Fragmen Novelet "Semacam Manusia"

Updated: Jan 28

[Bab pembuka dari sebuah naskah novelet 150-an halaman yang ditulis tahun 2015 dan tidak diselesaikan]


Oleh Martin Suryajaya





“Turunkan Suharto sekarang juga,” kata seorang muda pada pohon kelapa suatu malam ketika angin musim kemarau menyapu lembah-lembah di pinggiran kota Solo dan anak-anak gembala telah lama pulang ke kandang masing-masing, selepas puas bermain dengan meja, langit dan angin sore, sementara ibu-ibu turun menjajakan teteknya ke pos satpam dan ngarai-ngarai berderit seperti mebel tua di rumah bapak-bapak yang habis diperkosa, seumpama dunia baru diciptakan dan Tuhan masih muntah-muntah di toilet losmen murah yang bau ciu, padahal buruh-buruh berhamburan seperti mayonais yang ditumpahkan bocah nakal yang malas berangkat sekolah, sewaktu kios-kios kaki lima berjatuhan menimpa nelayan yang tengah mendayung ke arah pulau dan biri-biri menggigit mata kaki petani seperti ketika mandor-mandor bangunan menulisi putingnya dengan resep-resep pembangunan serta para kuli melempar-lemparkan dakinya dan bermain petak umpet dengan asam lambungnya sendiri, sehingga kontol-kontol beterbangan di malam hari ketika para pertapa sibuk berjudi di empang-empang, di samping tanah yang jadi lapang setelah gusuran, sementara seorang pemuda duduk di ujung ruangan dengan punggung yang bergetar dan muka yang tak kelihatan, seperti ketika seseorang menyatakan cinta dan hujan tumpah seperti maut, seperti surga, seperti musim yang digeser oleh asap cerobong pabrik ke tapal batas kota, ke desa-desa yang ditinggal mati pemerintahnya sendiri, ke gorong-gorong tempat tidur hantu-hantu yang mati muda, di bawah langit yang runtuh sebagai jarum-jarum kecil—menghunjam tukang ledeng, pegawai kantor imigrasi dan siapa saja kecuali seorang diktator tua yang duduk sendirian di pojok gudang dan mengokang pistolnya untuk terakhir kali—pada waktu sebuah kursi plastik bergeser ke kiri sebab terantuk tongkat pel petugas kebersihan yang sebentar lagi akan mati oleh angin duduk, sementara om-om mengelap dahinya dengan tisu, kelelahan sehabis ngentot, terbatuk-batuk di bawah langit pukul tiga pagi, sebab nasib adalah tukang parkir buta yang sibuk mengatur jalan raya, sebab sejarah tumbuh dewasa seperti tukang bubur yang kehilangan gerobaknya, sebab di saat-saat seperti itulah kisah ini diceritakan, yakni bagaimana ketika tiap kali meninggalkan Solo aku selalu teringat akan tiang-tiang listrik yang jangkung dan condong diterpa angin, seperti kerupuk melempem yang hampir habis dimakan cuaca, lampu-lampu jalan dengan bohlam berwarna teh, kucing yang mengeong sendirian di depan bulan hijau muda, udara basah berkejaran dengan lonte-lonte ompong di deretan ruko yang mau ambruk.


*


Ini adalah kali terakhir perayaan Imlek keluarga besar diadakan di Solo, dengan makan-makan di restoran. Biasanya kami merayakan Imlek dengan mengikatkan serenteng mercon ke kepala masing-masing dan menyalakannya bersama-sama. Meriah sekali. Seperti kopi-kopi culun kebanggaan keluarga. Tapi tahun ini istimewa.


Hotel Asia—salah satu kebanggaan kota Solo sejak tahun 1980-an. Dari dalam mobil yang meluncur ke halaman parkir, aku mengamati dindingnya yang mulus seperti pipi nona-nona kaya, hitam seperti senyum bayi di tengah rumah yang padam lampunya, tenang seperti kantin sekolah di hari libur panjang—jam delapan malam—ketika pengeras suara dari kelas G memanggil-manggil nama seseorang lalu hening turun di laci-laci meja dan papan tulis, tetapi sebagaimana dikisahkan burung serak pada dua-tiga warga yang berjaga di pos ronda, malam adalah asbak raksasa yang tak punya tepi, tempat puing dan abu melayang-layang seperti kapal yang kehilangan sauh, seperti kartu kredit yang dilupakan pemiliknya.


Petugas lobi mengantar kami melewati meja resepsionis yang ditinggalkan orang, sejarak ke arah tangga berkarpet beludru. Kupersilahkan yang lebih tua untuk naik terlebih dulu: papa, mama dan berbagai jenis om dan tante. Di restoran hotel Asia, kami pun duduk melingkari sebuah meja besar. Tak ada pelanggan lain kecuali keluarga kami. Rasanya janggal. Di restoran hotel yang mewah di kota kecil ini, seharusnya banyak keluarga yang merayakan Imlek.


Om Dendy memesan tujuh macam makanan. Aku tak terlalu menghiraukannya karena lebih tertarik mengamati sekitar. Taplak meja dengan noda kecokelatan. Pendingin ruangan yang bunyinya seperti nafas anjing sekarat. Kemakmuran yang capek menyangga wajahnya sendiri. Pada kalender dinding tergambar sesosok macan yang mengaum di pucuk bukit. Tanggalnya 10 Februari 1998. Tante Cynthia yang duduk di sebelahku bercerita: dulu sewaktu hidup, emak-engkong sering santap malam di sini. Aku mengangguk. Aku tanyakan pada tante Vivi di sebelahnya: apa hotel Asia ini punya hubungan dengan toko Asia Baru. Sama-sama saudara, jawabnya. Pada zamannya, toko Asia Baru adalah toko paling lengkap di Solo, jauh sebelum ada mal dan pusat perbelanjaan modern. Sekarang, aromanya seperti bau harimau-harimau yang lenyap dari pulau Jawa.


"Gurame asam manisnya enak sekali," kata tante Kwan Im sambil menggeleng berulang-kali dengan sangat cepat. Dia lalu bercerita soal gurame-gurame yang merayap keluar dari sebuah luweng di tenggara kota, dibantai oleh orang-orang dengan sepasang titit di pipi mereka, dalam keadaan yang membuat orang-orang saleh ingin memperkosa siapa saja, seperti ketika api menyetubuhi pohon-pohon tua, sementara toko-toko kelontong merobohkan dirinya sendiri dan orang-orang mengadakan upacara hormat bendera, sesaat sebelum senja meleleh dan bunyi-bunyian jadi seperti warna hitam yang dibicarakan bapak-bapak yang bermain catur di kedai-kedai tuak, kemudian lepas ke tengah-tengah siang. Tapi meja makan masih kosong.


Tak lupa, kami juga memesan bakmi goreng. Di setiap acara perayaan sukacita—ulang tahun, pernikahan, Imlek—kami selalu memesan bakmi. Supaya panjang umur, kata om Ben suatu kali. Orang-orang selalu berharap bisa panjang umur. Tapi jarang yang bertanya: buat apa? Panjang umurnya, panjang suksesnya, panjang bisnisnya: kwetiaw emas yang tak pernah selesai dikunyah, tak pernah sempat ditelan, tak pernah bisa diberakkan dengan lancar dan damai layaknya seorang yang memancing di tengah waduk, dengan perahu yang dengan ala kadarnya bergoyang-goyang oleh angin sore hari—sepoi-sepoi seperti malas, seperti hidup. Buat apa menghabiskan hidup yang panjang dengan usaha untuk hidup panjang? Buat apa berpanjang-panjang setengah mati?

Beberapa pelanggan lain mulai berdatangan. Om-om pemain band mengatur alat musik di panggung.


Setelah penantian agak lama yang diisi dengan celotehan serius tentang hal-hal yang percuma—tentang obat jantung versi dokter dan tabib, tentang cuka apel yang baik diminum sebelum sarapan, tentang siasat-siasat untuk hidup abadi—akhirnya makanan datang juga. Gurame asam manis, nasi goreng ikan asin, tumis sawi, sapo tahu, sup ikan, udang goreng mayonais dan bakmi goreng. Jumlah tujuh melambangkan kesuksesan dan kemakmuran. Kesuksesan buat siapa? Kemakmuran buat apa?


"Mari makan," papa mengawali. Lalu serentak papa, mama dan seluruh jajaran aparat keluarga menyapukan tangan mereka ke permukaan meja. Bumi seperti pemabuk resek yang muntah sembarangan. Tante Vivi meraih piring nasi goreng dan melemparkannya ke langit-langit; pecah dan berhamburan seperti hujan siomay. Tante Eli menggebyurkan semangkuk sup ikan ke muka om Alok. Pihak yang bersangkutan berguling-guling di lantai dengan muka melepuh sambil menyanyikan Yueliang Daibiao Wo de Xin, lagu legendaris penyanyi Taiwan yang mati akibat asma. Tante Cynthia menggengam sawi tumis, memasukkannya ke kantung kemeja om Ben, sambil mencoloki matanya sendiri dengan udang goreng tepung. Dengan tenang kuangkat sepiring kacang telur dan memakainya sebagai topi. Potongan gurame asam manis jatuh ke paha kiriku. Semangat tahun baru merasuki kami sekeluarga. Panjang umur dan sukses buat semua. Gong xi! Gong xi! Xin nian kuai le!


*


Banci-banci berkejaran dengan polisi, digebuki seperti puting yang memar sewaktu pembangunan meratakan jalan buat kemajuan dan keadilan sosial bagi semua, sementara macan-macan tertidur dalam mimpi orang kaya di siang hari yang panjang—seperti keabadian dan rasa jemu—dan bantal-bantal menguap dalam keringat supir metromini, hilir-mudik melintasi neraka sambil bersiul-siul seperti perkutut yang dilupakan dunia, tetapi kucing dan kangkung saling membelit, menerjang komputer yang jatuh dari meja pada jam tujuh pagi, lalu rasa lapar terdengar seperti rasa ayam spesial yang dihidangkan dalam kuah-kuah beton dan dipukul-pukulkan ke lemari kayu, diterjang banjir dan diburu penagih hutang—diselesaikan oleh senyum kecut, kun fayakun serta mayat kering di ruang tamu.


*


Setelah semuanya selesai, Tante Kwan Im menarik paksa taplak meja, menudungi kepalanya, kemudian berkomentar: "Gurame asam manisnya ternyata kurang enak."


"Iya, tidak seperti biasanya," Om Alok menimpali sambil telungkup di bawah kursi.

"Memang kapan terakhir kali kamu makan di sini?"


"Kapan ya..." Sorot matanya seperti Bapak kepala sekolah dengan titit keriput yang melambangkan kebijaksanaan.


Tak berapa lama, om-om pemain band mulai berlaga dan menyepak-nyepak pengunjung sekenanya. "Muda-mudi jaman sekarang, pergaulan bebas nian..." Baru aku tersadar: malam itu tengah digelar Malam Koes Plus. Pemainnya juga bukan band kawakan asal ibukota; lebih mirip sekumpulan montir dari toko onderdil yang baru saja bangkrut. Baru kusadari juga: para pengunjung lain yang datang ke sini memang ingin mendengar mereka. Om-om bermuka bokong tak henti-hentinya merokok sambil menenggak bir kucing. Om-om berjaket kulit memenceti jerawatnya sendiri sambil sesekali menepuk-nepuk tangannya ke meja seiring irama lagu. Om-om berkaus polo suka menggaruk selangkangannya sambil membetulkan kacamata hitam yang ditenggerkan di dahinya.


Namun yang agaknya mencengangkan adalah seorang mbah berbeskap, blangkon dan sarung di samping panggung. Ia berjoget gaya koplo Jawa kuno mengikuti irama musik Koes Plus dan lagu-lagu evergreen yang dikira Koes Plus. Mula-mula, ia bergerak-gerak pelan di pojokan. Kepala manggut-manggut. Tangan tergenggam di pinggang dengan jempol yang diacungkan ke atas. Lama-kelamaan, ia mulai meludah-ludah sembarangan. Terakhir kali kulihat, ia kejang-kejang.


Keluarga terganggu dengan semua itu: hingar-bingar, asap rokok dan masakan yang kurang enak. Mereka membenci nasib buruk yang jatuh seperti helai-helai rambut yang dipangkas sekenanya, dipotong oleh penyedia jasa internet dan dipungut paksa oleh seorang petugas pajak yang hobi berenang, ketika krisis moneter tiba dan semua orang miskin berbaris seperti serdadu plastik yang murah harganya, sehingga jalanan ramai oleh para perokok yang memperpendek usianya dan minum air hujan tetapi memuntahkan sperma, lantas bisnis mengembik panjang, tersendat-sendat, dan berhenti selepas sembahyang minggu—keabadian yang gagal ditebus.


Kami memutuskan untuk pulang. Turun ke lobi hotel, aku berjalan menjauh di lapangan parkir, melihat lampu-lampu jalan yang memburam.


Di samping hotel, masih dalam areal yang sama, aku menemukan sebuah toko oleh-oleh. Sambil menunggu keluarga mengemasi diri mereka sendiri dari basa-basi berkepanjangan, aku masuk melihat-lihat. Seorang mas-mas duduk di bangku kasir menonton acara televisi, acuh terhadap segala. Barang-barang tua, kaus berdebu bertuliskan “Surakarta” dengan gambar kereta kuda yang ditabrak angkot, botol minum berbentuk walkie-talkie tembus-pandang, jepit rambut plastik yang jadi kuning oleh usia, tisu-tisu yang mengering sendirian, tak lama sebelum negeri ini membakar dirinya setiap hari dalam suatu karnaval yang tak pernah sudah, sampai pada suatu subuh ketika seluruh manusia lenyap dari muka bumi, menyisakan gema dari gerutuan panjang yang dipantulkan barisan gedung pencakar langit dan dipudarkan oleh kaok burung yang hinggap di pucuk papan reklame—mengenang suasana minggu pagi.


Esoknya aku pergi meninggalkan Solo. Meninggalkan apa yang tersisa dari abad keduapuluh.***



482 views

Recent Posts

See All

Tantangan dan Masa Depan Kritik Sastra Indonesia

Oleh Martin Suryajaya Berakhirnya Era Polemik Besar Sastra Indonesia Dalam perkembangan sastra Indonesia kontemporer, orang sering mempertanyakan di mana sumbangan para kritikus. Sebagian berpendapat

  • Facebook
  • YouTube
  • Instagram
  • Icon Goodreads
Kontak