Alat Vital Sastra Indonesia

Unboxing Kuil Nietzsche Karya Binhad Nurrohmat

oleh: Martin Suryajaya


Binhad menerbitkan buku lagi. Dalam jarak empat bulan sejak Nisan Annemarie dan kurang dari setahun sejak Kuburan Imperium terbitlah Kuil Nietzsche. Pagebluk agaknya memanasi urat-urat kepenyairannya setelah sebelumnya sempat vakum selama 5 tahun. Seakan wangi maut membikin kata-kata berlesatan dalam penyair yang mendekam di Rejoso, Jombang, ini. Mari kita jalankan unboxing atas buku puisi yang filosofis ini.



Aspek Badani Buku

Kuil Nietzsche diterbitkan oleh penerbit BOENGAKETJIL yang beralamat di Jl. Parimono V/40 Plandi, Jombang, Jawa Timur. Pada lembar kolofon juga tercantum nomor hape: 08123443449. Buku ini dicetak dalam dimensi 14 x 20 cm, sedikit lebih kecil dari A5, dengan menggunakan kertas bookpaper, jilid lem panas dan ketebalan kertas yang saya taksir 55 gsm. Sampulnya menggunakan art carton dengan ketebalan sekitar 190 gsm. Buku yang tebalnya 78 halaman dengan lima halaman romawi ini mencantumkan keterangan cetaknya pada Agustus 2020. Perwajahan pada sampul dan ilustrasinya dikerjakan oleh Alek Subairi, seorang pelukis yang agaknya sudah lama mengerjakan perwajahan dan ilustrasi buku-buku Binhad sejak Kuburan Imperium.


Ilustrasi pada bagian sampul depan adalah sebuah lukisan yang mengingatkan saya pada batu nisan dan stopkontak sekaligus. Jarang ada lukisan yang membuat saya teringat pada kedua benda itu dalam satu tarikan nafas. Dari segi gaya, sekilas lukisan itu menyerupai lukisan Nashar, seorang pelukis yang banyak tenggelam dalam kesusahan hidup. Pada bagian sampul belakang, terdapat kesaksian Berthold Damshäuser yang antara lain mengungkapkan keterkejutannya bahwa ternyata ada penyair Indonesia yang “tahu banyak” tentang Nietzsche.

Aspek Rohani Buku

Binhad adalah seorang penyair yang belajar filsafat. Andaikata hanya itu, mungkin lebih baik saya membaca puisi-puisi Zaim Rofiqi saja. Akan tetapi, Binhad adalah juga penyintas sastra Indonesia; dan ini memberikan banyak pengaruh pada caranya mengerjakan puisi. Kuil Nietzsche adalah potret terbaru dari pengalaman hidup di dalam sastra Indonesia itu: sebuah catatan residensi dalam sastra Indonesia.


Binhad mengingatkan saya pada alat vital. Ketika dalam sebuah wawancara di program Titikdua dari RURUradio, di sekitar penerbitan Nisan Annemarie, saya bertanya kenapa seperti ada patahan dalam tema puisinya: antara periode Kuda Ranjang (2004) dan periode setelah Kwatrin Ringin Contong (2014). Yang awal terasa seperti periode kelamin sedang yang terakhir terasa seperti periode kuburan yang seperti hendak mengatasi tubuh. Waktu itu Binhad bilang, sebetulnya ada konsistensi dalam tema seluruh buku puisinya, yakni soal tubuh. Hanya saja, katanya, pada Kuda Ranjang tubuh privat menjadi fokus, pada Demonstran Sexy tubuh publik berganti jadi fokus sedangkan pada Kwatrin Ringin Contong dan dua kumpulan tentang kuburan, tubuh mati yang menjadi fokus. Dengan begitu, saya jadi mengerti bahwa polemik sastra kelamin yang dipicu oleh Kuda Ranjang sebetulnya masih mendekam dalam kiprah kepenyairannya. Fokusnya tetap alat vital, hanya saja konteksnya bergeser: dari alat vital di ranjang, alat vital di ruang politik, dan sampai pula ke alat vital yang mengkerut beku di dalam kuburan. Dalam arti itu, ia mungkin bisa dijuluki sebagai “alat vital sastra Indonesia”.


Namun kenapa mendadak Nietzsche? Sekilas ini seperti mengganggu irama kuburan yang telah terjalin sejak tiga buku sebelumnya. Apakah ini menandai suatu periode baru dalam jalan kepenyairan Binhad? Saya rasa tidak.


Nietzsche telah menjadi semacam paklik dalam sastra Indonesia, semacam adik Ibu yang sering muncul dalam makan malam keluarga tanpa diundang. Sekurang-kurangnya, itulah yang dikenal para penyair kita sejak Chairil. Dalam sebuah kongkow-kongkow tidak jelas di rumah Sudjojono, Chairil mengisahkan pembicaraannya dengan seorang teman perempuan (apakah dia Ida?) yang antara lain menyebut-nyebut Nietzsche: “Biarpun boleh jadi berpikir dan berasa seberani dan ‘segila’ Nietzsche; bahwa saudara juga merasakan sedalam itu tragedi penghidupan … bahwa derita dan duka sudah saudara angkat pula menjadi kenikmatan seperti Beethoven?” (H.B. Jassin, Chairil Anwar: Pelopor Angkatan ’45). Tampak dari percakapan itu, Nietzsche telah menjadi akrab di mulut kita sebagai household word dalam sastra Indonesia sejak dini. Nietzsche telah menjadi seorang paklik yang “datang tak diundang” dan “pulang minta disangoni” dalam sastra Indonesia.



Tentu saja, Nietzsche baru dikenal secara agak sistematis dalam publik pembaca kita jauh belakangan, antara lain berkat buku Nietzsche (1996) karangan St. Sunardi dan Gaya Filsafat Nietzsche (2004) karya Setyo Wibowo. Hari ini, Nietzsche menjadi sebuah nama yang hampir tidak perlu dijelaskan lagi dalam percakapan filsafat dan kebudayaan kita. Hampir setiap mahasiswa semester lima yang suka baca-tulis pasti tahu Nietzsche, atau setidaknya, “pernah dengar”. Lalu kenapa Binhad ke Nietzsche? Apa kaitannya dengan panorama kuburan yang sudah terbentang dalam tiga buku puisi terakhirnya?


Kuil Nietzsche adalah sebuah buku puisi yang terstruktur secara biografis ke dalam fragmen-fragmen hidup Nietzsche. 60 puisi yang dimuat dalam buku ini dibagi ke dalam 8 bagian yang secara kurang-lebih kronologis menceritakan kisah hidup dan sengsara Friedrich Nietzsche. Dalam sajak Santo Kecil, misalnya, dihadirkan potret Nietzsche sebagai bocah yang rajin ke gereja bersama ayahnya. Dalam Jeda Pendek Lou Andreas-Salomé, dihadirkan cinta sang filsuf pada Lou Salomé, kendati tidak salome mereka bersama Paul Rée. Sajak Ateis Tua di Weimar, menjelang akhir buku, mengisahkan hari-hari terakhir pembunuh Tuhan itu.


Nietzsche dikenal sebagai pencipta semboyan “Tuhan telah mati”, sosok Zarathustra dan ajaran “kekembalian segala sesuatu yang sama secara abadi”, tetapi barangkali lebih dari semua itu ia dikenal karena alat vitalnya. Bukan dalam pengertian alat vital Rasputin, tentu saja, tetapi dalam konteks penyakit yang hinggap di alat vitalnya: sifilis. Di sini kita temukan suatu benang merah yang menghubungkannya dengan semesta puitik Binhad. Alat vital yang mengacung dalam Kuda Ranjang dan mengkerut dalam Kuburan Imperium, kini bopeng-bopeng oleh infeksi bakteri Treponema pallidum. “Kamar pelacuran bukan sorga metafisika / ketika jemari muram mengetuk pintunya,” kata sajak Raja Singa. Buku puisi ini, dengan demikian, bukan suatu kekecualian dalam bentangan puisi Binhad, melainkan bagian integral di dalamnya.


Selain konsistensi tema, kita bisa menyaksikan pula kesetiaan pada gaya pengucapan dan suasana yang telah terbentang sejak Kwatrin Ringin Contong. Suasana ugal-ugalan agaknya telah ditinggalkann Binhad sejak Demonstran Sexy. Sejak saat itu, sampai dengan Kuil Nietzsche, ada suasana khidmat dan murung yang hendak dibangun. Bandingkan saja antara kedua sajak berikut:


Anak-anak sekolah banyak tak kenal penyair legendaris seperti saya,

maka saya temui mereka sampai pulau terpencil untuk foto bersama.

Saya berlinang air mata sebab anak-anak muda tak baca karya sastra.

Mr. Funding, give me much money untuk mencetak kitab sajak saya.

(Kampanye Penyair dalam Demonstran Sexy)


Di antara dua tepi jurang curam gulita

melangkah tanpa uluran tangan dewa.

Kelak jatuh atau melampaui manusia

di seberang kehendak Tuhan tidak ada.

(Melampaui Manusia dalam Kuil Nietzsche)


Terasa betul perbedaan suasana yang terbangun dalam kedua sajak itu. Yang pertama lebih bercorak selengean dan masih terdengar pengaruh Yudhistira Massardi yang diramu dengan wawasan politik sastra Indonesia. Sedangkan puisi kedua terbaca seperti karya para penyair sepuh yang sudah sepi hawa.


Bentuk kuatrin agaknya juga menjadi wahana kesukaan Binhad lima tahun belakangan ini. Dalam Kuil Nietzsche terdapat 32 sajak yang berpola kuatrin, lebih dari separuh jumlah sajak di buku itu. Hal ini seperti meneruskan sebuah kecenderungan yang ada dalam Kwatrin Ringin Contong. Memang ada beberapa kuplet yang dulu ia gunakan secara intensif dalam Demonstran Sexy. Akan tetapi, kwatrin tampil mendominasi, seperti halnya dalam Nisan Annemarie. Ada apa dengan kwatrin? Apakah dengan bentuk tetap seperti itu Binhad sedang mengejar efek ulangan yang dekat dengan pengalaman mewiridkan doa? Ataukah Binhad sedang memainkan rujukan ke Kwatrin tentang Sebuah Kuaci yang legendaris itu? Apakah bentuk kwatrin merupakan perlambang magis untuk alat vital?



Secara umum, saya memandang buku Kuil Nietzsche masih menjadi bagian dari keluarga besar Kwatrin Ringin Contong, yakni sebuah keluarga puitik yang menghubungkan juga Kuburan Imperium dan Nisan Annemarie. Keempat buku itu bekerja dengan prinsip-prinsip puitik yang serupa dan menghasilkan pemandangan yang juga berkerabat. Pembaca yang menyukai satu dari buku-buku puisi itu tentulah akan menikmati Kuil Nietzsche. Dan mungkin lirisisme muram semacam itu memang cocok sekali dengan semangat zaman Corona ketika "ajal memisah kita masing-masing tinggal”.

19 Juli 2020

  • Facebook
  • YouTube
  • Instagram
  • Icon Goodreads
Kontak