun 60-an yang tersusun oleh aksi massa biasa yang berakhir menjadi huru-hara biasa, gerakan kiri Italia di masa yang sama tidak berhenti pada aksi massa melainkan juga perjuangan bersenjata. Antonio Negri, dalam menegaskan watak otonomis perjuangan kiri Italia, menyatakan: “Di Prancis, ketika peristiwa Mei ’68, adalah para intelektual yang memimpin gerakan pemberontakan, bukan para pekerja. Di Itali yang sebaliknya lah yang terjadi: para pekerja yang menolak kompromi historis lah yang memimpin perjuangan, bukan kaum intelektual.”[11] Negri sendiri pernah dipenjara atas dakwaan menjadi “otak intelektual” dari gerakan milisi Brigate Rosse (Brigade Merah). Karena perpaduan antara gerakan aksi massa buruh, mahasiswa, kaum intelektual dan milisi sipil inilah pada masa itu dikenal istilah “laboratorium politik Italia”. Di Itali lah kita menjumpai, secara sekaligus, gerakan perlawanan kiri yang kuat dan represi pemerintah yang keras. Itulah sebabnya, gerakan kiri Italia mendapatkan simpati luas dari kalangan intelektual kiri Eropa, seperti misalnya pada musim semi tahun 1977, ketika berderet-deret tank masuk ke halaman universitas dan para intelektual kiri Prancis seperti Foucault, Deleuze dan Guattari angkat bicara mendukung perjuangan kiri Italia.[12]


Dengan demikian kita telah mendapatkan gambaran tentang berbagai tradisi pembacaan terhadap Kapital. Paparan ringkas ini, tentu saja, kurang memadai. Ada lebih banyak lagi alternatif pembacaan apabila kita masuk ke dalam detail. Namun, karena keterbatasan ruang, kami harap pemetaan sederhana ini sudah memadai untuk memberikan kita pemahaman tentang orientasi-orientasi dasar dalam membaca Kapital.***


[dari Problem Filsafat Volume 1, November 2009]


[1] Karl Marx, Contribution to a Critique of Political Economy seperti dikutip dalam Harry Cleaver, Reading Capital Politically (Texas University Press), 1980, hlm. 31.


[2] Lih. Ibid., hlm. 39.


[3] Lih. Ibid., hlm. 41.


[4] Ibid., hlm. 47.


[5] Ibid., hlm. 49.


[6] Lih. Ibid., hlm. 50.


[7] Ibid., hlm. 53.


[8] Dalam deskripsi C.L.R. James tentang aktivitas mereka: “However high they soar they build upon shop floor organization and action on the job.” Seperti dikutip dalam ibid., hlm. 62.


[9] Slavoj Žižek pernah mencatat bahwa setiap Althusserian kontra terhadap Lefort. “Rancière […] belongs to the field one is tempted to define as ‘post-Althusserian’: authors like Balibar, Alain Badiou, up to Ernesto Laclau, whose starting point was close to Althusser. The first thing to note here is how they are all opposed to the most elaborated ‘formal’ theory of democracy in contemporary French thought, that of Claude Lefort.” Slavoj Žižek, The Lesson of Rancière dalam Jacques Rancière, The Politics of Aesthetic diterjemahkan oleh Gabriel Rockhill (London: Continuum), 2004, hlm. 73.


[10] Harry Cleaver, op.cit., hlm. 64.


[11] Antonio Negri dan Anne Dufourmantelle, Negri on Negri diterjemahkan oleh M.B. DeBevoise (New York: Routledge), 2004, hlm. 35.


[12] Lih. Ibid., hlm. 4.

Recent Posts

See All

Retrospektif Komunitas Marx

"Bagaimana Komunitas Marx Menerbitkan Jurnal Problem Filsafat dan Bubar Setelah Mentransformasi Diri" Oleh Martin Suryajaya Dalam suasana kepailitan Komunitas AksiSepihak dan amanat penderitaan rakyat

Retrospektif Komunitas AksiSepihak

"Bagaimana Komunitas AksiSepihak Berniat Melawan Dunia dan Gulung Tikar Setelah Menerbitkan Buku Pertama" Oleh Martin Suryajaya Dulu sekali, sebelum saya menerbitkan naskah-naskah buku saya di Resist

Corat-Coret Kritik atas Ekonomi-Politik Suara

Oleh Martin Suryajaya Dalam Bab 3 Kapital I, Marx menulis tentang metamorfosa komoditas. Bagaimana komoditas beralih-wujud menjadi uang untuk kemudian beralih kembali jadi komoditas yang lain? Apa yan

  • Facebook
  • YouTube
  • Instagram
  • Icon Goodreads
Kontak