Kecenderungan Estetika Yunani Antik

Updated: Jan 28

[Nukilan buku Sejarah Estetika, Gang Kabel, 2016]

Oleh Martin Suryajaya



Sebelum membicarakan pemikiran Yunani Antik tentang estetika, ada baiknya kita menjernihkan terlebih dahulu kerangka umum dari estetika periode tersebut. Ada empat kekhasan estetika Yunani Antik yang dapat disebut di sini:

  • Konsepsi tentang seni sebagai ‘teknik’.

  • Konsepsi tentang seni yang ‘rasional’.

  • Konsepsi tentang kerja seni sebagai suatu aktivitas yang cirinya berlawanan dengan ‘kreativitas’.

  • Kemunculan pendekatan formalis dan fungsionalis tentang seni yang dipersatukan dalam paradigma mimēsis.

Keempat watak estetika Yunani ini akan tercermin dalam pendekatan berbagai pemikir yang akan diulas dalam Bab ini. Untuk itu, kita perlu sedikit memperjelasnya terlebih dahulu.


Seni sebagai Teknik

Secara etimologis, kata ‘art’ dalam bahasa Inggris merupakan terjemahan dari kata ‘ars’ dalam bahasa Latin, yang pada gilirannya merupakan terjemahan dari kata ‘tekhnē’ dalam bahasa Yunani. Tekhnē adalah juga akar kata dari ‘technique’ atau ‘teknik’, yang artinya kemampuan atau keahlian (skill) berdasarkan pengetahuan dan metode tertentu untuk menghasilkan objek atau efek tertentu. Namun, hubungan antara seni dan teknik tidak berhenti pada aras terminologis saja.


Orang Yunani Antik memang menyamakan seni dan teknik—penyamaan yang masih berlaku di era Romawi dan awal Modern.[1] Sebagai ilustrasi, mari kita periksa daftar aktivitas yang disebut sebagai ‘seni’ oleh Plato dalam Sophistes (218e-227b):

  • seni memancing

  • seni agrikultur

  • seni peternakan

  • seni pertukangan

  • seni meniru (seni lukis, patung, musik, puisi, arsitektur)

  • seni menghasilkan uang

  • seni bertarung

  • seni berburu

  • seni menyelam

  • seni merompak

  • seni menculik

  • seni menjadi seorang tiran

  • seni membujuk

  • seni olah raga

  • seni pengobatan

  • seni perang

  • seni menangkap kutu [the art of louse-catching]

Daftar yang diberikan Plato tersebut tidak dimaksudkan sebagai daftar lengkap tentang seni, sebab di tempat lain ia masih menyebut seni-seni yang lain.


Melalui daftar tersebut kita bisa mengerti bahwa apa yang sekarang disebut ‘seni’ sejatinya hanyalah sebagaian kecil dari apa yang ada dalam gambaran orang Yunani Antik. ‘Seni pengobatan’, misalnya, lazimnya kita klasifikasikan sebagai ilmu pengetahuan (science) dan bukan seni. Lain lagi dengan ‘seni menangkap kutu’—suatu aktivitas yang kini umumnya dipandang bukan seni maupun sains, melainkan teknik praktis semata.


Apabila kita hendak menyelam ke dalam alam pikir Yunani Antik tanpa memaksakan skema kebudayaan kita sendiri, maka kita hanya bisa menyimpulkan dari daftar tujuh belas seni tersebut: semuanya adalah aktivitas yang melibatkan kemampuan berlandaskan pengetahuan dan metode tertentu yang difungsikan untuk menghasilkan efek tertentu. Inilah satu-satunya benang merah yang bisa ditarik dari daftar tersebut. Persis itulah yang dimaksud sebagai seni—tak lain daripada teknik.


Ciri Rasional Seni

Konsekuensi dari pengertian tentang seni sebagai teknik adalah bahwa seni, bagi orang Yunani Antik, berciri rasional. Yang dimaksud sebagai rasional di sini adalah proses yang dicirikan oleh kognisi konseptual. Itulah sebabnya Aristoteles mendefinisikan seni sebagai “kemampuan untuk memproduksi sesuai dengan penalaran yang tepat” (Tatarkiewicz 1980: 50). Demikian juga dengan Plato: “Saya menolak untuk menamai apapun yang irasional sebagai seni” (Gorgias 465a).


Rasionalitas seni Yunani Antik terletak pada dominannya aturan (rule) dalam praktik berkesenian. Seorang musisi, misalnya, mesti paham matematika sebab hubungan antar nada diatur secara matematis. Perupa juga demikian. Polikleitos, seorang pematung dari abad ke-5 SM, telah menetapkan tiga kanōn (istilah Yunani untuk ‘pakem’ atau ‘standar’) representasi visual tubuh manusia yang proporsional dan menjadi aturan dasar bagi para pematung dan pelukis selanjutnya (Tatarkiewicz 1980: 245).[2]


Apa yang dimaksud rasional dalam seni Yunani juga berkaitan dengan ‘proporsi’ (ratio dalam bahasa Latin). Itulah mengapa Aristoxenos, seorang teoretisi musik dari abad ke-4 SM, menulis tentang teori harmoni atau hubungan proporsi matematis antar nada sebagai dasar seni musik.[3] Penekanan pada rasio juga mengemuka dalam konteks arsitektur, misalnya dalam proporsi matematis antara lebar kolom dan jarak antar kolom berdasarkan tiga pakem arsitektur Klasik (Dorian, Ionian dan Korinthian).


Corak rasional seni Yunani dirumuskan dengan mencolok oleh estetikawan asal Polandia, Wladsylaw Tatarkiewicz:

Tekhnē dalam bahasa Yunani ... berarti keahlian [...]. Keahlian berpijak pada pengetahuan tentang aturan, sehingga tidak ada seni tanpa aturan, tanpa pedoman [...]. Demikianlah konsep aturan merasuk ke dalam konsep seni, ke dalam definisinya. Melakukan apapun tanpa aturan—hanya dari inspirasi atau fantasi—bukanlah seni bagi orang Yunani maupun Abad Pertengahan: itu justru kebalikan dari seni.” (Tatarkiewicz 1980: 11-12)

Rasionalitas seni Yunani yang melibatkan pengetahuan akan aturan dan proporsi ilmiah juga menunjuk pada ciri ketiga estetika Yunani: kerja kesenian justru asing terhadap gelora kreatif yang datang ‘dari inspirasi atau fantasi’.


Seni versus Kreativitas

Orang Yunani Antik tidak punya kata untuk ‘kreativitas’ maupun ‘penciptaan’; kata itu kita miliki sekarang dari turunan bahasa Latin, creatio. Orang Yunani Antik hanya mengenal ‘pembuatan’ atau ‘produksi’—inilah yang mereka sebut poiēsis (dari verba poiein: ‘membuat’). Sementara kata ‘penciptaan’ memuat acuan pada proses menghasilkan sesuatu dari ketiadaan, kata ‘pembuatan’ hanya menunjuk pada proses perakitan ulang dari bahan-bahan yang sudah ada sebelumnya. Buat orang Yunani Antik, penciptaan dari ketiadaan itu tidak masuk akal.


Dalam kerangka estetika Yunani Antik, seniman bukanlah pencipta karena keberadaan pencipta mengandaikan kebebasan bertindak, sementara konsepsi Yunani tentang seniman justru mengandaikan kepatuhan pada pakem, pada kanōn (Tatarkiewicz 1980: 244). Dan pakem tersebut dipandang sudah inheren dalam alam semesta fisik, sehingga mengikuti pakem artinya meniru alam. Seniman, karenanya, adalah peniru (imitator), bukan pencipta. Seperti dinyatakan Tatarkiewicz (1980: 244): “Kreativitas dalam seni bukan hanya tidak mungkin, tetapi juga tidak diharapkan.”


Ada hubungan yang khas antara pakem, kealamiahan dan fungsionalitas, di satu sisi, serta kreativitas dan disfungsionalitas, di sisi lain. ‘Kreativitas’ mensyaratkan keluar dari pakem, sementara pakem didapat dari pengetahuan tentang struktur alam, sehingga ‘kreativitas’ adalah biang dari ketidakalamiahan. Menyalahi pakem berarti menyalahi alam. Akibatnya: bangunan yang mudah ambruk, musik yang menyakiti telinga, lukisan yang buruk.


Namun ada catatan yang perlu ditambahkan di sini mengenai ciri teknis seni Yunani Antik. Secara historis, orang Yunani mulanya tidak melihat puisi dan musik sebagai seni. Sebabnya karena dalam kedua bidang itu, proses pengkaryaan lebih banyak ditentukan oleh inspirasi spiritual dari para dewi ‘kesenian’, para Mousai.[4] Bahkan kata ‘musik’ dapat dilacak akar katanya pada kata mousikē dalam bahasa Yunani yang artinya ‘seninya para Mousai’. Oleh karena ditentukan oleh inspirasi spiritual, puisi dan musik tidak bercorak rasional sehingga tidak dianggap bagian dari seni.


Tetapi anggapan semacam ini berhenti ketika orang Yunani Antik mulai menemukan aturan formal yang mengatur kedua bidang tersebut, misalnya penemuan Pitagoras atas struktur matematis dari harmoni akustik. Demikian juga dengan meningkatnya pengetahuan tentang aturan metrum (baris) puisi. Dengan ditemukannya aturan dan rasionalitas dari musik dan puisi, maka keduanya cenderung dipahami sebagai seni.[5] Inilah yang mengemuka, antara lain, dalam klasifikasi yang diberikan Aristoteles atas puisi sebagai seni imitatif, seperti halnya lukisan.[6]


Kesetangkupan: Bentuk dan Fungsi

Orang Modern seperti kita mengenal dua pendekatan besar dalam estetika, khususnya mengenai nilai estetis atau keindahan sebuah karya seni. Pertama, formalisme yang melihat bahwa nilai karya seni ditentukan dari sifat-sifat internal karya tersebut (hubungan proporsi antar bagian, ritme, rima, diksi, dsb.). Kedua, fungsionalisme yang melihat bahwa nilai karya seni ditentukan dari hubungan dan fungsinya bagi kenyataan di luar karya tersebut (muatan semantik, fungsi moral, religius, institusional, sosial, politik, kegunaan praktis, dsb.). Distingsi semacam ini asing bagi orang Yunani Antik.

Nilai estetis atau keindahan dalam pengertian Yunani mencakup banyak hal. Tatarkiewicz (1980: 122) menyebutkan beberapa contoh penggunaan kata ‘indah’ (kalos):

  • benda yang indah

  • pikiran yang indah

  • hukum yang indah

  • kepribadian yang indah

Melalui ilustrasi tersebut nampak bahwa pengertian Yunani Antik tentang keindahan terkait erat dengan kebenaran (alethēia) dan kebaikan (agathōn). Yang-indah berkait erat dengan yang-benar karena frase ‘pikiran yang indah’ dapat dimengerti sebagai ‘pikiran yang benar’. Keindahan juga kerap diasosiasikan dengan kebaikan seperti dalam ideal kepribadian manusia Yunani Antik: kalos kagathos, yang artinya ‘indah dan baik’.


Keterkaitan pengertian antara keindahan, kebenaran dan kebaikan ini tentu menyumbangkan ciri tertentu pada karakterisasi Yunani Antik atas masalah penentuan nilai estetis. Keterkaitan itulah yang tertangkap dalam konsep summetria, atau ‘kesetangkupan’ (symmetry) dalam bahasa Yunani. Dalam konsep itulah tercakup saripati estetika Klasik.


Ada dua pengertian umum Yunani terhadap kata summetria. [7] Yang pertama adalah ‘tertata oleh proporsi yang tepat’. Yang kedua adalah ‘bersifat seukur’ (commensurable).[8] Kedua pengertian ini digunakan sebagai acuan keindahan dalam berbagai cabang seni Yunani Antik (Tatarkiewicz 1980: 222). Summetria mengacu pada ideal keindahan dalam karya-karya rupa, seperti lukisan, patung, bangunan. Padanan kata tersebut dalam konteks seni musik adalah harmonia. Demikian pula istilah taksis (‘tatanan’) menjadi dasar dari kata ‘sintaksis’ atau ‘struktur kata’ yang manifestasinya dalam puisi adalah rima. Dibahasakan secara lain, simetri adalah harmoni visual, sementara harmoni adalah simetri bunyi sebagaimana rima adalah simetri verbal.


Bagi orang Modern, pengertian Yunani tentang keindahan ini tentu akan dianggap bercorak formalis. Alasannya karena keindahan dirumuskan dalam idiom-idiom formal seperti proporsi, struktur, relasi, dsb. Namun anggapan ini sesat. Sumber kesesatan itu adalah pengabaian atas asumsi yang digunakan para pemikir Yunani Antik dalam merumuskan kriteria ‘formal’ tersebut.


Asumsi dari gagasan tentang keindahan sebagai summetria adalah bahwa proporsi itu sendiri dipandang sudah inheren di alam semesta dan apa yang tampil dalam karya seni adalah tiruan (mimēsis) dari proporsi inheren semesta itu.[9] Sebuah karya seni disebut indah karena ia summetros (‘setangkup’; ‘proporsional’), dan ia disebut summetros karena pertama-tama alam yang hendak ditirunya memang summetros. Mengapa karya seni mesti dikaitkan dengan alam? Karena seni, bagi orang Yunani Antik, mengandung fungsi meniru alam. Dikotomi Natur versus Kultur masih asing bagi mereka. Karenanya, kesenian yang dibasiskan pada kenyataan alamiah adalah sesuatu yang wajar dalam alam pikir mereka.


Kesimpulannya, penggunaan sistem klasifikasi Modern—seperti formalisme dan fungsionalisme—tidak dapat diterapkan secara ketat pada konsepsi estetika Yunani Antik. Atau, jika kita tetap ingin menggunakan kriteria Modern, dapat dikatakan bahwa estetika Yunani Antik bercorak formalis sejauh kriteria formal tersebut (proporsi) bertopang pada kriteria fungsional (kesesuaian dengan proporsi alam). Ciri fungsional ini mengemuka dalam karya seni yang memenuhi tujuannya: bangunan yang tidak mudah ambruk, patung yang tak cepat tumbang dan musik serta lukisan yang indah—oleh karena sesuai dengan proporsi inheren alam. Inilah yang berhasil dicapai para seniman Yunani dengan penemuan pakem (kanōn) arsitektur, patung dan musik.[10]


Ciri proporsional keindahan itu jugalah yang membuat kategori estetis Yunani Antik berkaitan erat dengan kategori epistemologis dan etis. Yang-indah itu benar karena dua alasan: (1) karena keindahan berarti proporsional berdasarkan struktur alam kenyataan dan (2) karena kesesuaian terhadap kenyataan adalah nama lain dari kebenaran. Yang-indah juga baik karena dua alasan: (1) karena inti kebaikan moral adalah sikap ‘tahu batas’ (sōphrōsunē) atau ‘tahu ukuran’ dan (2) karena berdasarkan akar katanya, summetria juga bisa mengacu pada cara bersikap ‘dengan ukuran’ (sun: ‘dengan’ + metron: ‘ukuran’).[11]



[1] Penyamaan itu bahkan kadang juga masih berlaku sampai hari ini. Misalnya, ketika kita menyebut logika sebagai ‘seni berpikir’ atau dalam judul buku panduan praktis seperti ‘Seni Kewirausahaan: 10 Tips Praktis agar Cepat Kaya’.


[2] Tiga pakem itu berdasar pada tiga patung ciptaannya: Doriphoros (pemegang lembing), Diadumenos (pemegang ikat kepala) dan Diskophoros (pemegang cakram).


[3]Harmonic occupies a primary and fundamental position; its subject matter consists of the fundamental principles — all that relates to the theory of scales and keys; and this once mastered, our knowledge of the science fulfils every just requirement, because it is in such a mastery that its aim consists. In advancing to the profounder speculations which confront us when scales and keys are enlisted in the service of poetry, we pass from the study under consideration to the all-embracing science of music, of which Harmonic is but one part among many. The possession of this greater science constitutes the musician.” (Harmonics 1-2)


[4] Menurut tradisi, ada sembilan Mousai: Kalliope (puisi epik), Klio (sejarah), Erato (puisi lirik), Euterpe (lagu dan puisi elegi), Melpomene (tragedi), Poluhumnia (himne dan agrikultur), Terpsikhore (tari), Thalia (komedi) dan Urania (astronomi). Kesembilannya merupakan keturunan dewa Zeus dengan seorang Titan bernama Mnemosune (yang artinya ‘ingatan’).


[5]Before the ancient idea of art could become the modern idea, two things were to happen: poetry and music would be incorporated into art, while the handicrafts and sciences would be eliminated from it. The first happened before the end of antiquity. Poetry and music could indeed be considered arts as soon as their rules were discovered. This happened early so far as music was concerned: ever since the Phytagoreans discovered the mathematical laws of acoustic harmony, music has been considered a branch of learning as well as an art.” (Tatarkiewicz 1980: 51)


[6]The poet being an imitator just like the painter or other maker of likenesses, he must necessarily in all instances represent things in one or other of three aspects, either as they were or are, or as they are said or thought to be or to have been, or as they ought to be.” (Poetics 1460b8-10).


[7]The meaning of the term, symmetry, in Greek antiquity depends on the context in which it was invoked: (1) in mathematics it means a measure that expresses a ratio between quantities of the same kind (having a common measure; commensuration or due proportion), and (2) in the arts and descriptions of natural phenomena it means well proportioned.” (Hon & Goldstein 2008: 70)


[8] Bdk. Definisi 1 dari Buku X, Stoikheia karangan Euklides: “Those magnitudes measured by the same measure are said to be commensurable [summetra], but those of which no magnitude admits to be a common measure are said to be incommensurable [asummetra]” (Elements X Def. 1). Bdk. juga Aristoteles dalam hal ekonomi: “[...] neither would there have been association if there were no exchange, nor exchange if there were not equality, nor equality if there were not commensurability [summetria].” (Nicomachean Ethics 1133b16-18)


[9]Proportion had nothing specifically artistic in it; on the contrary, it was perceived rather in nature, and in art only insofar as art approximated to nature.” (Tatarkiewicz 1980: 90-91)


[10] Pakem arsitektur dan patung Klasik telah disebutkan sebelumnya. Pakem musik Yunani Antik adalah tujuh modus: Dorian, Phrygian, Hypophrygian, Lydian, Mixolydian, Hypolydian dan Locrian.


[11] Bdk. Guthrie (1985: 317): “We are of course approaching Plato's view of the soul as he expounds it in the Republic, and can see how much he owed to his Pythagorean friends. There (431ff.) the virtue of 'temperance' (sophrosyne) is said to be the virtue of the soul as a whole, the result of the smooth working together of all its parts. But Plato speaks in Pythagorean language of it 'singing together through the whole octave', and calls sophrosyne straight out a harmonia.”

0 views
  • Facebook
  • YouTube
  • Instagram
  • Icon Goodreads
Kontak