Das Kapital sebagai Film: Dari Marx ke Kluge via Eisenstein

Updated: Jan 28

Oleh Martin Suryajaya



Pada tanggal 12 Oktober 1927, Sergei Eisenstein menulis dalam catatan kerjanya: “Telah diputuskan: kita akan memfilmkan Das Kapital berdasarkan skenario dari Marx—hanya itulah satu-satunya solusi yang logis” (Eisenstein 1976: 3). Ia lalu membuat serangkaian catatan tentang Das Kapital dan kemungkinan pengalih-rupaannya ke dalam bahasa sinematik. Sebelumnya, sineas asal Soviet ini telah menyutradari sejumlah film kenamaan seperti Strike (1924), Battleship Potemkin (1925) dan October (1927). Dalam catatan kerja yang diterbitkan sepeninggalnya, Eisenstein tak pernah menjelaskan mengapa ia ingin membuat film tentang Das Kapital, ia juga tak menyebutkan secara eksplisit jilid berapa dari Das Kapital yang akan ia filmkan. Yang kita tahu, proyek itu tak pernah terwujud. Alexander Kluge, seorang sineas dari kelompok Sinema Jerman Baru, kemudian membuat film panjang tentang upaya Eisenstein dalam memfilmkan Das Kapital. Hasilnya ialah film berdurasi lebih dari 9 jam dengan judul “Kabar dari Masa Silam Ideologis: Eisenstein – Marx – Das Kapital” (Nachrichten aus der ideologischen Antike: Eisenstein – Marx – Das Kapital; 2008).


Das Kapital sebagai Film

Lalu varian penafsiran macam apa yang dipilih Eisenstein untuk memfilmkan Das Kapital? Dalam berbagai catatannya sejak tanggal 12 Oktober 1927 hingga 22 April 1928, Eisenstein memberikan berbagai petunjuk tentang film macam apa yang akan ia bangun. Ia menulis bahwa tujuan film ini adalah untuk “mengajarkan kelas pekerja untuk berpikir secara dialektis.”[1] Melalui film itu, Eisenstein berharap agar kaum pekerja akan mampu melihat kesaling-hubungan antara hal-hal yang sekilas tak berhubungan. Dari pemahaman atas kesaling-hubungan itu, mereka akan dapat menyadari kontradiksi di balik kenyataan yang seolah baik-baik saja. Kesadaran macam inilah yang dimaksud dengan kesadaran dialektis. Inilah yang menjadi metode analisis Marx dalam penulisan Das Kapital. Eisenstein menulis: “Ada banyak tema yang bisa diangkat dalam memfilmkan Das Kapital (harga, pendapatan, sewa)—buat kami, temanya adalah metode Marx” (Eisenstein 1976: 23). Das Kapital akan menjadi sebuah film tentang dialektika.


Eisenstein memberikan contoh beberapa adegan yang akan dimunculkan dalam film untuk memantik kesadaran dialektis:

  • Adegan tentang tanah pemakaman di Amerika yang akan menunjukkan bahwa dalam modus produksi kapitalis bahkan kuburan pun menjadi barang dagangan—cara orang dikubur dikondisikan oleh cara orang berproduksi.[2]

  • Adegan tentang pasar saham tidak perlu memotret secara langsung situasi di pasar saham, melainkan ditampilkan secara alegoris lewat sosok-sosok dari kehidupan sehari-hari (misalnya pemuka agama sebagai alegori dari broker saham).[3]

  • Adegan yang menunjukkan kesaling-hubungan antara perkembangan teknologi produksi dan penghancuran tenaga kerja lewat penjajaran antara mobil-mobil di Cina dan para pendorong becak yang sekarat karena lapar.[4]

  • Adegan yang menunjukkan betapa mubazirnya gagasan tentang yang-sakral dalam konteks kapitalisme. Adegan ini akan memotret sosok Aga Khan III, seorang imam suci di India yang sekolah di Eton College, kuliah di Oxford dan diberi gelar pangeran oleh pemerintah kolonial Inggris—kesucian sebagai produk manufaktur.[5]

Dengan model adegan semacam itulah Eisenstein berharap dapat menerbitkan kesadaran dialektis di benak para pemirsa yang ia bayangkan terdiri dari kelas pekerja. Film itu akan mengajak kelas pekerja untuk berdialektika.


Jika dialektika adalah tema utama film Das Kapital, lalu dengan alur seperti apakah dialektika kapital itu akan disajikan? Eisenstein tak menghendaki plot yang linear; ia bahkan mempertanyakan kegunaan plot sama sekali pada kasus ini. Film itu akan bergerak lewat sekumpulan adegan yang berasosiasi secara dialektis. Motif film itu adalah proses satu hari kehidupan seseorang dalam alam kapitalisme. Dalam hal ini, Eisenstein terpengaruh oleh pembacaannya atas novel Ulysses karya James Joyce. Seperti dikisahkan Oksana Bulgakowa, penulis biografi Eisenstein, kedua sosok itu sempat bertemu di Paris dan Joyce meminta Eisenstein untuk memfilmkan Ulysses. Seperti halnya Joyce mengisahkan perjalanan hidup Leopold Bloom pada sebuah hari Jumat yang biasa saja, Eisenstein hendak mengisahkan perjalanan hidup seseorang pada sebuah hari dalam masyarakat kapitalis. Dalam rentang satu hari itulah Eisenstein akan bercerita tentang dialektika kapital.


Namun metode Eisenstein berbeda dari Joyce. Joyce menguraikan kisahnya lewat gaya “arus kesadaran” (stream of consciousness): kenyataan di luar diri Leopold Bloom diserap ke dalam monolog internal, ke dalam percakapan batin yang inkoheren dan mengaburkan distingsi antara fiksi dan kenyataan, antara benda dan imajinasi tentang benda. Yang menjadi pusat dalam paradigma estetik Joyce tetaplah individualitas. Seperti Robinson Crusoe tampil subjek individual yang melahap dunia melalui kalkulasinya, Leopold Bloom tampil sebagai subjek yang menyedot kenyataan melalui monolog internalnya. Eisenstein, sebaliknya, hendak mengakarkan individu dan kesadarannya pada semesta sosial-material. Jika monolog internal Joyce dicirikan oleh hubungan asosiasi tak langsung yang bermain pada aras kesadaran, maka apa yang hendak dibuat Eisenstein bisa kita sebut sebagai monolog sosial-material. Dalam rancangan Eisenstein, individu hanya tampil sebagai juru bicara dari benda-benda dan hubungan sosial yang berada di balik benda-benda. Pengertian inilah yang tampil dalam rancangan umum film Das Kapital yang dicatat pada tanggal 7 April 1928.


Dalam catatan kerjanya pada tanggal tersebut, Eisenstein menyatakan bahwa keseluruhan film itu akan mengambil latar seorang istri yang memasak sup bagi suaminya yang baru saja pulang. Adegan ini akan berulang dalam berbagai bagian film dan berperan sebagai semacam narasi utama. Di tengah-tengah adegan tersebut, Eisenstein akan menyelipkan berbagai adegan lain yang merupakan catatan kaki sinematik terhadapnya. Adegan-adegan lain ini hanya akan berasosiasi secara tak langsung dengan adegan utama. Ia memberi contoh, ketika sang istri menaburkan lada ke panci sup, adegan tersebut akan beralih ke montase tentang lada, tanah-tanah koloni, chauvinisme Prancis, peperangan, kapal yang tenggelam di tepi dermaga dan sebagainya.[6] Dari sini dapat kita lihat bahwa Eisenstein hendak mengakarkan dunia keseharian yang privat pada semesta sosial-material. Adanya sup di panci mensyaratkan sejarah kolonialisme Eropa, proses akumulasi kapital dan riwayat perubahan sistem pembagian kerja dalam masyarakat. Sang istri yang memasak sup dan sang suami yang baru saja pulang kerja, karenanya, tampil sebagai juru bicara sejarah dunia. Melalui keduanya lah riwayat benda-benda dan hubungan sosial yang menstruktur benda-benda itu dituturkan. Keduanya hanya hadir sejauh sejarah memungkinkannya. Di sini Eisenstein sejalan dengan Marx yang menulis dalam pengantar untuk edisi pertama Das Kapital jilid I: “Individu-individu dibicarakan disini sejauh mereka merupakan personifikasi dari kategori-kategori ekonomi, penubuhan dari hubungan kelas dan kepentingan kelas yang tertentu” (Marx 1979: 92). Dalam film Eisenstein, setiap sosok tampil sebagai arus materi dan hubungan sosial.


Namun rancangan film Das Kapital ini berhenti pada entri tanggal 22 April 1928. Pada entri terakhir itu, Eisenstein masih menulis tentang mendesaknya pengajaran metode dialektis dalam konteks revolusi kebudayaan komunis. Selanjutnya ia sibuk dengan rencana film ¡Que viva México! dan tak sempat lagi meneruskan proyek Das Kapital. Film Alexander Kluge adalah upaya kedua setelah Eisenstein untuk memfilmkan Das Kapital.


Intervensi Kluge

“Kabar dari Masa Silam Ideologis” (2008) adalah sebuah film yang panjang, dengan durasi sekitar 9 jam. Film itu memuat berbagai montase (sebagian bersumber dari draft Eisenstein), pembacaan teks-teks Marx dan Eisenstein, sederet intertitles serta sejumlah wawancara. Secara keseluruhan, film itu nampak seperti sebuah diskusi panjang tentang Eisenstein, Marx dan kapitalisme. Dalam banyak bagian, Kluge sendiri memang terlibat aktif dalam diskusi dengan para narasumbernya. Apa yang disajikan Kluge, pada akhirnya, bukanlah sebuah film tentang Das Kapital, melainkan film tentang apa-apa saja yang mesti dipikirkan agar film tentang Das Kapital dimungkinkan. Atau, seperti dinyatakan oleh kritikus film Helmut Merker, “[Kluge] tidak sedang memfilmkan Das Kapital, melainkan meneliti bagaimana kita dapat menemukan citra-citra untuk membuat buku Marx tersebut dapat difilmkan” (Merker 2009). Dalam arti itu, Kabar dari Masa Silam Ideologis adalah semacam film-esai yang memuat prolegomena atau prolog bagi film tentang Das Kapital.


Melalui film tersebut, Kluge mengetengahkan suatu petualangan sinematik ke asal-usul proyek kritik ekonomi-politik dan kritik ideologi atas kapitalisme yang dicanangkan oleh Marx. Proyek inilah yang menjadi refren dari babak sejarah panjang yang kemudian dikenal sebagai sejarah Marxisme. Semua kritik kontemporer atas kapitalisme adalah catatan kaki dari Das Kapital. Karenanya, “masa silam ideologis” yang dimaksud Kluge bisa ditafsirkan dalam dua arti:

  • Sebagai sejarah konsolidasi ideologis kapitalisme yang diteropong dari kacamata Marx dan Eisenstein

  • Sebagai sejarah konsolidasi Marxisme sebagai ideologi resmi negara Uni Soviet

Jadi “Kabar dari Masa Silam Ideologis” adalah kritik atas kapitalisme sekaligus oto-kritik atas tradisi Marxisme.


Sebagai kritik atas kapitalisme, film tersebut memotret logika internal kapitalisme sebagai rezim ekonomi-politik yang penuh kontradiksi dan eksploitasi dalam mensimulasikan keseharian manusia yang seolah bebas, adil dan setara. Kluge banyak mengangkat persoalan “fetisisme komoditas”, yakni anggapan sehari-hari yang menyamakan komoditas sebagai benda dan mengabaikan hubungan sosial produksi yang menstruktur dan memungkinkan adanya komoditas tersebut. Perwujudan kultural dari fetisisme inilah yang disebut sebagai ideologi—kesadaran palsu bahwa kenyataan aktual terberi begitu saja, tak bisa dipertanyakan lagi, tak punya sejarah, tak punya akar sosial yang spesifik. Pemahaman akan kesejarahan dan kesosialan kenyataan aktual adalah bagian dari kesadaran dialektis tentang kenyataan. Dengan itu, terwujudlah proses de-ideologisasi, suatu emansipasi kultural. Inilah yang dituju oleh Eisenstein—mengajarkan dialektika sebagai instrumen emansipasi sosial-politik. Inilah pula yang ditampilkan oleh Kluge.


Sebagai oto-kritik atas tradisi Marxisme, film tersebut memotret kodifikasi Marxisme sebagai ideologi pada era Uni Soviet. Wawancara dengan penyair Jerman Hans Magnus Enzensberger menunjukkan bahwa semangat emansipatoris Marxisme hilang ketika dibakukan sebagai doktrin resmi negara: “Das Kapital hanya cocok dibaca sambil sembunyi-sembunyi.” Kluge juga menampilkan beberapa adegan yang merekonstruksi tradisi pembacan teks-teks Marx di Uni Soviet dan Jerman Timur. Contohnya adalah adegan yang menghadirkan diskusi antara dua orang yang hendak magang di Stasi, kepolisian rahasia Jerman Timur. Tugas yang mereka terima dalam rangka ujian negara tersebut ialah menafsirkan dan mempresentasikan sebuah kutipan dari teks Marx, Grundrisse (Manuskrip 1857-1858 dari Das Kapital). Contoh lainnya ialah adegan yang menggambarkan kewajiban untuk mempelajari teks-teks Marx bagi setiap warga Uni Soviet yang dibuang—atau dididik kembali—di Siberia.


Pada akhirnya, proyek Kluge dapat dibaca sebagai upaya untuk menemukan kembali Marxisme pasca-runtuhnya Uni Soviet. Untuk itu, ia kembali menimba pengalaman dari proyek Eisenstein yang merupakan bagian dari suatu babak penjelajahan estetika Marxis yang paling kreatif setelah Revolusi Oktober, yakni antara 1917 sampai dengan dibakukannya estetika Marxis ke dalam doktrin “realisme sosialis” oleh Zhdanov lewat konferensi pengarang di tahun 1934. Dalam babak singkat inilah petualangan estetika Marxis betul-betul hidup dan kaya: futurisme komunis Mayakovsky, konstruktivisme Tatlin, gerakan kino-pravda Vertov dan didaktisisme avant-garde Eisenstein sendiri. Melalui penelusuran via Eisenstein sebagai representasi dari gerakan seni avant-garde Soviet, Kluge kemudian menemukan Marx yang baru. Dalam resensinya atas film Kluge di jurnal New Left Review, Frederic Jameson menyatakan bahwa apa yang ditemukan Kluge bukanlah Marx sebagai sosok kuno dari “masa silam ideologis”, melainkan Marx sebagai sosok pemikir klasik—sebagai titik acuan tempat semua yang berlawan terhadap kapitalisme dapat menimba inspirasi.[7]


[Ditulis September 2014 untuk sebuah diskusi film di Goethe Institut]



Daftar Pustaka

Althusser, Louis and Etienne Balibar. Reading Capital, trans. Ben Brewster. London: Verso.

Arthur, Christopher J. 2004. The New Dialectic and Marx’s Capital. Leiden: Brill.

Bidet, Jacques. 2000. Exploring Marx’s Capital: Philosophical, Economic and Political Dimensions, trans. David Fernbach. Leiden: Brill.

Dussel, Enrique. 2001. Towards an Unknown Marx: A Commentary on the Manuscripts of 1861-63, trans. Yolanda Angulo. London: Routledge.

Eisenstein. Sergei. 1976. “Notes for a Film of ‘Capital’”. Trans. Maciej Sliwowski, Jay Leyda, Annette Michelson. In October, Vol. 2, Summer, 1976, pp. 3-26.

Engels, Friedrich. 1969. “Karl Marx, A Contribution to the Critique of Political Economy”. In Karl Marx and Friedrich Engels. Selected Works Volume I. Moscow: Progress Publishers.

Jameson, Frederic. 2009. “Marx and Montage”. In New Left Review 58, July-August 2009, pp. 109-117.

Lebowitz, Michael A. 2003. Beyond Capital: Marx’s Political Economy of the Working Class, Second Edition. Hampshire: Palgrave Macmillan.

Marx. Karl. Capital Volume I, trans. Ben Fowkes. Middlesex: Penguin Books.

Mandel, Ernest. 1979. “Introduction”. In Karl Marx. Capital Volume I, trans. Ben Fowkes. Middlesex: Penguin Books, pp. 11-86.

Merker, Helmut. 2009. “Marx: The Quest, the Path, the Destination”. In http://www.signandsight.com/features/1815.html.

Negri, Antonio. 1991. Marx Beyond Marx: Lessons on the Grundrisse, trans. Harry Cleaver, et.al. New York: Autonomedia.

Rosdolsky, Roman. 1977. The Making of Marx’s ‘Capital’, trans. Pete Burgess. London: Pluto Press.

Roth, Regina. 2002. “The Author Marx and His Editor Engels: Different Views on Volume 3 of Capital”. In Rethinking Marxism, 14:4, pp. 59-72.

Sweezy, Paul. 1968. The Theory of Capitalist Development. New York: Modern Readers.

[1]The content of CAPITAL (its aim) is now formulated: to teach the worker to think dialectically. To show the method of dialectics. This would mean (roughly) five-nonfigurative chapters. (Or six, seven, etc.) Dialectical analysis of historical events. Dialectics in scientific problems. Dialectics of class struggle (the last chapter).” (Eisenstein 1976: 10)


[2] “In America even cemeteries are private. 100% Competition. Bribing of doctors, etc. The dying receive prospectuses: ‘Only with us will you find eternal peace in the shade of trees and the murmur of streams," etc. (For C[APITAL].)” (Eisenstein 1976: 4)


[3] “For CAPITAL. Stock exchange to be rendered not as 'a Stock Exchange' (MABUSE, ST. PETERSBURG), but as thousands of 'tiny details'. Like a genre painting. For this, see Zola (L'argent). Cure—the main 'broker' for the whole area. The concierge—the negotiator of loans.” (Eisenstein 1976: 7)


[4] “On the level of 'historical materialism', current equivalents of historical turning points with a contemporary orientation must be sought. In CAPITAL, for example, the themes of textile machines and machine-wreckers should collide: electric street car in Shanghai and thousands of coolies thereby deprived of bread, lying down on the tracks—to die.” (Eisenstein 1976: 8)


[5] “On deity: Agha Khan—irreplaceable material—cynicism of shamanism carried to the extreme. God—a graduate of Oxford University. Playing rugby and ping-pong and accepting the prayers of the faithful. And in the background, adding machines click away in 'divine' bookkeeping, entering sacrifices and donations. The best exposure of the theme of clergy and cult.” (Eisenstein 1976: 8)


[6] “Throughout the entire picture the wife cooks soup for her returning husband. N.B. Could be two themes intercut for association: the soup-cooking wife and the home-returning husband. Completely idiotic (all right in the first stages of a working hypothesis): in the third part (for instance), association moves from the pepper with which she seasons food. Pepper. Cayenne. Devil's Island. Dreyfus. French chauvinism. Figaro in Krupp's hands. War. Ships sunk in the port.” (Eisenstein 1976: 17)


[7]Marx is neither actual nor outmoded: he is classical, and the whole Marxist and Communist tradition, more or less equal in duration to Athens’s golden age, is precisely that golden age of the European left, to be returned to again and again with the most bewildering and fanatical, productive and contradictory results.” (Jameson 2009: 117)

75 views

Recent Posts

See All

Yang Lenyap dalam Senyap

Oleh Martin Suryajaya Adorno pernah berkata bahwa menulis puisi sesudah peristiwa Auschwitz adalah tindakan barbar. Yang ia maksud terutama adalah puisi lirik. Di atas tumpukan tubuh yang gosong oleh

Potret Pembantai sebagai Budayawan

Tinjauan Film The Act of Killing Oleh Martin Suryajaya Pembantaian massal adalah peristiwa sosial sekaligus personal. Di satu sisi, pembantaian massal mengandaikan suatu sistem pembagian kerja politik

  • Facebook
  • YouTube
  • Instagram
  • Icon Goodreads
Kontak