Marxisme dan Supervenience

Updated: Jan 28

Oleh Martin Suryajaya



Dewasa ini, kaum inteligensia yang beradab akan lari terbirit-birit ketika mendengar kata ‘reduksi’, ‘determinasi’, ‘totalitas’, ‘absolut’ dan sejenisnya. Agaknya, kata-kata itu menyinggung rasa kemanusiaan mereka yang demikian sublim dan subtil. Hal ini sepertinya sesuai dengan iklim intelektual kontemporer yang hipersensitif pada diksi, pada pilihan kata, sembari abai pada kenyataan dan konsep yang dinyatakan oleh kata-kata. Kita dengan mudah lupa pada ungkapan Cato, seorang pemikir dan politisi Romawi: rem tene, verba sequentur; “rengkuhlah bendanya, maka kata-kata akan mengikuti”. Kata kerja ‘mendeterminasi’ adalah salah satu kata yang dimusuhi kaum intelektual masa kini ibarat penyakit pes. Verba itu muncul dalam proposisi “basis mendeterminasi superstruktur”. Frase ini membangkitkan perasaan traumatik di sebagian pemikir kita dengan gerundelan yang tak terelakkan: “Betapa tidak sopan! Tidak humane!” Apa yang akan kita jalankan berikut ini adalah menganalisis secara logis verba dalam proposisi di muka sedemikian sehingga kita akhirnya sadar bahwa ketika kenyataan atau konsepnya telah diklarifikasi, kita tak lagi punya alasan untuk bertingkah paranoid pada kata-katanya.


Ada beberapa konsep dalam kata ‘mendeterminasi’ atau ‘menentukan’ yang perlu diklarifikasi terlebih dahulu. Konsep kunci dalam kata tersebut adalah kausalitas. A menentukan B berarti A menyebabkan B atau A menyebabkan munculnya sifat tertentu pada B. Ditinjau dari hubungan keluasan antara penyebab dan efeknya, kausalitas dapat dipilah menjadi dua model: kausalitas transitif (atau imanen) dan kausalitas intransitif (atau transenden). Kausalitas intransitif adalah penyebab yang eksternal terhadap efek yang disebabkannya. Kausalitas jenis ini banyak kita temukan dalam semesta fisik. Bola bilyar B terlontar karena terdorong oleh kontak fisik dengan bola bilyar A—bola bilyar A merupakan penyebab dari lontaran bola bilyar B dan kedua bola tersebut terpisah satu sama lain. Kausalitas transitif, sebaliknya, adalah penyebab yang internal dalam efek yang disebabkannya, kendati tidak dapat direduksikan pada (atau tidak identik dengan) efek-efeknya. Contohnya banyak kita temukan dalam realitas sosial. Kondisi ekonomi merupakan penyebab dari situasi kultural tertentu dan keduanya tak terpisah walaupun tidak identik. Althusser pernah mencoba menerangkan hubungan antara basis dan superstruktur melalui kausalitas jenis ini. Namun, upaya ini kurang berhasil. Alasannya, distingsi kausalitas ini tidak menjelaskan ‘otonomi relatif’ efek terhadap penyebab secara memadai. ‘Otonomi relatif’, akhirnya, hanya tampil sebagai postulat.


Kita akan mencoba mendekati persoalan kausalitas dalam pengertian ‘basis mendeterminasi superstruktur’ melalui kerangka konseptual lain. Belakangan ini, setidaknya sejak 30 tahun terakhir, di kalangan pemikir Analitik ramai diperdebatkan tentang model kausal yang disebut sebagai supervenience. Istilah ini sukar dicari padanannya dalam bahasa Indonesia karena makna teknis istilah tersebut sama sekali tak berhubungan dengan makna sehari-harinya. Dalam makna sehari-harinya, to supervene berarti datang sebagai sesuatu yang aksidental, tambahan, tak diduga-duga. Sejalan dengan arti teknisnya, saya akan menerjemahkan supervene secara tentatif sebagai ‘bertopang’ dan supervenience sebagai ‘kebertopangan’. Sifat A dikatakan ‘bertopang’ pada sifat B jika dan hanya jika tidak ada perubahan pada sifat A tanpa perubahan pada sifat B.


Dalam konteks dimana konsep ini ramai diperdebatkan dewasa ini, yakni dalam philosophy of mind, sifat mental seperti ‘rasa sakit’ dikatakan bertopang pada sifat material seperti struktur neurofisiologis (khususnya, rangsangan fiber-C) jika dan hanya jika kita tidak mungkin mengalami ‘rasa sakit’ tanpa mengalami rangsangan fiber-C di susunan syaraf otak. (Donald Davidson mengatakan bahwa tak ada dua peristiwa yang identik dalam hal fisik tetapi berbeda dalam hal mental.) Inilah ide dasar dari konsep ‘kebertopangan’ (supervenience). Dengan modifikasi tertentu pada konsep ini, fisikalisme (atau materialisme) yang non-reduksionis dimungkinkan. Fisikalisme ekstrem atau eliminatif berpendapat bahwa seluruh sifat mental dapat dirumuskan ulang (baca: direduksi) ke dalam susunan sifat alam material. Di tangan para fisikalis eliminatif, supervenience menjamin reduksi total. Berlawanan dengan itu, fisikalisme moderat atau non-reduksionis berpendapat bahwa sebagian sifat mental dapat dirumuskan ulang (baca: direduksi) ke dalam susunan sifat alam material. Dirumuskan secara berbeda, fisikalisme moderat juga dikenal sebagai emergentism, yakni pengakuan akan adanya sifat-sifat pada level derivatif (seperti mental) yang ‘muncul’ (emergent) pada ranah tersebut dan tak dapat direduksikan pada sifat-sifat dari level yang lebih fondasional. Di tangan para fisikalis non-eliminatif, supervenience menjamin reduksi parsial. Sebatas pembacaan saya, materialisme historis yang dirumuskan Marx adalah salah satu varian dari fisikalisme moderat semacam ini. Kita akan lihat alasannya.


Seperti sebagian besar para pemikir Analitik dewasa ini, Marx adalah seorang fisikalis (fisikalisme hanyalah nama kontemporer untuk materialisme). Marx percaya bahwa semesta fisik merupakan latar panggung tempat drama kesadaran-diri dimainkan. Materialisme historis—atau tesis bahwa basis ekonomis mendeterminasi superstruktur politiko-legal-kultural—adalah cerminan dari posisi fisikalisnya. Namun filsafat Marx bukanlah materialisme eliminatif yang menganggap bahwa seluruh superstruktur adalah epifenomena atau efek-samping dari basis ekonomis. Problem yang tak terhindarkan dari segala jenis materialisme eliminatif adalah ketakmungkinan menjelaskan kemungkinan bagi emansipasi. Proses emansipasi dimungkinkan hanya jika ada kesadaran yang melampaui kesadaran epifenomenal yang diproduksi oleh basis ekonomis. Bagaimana kesadaran macam itu timbul apabila semua kesadaran dipandang tak lebih sebagai efek-samping dari realitas ekonomis? Karenanya, materialisme Marx tentulah merupakan jenis materialisme yang non-eliminatif, suatu emergent materialism. Mengkritik materialisme Marxis sembari menyamakannya dengan materialisme eliminatif berarti melancarkan kritik yang karikatural.


Dalam kerangka inilah, varian tertentu dari teori supervenience berguna untuk mengklarifikasi tesis ‘basis mendeterminasi superstruktur’. Kata ‘mendeterminasi’ dapat dimengerti sebagai ‘menopang’ (subvenient). Dirumuskan secara Marxian, teori tersebut berbunyi demikian: superstruktur bertopang pada basis jika dan hanya jika tak ada perubahan pada level superstruktur tanpa perubahan pada level basis. Tafsiran materialisme historis semacam ini antara lain dinyatakan oleh Colin Farrelly (2005). Menurut Farrelly, superstruktur ‘perbudakan’ dengan sendirinya mengandaikan modus produksi perbudakan dan superstruktur ‘kapitalis’ dengan sendirinya mengandaikan modus produksi yang berbasis pada kerja-upahan (modus produksi kapitalis). Superstruktur ‘kapitalis’ tidak mungkin terwujud dalam masyarakat dengan modus produksi perbudakan (Farrelly 2005: 437). Demikian pula, dua masyarakat dengan modus produksi yang identik tidak mungkin memiliki superstruktur yang berbeda. Sama seperti dua orang yang komposisi fisiknya identik, dengan lingkungan yang juga identik, tak mungkin memiliki pikiran yang berlainan.


Model yang direkonstruksi Farrelly tidak dapat memberikan jawaban yang memuaskan (atau bahkan jawaban sama sekali) tentang kemungkinan bagi emansipasi. Bagaimana menjelaskan fakta bahwa orang dapat berpikir berlawanan dengan basis ekonomi dominan yang melandasinya? Jenis supervenience yang ia gunakan masih terlalu reduksionis dan fisikalismenya eliminatif. Untuk menghindari risiko epifenomenalisme yang inheren dalam materialisme eliminatif, kita perlu mengkhususkan lagi pengertian ‘kebertopangan’.


Materialisme non-eliminatif mesti menjelaskan kemungkinan bagi ‘penyebaban ke bawah’ (downward causation). Konsep ‘penyebaban ke bawah’ mesti dipahami dalam konteks stratifikasi kenyataan: apa yang berada pada level elementer menjadi penyebab bagi apa yang berada pada level yang lebih di atas. Dalam konteks itu, penyebaban ke bawah dapat dimengerti sebagai proses kausal dari apa yang disebabkan ke apa yang menyebabkan. Menjamin keberadaan penyebaban seperti ini berarti menunjukkan bahwa ada sifat-sifat yang muncul (emergent properties) pada tataran lanjutan yang tak dapat direduksi pada tataran elementer. Dengan kata lain, kita seperti dipaksa membuktikan bahwa (A → B) ˄ (B → A) atau “A menyebabkan B dan B menyebabkan A” tidak kontradiktif. Ini adalah versi Analitik dari apa yang disebut-sebut dalam tradisi Althusserian sebagai ‘overdeterminasi’. Tradisi umum dalam filsafat Analitik (misalnya eliminativist seperti Jaegwon Kim 2008: 146-147) mengatakan bahwa ‘penyebaban ke bawah’ itu absurd (sehingga materialisme non-eliminatif alias emergent materialism itu tidak konsisten dan mesti direduksi ke materialisme eliminatif agar konsisten). Kita akan memperlihatkan salah satu alasan mengapa konsep ‘penyebaban ke bawah’ itu absurd.


Marilah kita ambil contoh sederhana tentang anak dan orang tua. Orang tua merupakan penyebab bagi adanya anak—kalau tidak ada orang tua yang melahirkannya, anak tidak akan ada. Tetapi anak juga merupakan penyebab bagi adanya orang tua—kalau anak tidak ada, maka orang tua itu bukanlah orang tua sebab definisi dari orang tua adalah orang yang memiliki anak. Apakah penyebaban kedua inilah yang dimaksud dengan ‘penyebaban ke bawah’? Hal ini problematis karena kata ‘menyebabkan’ digunakan dalam arti yang berbeda: orang tua secara biologis (bahkan ontologis) menyebabkan adanya anak, sementara anak secara semantik menyebabkan adanya orang tua. Tanpa orang tua, orang yang ditunjuk dengan term ‘anak’ akan sama sekali tidak ada. Tetapi tanpa anak, tetaplah ada orang yang ditunjuk oleh term ‘orang tua’ kendati orang tersebut tidak memiliki predikat ‘orang tua’. Kalau inilah yang dimaksud dengan ‘penyebaban ke bawah’, maka itu tak lebih dari ilusi absurd yang tercipta dari ekuivokasi term ‘menyebabkan’.


Namun bukan berarti tak ada pelajaran sama sekali yang dapat ditarik dari absurditas ini. Contoh di muka menegaskan kembali bahwa kausalitas itu terstratifikasi: apa yang elementer menjadi prakondisi dari apa yang lanjutan dan apa yang lanjutan dapat mengubah apa yang elementer sejauh dalam batas-batas kondisi yang dimungkinkan oleh apa yang elementer. Apabila kesimpulan ini yang kita tarik, maka kita tidak akan terjatuh ke dalam absurditas di muka (sebab kita tidak memaksakan kesimpulan absurd bahwa ‘orang tua’ dan ‘anak’ saling menyebabkan dalam arti yang sama). Faktanya, ini terjadi dalam realitas sosial: seorang ilmuwan dapat menciptakan perubahan signifikan pada realitas fisik sejauh ilmuwan itu bekerja berdasarkan prakondisi hukum-hukum realitas fisik, demikian pula suatu kolektif revolusioner dapat menciptakan perubahan signifikan pada realitas sosial sejauh kolektif revolusioner itu bekerja berdasarkan prakondisi hukum-hukum realitas sosial. Dan bukankah ini yang dinyatakan Marx: “Manusia mengubah sejarah, tetapi tidak seturut kehendak hatinya”? Jadi, biarpun sukar dirumuskan secara logis, ‘penyebaban ke bawah’ itu terjadi secara riil dalam alam kenyataan.


Kini kita akan kembali mencoba merumuskan secara logis pengertian supervenient tentang materialisme historis dalam arti non-eliminatifnya berdasarkan pelajaran konkret di muka. Dirumuskan ulang, tesis materialisme historis berbunyi: superstruktur bertopang pada basis jika dan hanya jika tak ada perubahan dalam prakondisi superstruktur tanpa perubahan pada basis. Nilai dari rumusan ulang ini terletak dalam fakta bahwa rumusan tersebut tidak mereduksi keseluruhan superstruktur pada basis, melainkan hanya mereduksi sebagian dari superstruktur, yakni prakondisi-nya. Tak mungkin ada superstruktur tanpa prakondisi dan tak ada prakondisi tanpa basis. Namun, basis tidak memproduksi superstruktur; basis hanya memproduksi prakondisi bagi adanya superstruktur. Dengan demikian, dibuka kemungkinan bagi aktualisasi dari prakondisi tersebut yang tidak identik dengan basisnya, yang tak dapat direduksi pada basisnya, yang emergent. Bagaimana aktualisasi ini bisa demikian berbeda dari basisnya? Karena ada stratifikasi semesta yang tak terbatas pada lapis superstruktur dan basis, tetapi juga lapis-lapis kenyataan lain yang lebih elementer: lapis geografis, lapis bio-ekologis, lapis kimiawi, lapis fisis dan kekhususan sejarah yang mengikat lapis-lapis itu bagi masyarakat tertentu. Masing-masing lapis dalam stratifikasi realitas ini—yang diikat atas nama sejarah—berperan bagi terwujudnya aktualisasi superstruktural tertentu.


Manusia dapat mewujudkan emansipasi bukan karena ia tidak dideterminasi oleh apapun, melainkan justru karena ia adalah entitas yang terstratifikasi. Materialisme historis hanya bisa dijelaskan dengan cara dilengkapi. Alih-alih menceburkan diri pada materialisme eliminatif yang hanya mengakui korespondensi satu-satu antara superstruktur dan basis (seperti Farrelly), kita mesti melengkapi tesis ‘basis mendeterminasi superstruktur’ dengan potret stratifikasi kausal dalam dunia yang luas. Dengan stratifikasi kausal pada level di bawah basis ekonomi itulah kita dapat membangun penjelasan yang lebih memadai tentang superstruktur. Ini dimungkinkan karena korespondensi satu-satu antara basis-superstruktur (dan reduksionisme yang inheren dalam model tersebut) ditinggalkan dan sebagai gantinya kita memperoleh potret kausalitas majemuk antar strata kenyataan yang menjelaskan kekhususan superstruktur aktual. Elaborasi lebih lanjut tentang kausalitas majemuk ini, tentu, tak dapat kita jalankan di sini. Namun setidaknya kita telah mendapatkan ide dasarnya. Dengan model ini, kita dapat menyelamatkan tesis dasar materialisme sekaligus menyelamatkan fakta bahwa manusia dapat berpikir dan bertindak melawan apa yang ada.


Posisi materialime non-eliminatif atau emergent materialism ini, menurut saya, merupakan posisi yang seimbang. Posisi ini dapat terhindar dari kecenderungan reduksionis total yang terdapat baik dalam posisi materialisme eliminatif maupun idealisme. Dalam posisi ini, yang mental tidak sepenuhnya direduksi yang material, sebagaimana yang material tidak sepenuhnya direduksi ke yang mental. Reduksi memang tak terhindarkan (lagipula reduksi bukan dosa, tak akan masuk neraka pula). Akan tetapi, reduksi hanya berlaku pada level prakondisi strata kenyataan dan bukan keseluruhan isi strata kenyataan. Selain itu, posisi materialisme non-eliminatif ini juga ekonomis. Artinya, posisi ini tidak mensyaratkan postulat-postulat ontologis yang membebani teori seperti segala yang ada adalah mental (idealisme) atau segala yang ada adalah materi (materialisme eliminatif). Materialisme non-eliminatif lebih ekonomis karena tidak berlawanan secara diametral dengan akal sehat (common sense); untuk mengakui klaim-klaimnya kita tak memerlukan sejenis ‘nalar misterius’, suatu ‘pikiran yang bukan pikiran’ atau ‘indra keenam’—apa yang kita perlukan hanyalah akal yang waras dan logis. Karena seimbang dan ekonomis, posisi materialisme non-eliminatif adalah alternatif yang lebih baik di antara kedua alternatif lain.


Jadi tak perlu takut mendengar kata-kata seperti ‘reduksi’ atau ‘determinasi’. Kadar kemanusiaan kita tak akan berkurang seandainya kita menggunakan kata-kata itu. Jangan pusingkan diksi, lebih waktu kita gunakan untuk memikirkan kenyataan atau konsep yang berada di balik diksi.***


[4 Januari 2013]



0 views
  • Facebook
  • YouTube
  • Instagram
  • Icon Goodreads
Kontak