Kapitalisme Modern dan Filsafatnya

Updated: Jan 28

Oleh Martin Suryajaya




Pada tahun 2000 di Prancis, sekelompok mahasiswa ekonomi menerbitkan sebuah petisi protes yang mempersoalkan kecenderungan autistik ilmu ekonomi karena semakin tenggelam dalam abstraksi matematis dan kehilangan sentuhan dengan realitas (Fullbrook 2006: 1). Tony Lawson, seorang ahli filsafat ekonomi dari Cambridge, melancarkan kritik atas pendekatan ekonomi kontemporer yang kian bergantung pada asumsi matematiko-deduktif yang hanya valid dalam kondisi eksperimental yang terkontrol secara artifisial—kondisi yang tak mungkin ada dalam kenyataan sosial (Lawson 2003: 4). Dengan demikian, telah semakin disadari bahwa ekonomi kontemporer seperti kehilangan realitasnya sendiri. Realitas telah direduksi ke dalam aksioma-aksioma matematis yang sekali tercipta tak pernah diuji kembali validitas empiriknya. Dengan begitu, ilmu ekonomi yang ada sekarang tak lagi berdiri di atas bumi kenyataan melainkan di atas kabut abstraksi matematis yang diasumsikan adalah kenyataan itu sendiri. Di sisi lain, realitas ekonomi itu sendiri juga bergerak ke arah yang kian spekulatif. Pertukaran produk-produk finansial dianggap lebih cepat mendatangkan laba ketimbang pertukaran produk-produk riil. Inilah yang kemudian meletus dalam krisis finansial Amerika Serikat di tahun 2008. Dalam konteks Indonesia sendiri, kecenderungan spekulatif kebijakan ekonomi juga mengemuka pada kasus MP3EI (Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Indonesia) yang dikeluarkan pemerintah pada tahun 2013. Akumulasi modal melalui paradigma kebijakan debottlenecking (deregulasi dan swastanisasi) lebih diprioritaskan ketimbang kemandirian ekonomi. Akibatnya, sebagaimana ilmu ekonomi semakin jauh dari realitasnya, realitas ekonomi juga kian dipacu agar melesat meninggalkan konteks riil dan landasan keberadaannya. Krisis ilmu ekonomi berjalan bergandengan dengan krisis perekonomian itu sendiri.


Satu-satunya cara untuk mengatasi krisis ini adalah dengan menyuntikkan kembali dimensi realis ekonomi. Artinya, mengembalikan pengertian tentang realitas ekonomi sebagai realitas yang tak bisa sepenuhnya direduksi ke dalam asumsi para pelaku ekonomi. Filsafat ekonomi kontemporer yang spekulatif mesti dikritik dengan mengkaji kembali sejarah evolusi gagasannya. Berbeda dengan Lawson yang berfokus pada perkembangan matematisasi ilmu sosial sebagai sumber krisis ekonomi dewasa ini, kita akan berfokus pada evolusi gagasan ekonomi tentang nilai. Menjadi anti-realisnya ekonomi dan ilmu ekonomi belakangan ini dapat dijelaskan dari proses historis pembentukan teori nilai yang anti-realis.


Transformasi Teori Nilai

Apakah yang membuat seikat jagung dapat dipertukarkan dengan sejumlah uang dan segepok saham dapat dikonversi ke dalam prospek yang terukur secara moneter? Masing-masing hal itu, tentu saja, adalah entitas yang berbeda. Fakta bahwa hal-hal yang berbeda-beda itu dapat dipertukarkan mensyaratkan adanya dimensi keseukuran di antara mereka. Ukuran itu adalah nilai. Seikat jagung dapat ditukarkan dengan sekarung beras karena keduanya memiliki nilai yang sama. Oleh karena ukuran itu disyaratkan dalam setiap tindakan ekonomi dewasa ini, maka untuk memahami ekonomi kontemporer kita harus memeriksa konsepsi nilai seperti apa yang diandaikannya.

Mengapa bisa ada fondasi ukuran bagi barang yang berbeda-beda? Ukuran ini dimungkinkan karena ada suatu kesamaan yang mengiringi perbedaan tersebut. Perdebatan besar dalam sejarah pemikiran ekonomi adalah tentang asal-muasal kesamaan tersebut. Para ekonom Klasik akan melihat asal-usul keseukuran di antara komoditas itu sebagai sesuatu yang inheren di dalam komoditas itu sendiri, sementara para ekonom Neoklasik akan memandang asal-usul tersebut terletak pada sesuatu yang eksternal terhadap komoditas itu sendiri. Kita akan memeriksa evolusi gagasan ekonomi tentang nilai berikut ini.


Pengertian bahwa pertukaran mensyaratkan keseukuranan sudah muncul sejak Aristoteles. Dalam Etika Nikomakhea, ia menyatakan bahwa pertukaran mensyaratkan kesetaraan dan kesetaraan mensyaratkan keseukuranan (1133b15-20). Namun Aristoteles belum dapat menjelaskan asal-usul keseukuranan itu selain dengan mengasumsikannya sebagai hasil kesepakatan yang mengemuka dalam wujud uang (nomisma). Dengan adanya uang sebagai ukuran segala barang-barang yang ditetapkan melalui konvensi, maka kita dapat mengekspresikan nilai sebuah komoditas dalam rupa komoditas lain. Penjelasan tentang asal-usul keseukuranan itu baru muncul dalam pemikiran ekonomi Skolastik, khususnya dalam pemikiran Thomas Aquinas.


Apa yang menjadi pokok perhatian Aquinas adalah penentuan kriteria bagi ‘harga yang adil’ (just price). Dalam arti apakah harga komoditas bisa dikatakan adil? Jawabnya: apabila harga itu sesuai dengan nilainya. Apabila seorang pedagang menjual komoditas di atas nilai barang itu, maka pedagang itu telah melakukan tindakan yang tidak adil (Meek 1973: 12). Harga yang adil dari sebuah komoditas adalah harga dari upaya yang dicurahkan (ongkos remunerasi) selama memproduksi komoditas tersebut. Harga yang tidak adil, sebaliknya, adalah harga yang melebihi atau kurang dari harga upaya tersebut. Dengan pengertian inilah Aquinas telah mengantisipasi kerangka teoretik ekonomi Klasik sejak Adam Smith hingga Karl Marx, yakni ‘teori nilai-kerja’ (labour theory of value). Aquinas, implikasinya, mengakui adanya distingsi faktual antara nilai sebuah komoditas yang ditentukan dari kerja yang diperlukan untuk memproduksinya (atau harga adilnya) dan harga barang yang ditentukan oleh kontinjensi yang terjadi dalam proses transaksi di pasar.


Solusi Aquinas atas permasalahan ‘harga yang adil’ telah membukakan dimensi baru dalam pengertian tentang asal-usul keseukuran antar komoditas, asal-usul nilai. Asal-usul itu tak lain adalah kerja. Seikat jagung dapat diperbandingkan dengan sekarung beras karena keduanya merupakan ekspresi dari sebuah besaran homogen, yakni sejumlah kerja secara umum. Pengertian inilah yang dipegang oleh Adam Smith dalam The Wealth of Nations. Adalah hal yang alamiah bahwa sebuah barang yang dihasilkan dengan dua hari kerja lebih bernilai ketimbang barang yang diproduksi dengan satu hari atau satu jam kerja saja.[1] Selain itu, Smith mengatakan bahwa nilai sebuah komoditas dihitung berdasarkan jumlah kerja yang dimiliki (labour commanded) yang dapat ditukarkan dengan komoditas lain. Smith juga memilah nilai tukar ini (value in exchange) dari nilai pakai (value in use) atau kegunaan komoditas. Nilai pakai tidak berhubungan langsung dengan nilai tukarnya, sebagaimana air yang memiliki nilai pakai yang lebih tinggi daripada berlian justru lebih rendah nilai tukarnya dibanding berlian (Smith 1937: 28). Nilai tukar tidak ditentukan jumlahnya dari nilai pakai melainkan oleh kerja. Berdasarkan pengertian inilah Smith membangun konsepnya tentang ‘harga alamiah’ (natural price). Harga alami komoditas adalah penjumlahan dari sewa tanah, upah kerja dan laba pada taraf normal yang muncul dalam proses produksi komoditas tersebut. Konsep ini dipilahnya dari ‘harga aktual’ atau ‘harga pasar’ (market price), yakni harga yang muncul dari proporsi antara penawaran dan permintaan terhadap komoditas tersebut di pasaran.


Smith menerangkan hubungan di antara kedua bentuk harga tersebut—sebuah penjelasan yang akan mengkonsolidasikan teori nilai-kerja sebagai tulang punggung ekonomi Klasik. Andaikan bahwa dalam dua jam seorang pemburu dapat memperoleh seekor musang atau dua ekor rusa. Dalam ekspresi nilainya, nilai-tukar kedua barang itu adalah 1 musang = 2 rusa. Lalu andaikan bahwa karena mekanisme penawaran dan permintaan maka satu musang dapat ditukarkan dengan satu rusa di pasar. Situasi ini tidak akan stabil karena semua pemburu akan meninggalkan perburuan musang dan beralih berburu rusa. Akibatnya, penawaran atas rusa akan meningkat dan pasokan musang akan menurun. Situasi ini tidak akan bertahan karena semua pemburu akan beralih berburu rusa ketimbang musang (sejauh dalam satu jam mereka bisa memperoleh dua ekor rusa atau seekor musang). Akibatnya, komoditas rusa akan membanjiri pasar dan akhirnya menurunkan permintaan akan rusa dan menaikkan permintaan akan musang. Dengan demikian, kita kembali pada situasi semula, 1 musang = 2 rusa—dengan kata lain, kita kembali pada titik harga alaminya. Persamaan yang berbasis pada kerja itu, karenanya, adalah rasio ekuilibrium dari pertukaran (Sweezy 1968: 46-47). Dalam bahasa Smith, harga alami yang dikonstitusikan oleh kerja merupakan sebuah titik di mana berbagai variasi harga pasar akan “secara terus-menerus bergravitasi padanya” (Smith 1937: 58). Di kemudian hari inilah yang disebut sebagai ‘Hukum Nilai’.

Konsepsi Smith tentang kerja sebagai asal-usul keseukuran antar komoditas (asal-usul nilai) dan tentang Hukum Nilai sebagai pusat gravitasi yang pada analisis terakhir menentukan variasi harga ini juga diakui—tentunya dengan koreksi—oleh hampir seluruh ekonom Klasik, termasuk David Ricardo dan Karl Marx. Bagi keseluruhan mazhab Klasik, distingsi antara nilai pakai dan nilai tukar dipegang teguh. Agar ada nilai tukar dan harga mesti ada nilai pakai yang bermakna secara sosial dan nilai pakai dicirikan oleh karakter fisik-material komoditas dan tidak menentukan nilai komoditas itu.[2] Dengan kesadaran ini, para ekonom Klasik siap menghalau segala bentuk penjelasan yang mereduksi nilai pada mekanisme penawaran dan permintaan. Nilai, bagi para ekonom Klasik, adalah sesuatu yang dikonstitusikan dari dalam ranah produksi. Ranah sirkulasi hanya menghasilkan deviasi sementara harga pasar atas nilai dan, karenanya, modus sirkulasi itu sendiri ditentukan oleh modus produksinya.


Teori nilai-kerja yang dikoreksi oleh Ricardo[3] akan berkembang pada abad ke-19 menjadi tulang punggung ekonomi radikal bertendensi sosialis seperti yang digagas oleh Thomas Hodgskin, John Gray, William Thompson dan Proudhon. Kaum ‘sosialis-Ricardian’ ini menarik implikasi dari pengertian Ricardo bahwa kerja adalah sumber nilai sampai kepada konsekuensi politiknya: sudah dari kodratnya bahwa semua hasil kerja mesti dimiliki oleh pekerja (Roncaglia 2005: 221). Konsekuensi politik yang ‘berbahaya’ inilah yang menyebabkan mayoritas ekonom pasca-Ricardo berupaya menghindar dari konsepsi nilai Ricardian (bdk. Meek 1973: 124-125). Dalam pencarian akan teori nilai yang baru menjelang akhir abad ke-19 inilah keseluruhan bangunan ekonomi kontemporer dilandasi.


Memasuki akhir abad ke-19, kita menemukan tiga sosok ekonom besar yang akan menjadi tulang punggung ekonomi kontemporer: William Stanley Jevons, Carl Menger dan Léon Walras. Ketiganya saling bersepakat dalam pandangannya tentang teori nilai yang berkebalikan dengan paradigma Klasik. Dalam pembukaan risalahnya yang berjudul Teori Ekonomi-Politik, Jevons menyatakan dengan jelas: “nilai bergantung pada utilitas” (Jevons 2003: 415). Dengan pernyataan ini ia menyamakan nilai pakai dan nilai—pengertian yang tentu akan ditolak mentah-mentah oleh Smith dan para ekonom Klasik lain. Namun kelirulah kita jika kita memahami nilai pakai yang mendasari nilai itu sebagai karakter material komoditas yang objektif. Nilai pakai atau utilitas merupakan hal yang subjektif bagi Jevons. Utilitas, tulis Jevons, “mesti dilihat sebagai sesuatu yang diukur oleh—atau bahkan nyatanya identik dengan—penambahan atas kebahagiaan seseorang” (Jevons 2003: 420). Utilitas adalah selisih (margin) kebahagiaan seseorang berkenaan dengan komoditas tertentu. Dengan itulah Jevons membangun pendasaran bagi ilmu ekonomi yang berkembang secara umum sampai hari ini: teori nilai utilitas-marjinal (marginal utility theory of value). Oleh karena nilai ditentukan oleh nilai pakainya, dan nilai pakai ini ditentukan oleh subjektivitas agen ekonomi, maka kajian ekonomi adalah kajian psikologis-matematis tentang manusia. Kajian itulah yang tertuang dalam Bab kedua buku tersebut sebagai, mengikuti utilitarianisme Bentham: ‘teori tentang kenikmatan dan rasa sakit’—yang kemudian akan diteruskan oleh Francis Ysidro Edgeworth dengan mengkaji ‘kalkulus ekonomi’ sebagai cabang dari ‘kalkulus kebahagiaan’ (Edgeworth 2003: 484).


Apa yang dinyatakan Jevons dalam kurun waktu yang kurang lebih sama dinyatakan juga oleh Menger dan Walras. Dalam Prinsip-Prinsip Ekonomi, Menger menulis bahwa nilai adalah soal “penting/tidaknya barang-barang bagi kita” (Menger 2003: 445). Berdasarkan titik tolak ini, Menger kemudian menyimpulkan bahwa “nilai komoditas adalah fenomena yang muncul dari … hubungan antara kebutuhan akan komoditas dan ketersediaan jumlahnya.” Dengan kata lain, nilai komoditas ditentukan oleh penawaran dan permintaan. Oleh karena nilai merupakan hasil evaluasi subjektif berdasarkan titik tolak konsumen di hadapan kelangkaan/keberlimpahan komoditas, dan dalam kaitan dengan kebutuhan atasnya, maka teori tentang nilai menjadi teori tentang subjek (konsumen). Arah yang serupa juga ditempuh oleh Walras dalam Elemen-Elemen Ekonomi Murni. Di sana ia mengkritik teori nilai-kerja dengan menunjukkan bahwa paradigma teoretik ini tidak bisa menjelaskan mengapa nilai barang-barang langka (misalnya lukisan) bisa lebih tinggi ketimbang barang-barang biasa walaupun jumlah kerja yang tercurah di dalamnya sama. Untuk mengatasi kelemahan itulah Walras mengajukan paradigma teoretik yang melihat nilai sebagai ikhwal yang berasal dari persoalan ‘kelangkaan’ (rareté) yang artinya tak lain adalah utilitas marjinal (Dooley 2005: 188). Melalui transformasi teori nilai inilah ilmu ekonomi Neoklasik dibangun di atas puing-puing Klasisisme.


Implikasi dari perubahan teori nilai ini luar biasa bagi ilmu ekonomi secara keseluruhan. Maurice Dobb mencatat setidaknya dua pergeseran penting yang diakibatkan oleh transformasi teori nilai tersebut (Dobb 2002: 167-169). Yang pertama adalah pengalihan fokus dari produksi ke konsumsi. Sementara ekonomi Klasik selalu menempatkan basis kalkulasi nilai pada aras penawaran (dalam kerangka ongkos produksi), ekonomi Neoklasik menaruhnya pada aras permintaan. Konsekuensi lebih lanjut dari pergeseran ini adalah transformasi ilmu ekonomi menjadi kajian tentang tingkah laku konsumen yang dianalisis secara individual. Individualisme metodologis (yang berangkat dari individu sebagai unit analisis ke arah masyarakat sebagai agregat individual) menjadi konsekuensi logis dari teori nilai utilitas. Apabila Smith, Ricardo dan Marx selalu memberikan perhatian pada pembagian kerja (dan karenanya analisis kelas) sebagai konteks kegiatan ekonomi, para ekonom Neoklasik berangkat dari individu yang diabstraksikan dari segala relasi sosialnya dan yang karakternya dipostulatkan secara matematis dalam aksioma. Yang kedua adalah perubahan basis ekonomi dari produksi ke sirkulasi. Dobb menyatakan bahwa apabila para ekonom Klasik melihat bahwa “pokok-pokok penentu distribusi disituasikan pada kondisi-kondisi produksi”, para ekonom Neoklasik menolaknya dengan menyatakan bahwa “distribusi ditentukan dari dalam pasar atau proses pertukaran” itu sendiri (Dobb 2002: 169). Karena nilai ditentukan dari sisi subjektif konsumen, maka nilai sepenuhnya diciptakan di dalam pasar dan penciptaan nilai di pasar inilah yang menentukan corak produksi. Apabila para ekonom Klasik masih menteorikan distribusi pendapatan dan berargumen dalam kerangka distribusi itu (sewa untuk tuan tanah, upah untuk pekerja dan laba untuk kapitalis)[4], para ekonom Neoklasik menyamakan distribusi dengan pertukaran itu sendiri sehingga mengaburkan distingsi di antara hubungan-hubungan produksi dalam masyarakat.


Apa yang terjadi sebagai konsekuensi dari transformasi teori nilai, singkatnya, adalah perubahan paradigma dalam memandang realitas ekonomi secara keseluruhan. Dengan kata lain, perubahan paradigmatik dari teori nilai-kerja ke teori nilai-utilitas meniscayakan perubahan ontologi. Kita akan mencoba menjelajahi dimensi-dimensi dari ‘ontologi Neoklasik’ ini bermula dari pandangannya tentang hubungan antara subjek dan objek dalam ekonomi.


‘Revolusi Kopernikan’ dalam Ilmu Ekonomi

‘Revolusi Marjinalis’ yang dicanangkan oleh Jevons, Menger dan Walras telah menghadirkan suatu ‘Revolusi Kopernikan’ dalam memandang realitas ekonomi. Revolusi ini dengan jelas tergambar dalam pernyataan deklaratif Menger tentang nilai berikut ini:

“Kepentingan yang kita kenakan pada benda-benda dari dunia eksternal hanyalah sebuah luapan [outflow] dari kepentingan bagi kita berkenaan dengan kesinambungan dan perkembangan keberadaan kita (hidup dan kesejahteraan). Nilai, karenanya, bukanlah sesuatu yang inheren dalam bendanya, bukan sifat bendanya, melainkan hanyalah sifat penting yang kita kenakan berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan kita” (Menger 2003: 446)

Sebagaimana Immanuel Kant menggeser fokus filsafat dari objek ke subjek dan mengasalkan filsafatnya pada kajian tentang struktur subjek penahu, Menger menggeser fokus ekonomi dari konsepsi nilai yang dikonstitusikan pada aras produksi ke konsepsi nilai yang dikonstitusikan pada aras konsumsi dan karenanya mendasarkan ekonomi pada kajian tentang konsumen. Nilai, dengan demikian, tidak lagi dilihat sebagai sesuatu yang imanen dan objektif dalam komoditas sebagai konsekuensi dari sejumlah kerja yang dicurahkan untuk memproduksinya. Nilai, dengan kata lain, menjadi perkara selera subjektif.


Di sinilah kita mesti menempatkan akar dari anti-realisme ekonomi kontemporer. Nilai adalah esensi (eidos) yang membedakan sebuah benda ekonomis dari benda non-ekonomis. Begitu nilai itu sendiri direlatifkan terhadap subjek, maka ekonomi secara keseluruhan niscaya tenggelam dalam pusaran relativisme dan arbitrerisme. Jika nilai tergantung pada preferensi subjektif konsumen, maka para ekonom tak lain ketimbang juru pemasaran dan jurusan ilmu ekonomi di kampus tak lebih dari biro iklannya. Artinya, begitu nilai direduksi pada evaluasi subjektif, pada kontinjensi murni penawaran dan permintaan, maka sesungguhnya tak ada lagi sains ekonomi. Syarat kemungkinan bagi adanya sains adalah keberadaan patokan objektif yang melandasi penjelasan tentang sesuatu. Ekonomi Neoklasik merelatifkan patokan itu dan mencoba membangun sistem aksiomatik formal yang dapat menggantikan patokan tersebut. Namun aksioma yang dibangunnya tetaplah sebuah konstruksi arbitrer dari titik pijak analis sejauh aksioma tersebut tidak pernah dilandasi oleh argumen historis-sosiologis yang spesifik.


Konsekuensi lain dari penghapusan patokan objektif-imanen dari nilai terletak dalam implikasinya pada aras kebijakan. Para ekonom Neoklasik mengkritik teori nilai-kerja karena pendekatan itu dianggap tidak mampu menjelaskan konstitusi nilai komoditas langka seperti benda seni.[5] Andaikan bahwa kritik ini benar, lantas bagaimana para ekonom Neoklasik itu memandang realitas perekonomian secara keseluruhan? Oleh karena nilai dikonstitusikan secara subjektif, maka seluruh realitas perekonomian ditempatkan di atas satu dataran penjelasan yang berbasis pada teori nilai-utilitas itu. Konsekuensi kebijakannya, sektor finansial mesti ditangani pada level penjelasan yang sama dengan sektor riil. Dengan kata lain, tidak ada keniscayaan teoretik (selain justifikasi ad hoc) untuk memprioritaskan sektor riil di atas sektor finansial. Prioritas ini hanya dimungkinkan apabila diakui adanya patokan objektif yang tersituasikan dalam salah satu sektor. Apabila nilai dikonstitusikan oleh jumlah kerja yang diperlukan untuk memproduksinya sesuai pendekatan teori nilai-kerja, maka sektor riil akan diberikan prioritas sebagai locus produksi nilai dan sektor finansial akan ditangani sebagai sesuatu yang sekunder terhadapnya. Konsekuensinya proteksi negara mesti pertama-tama diarahkan pada sektor riil. Prioritas ini lenyap seiring dengan dihapuskannya demarkasi antara yang-objektif dan yang-subjektif. Teori nilai subjektif, karenanya, merupakan justifikasi teoretik dari kapitalisme modern—kapitalisme finansial.


Metafisika Sirkulasi

Sebagai konsekuensi dari pengadopsian teori nilai utilitas-marjinal, keseluruhan realitas ekonomi menjadi relatif terhadap ranah sirkulasi. Ekonomi menjadi kian identik dengan sirkulasi itu sendiri. Jevons, misalnya, mengatakan bahwa “teori ekonomi mesti dimulai dengan teori yang tepat tentang konsumsi” (Meek 1973: 248). Pengutamaan sirkulasi yang dipatok di atas produksi inilah yang justru membawa ekonomi Neoklasik pada suatu metafisika tersembunyi. Syarat kemungkinan bagi adanya sirkulasi tak lain adalah produksi. Adanya sirkulasi justru dijelaskan, secara logis maupun historis, oleh adanya produksi. Alasannya jelas: tidak ada sirkulasi tanpa sesuatu yang disirkulasikan. Sesuatu itu tidak muncul dari dalam sirkulasi itu sendiri melainkan dari aras produksi. Kritik atas metafisika sirkulasi ini sudah diantisipasi oleh para ekonom Klasik, misalnya Marx. Mengkritik pandangan ekonomi yang melihat bahwa sebuah ekonomi dapat berjalan di aras sirkulasi semata, contohnya penjarahan, Marx menulis dalam Grundrisse:

“Adalah suatu opini yang diterima orang banyak bahwa pada periode tertentu orang hidup dari penjarahan semata. Namun, agar penjarahan dimungkinkan, diperlukan adanya sesuatu untuk dijarah—dan karenanya produksi. Dan modus penjarahan itu sendiri pada gilirannya ditentukan oleh modus produksi.” (Marx 1973: 98)

Oleh karena adanya sirkulasi ditentukan oleh adanya produksi, maka nilai komoditas yang disirkulasikan semestinya juga sudah bisa dilacak dalam proses produksi. Kalau sirkulasi sungguh menciptakan nilai, maka ekonomi seolah bisa berjalan tanpa sebuah barangpun yang diproduksi karena konsumen dapat membayangkan barang-barang itu beserta nilainya di dalam benaknya sendiri—tak pelak lagi sebuah kesimpulan yang absurd.


Metafisika sirkulasi yang inheren dalam ekonomi Neoklasik inilah yang menjelaskan tendensi untuk menceraikan analisis ekonomi dari analisis sosio-historis. Dalam paradigma teori nilai-kerja, struktur masyarakat dan sejarah perkembangannya ikut menentukan domain produksi. Bahkan Adam Smith mengawali traktat ekonominya dengan analisis tentang pembagian kerja dan sampai pada pengertian tentang pembagian kelas dalam masyarakat seturut bentuk pendapatannya dan kontribusinya pada proses produksi. Sementara dalam paradigma Neoklasik, dengan penekanan pada sirkulasi, analisis hanya terbatas pada analisis konsumen individual yang ahistoris, yang tak punya sejarah selain waktu personalnya sendiri.


Pandangan bahwa nilai pakai tidak memiliki fondasi objektif dan hanya ada sejauh dievaluasi secara subjektif juga mengikutsertakan pandangan tertentu tentang realitas. Dalam hal ini, apa yang terjadi dalam ilmu ekonomi sejak ‘Revolusi Marjinalis’ pada akhir abad ke-19 juga terjadi dalam berbagai disiplin ilmu lain. Kita dapat melihat menjadi sentralnya subjek pengamat dalam filsafat fenomenologi Edmund Husserl sampai dengan fisika kuantum. Dalam berbagai bidang ilmu sejak peralihan abad hingga kini, ada kecenderungan untuk menyamakan adanya sesuatu dengan keterberiannya pada pengamat. Dalam kerangka ini, realitas ada sejauh berkorelasi dengan kesadaran tentangnya. Penolakan Menger atas apa yang disebutnya sebagai ‘dunia eksternal’ (yang diterimanya sejauh dimengerti sebagai ‘luapan’ dunia subjektif) nyatanya berjalan beriringan dengan kritik filsafat kontemporer atas realisme. Kritik macam ini dapat kita saksikan dengan jelas antara lain dalam filsafat Martin Heidegger. ‘Perbedaan ontologis’ yang begitu ditekankannya nyatanya sangat dekat dengan posisi Menger: bahwa adaan atau dunia objektif tidak boleh disamakan dengan ‘Ada’ yang jauh lebih sublim ketimbang itu dan, pada analisis terakhir, berkorelasi secara esensial dengan manusia sebagai Dasein. Ekspresi dari perbedaan ontologis ini adalah pengertian bahwa ruang dan waktu objektif (adaan) hanyalah turunan dari ruang dan waktu internal yang subjektif—ruang dan waktu yang dihayati oleh Dasein di mana Ada menyingkapkan diri bagi dan hanya bagi Dasein.[6] Demikian pula dengan kecenderungan pemikiran pascamodern dalam menampik kenyataan objektif dan penggantiannya dengan kenyataan yang dikonstruksi secara linguistik-kultural. Anti-realisme dan hiper-subjektivisme nyatanya bukanlah fenomena yang terbatas pada ekonomi Neoklasik, melainkan merupakan gejala pemikiran zaman kita. Krisis finansial dunia saat ini merupakan pertanda akan krisis kapitalisme modern dan filsafatnya.



Sumber Acuan

Aristoteles. 1995. Nikomakhean Ethics dalam The Complete Works of Aristotle Volume II diedit oleh Jonathan Barnes. Princeton: Princeton University Press.

Braver, Lee. 2007. A Thing of This World: A History of Continental Anti-Realism. Evanston: Nortwestern University Press.

Dobb, Maurice. 1973. Theories of Value and Distribution since Adam Smith: Ideology and Economic Theory. Cambridge: Cambridge University Press.

Dooley, Peter C. 2005. The Labour Theory of Value. London: Routledge.

Edgeworth, Francis Ysidro. 2003. Mathematical Psychics dalam Steven G. Medema dan Warren J. Samuels ed. The History of Economic Thought: A Reader. London: Routledge.

Fullbrook, Edward ed. 2006. The Crisis in Economics: The Post-Autistic Economics Movement: The First 600 Days. London: Routledge.

Hahnel, Robin. 2002. The ABCs of Political Economy: A Modern Approach. London: Pluto Press.

Jevons, William Stanley. 2003. The Theory of Political Economy dalam Steven G. Medema dan Warren J. Samuels ed. The History of Economic Thought: A Reader. London: Routledge.

Lawson, Tony. 2003. Reorienting Economics. London: Routledge.

Marx, Karl. 1973. Grundrisse diterjemahkan oleh Martin Nicolaus. London: Allen Lane.

Meek, Ronald L. 1973. Studies in the Labour Theory of Value. New York: Monthly Review Press.

Menger, Carl. 2003. Principles of Economics dalam Steven G. Medema dan Warren J. Samuels ed. The History of Economic Thought: A Reader. London: Routledge.

Ricardo, David. 2004. On the Principles of Political Economy and Taxation (The Works and Correspondence of David Ricardo Volume I) diedit oleh Piero Sraffa. Indianapolis: Liberty Fund.

Roncaglia, Alessandro. 2005. The Wealth of Ideas: A History of Economic Thought. Cambridge: Cambridge University Press.

Smith, Adam. 1937. An Inquiry into the Nature and Causes of the Wealth of Nations diedit oleh Edwin Cannan. New York: The Modern Library.

Suryajaya, Martin. 2013. Asal-Usul Kekayaan: Sejarah Teori Nilai dalam Ilmu Ekonomi dari Aristoteles sampai Amartya Sen. Yogyakarta: Resist Book.

Sweezy, Paul. 1968. The Theory of Capitalist Development. New York: Modern Readers.


[Tercatat ditulis pada April 2014]


[1] “In that early and rude state of society which precedes both the accumulation of stock and the appropriation of land, the proportion between the quantities of labour necessary for acquiring different objects seems to be the only circumstances which can afford any rule for exchanging them for one another. If among a nation of hunters, for example, it usually costs twice the labour to kill a beaver which it does to kill a deer, one beaver should naturally exchange for or be worth two deer. It is natural that what is usually the produce of two days or two hours labour, should be worth double of what is usually the produce of one day’s or one hour’s labour.” Smith 1937: 47.


[2] Bdk. kritik Ricardo atas penyamaan nilai pakai (atau kemakmuran, riches) dan nilai tukar oleh J.B. Say dalam Ricardo 2004: 285-286.


[3] Ricardo menganggap Smith telah menggunakan standar ganda dalam menjelaskan sumber nilai: di satu sisi, dari waktu kerja yang diperlukan untuk memproduksi komoditas, di sisi lain, dari jumlah kerja yang dimiliki (labour commanded) yang dapat dipakai untuk membeli komoditas lain (Ricardo 2004: 13-14). Kedua standar ini saling berkontradiksi satu sama lain sebab nilai yang dihasilkan oleh jumlah kerja yang perlu untuk produksi komoditas tertentu tidak sama dengan nilai yang dihasilkan oleh jumlah kerja yang dapat ditukarkan dengan komoditas lain. Bagi Ricardo, hanya ada satu sumber nilai, yaitu jumlah kerja yang diperlukan untuk memproduksi sebuah komoditas.


[4] “In the system of determination envisaged by Ricardo, and a fortiori and more explicitly as envisaged by Marx, there was a crucial sense in which distribution was prior to exchange: namely, that price-relations or exchange-values could only be arrived at after the principle affecting distribution of the total product had been postulated.” Dobb 2002: 169.


[5] Para ekonom Klasik bukannya tidak menyadari problem ini. Ricardo, misalnya, mengerti betul akan hal ini namun ia juga menyadari bahwa komoditas seperti itu jumlahnya tidak sebanding dengan komoditas yang umum beredar di pasaran (yang nilainya dikonstitusikan oleh jumlah jam kerja). “Some rare statues and pictures, scarce books and coins, wines of a peculiar quality […] their value is wholly independent of the quantity of labour originally necessary to produce them […]. These commodities, however, form a very small part of the mass of commodities daily exchanged in the market.” Ricardo 2004: 12.


[6] Dalam sebuah wawancara di tahun 1969 Heidegger menyatakan: “The fundamental idea of my thinking is exactly that Being, relative to the manifestation of Being, needs man and, conversely, man is only man in so far as he stands within the manifestation of Being ... One cannot pose a question about Being without posing a question about the essence of man.” Richard Wisser, Martin Heidegger in Conversation seperti dikutip dalam Lee Braver, A Thing of This World: A History of Continental Anti-Realism (Evanston: Nortwestern University Press), 2007, hlm. xxi.

  • Facebook
  • YouTube
  • Instagram
  • Icon Goodreads
Kontak