Marxisme dan Program Analisis Konseptual

Updated: Jan 28

Oleh Martin Suryajaya



Dalam kehidupan sehari-hari kita, sering kita jumpai ungkapan-ungkapan yang telah sarat percabangan makna: kebebasan, keadilan, efisiensi, kebaikan, perdamaian, kemanusiaan, dsb. Ungkapan-ungkapan semacam itu lazim digunakan dalam percakapan kebudayaan, ekonomi, politik, hingga moral. Dalam perdebatan Marxisme, misalnya, para pengkritik sering melayangkan tuduhan bahwa Marxisme memberangus ‘kebebasan’. Model perekonomian terpimpin kerap dikritik sebagai tata ekonomi yang tak memungkinkan perwujudan ‘efisiensi’. Contoh lain, dalam perbincangan kebudayaan, kita kerap mendengar seni mesti menjunjung tinggi ‘kemanusiaan’. Namun, pada saat yang bersamaan, ungkapan-ungkapan tersebut dapat digunakan dalam arti yang sepenuhnya berlainan. Seorang Marxis, misalnya, dapat menyanggah para kritikusnya dengan menyatakan bahwa Marxisme justru memungkinkan ‘kebebasan’ riil bertumbuh-kembang, sejauh ‘kebebasan riil’ itu diartikan sebagai kemampuan masyarakat dalam menentukan tindakan kolektifnya tanpa dikerangkeng dalam segregasi kelas dalam perekonomian kapitalis. Oleh karenanya, ungkapan-ungkapan semacam itu mesti diklarifikasi secara persis maknanya agar perdebatan kita tidak jatuh ke dalam debat kusir semata (verbal dispute). Alih-alih memberikan klarifikasi historis-konseptual satu demi satu atas ungkapan-ungkapan yang berbeda itu, alangkah baiknya bila kita punya satu metode umum untuk menganalisisnya. Tulisan kali ini adalah tentang ‘program analisis konseptual’ yang pada hemat saya dapat dirancang untuk menangani ungkapan-ungkapan sejenis itu secara ketat.


Dalam sejarahnya, program analisis konseptual berasal dari era permulaan filsafat Analitik; utamanya program tersebut diuji-cobakan secara massif dalam konteks positivisme logis Lingkaran Wina. Dalam batang tubuh sains sendiri, kerap dijumpai ungkapan-ungkapan yang mengandung acuan ke entitas yang tak teramati. Ungkapan jenis itu disebut sebagai ‘ungkapan teoretis’. Misalnya, elektron, gravitasi, naluri biologis, nilai komoditas, dsb. Dalam konsepsi positif tentang sains, ungkapan-ungkapan itu mesti dapat diparafrasekan ke dalam ungkapan-ungkapan yang mengandung acuan ke kondisi yang teramati. Ungkapan jenis ini disebut sebagai ‘ungkapan observasional’. Untuk membangun teori yang ilmiah, semua ungkapan teoretis di dalamnya mesti dapat dialihkan menjadi ungkapan observasional. Inilah tuntutan Rudolf Carnap, salah seorang pemikir Lingkaran Wina. Bagaimana caranya?


Untuk merealisasikan tujuan di muka, para filsuf positivis modern meminjam temuan seorang jenius yang mati muda (pada usia 26 tahun), Frank Ramsey. Temuan itu adalah piranti logis yang kemudian dikenal sebagai ‘kalimat Ramsey’ (Ramsey sentence). Dalam sebuah artikel yang ditulisnya tahun 1929, Ramsey membangun suatu model formal yang menunjukkan bahwa entitas-entitas teoretis yang dinyatakan dalam suatu teori dapat dialihkan menjadi peubah (variable) yang dihubungkan melalui korespondensi satu-satu dengan predikat benda yang teramati (seperti panas, lunak, lokasi, dsb.). Mula-mula, Ramsey memilah antara ungkapan teoretis (Ut) dan ungkapan observasional (Uo) dan mengasumsikan berlakunya Asas Korespondensi (c-principle), yaitu adanya korespondensi antara Ut dan Uo. Dengan ini, kemudian Ramsey memperlihatkan bahwa semua ungkapan teoretis sebuah teori dapat dialihkan menjadi peubah yang nilainya ditentukan oleh kondisi pengamatan. Artinya, terdapat peubah-peubah x1, x2, ..., xn demikian rupa sehingga hukum-hukum yang dinyatakan oleh teori tentang peubah-peubah tersebut dapat diparafrase berdasarkan Asas Korespondensi sehingga untuk setiap x1, x2, ..., xn, terdapat predikat-predikat benda teramati o1, o2, ..., om. Inilah yang disebut sebagai ‘kalimat Ramsey’.


Carnap menggunakan kalimat Ramsey untuk membangun kerangka penerjemahan empirisis atas bahasa ilmu-ilmu dengan secara lebih eksplisit menunjukkan bahwa hubungan bikondisional (ekuivalensi) antara ungkapan teoretis dan ungkapan observasional. Misalnya, Carnap memberikan ilustrasi berupa reduksi atas konsep ‘muatan listrik’ (electrical charge) ke ungkapan-ungkapan observasional seperti ‘tarikan’ dan ‘lokasi’. Jika benda x ditempatkan dekat benda y pada waktu t, maka x memiliki muatan listrik pada t jika dan hanya jika y ditarik oleh x pada t. Kalau benda y tidak ditarik oleh x, maka dapat disimpulkan bahwa x tidak memiliki muatan listrik. Artinya, konsep teoretis ‘muatan listrik’ dapat sepenuhnya direduksi pada konsep observasional ‘tarikan’ dan ‘lokasi’. Dengan cara inilah Carnap memilah ungkapan-ungkapan ilmiah dari yang pseudo-ilmiah. Ungkapan pseudo-ilmiah akan gagal di hadapan ujian di muka: mengatakan bahwa x memiliki muatan listrik bahkan ketika tidak ada situasi observasional apapun yang dapat menunjukkan kesahihan klaim tersebut sama saja dengan mengatakan bahwa “Ada peri tak kelihatan yang tinggal di pohon tua itu” atau mengatakan bahwa “Ras Arya adalah realisasi tertinggi dari esensi kemanusiaan”. Tugas filsafat, bagi Carnap, adalah menjalankan analisis konseptual atas bahasa-bahasa ilmu sehingga membersihkan kuil ilmu pengetahuan dari sampah-sampah metafisika yang bertebaran.


Pertanyaannya kemudian: dapatkah kita memodifikasi kalimat Ramsey demikian rupa sehingga dapat digunakan untuk memberikan analisis konseptual atas kosakata kebudayaan kita, seperti kebebasan, keadilan, efisiensi, kebaikan, perdamaian dan kemanusiaan? Bila kita menggunakan rekonstruksi Carnap atas kalimat Ramsey, tentu kemungkinan seperti itu susah dibayangkan. Ungkapan seperti ‘kebebasan’ sulit ditunjukkan acuan observasionalnya yang khas karena ungkapan itu diasosiasikan dengan beragam situasi teramati yang berlainan. Berbeda dengan ungkapan seperti ‘muatan listrik’ yang dapat direduksi ke situasi observasional berupa ‘tarikan’ dan ‘lokasi’, ungkapan kultural seperti ‘kebebasan’ sepertinya punya situasi observasional yang beranekaragam. Oleh karena itu, saya akan mencoba mengajukan modifikasi atas kalimat Ramsey agar mampu menangani ungkapan-ungkapan kebudayaan yang kabur maknanya.


Saya akan menjalankan stratifikasi atas kalimat Ramsey. Karena ungkapan-ungkapan kultural memiliki banyak acuan observasional, saya akan membuang kriteria empirisis Ramsey dan menggantikannya dengan kriteria kausal. Suatu ungkapan kultural menjadi bermakna bukan karena ungkapan tersebut memiliki acuan observasional yang spesifik, melainkan karena kita dapat menunjuk basis kausal dari hal yang diacu dengan ungkapan tersebut. Misalnya, ungkapan seperti ‘kebebasan’ punya makna jika dan hanya jika terdapat peubah x1, x2, ..., xn demikian rupa sehingga adanya x1, x2, ..., xn memungkinkan adanya situasi B yang ditandai dengan ungkapan ‘kebebasan’. Artinya, menyatakan bahwa sesuatu bebas (situasi B) berarti mengatakan bahwa peubah x1, x2, ..., xn terwujud dalam situasi tersebut. Implikasinya, pernyataan bahwa “kapitalisme adalah tatanan sosial yang adil” adalah pernyataan ngawur yang tanpa makna apabila peubah x1, x2, ..., xn tidak terwujud dalam situasi yang dimaksud. Artinya, kata ‘adil’ dalam pernyataan tersebut tidak bermakna karena tak jelas basis kausalnya. Tugas ilmu-ilmu sosial adalah menemukan peubah x1, x2, ..., xn tersebut.


Mengapa modifikasi kalimat Ramsey ini dikatakan melibatkan stratifikasi atau pelapisan? Kita sudah lihat bahwa menyatakan situasi A bebas tidak lebih daripada menyatakan bahwa ada peubah x1, x2, ..., xn dalam A. Namun apa hubungan masing-masing peubah tersebut terhadap A? Apakah x1, x2, ..., xn sama-sama merupakan basis kausal dalam pengertian yang sama terhadap A? Ambillah contoh. Kelangkaan pasokan beras menyebabkan harga beras di pasaran meningkat. Tetapi peningkatan harga ini juga disebabkan oleh naiknya jumlah waktu kerja yang diperlukan untuk memproduksi beras. Apakah kedua penyebab kenaikan harga ini berada pada tingkat penyebaban yang setara? Dari perspektif Marxis, saya akan mengatakan bahwa penawaran beras menurun karena jumlah waktu kerja yang diperlukan masyarakat untuk memproduksinya meningkat. Jadi turunnya penawaran beras menyebabkan naiknya harga beras sejauh peningkatan jumlah waktu kerja menyebabkan penurunan penawaran beras dan kenaikan harganya. Jadi fenomena empiris naiknya harga beras (sebut saja Strata 1) disebabkan oleh turunnya jumlah pasokan beras (Strata 2) yang pada akhirnya disebabkan oleh naiknya jumlah waktu kerja sosial yang diperlukan (Strata 3). Jadi apa yang disebut basis kausal dari sesuatu itu nyatanya berlapis (Strata 3 mengkondisikan Strata 2 mengkondisikan Strata 1). Maka dari itu, x1, x2, ..., xn dalam kalimat Ramsey yang termodifikasi di muka mesti juga memotret pelapisan kausal ini.


Asas apakah yang bekerja dalam pelapisan kausal secara umum? Ini adalah wilayah hipotesis filsafat. Saya akan mengajukan kriteria in re sebagai asas pelapisan kausal. Apa yang dimaksud kriteria in re adalah asumsi bahwa keberadaan sifat-sifat dari sesuatu mensyaratkan keberadaan sesuatunya itu sendiri yang mana sifat-sifat tersebut dikatakan menubuh di dalamnya. Dari kriteria inilah kita bisa mendeduksikan materialisme sebagai asas pelapisan kausal: oleh karena keberadaan sifat-sifat mengandaikan keberadaan substansi tempat perwujudan sifat-sifat itu, maka keberadaan semesta mental mengandaikan keberadaan semesta fisik tempat semesta mental itu bertopang. Dengan cara ini, kita dapat membangun skema pelapisan kausal yang bekerja secara universal di seluruh domain kenyataan, mulai dari kenyatan fisika hingga kenyataan kultural. Dalam kerangka ini, pernyataan tentang ‘esensi kemanusiaan’ adalah omong kosong apabila entitas fisik yang bernama manusia itu tidak ada. Kita hanya bisa bicara tentang ‘esensi kemanusiaan’, ‘kebebasan’, ‘keadilan’, dst., jika kita bisa menunjukkan pelapisan kausal yang mengkondisikan adanya domain kenyataan yang kita acu. Dengan demikian, ‘esensi kemanusiaan’, ‘kebebasan’, dst., tidak lain daripada struktur kausal yang menopang kenyataan yang diacu oleh kata-kata tersebut.


Apa kegunaan dari analisis konseptual terhadap ungkapan kultural semacam ini? Analisis tersebut berperan sebagai tangan yang setiap kali akan menjewer kuping kita atau menyentil mulut kita manakala kita menggunakan ungkapan-ungkapan yang hampa muatan kausalnya. Ibaratnya, analisis konseptual itu berlaku seperti seorang editor ganas yang akan memotong busa-busa narasi kultural yang tak bisa ditunjuk batang hidung kausalnya. Ia berfungsi seperti ‘pisau cukur Ockham’ yang akan membabat setiap pernyataan yang ‘lupa daratan’. Pernyataan bahwa “kapitalisme mewujudkan kebebasan” adalah pernyataan yang lupa daratan karena prakondisi kausal dari adanya kebebasan adalah adanya orang yang bebas dan keberadaan orang mensyaratkan keberadaan pemenuhan kebutuhan hidup yang justru tidak dijamin oleh kenyataan yang diacu sebagai kapitalisme. Pernyataan semacam itu, karenanya, mesti dicampakkan dari tubuh ilmu pengetahuan, atau setidaknya mesti diparafrase menjadi: “seandainya orang yang mati atau batal hidup dapat disebut bebas, maka kapitalisme mewujudkan kebebasan”. Program analisis konseptual semacam ini dapat diterapkan ke berbagai jenis ungkapan kultural yang bertebaran hari-hari ini. Saya menduga hasilnya akan mengejutkan: dari seluruh jumlah pernyataan yang berseliweran dewasa ini, boleh jadi hanya 10% yang bermakna. Selebihnya adalah politik gratisan yang berkedok kesubliman.***


[22 Oktober 2013]



164 views

Recent Posts

See All

Marxisme dan Wina Merah

Oleh Martin Suryajaya Positivisme—sepenggal kata ini di hadapan kaum cendekiawan berbudaya nyaris sepadan dengan kata ‘komunisme’ di mata antek-antek Orba. Kata ‘positivisme’ kerapkali dihadirkan seba

  • Facebook
  • YouTube
  • Instagram
  • Icon Goodreads
Kontak