Konfigurasi Konsep Nilai-Pakai

Updated: Jan 28

Catatan Diskusi 25 Februari 2010 oleh Martin Suryajaya




Dalam catatan atas karya Adolph Wagner, Lehrbuch der politischen Ökonomie, yang ditulis menjelang kematiannya, Marx mengatakan, “bagi saya, nilai-pakai memegang peranan yang jauh lebih penting ketimbang [apa yang dipahami] di dalam ekonomi sampai saat ini.”[1] Peran penting ini ditegaskan pula oleh Althusser ketika ia menyatakan, dalam Lire le Capital, bahwa dalam hal distingsi nilai, revolusi teoretik Marx tidak terletak pada konsep nilai-tukar, melainkan justru pada konseptualisasinya tentang nilai-pakai[2]—sesuatu yang hanya diandaikan begitu saja oleh ahli-ahli ekonomi politik klasik dalam membangun justifikasi alamiah bagi pertukaran.[3] Nilai-pakai menjadi kian penting manakala kita melihat, dalam paragraf kelima Kapital, perumusan Marx yang pertama tentang nilai-tukar, yakni sebagai proporsi antar berbagai nilai-pakai.[4] Dengan menyadari sifat konstitutif nilai-pakai terhadap nilai-tukar, kita mendapat kesan seolah para pemikir ekonomi politik sebelum Marx, dengan pengabaiannya terhadap hakikat nilai-pakai, justru melupakan pendasaran dari ekonomi politik itu sendiri. Melihat rapuhnya fondasi ekonomi politik itulah Marx mengintervensi dengan elaborasi tentang nilai-pakai dan sesuatu yang mengeram di dalamnya—sesuatu yang memungkinkan, sekaligus direpresi oleh, ekonomi politik. Perdebatan tentang nilai-pakai, dengan demikian, adalah perdebatan tentang fondasi ekonomi politik itu sendiri.


Perdebatan dalam diskusi Komunitas Marx tanggal 25 Februari diawali dengan penafsiran Sholeh atas presentasi Anom Astika berkenaan dengan sifat intrinsik nilai-pakai dalam benda-benda. Melalui kerangka pikir Althusserian Sholeh menyatakan bahwa relasi antara basis dan superstruktur tersusun oleh overdeterminasi (determinasi resiprokal) dan bukan determinisme searah di mana basis sepenuhnya menentukan superstruktur. Konsekuensi dari logika Althusserian ini, menurut Sholeh, adalah bahwa nilai-pakai—sebangun dengan struktur basis—mesti diandaikan telah selalu bersifat sosial—atau diresapi oleh superstruktur. Dari sini, Sholeh mengambil kesimpulan lebih jauh lagi: nilai-pakai tidak ada di dalam objeknya, ia sepenuhnya ditentukan melalui konvensi superstruktural. Artinya, tidak ada nilai-pakai yang intrinsik. Anom segera menolak kesimpulan ini sebab penyimpulan Sholeh tersebut bertolak belakang dengan pengertian Marx tentang nilai-pakai yang baru saja dipresentasikan Anom. Bagi Anom, adalah sesuatu yang jelas bahwa Marx mengafirmasi adanya nilai-pakai yang intrinsik dalam objeknya. Ini diperlihatkan dalam penjelasan Marx pada awal paragraf keempat: “Kebergunaan sebuah bendalah yang menjadikannya suatu nilai-pakai. Tetapi kebergunaan ini tidak terkatung-katung di awang-awang. Ia terkondisikan oleh sifat fisik komoditas, dan tak memiliki keberadaan terpisah dari sifat fisik itu.”[5] Corak intrinsik ini ditegaskan lagi oleh Marx pada beberapa kalimat sesudahnya, kali ini dengan sentuhan Aristotelian: “Nilai-pakai hanya teraktualisasi [verwirklicht] dalam penggunaan atau konsumsi.”[6] Implikasi dari pernyataan ini adalah bahwa nilai-pakai telah terdapat secara intrinsik pada objeknya dalam wujud potensi yang baru menjadi “ada”, dalam arti aktual, melalui konsumsi—atau, dalam rumusan Marx selanjutnya, melalui materialisasi kerja.[7] Artinya, nilai-pakai bukanlah hasil konvensi sepenuhnya, melainkan pertama-tama selalu ditentukan oleh prakondisi materialnya. Walaupun betul bahwa, seperti dikatakan Rangga, kita tidak akan menemukan apa yang disebut sebagai “nilai” dalam sebutir mutiara yang dibelah, namun potensi nilai-pakai telah ada di sana.

Beranjak menuju problematisasi atas deskripsi Marx tentang masyarakat alamiah yang dikutip Anom di makalahnya, Yosie mempertanyakan logika yang ada di balik pikiran Marx ketika ia mengandaikan kealamiahan primordial dari masyarakat primitif. Teks yang menjadi sumber rujukan tersebut tak lain adalah Pre-Capitalist Economic Formation: “Bumi adalah laboratorium besar, persenjataan yang menyediakan baik sarana dan materi kerja, sekaligus lokasi, basis dari komunitas. Hubungan manusia dengannya bersifat naif [penekanan dari Yosie]; mereka melihat diri mereka sendiri sebagai pemilik komunalnya, sebagaimana komunitas yang memproduksi dan mereproduksi dirinya melalui kerja yang hidup.”[8] Apa yang dipersoalkan oleh Yosie bukanlah perkara editorial semata, melainkan logika dasar yang menuntun Marx untuk, dalam kata-kata Yosie, “mempostulatkan suatu kemurnian utuh di awal-mula sejarah—dalam nama kenaifan.” Jika Marx memang mempostulatkan adanya kemurnian asali ini (dalam wujud nilai-pakai murni yang belum terkontaminasi oleh nilai tukar apapun, misalnya), maka narasi historis Marx akan tak ubahnya narasi religius yang mempostulatkan Taman Eden asali yang terdegradasi dalam dunia dan akan diraih kembali di suatu saat nanti. Konsekuensinya, menurut Yosie, materialisme historis pun gagal—sains sejarah tak lagi terbedakan dari narasi mitis tentang penebusan. Betulkah demikian? Pertama-tama, kita mesti berupaya mengklarifikasi terlebih dahulu kata “naif” yang dipakai Marx di sini. Dalam tafsir saya, sebagaimana saya pertahankan dalam diskusi malam itu, kata “naif” dipakai Marx bukan dalam arti “polos” atau “tanpa noda” seperti Adam dan Hawa sebelum mengenal hasrat (sebelum memakan buah dari Pohon Pengetahuan). Penggunaan kata ini hanya dapat kita mengerti apabila kita melihat penjelasan Marx tentang akumulasi primitif dalam Bab terakhir Kapital.


Ekonomi politik klasik—dalam konteks ini Marx mengacu pada Adam Smith—selalu berangkat dari suatu postulat tentang “akumulasi terdahulu”, yakni sebuah akumulasi yang primitif dalam arti mendahului sistem akumulasi kapital. Konon suatu ketika di awal sejarah, terdapat sekelompok manusia yang ulet dan sekelompok manusia yang malas. Sementara pihak kedua bermalas-malasan dan menghambur-hamburkan kekayaan dalam aktivitas yang eksesif, pihak pertama justru rajin menabung dan mengakumulasi kekayaannya. Demikianlah, kaum yang ulet menjadi kaya dan kaum yang malas menjadi miskin—itulah sejarah yang menjadikan masa kini nampak seperti apa yang kita lihat: ada beda antara yang kaya dan yang miskin. Marx melihat dalam model argumentasi semacam ini sebuah upaya untuk menjustifikasi tatanan yang ada. Justifikasi ini dibangun melalui mistifikasi tentang asal-usul: kemalasan adalah “dosa asal”[9] kaum miskin yang akan terus dibawanya sepanjang segala masa. Marx melawan postulat ekonomi politik klasik ini dengan menunjukkan bahwa apa yang disebut-sebut sebagai akumulasi primitif (the so-called primitive accumulation) bukanlah proses separasi antara dua jenis keutamaan, antara dua jenis moral, melainkan separasi historis antara produsen dan sarana-sarana produksinya. “Yang disebut-sebut sebagai akumulasi primitif, karenanya, tidak lain daripada proses historis penceraian produsen dari sarana-sarana produksi.”[10] Oleh karenanya, dalam fase yang disebut “primitif” atau “pra-kapitalis” pun sudah terdapat pendasaran bagi kapitalisme, yakni separasi antara produsen dan sarana produksi—sebuah separasi yang akan terus dipegang dan diperluas oleh kapitalisme. Artinya juga, alam pra-kapitalis bukanlah sebuah alam yang “naif” jika kita mengartikan kata tersebut sebagai kepolosan murni tanpa noda-noda kapital.


Apa yang terjadi secara ekonomis di dalam era akumulasi primitif dan mengarahkannya menuju kapitalisme adalah kemunculan nilai tukar dan kepemilikan pribadi. Hal ini tergambar dalam penyelidikan sejarah yang dilakukan Engels dalam Origin of Family, Private Property and State (yang dikupas oleh Berto dalam tulisannya di bulletin edisi ini). Engels menjelaskan bagaimana perubahan modus produksi “berburu dan meramu” ke modus produksi pastoral (beternak) melibatkan transformasi konsep nilai dan kepemilikan. Apabila dalam modus produksi berburu dan meramu, kepemilikan dimengerti sebagai ikhwal komunal dan nilai suatu benda dipahami dari segi kebergunaannya, dalam modus produksi pastoral, kepemilikan menjadi perkara privat dan nilai tukar menjadi penting. Modus produksi pastoral bermula ketika manusia menemukan teknologi peternakan, yakni teknik domestifikasi hewan liar menjadi hewan ternak yang jinak. Apa yang muncul untuk pertama kalinya di sini adalah nilai tukar. Dengan ditemukannya teknologi beternak, produksi hewan-hewan tersebut (misalnya daging, susu, telur) dapat mencipta ekses terhadap kebutuhan suku peternak tersebut. Reproduksi hewan-hewan ternak tersebut melampaui batas konsumsi yang diperlukan oleh suku. Akibat dari ekses ini adalah keperluan untuk mempertukarkan produk yang berlebih itu dengan suku lain. Di sini pertukaran mengalami intensifikasi menjadi suatu rutinitas.[11] Kelebihan produksi mulai dialokasikan secara sistematis untuk dipertukarkan. Artinya, muncullah barang yang diproduksi untuk tujuan pertukaran dan bukan untuk dipakai secara langsung (dengan asumsi bahwa reproduksi barang tersebut niscaya melebihi kebutuhan yang ada). Lahirlah nilai tukar sebagai sesuatu yang ada terpisah dan mengatasi nilai-pakai. Namun proses ini berjalan bebarengan dengan perubahan konsep kepemilikan. Perubahan ini terkait dengan relasi gender. Dalam modus produksi berburu dan meramu, pembagian kerja di antara lelaki dan perempuan terjadi secara setara: keduanya memegang posisi yang setara dalam kerangka produksi barang-barang yang diperlukan untuk masyarakat suku tersebut (lelaki berburu dan perempuan meramu). Namun dalam modus produksi pastoral, dengan transformasi dari perburuan ke peternakan, lelaki hadir sebagai pemegang kendali atas ekses produksi, lelaki hadir sebagai gembala kemakmuran masyarakat—sesuatu yang, dari perspektif produksi suku tersebut, tak tertandingi oleh perempuan yang masih tetap dengan modus produksi meramunya. Engels menulis: ”Segala surplus yang diperoleh dari produksi kini jatuh ke tangan lelaki; perempuan hanya mengambil bagian dalam mengkonsumsinya, namun ia tidak mengambil bagian dalam kepemilikannya.”[12] Artinya, kepemilikan komunal yang berbasis pada kesetaraan produksi digantikan oleh kepemilikan privat. Kepemilikan pribadi pertama dalam sejarah, karenanya, adalah kepemilikan pribadi laki-laki.[13]


Apabila nilai tukar dapat dipisahkan dan diposisikan lebih tinggi ketimbang nilai-pakai oleh modus produksi yang mengarah pada kapitalisme (modus produksi pastoral), maka pertanyaan kawan Henry Stephen malam itu menjadi penting: Apakah basis yang menentukan derajat nilai tukar dan nilai-pakai? Pertanyaan ini tak pelak lagi mengarahkan kita kepada ontologi Marx, yakni konsepsinya tentang kerja.[14] Dalam Kapital I edisi pertama, Marx menulis bahwa substansi nilai adalah kerja.[15] Marx menambahkan penjelasan yang menekankan bahwa substansi nilai yang dimaksud di sini belum termasuk nilai-pakai. Sebab ia hendak berbicara tentang benda alamiah yang berguna tanpa tersentuh kerja manusia: air, udara, tanah. Dalam kasus seperti itu, tak mungkin berbicara bahwa air sama sekali tak punya nilai-pakai tanpa kerja manusia. Kerja baru menjadi substansi nilai-pakai apabila kita tengah berbicara tentang komoditas: substansi guna dari komoditas selalu merupakan kerja.[16] Artinya, fondasi nilai-pakai dari suatu benda tidak selalu kerja, akan tetapi fondasi nilai-pakai dari komoditas niscaya kerja.


Kerja sebagai substansi, substratum, nilai—inilah yang kembali ditegaskan Marx dalam pemaparannya tentang bentuk relatif nilai. Yang dimaksud dengan bentuk relatif di sini mengacu pada “keniscayaan” bahwa sebuah dapat bernilai hanya dalam relasinya dengan yang lain. “20 yar linan = 20 yar linan, bukanlah suatu ekspresi nilai. […] Nilai sebuah linan karenanya hanya dapat diekspresikan secara relatif, yakni di dalam komoditas lain,” demikian Marx.[17] Nilai sebuah komoditas tergantung pada (relatus est) relasi komoditas itu terhadap komoditas yang lain, pun jika kedua komoditas itu memiliki nilai-pakai yang sama sekali berbeda. Keberadaan sebuah nilai dari kain linan diekspresikan dalam relasi kesetaraan atau perbedaan di antara linan dan mantel—“eksistensi linan sebagai nilai termanifestasikan dalam kesetaraannya dengan mantel, sama seperti domba sebagai hakikat-diri orang-orang Kristiani diperlihatkan dalam kemiripannya dengan Anak Domba Allah.”[18] Sebuah ikhwal hanya menjadi bermakna, bernilai, sejauh ia diperbandingkan dengan ikhwal yang lain, sejauh identitas-nilai-dirinya dikonstitusikan melalui mediasi yang-lain—itulah hukum pertukaran kaum Merkantilis! Bagi kaum Merkantilis yang merayakan perdagangan bebas ini, tulis Marx, “tak ada nilai maupun besaran nilai yang mungkin selain melalui ekspresinya dalam relasi pertukaran, yakni, dalam daftar harian harga-harga terkini di pasar bursa.”[19] Apa yang dikaburkan oleh mereka dan yang berhasil dilihat Marx tak lain adalah fondasi nilai itu sendiri—sesuatu yang ada melampaui mediasi pertukaran, mendahului representasi yang-lain. Sesuatu itulah yang dikupas Marx dalam pembacaannya atas Aristoteles.


Setelah mengutip persamaan Aristoteles dalam Etika Nikomakhea: (5 kasur = 1 rumah), Marx menunjukkan teks di mana Aristoteles berhasil mengidentifikasi asal-muasal yang memungkinkan persamaan tersebut: “tak akan ada pertukaran tanpa kesetaraan, dan tak akan ada kesetaraan tanpa keseukuran [commensurability]” (Etika Nikomakhea V, 1133b16-18). Namun identifikasi yang telah berhasil dibuat Aristoteles ini tak membuahkan pengertian nyata tentang asal-muasal itu sebab, persis pada kalimat selanjutnya, Aristoteles menulis: “nyatanya, tak mungkinlah benda-benda yang begitu berbeda dapat menjadi seukuran” (113b18-19). Ketakberhasilan menunjuk asal-muasal itulah yang mendorong Aristoteles, pada kalimat berikutnya, untuk mengandaikan adanya kesepakatan sebagai dasar penentuan persamaan antar komoditas: “Mestilah ada sebuah unit yang ditentukan oleh kesepakatan (yang kemudian disebut uang); sebab itulah yang membuat segala ikhwal seukuran, sejauh segala benda diukur melalui uang” (1133b20-22). Berangkat dari teks Aristoteles inilah Marx lantas menulis:

Aristoteles sendiri menunjukkan kepada kita apa yang menghalangi analisis lebih jauh: kurangnya konsep nilai. Apa elemen homogen, substansi bersama, yang direpresentasikan rumah dari perspektif kasur, dalam ekspresi nilai bagi kasur? Hal itu, nyatanya, tidak ada, kata Aristoteles. Namun mengapa tidak? Terhadap kasur, rumah merepresentasikan sesuatu yang setara, sejauh ia merepresentasikan apa yang sungguh setara, baik dalam kasur maupun rumah. Sesuatu itu adalah kerja manusia.[20]

Di sini Marx kembali menegaskan kerja sebagai substansi nilai, sebagai yang-melandasi (substratum), sebagai elemen homogen yang menjadi basis determinasi pertukaran/perbandingan antar nilai, sebagai subjek yang konstitutif terhadap nilai. Itulah yang belum berhasil disadari Aristoteles ketika ia berefleksi tentang substansi dasar dari keseukuran hal-ikhwal.[21]


Melalui penjelasan di ataslah pertanyaan yang diajukan kawan Muhammad al-Fayyadl malam itu—Bagaimana proporsi nilai itu ada? Tidakkah itu tercipta melalui konsensus?—dapat dijawab. Keberhasilan Marx dalam hal ini adalah menelanjangi ilusi kontraktualisme dan konsensualisme dalam konstitusi nilai. Nilai sebuah barang tidak dikonstitusikan melalui lobi, negosiasi, atau kesepakatan di antara individu yang dipostulatkan secara spekulatif sebagai setara. Nilai sebuah barang tidak ditentukan melalui kompromi antar individu yang saling bertikai, tidak ditentukan oleh Adam yang diberi hak prerogatif dari Allah untuk menamai segala ikhwal di dunia, tidak juga ditentukan oleh konsensus antar individu yang rasional. Kerjalah yang menjadi sumber konstitutif dari nilai. Teori kontrak selalu menjadi justifikasi retrospektif bagi rezim borjuasi sebab kontrak hanyalah fenomena dari kepemilikan pribadi—seperti dikatakan oleh Anom dalam diskusi di warung setelah ruang diskusi dikunci. Kontrak, sebagaimana pertukaran, hanya dimungkinkan sejauh mengandaikan institusionalisasi kepemilikan pribadi: kita dapat menetapkan konsensus tentang harga beras sejauh beras itu sendiri merupakan bagian dari horizon kepemilikan dari setiap aku dalam kita. Padahal, seperti telah kita lihat dalam karya Engels, konsepsi kepemilikan pribadi baru muncul sesudah terjadi pembagian kerja ke dalam modus produksi pastoral; artinya, sesudah kerja itu sendiri dijalankan.***


[dari Problem Filsafat Volume IV, Maret 2010]


[1] Karl Marx, Marginal Notes on Wagner’s “Lehrbuch der politischen Ökonomie”, 1883, dalam www.marxists.org.


[2] Lih. Louis Althusser dan Etienne Balibar, Reading Capital diterjemahkan oleh Ben Brewster (London: Verso), 1979, hlm. 80.


[3] Ini juga ditegaskan bahkan oleh musuh teoretik Althusser, yakni G.A. Cohen, di dalam karya seminalnya yang menandai kelahiran mazhab Marxisme Analitik: “Use-value is the substance of commodity, and the body of capital. Political economy examines not the content or substance or body, but exchange-value and capital, the social forms they assume.” G.A. Cohen, Karl Marx’s Theory of History: A Defense (New Jersey: Princeton University Press), 2000 (Expanded Edition), hlm. 103.


[4] “Exchange-value appears first of all as the quantitative relation, the proportion, in which use-values of one kind exchange for use-values of another kind.” Karl Marx, Capital Vol I diterjemahkan oleh Ben Fowkes (Middlesex: Penguin Books), 1979, hlm. 126.


[5] “The usefulness of a thing makes it a use-value. But this usefulness does not dangle in mid-air. It is conditioned by the physical properties of the commodity, and has no existence apart from the latter.” Ibid.


[6] Ibid. Akar kata verwirklich (aktualisasi) adalah kata wirklich (aktual) yang juga merupakan akar kata dari wirklichkeit (aktualitas). Kata wirklichkeit inilah yang dipakai orang Jerman untuk menerjemahkan kata energeia (actus; aktualitas) yang digunakan Aristoteles sebagai bentuk realisasi dari dunamis (potensi).


[7] Lih. Ibid., hlm. 129.


[8] Lih. kutipan Anom tentangnya dalam bulletin ini hlm.


[9] “This primitive accumulation plays approximately the same role in political economy as original sin does in theology. […] Long, long ago there were two sorts of people; one, the diligent, intellegent and above all frugal élite; the other, lazy rascals, spending their substance, and more, in riotous living. […] Thus it came to pass that the former sort accumulated wealth, and the latter sort finaly had nothing to sell except their own skins. And from this original sin dates the poverty of the great majority who, despite all their labour, have up to now nothing to sell but themselves”. Karl Marx, Capital Vol I, op.cit., hlm. 873.


[10] Ibid., hlm. 875.


[11] “These pastoral tribes not only produced more articles of food, but also a greater variety than the rest of the barbarians. […] This, for the first time, made regular exchange possible.” Friedrich Engels, Origin of Family, Private Property and State dalam Karl Marx and Friedrich Engels: Selected Works Vol II, diedit dan diterjemahkan oleh Institut Marxisme-Leninisme (Moscow: Foreign Languages Publishing House), 1958, hlm. 309.


[12] Ibid., hlm. 311


[13] Dari perspektif totalitas masyarakat suku, produktivitas masyarakat pastoral ada di tangan lelaki sebagai Sang Gembala, yaitu ia yang memproduksi sekaligus memiliki sarana produksinya. Sementara perempuan dikesampingkan efektivitas modus produksinya jika dibandingkan dengan Sang Gembala. Perempuan, dalam perspektif totalitas produksi masyarakat, tak lagi memegang kendali atas sarana-sarana produksi yang esensial bagi suku tersebut (kecuali rahimnya sendiri). Artinya, sejauh perempuan merupakan subjek pertama yang diceraikan dari sarana produksi ekonomi, maka dapat dikatakan bahwa perempuan adalah proletariat pertama dalam sejarah.


[14] Konsepsi kerja sebagai intisari materialisme Marxis dapat kita lihat dari Tesis I yang ditulis Marx tentang Feuerbach. Ini pernah diulas dalam Problem Filsafat, no. 1, November 2009, hlm. 19-20.


[15] Karl Marx, Capital Vol I, op.cit., hlm. 131.


[16] “A thing can be a use-value without being a value. This is the case whenever its utility to man is not mediated through labour. Air, virgin soil, natural meadows, unplanted forests, etc. fall into this category. A thing can be useful, and a product of human labour, without being a commodity.” Ibid. Dari kutipan ini terlihat bahwa ada distingsi penting antara benda dan komoditas. Beberapa paragraf kemudian Marx memperjelas sumber nilai dari segala komoditas: “the value of a commodity represents human labour power pure and simple, the expenditure of human labour in general.” Ibid., hlm. 135.


[17] Ibid., hlm. 140.


[18] Ibid., hlm. 143.


[19] Ibid., hlm. 153.


[20] Ibid., hlm. 151.


[21] Marx kemudian menunjukkan bahwa ketidakberhasilan Aristoteles ini bukanlah sesuatu yang aksidental. Ia berdasar pada konfigurasi historis yang melingkupi Aristoteles, yakni ekonomi politik Yunani pada masanya yang bertopang pada kerja budak. Artinya, kerja di mata Aristoteles tidak tampak sebagai elemen homogen yang menyetarakan sebab kerja itu sendiri di masa hidupnya dilakukan oleh para budak. Aristoteles tak dapat menyadarinya, seperti ditulis Marx, “because Greek society was founded on the labour of slaves, hence had as its natural basis the inequality of men and of their labour-powers.” Ibid., hlm. 152.

Recent Posts

See All

Retrospektif Komunitas Marx

"Bagaimana Komunitas Marx Menerbitkan Jurnal Problem Filsafat dan Bubar Setelah Mentransformasi Diri" Oleh Martin Suryajaya Dalam suasana kepailitan Komunitas AksiSepihak dan amanat penderitaan rakyat

Retrospektif Komunitas AksiSepihak

"Bagaimana Komunitas AksiSepihak Berniat Melawan Dunia dan Gulung Tikar Setelah Menerbitkan Buku Pertama" Oleh Martin Suryajaya Dulu sekali, sebelum saya menerbitkan naskah-naskah buku saya di Resist

Corat-Coret Kritik atas Ekonomi-Politik Suara

Oleh Martin Suryajaya Dalam Bab 3 Kapital I, Marx menulis tentang metamorfosa komoditas. Bagaimana komoditas beralih-wujud menjadi uang untuk kemudian beralih kembali jadi komoditas yang lain? Apa yan

  • Facebook
  • YouTube
  • Instagram
  • Icon Goodreads
Kontak