Pendahuluan menuju Problem Imediasi dalam Pemikiran Marx

Updated: Jan 28

Oleh Martin Suryajaya




Kita mulai dengan tiga pasang oposisi yang mengkonstitusikan horizon problem pada permulaan Kapital: kebutuhan dan komoditas, nilai-pakai dan nilai-tukar, kerja konkrit dan kerja abstrak. Ketiga pasangan ini mempresentasikan dirinya dalam kesebangunan struktural dengan yang lain: yang pertama selalu menjadi basis dari yang kedua. Namun, dalam modus produksi kapitalis, yang kedua dapat mereproduksi yang pertama sebagai basis untuk meregenerasi-dirinya. Itulah sebabnya kita lihat bagaimana komoditas dapat mereproduksi dan memproduksi kebutuhan baru yang diperlukan bagi keberadaan komoditas, nilai-tukar menjadi patokan bagi nilai-pakai, dan kerja abstrak muncul menggantikan kerja konkrit sebagai ukuran bagi besaran nilai komoditas. Kesebangunan struktural di antara ketiga oposisi di muka bukanlah sesuatu yang aksidental dalam pemikiran Marx. Ketiganya mengimplikasikan oposisi keempat—oposisi yang menjadi teater di mana seluruh oposisi yang lain dimainkan. Oposisi keempat itu tak lain adalah basis dan superstruktur. Artinya, ini soal materialisme historis.


Bagi banyak pemikir kontemporer, tesis Marx tentang materialisme historis mengandung cacat mendasar. Cacat ini tidak berhenti pada soal historisisme atau determinasi searah dari basis terhadap superstruktur yang mengkonstitusikan sejarah manusia, melainkan juga pada motif dasar pemikiran Marx. Ada religiusitas laten dalam pemikiran Marx, kata para filsuf ultra-modern ini. Baudrillard, misalnya, berkata bahwa sementara Gereja dilandasi oleh asumsi “ekonomi politik tentang keselamatan individual”, demikian pula pemikiran Marx—dalam nama komunisme—menyodorkan secarik skenario keselamatan yang lain namun sebangun, yakni keselamatan kolektif yang melampaui kematian.[1] Kesimpulan ini merupakan hasil dari analisis Baudrillard, empat tahun sebelumnya, tentang adanya idealisasi dalam pemikiran Marx mengenai yang-alamiah. Bagi Baudrillard, konsep tentang kebutuhan primer (sandang, pangan, papan) adalah konsep yang ideologis oleh karena setiap kebutuhan niscaya dikonstitusikan oleh relasi politik.[2] Dengan demikian, kebutuhan primer hanya mungkin sebagai mitos borjuis. Berdasarkan pengertian ini, Baudrillard lantas mengkritik penekanan Marx pada nilai-pakai, terutama ketika Marx menyatakan bahwa “karakter mistik dari komoditas tidak muncul dari nilai-pakainya.”[3] Bagi Baudrillard, pengertian Marx tentang adanya nilai-pakai yang murni alamiah tanpa mistifikasi ideologi justru menggenapi deskripsinya tentang kisah Robinson Crusoe sebagai mimpi kaum borjuis tentang kondisi alamiah.[4] Dibahasakan secara lain, bagi Baudrillard, penekanan Marx pada presentasi dan imediasi hanyalah sebuah mimpi dalam sebuah dunia nyata di mana yang ada sesungguhnya hanyalah representasi dan mediasi. Bagi Baudrillard, oleh karenanya, representasi dan mediasi—dengan kata lain, simulakra, kopian dari kopian, citraan dari citraan—adalah faktisitas kita.


Pembacaan yang serupa juga dilakukan oleh Lyotard dalam Ekonomi Libidinal. Apa yang digugat Lyotard secara umum adalah orientasi pemikiran Marx yang menekankan pada imediasi yang hilang. Untuk mengeksplisitkan orientasi ini, Lyotard mengutip, tentu saja, Manuskrip-Manuskrip Ekonomi dan Filsafat (Manuskrip Paris 1844) di mana Marx mengkritik konsep uang sebagai “mucikari” (der Kuppler) antara kebutuhan manusia dan objek pemenuhan kebutuhan itu, dengan kata lain, sebagai mediasi.[5] Dalam pembacaan Lyotard, kerangka pikir yang dipakai Marx di sini adalah kerangka pikir Feuerbachian. Dalam kaitan inilah, baginya, sebagai editor Kajian Tahunan Jerman-Prancis, Marx menerbitkan potongan teks Feuerbach tentang esensi iman menurut Martin Luther. Melalui teks itu, nyatalah kesebangunan aspirasi teoretik Marx dan Feuerbach, yakni mengakhiri mediasi dan mengembalikan imediasi—sebuah seruan Lutheran untuk kembali pada keotentikan iman kepada Tuhan secara langsung tanpa mediasi atau, dalam parafrase Lyotard:

mari kita tuntaskan karya Luther, dalam menghancurkan kepausan [papism], menghapuskan alienasi mediasi; dengan menunjukkan bahwa Tuhan sendiri tidak lain dari pemenuhan hasratku, kita akan menyelamatkan Ada tertinggi dari takdir Entfremdung [keterasingan]; akan kita nyatakan bahwa Tuhan adalah tuhanku, yakni aku sendiri, sejauh ia adalah kepuasanku [jouissance] dan sejauh ‘esensi dari iman adalah esensi cinta-diri’.[6]

Dalam kerangka penafsiran Lyotard inilah penekanan Marx pada imediasi dan kritiknya atas mediasi ditempatkan dalam tradisi iman Lutheran: hanya iman semata (sola fide) yang akan menyelamatkan kita dari siksa dunia, dan bukan melalui mediasi kepausan beserta seluruh hierarki pastor dan santo-santanya.


Lyotard tak berhenti sampai di sana. Ia nyatakan pula bahwa nostalgia Marx “muda” pada imediasi juga melandasi konseptualisasinya tentang kapitalisme. Artinya, bagi Lyotard, ini juga mengemuka dalam Marx “tua”. Dengan demikian, ia menolak distingsi Althusserian antara Marx muda dan tua. Bagi Lyotard, seluruh konfigurasi konsep Marx dalam periode Paris sepenuhnya mendeterminasi arah konseptualisasi yang dijalani Marx pada periode menjelang penulisan Das Kapital. Lyotard berupaya menunjukkan kesinambungan orientasi imediasi ini dalam idealisasi Marx tentang alam sebagai “tubuh inorganik” yang diandaikan Marx sebagai “kondisi objektif pertama dari kerja”.[7] Dalam konteks inilah, Lyotard menganggap Marx sebagai Rousseauean: nostalgia pada alam dengan segala aspek keterberiannya (givenness). Secara historis, idealisasi Marx tentang kealamiahan ini mewujud dalam deksripsi Marx tentang ranah pra-kapitalis.[8] Secara ringkas, dengan demikian, pembacaan Lyotard sampai pada kesimpulan tentang orientasi pemikiran Marx, yakni “untuk menemukan kembali ketergantungan alamiah, suatu Kita, sebuah dialektika antara Kau dan Aku.”[9]


Pertama-tama kita mesti bertanya: Benarkah Marx seorang pemikir nostalgis? Benarkah ia tenggelam dalam imajinasi sentimentil tentang alam yang asli-murni di awal mula sejarah (di fase ‘pra-kapitalis’)? Sungguhkah teoretisasinya tentang kebutuhan, nilai-pakai dan kerja konkret serupa dengan imajinasi Daniel Defoe tentang Robinson Crusoe di pulau “pra-kapitalis”nya? Jika tidak, bagaimana kita mesti menjelaskan konseptualisasinya yang konsisten tentang imediasi/presentasi dan kritisismenya yang juga konsisten terhadap mediasi/representasi? Secara umum, apakah segala teori tentang imediasi niscaya merupakan mimpi sentimentil di tengah-tengah dunia yang padat mediasi? Ataukah kita mesti membuat distingsi antara konsepsi imediasi yang nostalgis, yang mengidealkan spontanitas murni, dan konsepsi imediasi yang sepenuhnya berbeda?


Untuk menjawab sederet pertanyaan di muka, kita mesti memikirkan efek yang ditimbulkan dari pembacaan para filsuf ultra-modern itu terhadap konfigurasi oposisi awal kita: kebutuhan - komoditas, nilai-pakai - nilai-tukar, kerja konkrit - kerja abstrak—singkatnya, basis - superstruktur. Efek yang dihasilkan tak lain adalah pengutamaan pada faktor-faktor superstruktural. Pembacaan mereka merampatkan kebutuhan, nilai-pakai dan kerja konkrit sebagai efek optik yang ditimbulkan oleh mekanisme superstruktural. Dalam konteks perampatan inilah Baudrillard, misalnya, dapat berbicara tentang kebutuhan sebagai fungsi dari ideologi.[10] Artinya, melalui pembacaan pan-representasionalistiknya, mereka mereduksi basis kepada superstruktur. Apa konsekuensi dari langkah ini? Atau, untuk memperjelas pertanyaannya, konsepsi praktik macam apa yang mereka ajukan terhadap kapitalisme? Jawabnya tak bisa lain: kritik ideologi—kritik atas fenomena kultural yang membuat manusia terasing dari otentisitas dirinya. Pada titik inilah para filsuf avant-garde Prancis dari tahun 70-an mau tak mau mesti berjabat tangan dengan kawan-kawannya dari L’êcole de Francfort, Jerman, yang telah berkubang pada persoalan kritik ideologi hampir setengah abad sebelumnya.


Sampai di sini kita perlu kembali pada Marx. Langkah ini akan dibimbing oleh sebuah pertanyaan: Mengapa pemikiran Marx pada periode menjelang dan di sekitar penulisan Das Kapital tidak mewujudkan dirinya sebagai kritik ideologi melainkan, pertama-tama, sebagai kritik ekonomi politik?


Marx memang seorang pemikir yang memberikan posisi sentral pada—jika hendak dibahasakan secara spekulatif—imediasi atau presentasi dalam perlawanannya dengan mediasi dan representasi. Itulah sebabnya, dalam Kapital, Marx memberikan penekanan pada kategori pertama dari setiap pasangan oposisi yang telah kita sebut pada awal esai ini (kebutuhan, nilai-pakai, kerja konkrit). Namun imediasi samasekali tak dapat dimengerti dalam kerangka Romantik, yakni sebagai nostalgia tentang asal-usul yang murni. Ini dapat kita lihat apabila kita membaca, misalnya, paragraf awal dari Pengantar untuk Kontribusi bagi Kritik atas Ekonomi Politik. Di sana Marx menyatakan bagaimana kisah Robinson Crusoe dipakai oleh para ahli ekonomi politik (seperti Adam Smith dan David Ricardo) untuk memberikan deskripsi tentang manusia alamiah yang dari keutamaan-keutamaannya kemunculan sistem ekonomi pasar menjadi wajar. Apa yang menarik di sini adalah kritik Marx atas postulat tentang kealamiahan atau keterberian. Marx menulis dalam konteks pandangan Smith dan Ricardo terhadap Robinson Crusoe:

Mereka melihat individu ini tidak sebagai hasil sejarah, melainkan sebagai asal-mula sejarah; tidak sebagai sesuatu yang berkembang dalam lintasan sejarah, melainkan dipostulatkan oleh alam, oleh karena bagi mereka individu ini cocok dengan alam—sesuai dengan ide mereka tentang kodrat manusia.[11]

Kritik Marx atas asumsi-asumsi alamiah dan kodrati ini digemakan lagi dalam Kapital, terutama di bab terakhir, dalam konteks akumulasi primitif. Di sana Marx mengkritik postulat para ahli ekonomi politik tentang akumulasi pra-kapitalis yang ditumpukan, tidak pada pembagian kerja, melainkan pada perbedaan keutamaan (keuletan dan kemalasan) yang kemudian dianggap menjelaskan asal-muasal dari tatanan ekonomi yang ada pada masa para ahli ekonomi politik itu hidup.[12] Melawan para ahli ekonomi politik yang menekankan pada asal-usul kodrati dari kapitalisme itu, Marx menyatakan bahwa di dalam akumulasi primitif yang dibayangkan sepenuhnya alamiah itu sendiri sebetulnya telah terjadi separasi historis antara pekerja dan sarana kerja—sebuah fenomena yang jamak dalam modus produksi kapitalis. Bahkan dalam manuskrip Resultate des unmittelbare Produktionsprozesses, yang rencananya akan menjadi Bab VII Kapital, Marx menyatakan bahwa dalam modus produksi pra-kapitalis pun sudah terdapat produksi dan sirkulasi komoditas.[13] Artinya, Marx tidak mengidealisasikan alam kodrati sebagai suatu asal-usul primordial, seolah-olah sebagai asal dan tujuan dari segala yang ada dan menjadi. Marx bukanlah pemikir nostalgis: sosialisme ilmiah bukanlah artefak yang ditemukan dalam lapisan bumi yang sama dengan homo erectus. Atau, seperti ditulis Marx, “Manusia tak bisa menjadi anak-anak lagi, atau ia menjadi kekanak-kanakan.”[14]


Berkenaan dengan kritik Baudrillard atas konsep Marx tentang kebutuhan, kita perlu membaca kembali Pengantar untuk Kontribusi, atau fragmen yang diterbitkan sebagai pembuka Grundrisse: Produksi, Konsumsi, Distribusi, Pertukaran. Dalam manuskrip tersebut dengan jelas Marx berbicara tentang konsumsi produktif. Para ahli ekonomi politik mengandaikan identitas penuh antara konsumsi dan produksi dalam konsep tersebut—seperti Baudrillard yang mengandaikan kebutuhan identik dengan ikhwal ideologi. Namun Marx menganalisis lebih jeli dan mengolahnya dalam dua perspektif. Pertama, dari perspektif konsumsi yang memproduksi produksi. Sebuah produk dimungkinkan sebagai produk sejauh ia adalah produk-bagi-konsumsi. Potensialitas sebuah produk hanya dapat direalisasikan melalui konsumsi. Marx memberi contoh: sebuah gaun sungguh-sungguh menjadi gaun apabila ia dipakai.[15] Di sisi lain, konsumsi juga menciptakan kebutuhan bagi produksi yang baru: konsumsi menyediakan alasan bagi munculnya produksi lebih lanjut dan, oleh karenanya, menjadi conditio sine qua non (syarat kemungkinan) dari produksi. Marx menulis: “konsumsi menghadirkan objek produksi sebagai sebuah konsep, sebuah citra internal, sebuah kebutuhan, suatu motif, sebuah tujuan. […] Tak ada produksi tanpa sebuah kebutuhan, namun konsumsi mencipta kembali kebutuhan.”[16] Kedua, dari perspektif produksi yang memproduksi konsumsi, muncul tiga aspek. Aspek pertama, produksi menciptakan material bagi berlangsungnya konsumsi. Aspek kedua, produksi menciptakan modus konsumsinya sendiri. Artinya, melalui produksi objek tertentu, maka ditentukan pulalah cara untuk mengkonsumsi objek tersebut (contoh yang diberikan Marx: produksi sendok dan garpu ikut menentukan cara orang mengkonsumsi makanan, dan akhirnya juga menciptakan konsumen tetap dari sendok dan garpu itu sendiri[17]). Aspek ketiga, produksi menciptakan kebutuhan bagi konsumsi, menciptakan “hasrat untuk mengkonsumsi” sehingga “produksi tidak hanya menyediakan materi untuk memenuhi kebutuhan, melainkan juga menyediakan kebutuhan untuk materi” itu sendiri. Apa yang nampak dari konfigurasi distingsi Marx ini adalah kesadarannya bahwa kebutuhan bisa saja menjadi konsep ideologis. Marx sendiri menyadari hal itu ketika ia menulis bahwa produksi dapat memproduksi kebutuhan bagi konsumsi. Namun ini tidak berarti bahwa kebutuhan adalah sepenuhnya perkara superstruktur. Ideologi yang menginduksikan kebutuhan pada jantung konsumen selalu berangkat dari relasi produksi yang konkrit-material. Marx tidak berbicara tentang produksi secara umum (production in general) sebab konsep itu hanya mungkin sebagai abstraksi ideologis. Marx menulis:

Produksi secara umum adalah sebuah abstraksi […] [K]ategori umum ini, elemen bersama yang dimunculkan melalui perbandingan ini, adalah pada dirinya tersegmentasi berulang-kali dan terbagi ke dalam berbagai determinasi. […] Tak ada produksi yang terpikirkan tanpa semua itu. […] Seluruh kedalaman ekonom modern yang mendemonstrasikan keabadian dan keharmonisan relasi sosial yang ada bermula dari kelupaan ini.[18]

Produksi, bagi Marx, senantiasa spesifik: ia selalu berkorespondensi dengan relasi sosial konkrit yang menjadi basis material dari modus produksi tersebut. Dengan mereduksi keseluruhan basis material produksi ke dalam ideologi, kita tak pelak lagi jatuh ke dalam idealisme. Itulah sebabnya Marx menulis tentang para ahli ekonomi politik yang menyamakan begitu saja produksi dan konsumsi: “tak ada yang lebih mudah bagi seorang Hegelian daripada mengasumsikan bahwa produksi dan konsumsi adalah identik.”[19]


Melalui pemetaan Marx atas relasi antara produksi dan konsumsi, kita mendapatkan pengertian bahwa sesuatu yang menciptakan kebutuhan pada jantung konsumen bukanlah instansi yang sepenuhnya terpisah dari relasi produksi. Justru sebaliknya, mekanisme produksi itu sendirilah yang menciptakan kebutuhan: “produksi tidak hanya menyediakan materi untuk memenuhi kebutuhan, melainkan juga menyediakan kebutuhan untuk materi”. Artinya, dalam kerangka Marxis, tak pernah ada superstruktur yang eksis terpisah dari basisnya. Materialisme historis adalah tesis tentang kesatuan di antara dua struktur ini, dengan kata lain, tesis tentang imanensi superstruktur pada basisnya, dan bukan dualisme antara basis dan superstruktur yang terpisah satu sama lain. Itulah sebabnya, pada periode kematangannya—di sekitar penulisan Kapital—Marx kian menaruh perhatian pada kritik atas ekonomi politik, dan bukan lagi kritik atas ideologi (seperti yang terjadi dalam Feuerbach). Hanya dalam kerangka inilah kita dapat memahami rumusan Marx tentang “materialisme historis” dalam Kata Pengantar (1859) untuk Kontribusi yang terkenal itu:

Dalam produksi sosial eksistensinya, manusia secara tak terelakkan masuk ke dalam relasi-relasi tertentu yang independen terhadap kehendak mereka, yakni relasi-relasi produksi yang sesuai dengan tahapan tertentu di dalam perkembangan daya-daya produksi materialnya. Totalitas relasi produksi ini mengkonstitusikan struktur ekonomi masyarakat, fondasi nyata, yang darinya tumbuh superstruktur legal dan politis dan yang kepadanya berkorespondensi bentuk-bentuk tertentu dari kesadaran sosial. Modus produksi kehidupan material mengkondisikan proses umum kehidupan sosial, politik dan intelektual. Bukanlah kesadaran manusia yang mendeterminasi eksistensinya, melainkan eksistensi sosialnya yang mendeterminasi kesadarannya.[20]

Dari sini sudah dapat kita lihat bahwa penekanan Marx pada basis tidak sama dengan terjatuh ke dalam “ekonomisme”, atau perjuangan emansipasi proletar yang melulu berurusan dengan perkara ekonomis (kenaikan upah). Dalam kutipan tersebut terlihat bagaimana Marx memahami basis tidak sekedar sebagai persoalan ekonomi melainkan juga “modus produksi kehidupan material” dan lebih luas lagi “eksistensi sosial”, sehingga implikasinya basis yang dimaksud oleh Marx mencakup pula relasi-relasi sosial.


Mengapa Marx menaruh kategori ekonomi dan relasi sosial dalam satu aras yang sama—yakni basis? Mengapa kedua kategori tersebut dipakai Marx secara bergantian, seolah hendak menandai satu hal yang sama. Jika ini benar, maka apakah yang dimaksud Marx dengan basis? Di sini kita perlu mengingat frase ketiga yang dipakai Marx untuk menandai basis (selain “ekonomi” dan “eksistensi sosial” atau relasi sosial), yakni modus produksi kehidupan material. Artinya, basis adalah keseluruhan struktur kompleks (mulai dari ekonomi hingga relasi-relasi sosial) yang mempresentasikan segala yang ada. Dengan kata lain, basis bersifat ontologis. Dalam kosakata Aristotelian yang dipakai Engels dalam suratnya tentang histomat kepada Franz Mehring, basis diartikannya sebagai materia—dan superstruktur sebagai forma yang tumbuh dari materia itu.[21] Jadi apabila basis adalah ranah presentasi daya-daya produksi untuk sarana keberadaan (means of subsistence), maka superstruktur adalah representasi dari daya-daya produksi tersebut ke dalam “cangkang mistis” tertentu. Namun representasi ini tidak hadir terpisah dari presentasinya. Hanya dalam kapitalisme lah—dalam idealisme—superstruktur ideologis nampak seolah-olah hadir secara utuh terpisah dari basis yang menjadi dasar presentasinya.[22] Melalui materialisme historisnya, Marx berupaya menarik kembali yang mengawang-awang itu dengan mematrinya kepada basis: ideologi tak pernah muncul dalam ruang hampa, melainkan senantiasa tersituasikan, imanen, pada basisnya.


Sampai di sini kita telah mendapatkan beberapa butir klarifikasi berkenaan dengan posisi Marx di era pemikiran kontemporer: (1) Walaupun Marx adalah pemikir tentang imediasi/presentasi namun (2) imediasi ini tidak dapat dipahami sebagai imediasi Romantik tentang asal dan tujuan segala sesuatu (sejenis sangkan paraning dumadi)—kalau mau memahami asal dan tujuan ini, tak perlu membaca Marx, bacalah Moses Hess, Holy History of Mankind—dan konsekuensinya, (3) kita perlu mengeksplisitkan separasi antara dua konsepsi tentang imediasi. Dengan menyadari adanya separasi ini, intuisi Marx tentang imediasi mesti direkonstruksi kembali berdasarkan (4) pengertiannya tentang basis dan visinya tentang histomat. Namun esai ini belum memberikan gambaran rinci tentang konsepsi imediasi Marx. Upaya tersebut, saya harap, akan mampu saya jalankan dalam waktu dekat.***


[dari Problem Filsafat Volume 5, April 2010]


[1] Lih. Jean Baudrillard, Symbolic Exchange and Death diterjemahkan oleh Iain Hamilton Grant (London: Sage Publications), 2000, hlm. 145-147.


[2] Lih. Jean Baudrillad, For a Critique of Political Economy of the Sign diterjemahkan oleh Charles Levin (St. Louis: Telos Press), hlm. 79-80.


[3] Karl Marx, Capital Vol I diterjemahkan oleh Ben Fowkes (London: Penguin Books), 1976, hlm. 164.


[4] Lih. Jean Baudrillard, op.cit., hlm. 140-141.


[5] Karl Marx, Early Writings diterjemahkan oleh Rodney Livingston dan Gregor Benton (London: Penguin Books), 1992, hlm. 375.


[6] Jean François Lyotard, Libidinal Economy diterjemahkan oleh Iain Hamilton Grant (Bloomington: Indiana University Press), 1993, hlm. 128.


[7] Teks yang dirujuk Lyotard tersebut ada dalam fragmen manuskrip Formen die der Kapitalistischen Produktion vorhergehen (diterbitkan dalam edisi Inggris dengan judul Pre-Capitalist Economic Formations) yang diterbitkan untuk pertama kali dalam Grundrisse. Lih. Karl Marx, Grundrisse: Foundations of the Critique of Political Economy (Rough Draft) diterjemahkan oleh Martin Nicolaus (London: Allen Lane), 1973, hlm. 488.


[8] Lih. Jean François Lyotard, op.cit., hlm. 133.


[9] Ibid., hlm. 139.


[10] Baudrillard menulis bahwa kebutuhan mesti dipandang sebagai “a function induced (in the individual) by the internal logic of the system […]. In other words, there are only needs because the system needs them.” Jean Baudrillard, For a Critique of the Political Economy of the Sign, op.cit., hlm. 82.


[11] Karl Marx, A Contribution to the Critique of Political Economy diterjemahkan oleh S.W. Ryazanskaya dan diedit oleh Maurice Dobb (New York: International Publishers), 1972, hlm. 188.


[12] Lih. Karl Marx, Capital Vol I, op.cit., hlm. 873-874. Bdk. juga tulisan saya tentang hal ini dalam Problem Filsafat no. 4.


[13] “[T]he production and circulation of commodities do not at all imply the existence of the capitalist mode of production. On the contrary, as I have already shown, they may be found even in ‘pre-borgeouis mode of production’. They constitute the historical premiss of the capitalist mode of production.” Karl Marx, Capital Vol I, op.cit., hlm. 949-950 (bagian Appendix: Results of the Immediate Process of Production).


[14] Karl Marx, Grundrisse, op.cit., hlm. 111.


[15] Karl Marx, A Contribution, op.cit., hlm. 196. Atau Grundrisse, op.cit., hlm. 91: “A railway on which no trains run, hence which is not used up, not consumed, is a railway only δυνάμει [secara potensial—di sini Marx secara eksplisit mengutip Metafisika Aristoteles], and not in reality.”


[16] Karl Marx, A Contribution, op.cit., hlm. 197.


[17] “Production thus produces not only the object of consumption but also the mode of consumption, not only objectively but also subjectively. Production therefore creates the consumer.” Ibid.


[18] Karl Marx, Grundrisse, op.cit., hlm. 85.


[19] Karl Marx, A Contribution, op.cit., hlm. 199.


[20] Ibid., hlm. 20-21.


[21] Surat Friedrich Engels kepada F. Mehring (14 Juli 1893), dalam Karl Marx dan Friedrich Engels: Selected Works Volume II diedit oleh Institut Marxisme-Leninisme (Moscow: Foreign Language Publishing House), 1958, hlm. 497.


[22] Dalam arti yang sebangun lah Marx menulis tentang status komoditas dalam modus produksi kapitalis: “only by being realised as exchange-values can they be realised as use-values.” Karl Marx, A Contribution, op.cit., hlm. 43. Artinya, hanya melalui mediasi/representasi lah presentasi sebuah objek menjadi bermakna dalam ranah kapitalisme.

Recent Posts

See All

Retrospektif Komunitas Marx

"Bagaimana Komunitas Marx Menerbitkan Jurnal Problem Filsafat dan Bubar Setelah Mentransformasi Diri" Oleh Martin Suryajaya Dalam suasana kepailitan Komunitas AksiSepihak dan amanat penderitaan rakyat

Retrospektif Komunitas AksiSepihak

"Bagaimana Komunitas AksiSepihak Berniat Melawan Dunia dan Gulung Tikar Setelah Menerbitkan Buku Pertama" Oleh Martin Suryajaya Dulu sekali, sebelum saya menerbitkan naskah-naskah buku saya di Resist

Corat-Coret Kritik atas Ekonomi-Politik Suara

Oleh Martin Suryajaya Dalam Bab 3 Kapital I, Marx menulis tentang metamorfosa komoditas. Bagaimana komoditas beralih-wujud menjadi uang untuk kemudian beralih kembali jadi komoditas yang lain? Apa yan

  • Facebook
  • YouTube
  • Instagram
  • Icon Goodreads
Kontak