Modernisme, Pascamodernisme dan Sesudahnya: Pengantar ke Estetika Kontemporer

Updated: Jan 28

Oleh Martin Suryajaya



Klasisisme dan Perlawanan Terhadapnya

Estetika yang berkembang pada abad ke-20 mesti dilihat dalam kaitannya dengan perlawanan selama berabad-abad terhadap pakem estetika Klasik. Klasisisme adalah suatu paham estetik yang berkembang sejak era Yunani Klasik (sekitar abad ke-4 SM), khususnya dalam pemikiran orang seperti Plato dan Aristoteles. Pokok pandangannya:

  • Konsepsi seni sebagai teknik. Karena seni adalah perkara teknik (tekhne), maka praktik seni mengandalkan pengetahuan ketimbang inspirasi irasional (seniman membuat, bukan mencipta dari ketiadaan)

  • Konsepsi didaktis-instrumental tentang seni. Karena seni adalah sarana pengajaran moral dan harmonisasi sosial, maka seni mesti dievaluasi berdasarkan manfaatnya bagi masyarakat

  • Konsepsi mimetik tentang seni. Karena seni adalah salinan (mimesis) dari kenyataan, maka seni mesti dievaluasi berdasarkan keakuratan salinan tersebut

Respon kritis terhadap klasisisme muncul secara sistematis pada masa Renaisans (sekitar abad ke-16). Kendati begitu, klasisisme tetap dominan sampai era Romantik (sekitar awal abad ke-19) dalam pemikiran orang seperti Friedrich Schlegel dan Friedrich Schelling. Pokok pandangannya:

  • Konsepsi tentang seniman sebagai pencipta jenius. Bahwa seniman tidak merakit dari yang sudah ada, melainkan menciptakan sesuatu yang baru dari permenungannya sendiri

  • Konsepsi tentang intrinsikalitas seni. Bahwa seni punya “gramatika”-nya sendiri, tidak bisa diciutkan pada pertimbangan eksternal (seperti tolok ukur sosial-politik) dan karenanya mesti dievaluasi secara “tanpa pamrih” (disinterested)

  • Konsepsi tentang seni sebagai ungkapan jiwa seniman. Bahwa karya seni tidak mencerminkan dunia objektif, melainkan mengungkapkan ranah subjektif sang seniman

Estetika Modernis dibentuk oleh pengalaman perlawanan atas Klasisisme itu juga.


Prekuel Pasca-Romantik ke Modernisme

Sebelum bicara estetika Modernis, kita perlu membahas dua ragam estetika yang mendominasi Eropa pada peralihan menuju abad ke-20: estetisisme dan formalisme. Ketiganya adalah gejala pasca-Romantik. Estetisisme dicetuskan Victor Cousin dan Theophile Gautier serta kerap dirumuskan dalam slogan “seni untuk seni”. Pokok pandangannya:

  • Ketakbergunaan sebagai prasyarat utama keindahan. Semua hal yang berguna sudah pasti buruk sehingga keindahan mesti dievaluasi terlepas dari perkara kegunaan (dengan kata lain, dievaluasi secara “tanpa pamrih”)

  • Konsepsi swa-acu tentang seni. Seni tidak mencerminkan kenyataan objektif ataupun subjektif, sebab seni adalah acuan bagi dirinya sendiri (karenanya, evaluasi terhadapnya mesti dijalankan secara intrinsik)

Formalisme dipelopori oleh pemikir estetika seperti Clive Bell dan Roger Fry. Pokok pandangannya:

  • Konsepsi tentang seni sebagai bentuk bermakna. Karya seni diartikan sebagai bentuk yang memiliki makna (sebagai bentuk, bukan sebagai simbol dari kenyataan di luar karya)

  • Konsepsi tentang evaluasi berbasis analisis formal. Karya seni mesti dianalisis berdasarkan enam komponen formal (ritme garis, volume objek, ruang, terang-gelap, warna, titik fokus)


Modernisme Greenberg

Estetika Modernis dalam wujudnya yang paradigmatis diidentikkan dengan pandangan estetika Clement Greenberg. Pandangannya mendominasi wacana estetika sejak era 1930-an sampai dengan 1950-an. Pokok pandangannya:

  • Distingsi antara karya seni dan kitsch. Kitsch adalah komoditas artistik yang dimanufaktur secara massal berdasarkan pakem tertentu (lukisan pajangan rumah, ilustrasi kalender, patung-patung hiasan, dsb.), sementara karya seni adalah hasil pencarian atas bentuk-bentuk baru tanpa mereproduksi pakem lama

  • Penolakan atas pokok ihwal dalam karya rupa. Karya rupa Modernis, berbeda dari mayoritas karya rupa pra-abad ke-20, tidak lagi diposisikan sebagai “ilustrasi” dari narasi sastrawi tertentu ataupun sekadar “contoh visual” dari pesan moral tertentu, melainkan tampil sebagai entitas visual yang otonom terhadap tema

  • Doktrin tentang kekhasan wahana. Seni lukis bertumpu pada suatu wahana (kertas/kanvas) yang dicirikan oleh sifat datarnya (ciri dua dimensinya), sehingga seni lukis mesti setia pada “kedataran” (flatness) wahananya dengan tidak berpretensi menciptakan ilusi kedalaman atau ilusi objek tiga dimensi (melalui perspektif)

  • Penjarakan estetis sebagai dasar evaluasi. Evaluasi karya seni mesti ditempatkan terlepas dari realitas praktis, di mana sang pengamat mesti menangguhkan semua pertimbangan psikologis dan sosiologisnya untuk lalu mengevaluasinya dalam kriteria estetis semata

Pandangan Greenberg sangat berpengaruh di sekitar dekade 1950-an dan 1960-an. Ia dianggap mampu menentukan kesuksesan para perupa dengan sekali tulis. Perupa seperti Jackson Pollock dan Willem de Kooning terangkat namanya berkat intervensi Greenberg.


Sekitar Pascamodernisme

Estetika pascamodern mengemuka sebagai gejala pasca-pop art dan seni konseptual. Kedua praktik seni kontemporer itu membuyarkan pakem estetika Modernis: penekanan kekhasan wahana dan keunikan karya seni dibanding kitsch.

  • Seni konseptual (para perupa Fluxus) mendobrak kekhasan wahana dua dimensi dengan merambah ke segala bentuk seni instalasi dan performance

  • Pop art (Warhol, Lichtenstein, dkk.) membongkar dikotomi keras antara karya seni dan komoditas artistik produksi massal.

Muncul kebutuhan mendesak bagi suatu kerangka estetik yang bisa menjelaskan fenomena seni kontemporer sejak era 1960-an yang tak lagi bisa dijelaskan dalam paradigma estetika Modernis. Jawaban pertama adalah pendekatan estetika kontekstual dari pemikir seperti Arthur Danto di era 1960-an. Pokok pandangannya:

  • Definisi karya seni bergantung pada konteks dunia-seni. Suatu artifak menjadi karya seni karena ada “dunia-seni” (artworld) yang membaptisnya demikian, yakni ketika suatu artifak ditahbiskan sebagai “karya seni” oleh suatu jaringan kritikus, kurator, kolektor dan publik seni yang membentuk konsensus

  • Evaluasi estetis bergantung pada konteks diskursif. Pandangan dan evaluasi tentang karya seni (tentang apakah suatu artifak itu karya seni atau bukan, apakah karya seni itu baik atau buruk, dst.) ditentukan oleh penguasaan teori dan wawasan artistik si pengamat; contohnya: dalam kerangka estetika Klasik, sebuah piring bergambar adalah karya seni, sementara dalam kerangka estetika Modernis, piring itu tak lebih dari kitsch

Estetika pascamodern berkembang pada era 1970-an dan 1980-an sebagai pencampur-adukan atas berbagai pikiran tentang praktik seni rupa kontemporer. Para pemikirnya adalah orang-orang seperti Jacques Derrida, Michel Foucault, Jean-François Lyotard, Jean Baudrillard, dsb. Pokok pandangannya:

  • Penolakan atas distingsi seni-tinggi dan seni-rendah. Distingsi antara “karya seni” dan “kitsch” tidak bisa dipertahankan karena perkembangan seni kontemporer telah membatalkan distingsi itu

  • Problematisasi distingsi antara karya dan yang-di-luar-karya. Batas antara karya (ergon) dan yang-di-luar-karya (parergon) tidak ditopang oleh suatu batasan alamiah, melainkan terkonstruksi secara diskursif dan dapat berubah sewaktu-waktu, sehingga identitas karya seni selalu tertunda oleh hubungannya dengan lingkungan sekitar

  • Penolakan pada universalitas nilai estetis. Keindahan dan kesubliman adalah konsep-konsep yang berubah maknanya seturut konteks sosio-historis, sehingga tak ada nilai estetis yang sifatnya universal (diterima di mana saja, kapan saja); setiap nilai estetis selalu berlaku partikular saja

  • Penolakan atas penjelasan tunggal atas gejala estetis. Karya yang sama dapat ditafsirkan dan dievaluasi berdasarkan kerangka penjelasan yang berbeda; justru kemulti-tafsiran itu memperkaya bobot estetis sebuah karya

  • Pengakuan pada dimensi politik dari setiap wacana estetis. Setiap wacana estetis selalu terstruktur oleh relasi-relasi kuasa (misalnya, antara kepentingan kolektor, kepentingan galeri, kepentingan kelompok seniman tertentu, dsb.) dan karenanya tidak ada klaim estetis yang sepenuhnya objektif atau bebas kepentingan

Setelah Pascamodernisme

Kejenuhan terhadap estetika pascamodernis mulai terasa pada peralihan abad ke-21. Estetika sesudah pascamodernisme berkembang ke dalam beragam kajian yang sangat terspesialisasi (ada neuro-estetika, ada estetika biologis, ada estetika sosiologis, ada inestetika Badiou yang menggali estetika Modernis, dsb.). Di sini kita hanya akan mencermati satu kecenderungan yang bisa dianggap menarik: estetika partisipatoris.


Estetika partisipatoris adalah suatu cara baca atas gejala seni kontemporer yang mengamini pembatalan atas distingsi antara seniman dan non-seniman, antara “karya seni” dan “bukan karya seni”. Dalam kerangka estetika ini, setiap orang pada dasarnya adalah seniman dan seluruh ranah sosial adalah karya seni. Para pemikirnya adalah seperti Nicolas Bourriaud dan Claire Bishop. (Contoh praktiknya di Indonesia adalah Moelyono dan Jatiwangi art Factory.) Pokok pandangannya:

  • Seniman sebagai organisator/fasilitator. Praktik seni partisipatoris/relasional telah menggeser peran seniman dari creator ke organizer, dari sosok pencipta yang merenungkan kenyataan lalu menuangkannya dalam wahana rupa ke sosok aktivis yang terlibat dalam situs sosial tertentu

  • Karya seni sebagai hubungan sosial. Praktik seni partisipatoris/relasional telah menggeser status karya seni dari benda ke hubungan sosial, dari artifak (lukisan, instalasi ataupun performans) yang dipamerkan di ruang khusus seperti galeri ke hubungan sosial baru yang tercipta dari interaksi antara “seniman” dan lingkungan

Estetika partisipatoris dirumuskan ketika perayaan atas kemulti-tafsiran, partikularitas nilai estetis serta percampuran antara karya seni dan komoditas telah jadi latah. Estetika pascamodern menyumbang banyak bagi komodifikasi seni yang semakin massif. Estetika partisipatoris melangkah lebih jauh dengan membongkar itu, melalui suatu sensibilitas yang bercorak post-avant-garde (tidak lagi berpretensi menggurui/mencerahkan massa, melainkan bekerja bersama massa, ambil bagian di dalamnya, untuk menciptakan kebaruan yang membuyarkan distingsi antara yang-estetik dan yang-non-estetik).***


[Pernah dipaparkan dalam sebuah lokakarya bagi perupa muda di dia.lo.gue sekitar Agustus 2016]



0 views
  • Facebook
  • YouTube
  • Instagram
  • Icon Goodreads
Kontak